RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Thursday
Oct 23rd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Suplemen Mereka Bicara tentang Kespro & KDP : Suplemen Edisi 41

Mereka Bicara tentang Kespro & KDP : Suplemen Edisi 41

E-mail Cetak PDF

Assalamu’alaikum wr.wb.
Apa yang menarik dari sebuah keteraturan? Yups. Benar. Yang menarik dari keteraturan adalah ketidakteraturan yang menemaninya. Ibarat laut, ketidakteraturan adalah gelombang yang menjadikan laut menjadi semakin cantik dengan bunyi ombaknya. Dan, edisi kali ini suplemen hadir menemani Swara Rahima dengan sedikit nuansa berbeda, mencoba menjadi ombak di tengah keteraturan dengan bunyinya yang menarik.

Ombak itu dimulai dari bahasannya, Suplemen yang  biasa ditulis oleh satu orang saja, kali ini ditulis keroyokan oleh beberapa pelajar dan guru di beberapa sekolah pesantren dan umum, tampilannya yang lumayan seger, tentunya juga dengan isi Suplemen; pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi, kekerasan dalam pacaran, tips dan juga info-info yang lain.

Dengan segala kekurangan dan atas restu Tuhan, akhirnya Suplemen edisi “berbeda” ini mampu hadir. Setelah sebelumnya harus bergulat  dengan format tulisan, bentuk terbitan dan hal-hal teknis yang seringkali membuat kami harus berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan kembali.
Selamat menikmati sajian, selamat membaca.
Wassalam.

Redaksi

________________

Prolog :
Berjumpa dengan Remaja, Berjumpa dengan Perubahan


Seorang remaja usia sekolah murung di kelas, beberapa hari belakangan ini ia bingung tak kepalang.  Memojoklah ia mengambil tempat duduk di kelas dengan dipenuhi pertanyaan dan rasa bersalah tentang merayakan kedewasaan. Zamran, begitu namanya disebut, ia panik saat salah satu dari temannya yang juga kakak kelasnya bercerita bahwa laki-laki yang sering melakukan onani akan keropos tulang lututnya kemudian spermanya akan habis. Zamran, berhari-hari gusar dengan apa yang telah didengarnya. Sebenarnya ia ingin bertanya soal itu pada ibunya. Tapi, ah, pasti ibunya tak tahu tentang hal itu; pikirnya. Bertanya pada guru, apalagi, bisa-bisa ia akan diceramahi habis-habisan tentang pentingnya ilmu agama dan olah raga. Maka, ia memutuskan “curcol” dengan kakak kelasnya yang dia pikir akan lebih aman, karena sama-sama lelaki dan pastinya sama-sama pernah melakukannya.

Tak jauh dari Zamran yang sedang termenung, Inab dan Zia juga sedang berbincang serius tentang hal-hal yang menurut mereka sangat privat sekali; keputihan. Mereka mencari-cari informasi tentang bagaimana mengatasi keputihan dari internet dan juga dari majalah-majalah milik kakak Zia yang mahasiswa.

Kamu mungkin punya pertanyaan yang sama dengan Zamran, Inab dan Zia atau mungkin ada pertanyaan lain yang terkait dengan perubahan yang ada di tubuh kamu. Beralihnya masa anak-anak dan masuk pada masa yang disebut remaja membuat beberapa hal dalam diri kamu memang mengalami perubahan. Ada perubahan fisik dengan segala macam halnya dan perubahan psikis yang kadangkala menggalau dimana-mana. Karena perubahan adalah keniscayaan maka kamu tidak perlu khawatir dengan perubahan. Ibarat buah, remaja adalah buah yang sedang ranum.

Yang juga kamu harus tahu adalah pada masa remaja terjadi pertumbuhan fisik yang lebih cepat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Ini tampak pada organ seksual, dimana biologis sampai pada kesiapan untuk melanjutkan keturunan. Ciri  sekunder individu yang masuk masa remaja pada pria tampak tumbuh kumis, jenggot dan rambut sekitar alat kelamin dan ketiak. Rambut yang tumbuh relatif lebih kasar. Suara menjadi lebih besar, dada melebar dan berbentuk segitiga, serta kulit relatif lebih kasar. Dan pada perempuan tampak rambut mulai tumbuh di sekitar alat kelamin dan ketiak, payudara dan panggul mulai membesar, dan kulit relatif lebih halus. Sedangkan ciri primer remaja adalah datangnya masa haid atau menstruasi untuk perempuan dan  mimpi basah untuk laki-laki.

Kesadaran akan bentuk fisik yang bukan lagi anak-anak akan menjadikan kamu sadar untuk meninggalkan tingkah laku anak anak dan mengikuti norma serta aturan yang berlaku. Beberapa aspek psikologis yang menyertai  masa remaja kamu yaitu: menerima kenyataan (realitas) jasmani, mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman sebaya, menjalankan peran-peran sosial menurut jenis kelamin sesuaikan dengan norma, mencapai kebebasan emosional (tidak tergantung) pada orang tua atau orang dewasa lain, lebih senang berkumpul diluar rumah dengan kelompoknya, lebih sering membantah atau melanggar aturan orang tua, ingin menonjolkan diri atau bahkan menutup diri, kurang mempertimbangkan maupun menjadi sangat tergantung pada kelompoknya.

Nah, kalau begitu penting banget buat kamu-kamu yang berada pada masa remaja ini tahu tentang pentingnya kesehatan reproduksi, mengapa? Selain kamu adalah masa depan bangsa ini, kamu-kamu semua juga akan melahirkan generasi-generasi selanjutnya. Mau kan punya generasi yang membanggakan? Oleh karena itu, sebagai penerus yang bertanggungjawab perlulah kiranya sebagai generasi muda menjaga kesehatan reproduksi dan terus saling mengingatkan pada teman-teman yang lain akan pentingnya kesehatan reproduksi dan berperilaku yang sehat. {} Nurkhayati Aida

___________
Membaca Kekerasan dalam Masa Pacaran (Dating Violence)  :
Refleksi atas Fenomena Kekerasan di Kalangan Remaja

Fenomena pacaran menjadi salah satu sejarah paling tua pada makhluk yang namanya manusia. Pacaran apabila dimaknai sebagai pola hubungan antara dua makhluk berbeda kelamin yang mengikatkan diri dengan yang namanya cinta, kasih sayang atau kalimat lain menjadi semacam relasi abstrak yang kadang belum bisa dijelaskan secara nalar (mysterious thing). Aktivitas pacaran pun dilakukan tanpa memandang jenjang usia, status maupun strata sosial di masyarakat yakni dengan menggunakan kontrak cinta. Walaupun banyak yang memberi label dengan konotasi negatif, akan tetapi secara faktual menunjukkan bahwa cinta secara universal telah hadir dalam setiap pribadi manusia.

Karakter cinta yang selalu egois dan berorientasi diri sebenarnya merujuk pada harapan dan keinginan akan kegembiraan dan kebahagiaan pada para pelakunya. Namun demikian, hal seperti ini bukanlah suatu kesalahan, karena cinta alamiah semacam ini sepenuhnya pembawaan manusiawi. Cinta untuk selanjutnya menjadi bahasa universal yang memiliki pemaknaan beragam dengan substansi yang hampir memiliki persamaan. Keragaman ini berakibat pada heterogenitas pemaknaan dan pemahaman dari perspektifnya dan selanjutnya hal ini akan memberikan konsekwensi yang berbeda pula baik pada tataran pemahaman, model maupun cara menyelesaikan problematika  pacaran sebagai klaim atas buah dari cinta tersebut.

Kekerasan dalam Pacaran

Fenomena kekerasan “atas nama cinta” yang ditampilkan di berbagai media secara masif akhir-akhir ini setidaknya menunjukkan bahwa hal tersebut menjadi sebuah persoalan yang memang layak menjadi perhatian bersama bagi semua pihak. Akan tetapi, fenomena-fenomena kekerasan dalam pacaran yang pada masa lalu baru kita saksikan dan rasakan berada di luar rumah kita hari ini, seiring dengan terbangunnya kesadaran akan makna ‘kekerasan’ itu sendiri. Oleh karenanya, seringkali kita baru menyadari bahwa hal tersebut telah masuk ke dalam rumah, keluarga, teman dan terkadang menjadi pengalaman yang sangat terkait pada diri kita.

Pada umumnya, sangat sedikit masyarakat yang tahu adanya kekerasan yang terjadi dalam pacaran, karena sebagian besar menganggap bahwa masa pacaran adalah masa yang penuh dengan hal-hal yang indah dan mengasyikkan. Keindahan tersebut dapat dilakukan dengan aksi-reaksi dua belah pihak untuk saling memberi-menerima, menuruti-memaksa ataupun perasaan saling mengalah.  Ini adalah salah satu bentuk ketidaktahuan masyarakat akibat kurangnya informasi dan data dari laporan korban mengenai kekerasan dalam pacaran tersebut.

Menghadapi kekerasan dalam pacaran seringkali lebih sulit bagi kita, karena anggapan bahwa orang pacaran pasti didasari perasaan cinta, simpati, sayang dan perasaan perasaan lain yang positif. Sehingga kalau pacar kita marah - marah dan membentak atau menampar kita, kita kadang berpikir hal tersebut sebagai dinamika dalam membangun sebuah biduk cinta. Hal klasik yang sering muncul dalam kasus kekerasan dalam pacaran adalah perasaan menyalahkan diri sendiri dan merasa “pantas” diperlakukan seperti itu. Pikiran seperti “ah mungkin karena saya memang kurang cantik, sehingga dia sebel”, atau “mungkin karena saya kurang perhatian sama dia”, “mungkin karena saya kurang sabar” dan lain-lain, sehingga dia jadi merasa “ketagihan” merendahkan dan melakukan terus kekerasan terhadap pasangannya.

Di Indonesia terjadi tindak kekerasan ini pada umumnya menimpa kaum perempuan dan anak, dan kekerasan ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Kekerasan  dalam pacaran yang sebagian besar korbannya adalah perempuan juga sering diakibatkan adanya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang dianut oleh masyarakat luas pada umumnya. Indonesia sebagai suatu masyarakat yang masih patriarkhal, dimana sebagai suatu struktur komunitas di mana kaum lelaki yang memegang kekuasaan, dipandang sebagai struktur yang memperlemah perempuan. Perempuan menurut pandangan laki-laki biasanya dianggap sebagai makhluk yang lemah, penurut, pasif, sehingga menjadi alasan utama terjadinya perlakuan yang semena-mena. Sekretaris Jenderal Komnas PA (Perlindungan Anak) Samsul Ridwan memaparkan, sepanjang 2012, pihaknya menerima laporan 2.673 kasus kekerasan di mana 48 persen atau 1.075 kasus berupa kekerasan seksual, 819 kasus berupa kekerasan fisik, serta 743 kasus kekerasan psikis. Sebanyak 82 persen kekerasan terjadi di kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Menurut The National Clearinghouse on Family Violence, kekerasan dalam pacaran ( dating violence) adalah, ..” any antentional sexual, physical, physicological attact on one patner by the other in a dating relationship. Definisi yang lain adalah suatu tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi.

Kekerasan dalam pacaran yang sering terjadi biasanya terdiri atas beberapa jenis misalnya serangan fisik, mental, ekonomi, psikologis dan seksual. Secara rinci adalah sebagai berikut :

  • Kekerasan dalam pacaran dari segi fisik  misalnya memukul, menendang, ataupun mencubit, untuk segi mental biasanya, cemburu yang berlebihan, pemaksaan, dan perlakuan kasar di depan umum,” katanya.
  • Kekerasan dalam pacaran dari segi ekonomi, kekerasan juga bisa terjadi. Misalnya, ada pasangan yang sering meminjam uang atau barang tanpa pernah mengembalikan.
  • Kekerasan dalam pacaran dari segi psikologis misalnya bila pacarmu suka menghina kamu, selalu menilai kelebihan orang lain tanpa melihat kelebihan kamu, cemburu yang berlebihan dan lain sebagainya.
  • Sedangkan dari segi seksual adalah pasangan yang memaksa pasangannya untuk melakukan hubungan seksual, pemerkosaan dsb.

 

Penyebab kekerasan dalam pacaran menurut Baron dan Byrne adalah agresi ( agression ). Menurutnya, agresi merupakan akar dari kekerasan, dan kekerasan merupakan subtype dari agresi ( Krahe, 2005 ). Tindakan agresi ini dimaknai sebagai tindakan seseorang yang dapat melukai korban baik secara fisik maupun psikologis. Adapun faktor yang menyebabkan agresi adalah faktor sosial seperti adanya provokasi dari orang lain, rangsangan dari berbagai macam permainan kompetitif, frustasi, kekerasan dalam visualisasi media, dan kekerasan dalam pornografi; faktor kultural; faktor personal seperti, kepribadian, narsisme, dan gender; dan faktor situasional seperti temperatur dan alkohol.( Bandura, 1976 ). Di samping itu, kesepian juga menjadi salah penyebab dari perilaku kekerasan dalam pacaran. Deskripsi penyebab kekerasan ini mengindikasikan bahwa kekerasan dalam pacaran sangat komplek dan melibatkan semua elemen dalam masyarakat.

Tindakan pencegahan dan penanganan terhadap objek kekerasan ini pun masih mengalami banyak kendala. Di samping minimnya pemahaman akan makna maupun akibat yang ditimbulkan oleh kekerasan ini, juga secara legal formal, khusus untuk jenis kekerasan dalam ranah psikologis terbilang sulit untuk bisa masuk ke ranah hukum. Hal ini disebabkan karena hubungan pacaran merupakan hubungan belum dikatakan resmi baik dalam pandangan negara maupun norma di masyarakat. Akibatnya, bisa diprediksi bahwa kuantitas kekerasan ini akan semakin bertambah.

Refleksi Bagi Remaja
Dalam membaca kekerasan dalam pacaran (dating violence), perspektif agama menjadi alternatif dalam mengurai siklus mulai dari penyebab, problematika sampai langkah solutif terhadap kekerasan dalam pacaran. Istilah pacaran, dalam perspektif Islam memang tidak dikenal, akan tetapi, mekanisme ta’aruf sebagai media saling mengerti dan memahami masing-masing pasangan sebelum menuju jenjang pernikahan dapat dilacak dari banyak sumber Islam. Perbedaan yang sangat signifikan adalah niatan awal dan goal yang ingin dicapai dalam pacaran. Dalam Islam, pernikahan adalah sebuah ikatan suci dan merupakan bentuk pengagungan terhadap cinta sebagai manifestasi cinta Tuhan kepada manusia. Apabila manusia meletakkan pernikahan sebagai hasil akhir dari proses ta’aruf, maka bagaimana cara menghargai, menghormati pasangan, dan saling mengikatkan diri dalam kebaikan akan terjadi. Di sini, faktor kepribadian akan menjadi faktor penentu dalam melakukan aktifitas pacaran tetapi masih dalam bingkai norma dan nilai agama.

Dengan melihat fenomena pacaran yang banyak terjadi di kalangan remaja, maka kontrak hubungan spesial mestinya harus dilakukan antara dua belah pihak. Meskipun kontrak ini tidak berbentuk legal formal, akan tetapi kedua pasangan akan saling belajar bagaimana saling memahami segala perbedaan dan kondisi dengan tetap saling menyadari dan menghormati hak dan kewajiban masing-masing. Untuk itu, para remaja harus mewaspadai bibit-bibit kekerasan yang terjadi dalam hubungan mereka, sehingga apabila bibit tersebut mulai terlihat, maka remaja mampu mengambil sikap yang tegas.

Dari deskripsi singkat ini, kiranya kita sedikit bisa berikhtiar dengan membangun pemahaman akan makna, jenis dan problematika serta langkah solutif berkenaan dengan kekerasan dalam pacaran. Selanjutnya serpihan informasi ini bisa menjadi bola salju yang menggelinding kepada pihak yang memiliki kepentingan dengan permasalan ini unruk menjadi hal yang positif bagi kebaikan bersama. Semoga. # Mahbub Junaidi, Guru

_____________

PKRS (Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja)
untuk Remaja Yang Bertanggung Jawab

Berdasarkan Laporan needs assessment Rahima tentang Seksualitas dan Reproduksi Remaja tahun 2012 di Banyuwangi menunjukkan bahwa 80,7% siswa baik itu di pesantren maupun di luar pesantren pernah berpacaran. Hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa dari seluruh siswa yang berpacaran itu, pernah melakukan aktivitas seksual yang beragam. Pegangan tangan dan pelukan sebesar 31,1%, yang kedua sekedar ngobrol, SMS-an sebesar 29,4%, yang ketiga pelukan hingga ciuman bibir sebesar 17,6%, keempat adalah pegangan tangan hingga ciuman pipi sebesar 14,3%, kelima sebanyak 5% pernah ciuman bibir hingga meraba-raba bagian tubuh pasangan, dan terakhir sebanyak 5% pernah melakukan oral seks hingga hubungan seksual. Remaja laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas seksual dari pada remaja perempuan. Hal ini memperlihatkan bahwa pacaran tidak hanya dilakukan oleh remaja yang di luar pesantren, namun juga remaja yang berada pada lingkungan pesantren.

Masa-masa pacaran biasanya dipenuhi dengan hal-hal yang berbau kasih sayang, cinta dan romantisme serta merajut mimpi tentang kehidupan cintanya kelak. Namun, kenyataannya hubungan mereka tidak selamanya diwarnai dengan keindahan pacaran. Adanya ketidakseimbangan dalam hubungan pacaran yang mereka lakukan, akan ada salah satu pihak yang dirugikan dan terjadilah kekerasan dalam pacaran.

Kekerasan dalam pacaran atau KDP (Dating Violence) dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang mempunyai unsur paksaan, tekanan, perusakan dan pelecehan fisik maupun psikologis yang terjadi dalam hubungan pacaran. Macam-macam bentuk KDP di antaranya adalah : 1) kekerasan fisik, seperti memukul, menendang, mencengkeram dengan keras tubuh pasangannya, serta tindakan fisik lainnya. 2) Kekerasan psikologis, seperti mengancam, memanggil sebutan buruk, menjelek-jelekkan dan lainnya. 3) Kekerasa ekonomi, seperti meminta pasangannya membayarkan makanan, pakaian, pulsa, dan kebutuhan lainnya. 4) Kekerasan seksual, seperti memaksa pasangannya untuk melakukan perilaku seksual seperti meraba, mencium, hubungan seksual padahal pasangannya tidak bersedia atau berada di bawah ancaman.

Sebenarnya tindakan kekerasan dalam pacaran sering kita temui namun banyak para remaja yang belum memahaminya, sehingga terkadang tidak menyadari dirinya sebagai korban kekerasan. Berdasarkan penelitian pada 120 remaja putri di Kabupaten Purworejo, Jawa Timur menemukan bahwa 31% pernah dipukul oleh pasangannya, 18% pernah mendapat hinaan atau kata-kata kasar dari pasangannya, dan 26% dipaksa membelikan pulsa untuk pasangannya. Selain itu PKBI Yogyakarta selama bulan Januari hingga Juni 2011 menemukan kasus kekerasan dalam pacaran dengan rincian 15% di antaranya kekerasan fisik, 57% kekerasan emosional, 8% kekerasan ekonomi, dan 20 % kekerasan seksual.

Masalah ini akan terus terjadi dan mungkin jumlahnya akan menjadi lebih banyak jika remaja tertutup aksesnya dalam memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Apabila remaja sejak dini telah dibekali pendidikan kesehatan reproduksi remaja maka diharapkan remaja menjadi pribadi yang lebih sehat dan berperilaku penuh tanggung jawab. Karena kesehatan reproduksi atau Kespro secara definisi mempunyai arti kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh, dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi serta proses-prosesnya. Sedangkan seksualitas adalah hal-hal yang berkaitan dengan seks dan menyangkut berbagai dimensi yang luas seperti biologis, psikologis, sosial, perilaku, dan kultural.

Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas (PKRS) penting untuk diberikan kepada siswa-siswa yang bersekolah berbasis umum juga santri-santri yang bersekolah di lingkungan pesantren dan menimba ilmu di pesantren. Karena pada dasarnya PKRS itu dibutuhkan oleh remaja baik yang berada di pesantren maupun umum sama-sama bertumbuh kembang dan memiliki kebutuhan informasi yang sama.

Alhamdulillah Rahima telah memberikan wadah pengetahuan tentang pendidikan kesehatan dan reproduksi dan seksualitas (PKRS) di kalangan santri khususnya di daerah Jawa Timur. Dan juga pelatihan-pelatihan tentang PKRS untuk guru-guru Biologi dan Agama serta perwakilan santri-santri yang ada di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur dilaksanakan dengan baik. Santri-santri tersebut akan menjadi kader-kader PKRS yang bisa menularkan ilmu tentang kesehatan reproduksi dan seksualitasnya kepada teman-teman sebayanya. Kegiatan ini di harapkan menjadi tonggak kemajuan para remaja yang terpenuhi akan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksualitas dan dapat meminimalisir segala bentuk masalah-masalah yang berkaitan tentang kespro dan seksualitas. {}

-Arini, Guru Pesantren Kyai Mojo Jombang -

_____________

Pentingnya Kesehatan  Reproduksi untuk Remaja

Jika kita mendengar kata remaja pasti yang ada di benak kita selalu masa-masanya pubertas. Mengetahui hal tersebut sepertinya sudah sangat biasa, namun kebanyakan remaja selalu melupakan sesuatu yang sangat berpangaruh bagi masa depannya. Salah satunya ialah kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi.

Banyak di antara kita sebagai remaja bertanya – tanya akan pengaruh kesehatan reproduksi bagi seorang remaja untuk masa depannya. Dari mulai, kenapa harus menjaga kesehatan tersebut?, apa penyebabnya jika seorang remaja gagal menjaga kesehatan bagi reproduksinya?, dan apa yang akan di dapat bagi mereka yang di masa remajanya berhasil menjaga kesehatan reproduksinya?.

Semua pertanyaan tersebut akan saya rangkum dalam sebuah catatan kecil ini. Dan setelah itu saya akan mengupas tuntas mengenai bagaimana seorang idealnya remaja dalam menjaga kesehatan reproduksinya.

Mengapa menjaga kesehatan reproduksi itu penting?
Menjaga kesehatan reproduksi penting untuk menghindari penyakit-penyakit yang tidak diinginkan. Seorang remaja harus menjaga kesehatan reproduksinya, karena ini sangat penting dan tidak boleh dianggap sepele.  pelayanan kesehatan yang terkait dengan kesehatan reproduksi sering diabaikan oleh para remaja. Kesadaran terhadap kesehatan reproduksi pun ternyata masih rendah. Selain karena biaya untuk berobat yang dinilai mahal, juga kekhawatiran identitas privasinya yang akan dibeberkan. lebih ironisnya, yaitu alasan mendasar yang membuat mereka jarang bahkan tidak pernah memperhatikan kesehatan reproduksinya. karena mereka tidak mengetahui sama sekali apa yang harus diperiksa dan ke mana mereka dapat memeriksa kesehatannya.

Sekarang ini penyelewengan apa sih yang sering dilakukan oleh para remaja?  Mengingat  persoalan itu hingga tercatat dalam research yang dilakukan oleh WHO,  yang menyatakan bahwa  ada perilaku yang kurang lebih 83% remaja di seluruh dunia pernah melakukannya.  Perilaku atau tindakan itu masturbasi secara paksa atau lebih dikenal bagi pria adalah  “onani”.   Seandainya mereka tahu apa itu onani dan  seandainya mereka tahu akibatnya.  Dan seandainya mereka mau bertanya,  tentu situasinya tidak akan  separah sebagaimana  yang tercatat di atas.

Onani seringkali diperdebatkan oleh banyak kalangan, bahkan tak jarang orang lebih membolehkan perbuatan ini dilakukan oleh para remaja, dengan alasan menghindari perzinahan. Padahal dalam syari’at  Islam onani itu sangat dilarang. Meskipun tujuan utamanya adalah untuk mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tidak bersenggama. Sebagaimana Firman Allah yang termaktub dalam ayat di bawah ini :

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.  ’Barangsiapa mencari yang di balik itu’, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al Mukminun : 5 – 7)

Penjelasan panjang lebar tentang ayat tersebut dan korelasinya terhadap hukum onani dapat kita simak dalam tafsir Ibnu Katsir surah al Mukminun. Sedangkan dalam hadis kita temukan hadis Rasulullah saw. yang menyebutkan, bahwa barang siapa yang belum sanggup untuk menikah maka berpuasalah. Dan Rasulullah saw tidak menyebutkan : barang siapa yang belum sanggup untuk menikah maka masturbasilah ! Kalaulah masturbasi itu mubah, tentu beliau saw. akan membolehkan hal tersebut sebagai sarana umat meredam gejolak syahwat sebelum nikah. Ternyata tidak, Malahan Rasulullah  saw. langsung memerintahkan kepada hal yang berat yaitu puasa. Maka ini dengan jelas menunjukkan keharaman masturbasi.

Dalam salah satu kaidah ushul dikatakan  : takhirul bayan ‘anil waqtil hajah ghairu ma’dzun bihi (tidak diperbolehkan mengakhirkan penjelasan ketika diperlukannya penjelasan itu.

Masturbasi pun tak hanya dilakukan oleh laki-laki saja, tentu  perempuan juga bisa dibilang pelaku dalam masalah ini. Dalam Islam masturbasi dikenal dengan beberapa nama yaitu, al-istimta’ atau al-istimta’ bil kaff dan masturbasi yang dilakukan oleh  perempuan disebut al-ilthaf.

Islam melarang masturbasi yang dilakukan dengan cara paksa, meskipun dibilang biasa, namun Islam begitu memperhatikan dampaknya bagi kesehatan manusia. Menurut ilmu kesehatan, masturbasi jika dilakukan satu kali maka akan mengakibatkan ketagihan hingga sering dilakukan. Masturbasi yang sering bisa memicu aktivitas pembuahan sperma. Berikut beberapa dampak buruk yang sering timbul :

  1. Rambut Rontok, diakibatkan karena ketidakseimbangan hormon yang lama – kelamaan akan menimbulkan penipisan rambut dan kerontokan bagi pria.
  2. Kebocoran Katup Air Mani, kemampuan air mani untuk menutup dan membuka katupnya semakin lemah bahkan terkadang cairan bisa keluar seperti halnya Ingus.
  3. Impotensi (Lemah Syahwat), gangguan pada saraf Parasimpatik bisa mempengaruhi    kemampuan otak dalam merespons seksual, sehingga sulit untuk membangkitkannya kembali.
  4. Kemampuan mengingat otak berkurang, Seperti dikutip dari Steadyhealth, Jumat (12/3/2010) menunjukkan bahwa ada orang-orang yang selama masturbasi mengalami beberapa masalah dengan konsentrasi dan memori, hal ini akibat dari kelebihan asetilkolin. Selain itu terlalu sering masturbasi juga bisa mengeringkan saraf motorik, saraf otot-akhiran dan jaringan asetilkolin.

Bagi remaja yang masih ingin hidup bahagia dimasa mendatang, sebaiknya hindari hal- hal yang dapat merugikan diri kita sendiri. Seberapa madharatnya keadaan kita, maka harus ditinjau dari ukuran nya terlebih dahulu. Seperti kaidah usul fikih : “Maa ubiiha lidh-dharuurati biqadri  qaddi amrihi”  (artinya : “Apa yang diperbolehkan karena situasi darurat, hendaklah diukur dengan kadar  ukurannnya’'). {}Ahmad Fathurrahman Santri PP. Darul Arqam, Garut 

_____________

Ini Ceritaku, Bagaimana Ceritamu?

Hallo sobat,
Semoga hari ini kalian semua dalam keadaan sehat dan bahagia yaaaa...
Rasanya seneng banget lho, ketika aku pertama kali mengikuti kegiatan PKRS ini. Kalian tahu mengapa? Karena aku telah bertemu dengan orang-orang yang hebat. Semua kakak-kakak  dari Rahima, guru-guru, serta teman-teman yang lain. Awalnya siih memang canggung, tapi jam  demi jam berlalu rasanya seneng bisa akrab dengan mereka dan dapat menikmati suasana bersama.

Aku juga mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi diriku dan orang lain tentunya, yaitu hal tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Eeeeeh, bukan itu saja lho, aku juga mengetahui hal yang sebelumnya aku tidak tahu dan hal yang ingin aku tahu. Bagi remaja seperti kita kan rasanya sangat penting banget mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi, mekanisme dalam hal reproduksi dan seksualitas.  Oleh karena itu keberadaan “lembaga" ataupun “badan” dan “komunitas” (perkumpulan) yang mampu memberikan pengetahuan seputar dunia reproduksi dan seksualitas, itu sangatlah bermanfaat bagi kita semua, seperti program Rahima. Karena menurutku banyak remaja yang masih kurang bahkan belum mengerti mengenai pentingnya menjaga organ reproduksi dan seksualitas mereka. Selain itu banyak di kalangan remaja pun yang menganggap bahwa sesuatu hal yang bersangkutan dengan reproduksi dan seksualitas itu jorok, mejijikkan atau terkadang malah menganggap bahwa hal itu tidak perlu untuk dibahas (karena itu adalah ‘aurat’).

Tapi sebenarnya anggapan mereka itu keliru, karena bagiku semua ilmu pengetahuan itu pasti ada manfaatnya, termasuk juga PKRS. Aku senang karena Rahima dapat membantu memberikan informasi yang benar pada teman-teman remajaku terkait dengan Kesehatan Reproduksi Remaja. Atau paling tidak sedikit berbagi pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas, dengan pelatihan, seminar dan sejenisnya melalui PKRS yang di selenggarakan di Jawa Timur ini.  Selain itu, kita sebagai remaja juga diharapkan agar dapat menyebarluaskan pengetahuan yang sudah kita dapatkan kepada remaja-remaja yang lain. Tentu saja ini adalah salah satu tujuan utama dari PKRS ini.

Berikut adalah sebagian dari manfaat PKRS:
Seksualitas

  • Dapat mengetahui pergaulan yang baik dan buruk
  • Menyadarkan kepada orang-orang terdahulu yang masih percaya dengan mitos, bahwa zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang
  • Cara pacaran yang baik atau sehat (bukan berarti menghalalkan pacaran) agar kita tidak terjebak pada perilaku yang tidak kita inginkan
  • Agar dapat mengetahui kapan seharusnya  hubungan seksual itu dilakukan
  • Mengetahui akibat jika kita melakukan hubungan seksual tidak pada waktunya
  • Cara menyalurkan dorongan seksual ke hal-hal yang positif
  • Dapat berhati-hati dengan pergaulan yang bebas di sekitar lingkungan
  • Menghargai hak-hak reproduksi dan seksualitas.


Reproduksi

  • Kita dapat mengetahui tentang apa itu Kesehatan Reproduksi (Kespro)
  • Dapat mengetahui cara menjaga dan merawat organ reproduksi
  • Mengetahui penyakit-penyakit yang ada pada organ reproduksi atau seksualitas
  • Mengetahui resiko reproduksi
  • Supaya dapat mengetahui cara mencegah organ reproduksi dari penyakit
  • Mengetahui cara mengobati  penyakit yang terdapat pada organ seksualitas atau reproduksi
  • Cara mengingat/menghitung siklus menstruasi
  • Memahami  arti hubungan seks yang sehat dan bertanggung jawab.


Keluarga Berencana

  • Dapat mengetahui cara membina kelarga dengan baik
  • Cara merencanakan keluarga yang sehat dan bahagia


Gender

  • Mengurangi pembedaan antara laki-laki dan perempuan dan tindakan diskriminatif atas dasar jenis kelamin (ketidakadilan gender)
  • Mengetahui kebutuhan-kebutuhan remaja dalam hal kespro.
  • Dapat menjalankan peran dan kewajiban masing-masing  dengan kesadaran diri.
  • Dapat menerima kodrat dengan lapang dada.
  • Mengurangi kekerasan, peminggiran, dan beban ganda.


Banyak juga kan manfaatnya? Oleh karena itu teman-teman semua harus menghilangkan pikiran “negatif”. Dan jangan lupa juga kita tidak boleh menganggap atau memvonis seseorang yang mempunyai hal negatif tanpa mengetahui terlebih dahulu apa sebabnya, karena semua orang pasti mempunyai sisi negatif. Maka dari itu PKRS juga penting untuk kita lhoooh,  sebagai kebutuhan masa depan kita semua.

Jangan lakukan sesuatu hal yang membawa teman-teman pada penyesalan, karena penyesalan datangnya di akhir perbuatan. Jadi manfaatkan waktu kita dengan hal-hal positif agar tidak merugikan diri kita sendiri. Jadilah seperti mutiara meskipun jatuh ke dalam lumpur namun tetap akan bersinar ".

Akhirnya, habis deh cerita yang bisa aku bagi dengan teman-teman. Dan pada intinya PKRS penting bagi kita semua dan banyak juga manfaatnya.
“Tiada gading yangt tak retak". Mohon maaf yaaa apabila ada kesalahan,, sebab tiada makhluk yang sempurna selain Allah swt. Semoga bermanfaat bagi kita semua....{}Sakhowati,  Santri PP. Al-Ghazaliyah Jombang

______________

Penguatan  Akses Remaja untuk Kesehatan Seksual dan Hak Reproduksi :
Sebuah Ikhtiar Membuka Jalan


Remaja atau kaum muda khususnya yang belum menikah saat ini masih sangat minim mendapatkan pengetahuan, pemahaman dan pelayanan yang baik terkait dengan SRHR (sexual reproductive health and rights). Hal tersebut terjadi bukan semata-mata karena banyak orang tua masih menganggap tabu dan tidak nyaman ketika membicarakan masalah reproduksi dan seksualitas pada anak-anak mereka yang beranjak remaja, namun juga karena materi terkait reproduksi dan seksualitas di sekolah hanya sebatas sisipan dan belum komprehensif . Hasilnya adalah banyak informasi yang didapat remaja bersumber dari teman, internet, dan buku. Tidak menutup kemungkinan informasi yang didapat kurang lengkap, kurang informatif atau bahkan lebih sarat pesan-pesan agama dan moralitas sehingga terkadang informasi tentang hak dan kesehatan reproduksi luput.

Fenomena tentang pengetahuan dan pemahaman remaja terhadap reproduksi dan seksualitas berbanding terbalik dengan fenomena kasus-kasus reproduksi dan seksualitas yang banyak terjadi pada remaja khususnya di Indonesia. Menurut BKKBN permasalahan remaja yang paling utama di Indonesia adalah seks bebas, berdasarkan SKRRI (Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia) tahun 2007 didapati sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum  menikah, bahkan, 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual  pranikah.

Belum lagi jika kita lihat dan dengar berita-berita yang ada di media massa dan elektronik tentang pelecehan hingga kekerasan seksual di ruang publik. Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan mencatat bahwa kurun waktu 2012 saja ada sekitar 1.085 kasus kekerasan dalam pacaran, sedangkan Komnas Perlindungan Anak mencatat tahun 2011 ada 2.509 laporan kekerasan, 59 persen di antaranya adalah kekerasan seksual, sementara tahun 2012 diterima 2.637 laporan, 62 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Dari fenomena tersebut diduga kuat informasi tentang reproduksi dan seksualitas remaja yang minim turut mempengaruhi masalah-masalah diatas.

Atas keprihatinan tersebut, Rahima bersama 3 (tiga) lembaga lain, yaitu Pusat Kajian Gender dan Seksualitas (Puska Gensek) FISIP UI, PKBI Pusat dan Yayasan Jurnal Perempuan  (YJP) yang selanjutnya disebut dengan Task Force melaksanakan program bersama yakni ”Penguatan  Akses Remaja untuk Kesehatan Seksual dan Hak Reproduksi” yang dilaksanakan mulai Januari 2012 hingga akhir 2014 nanti. Dalam tim ini lembaga-lembaga yang tergabung memiliki keahlian dan konsen yang berbeda walaupun mengusung isu yang sama. Seperti Rahima yang sejak berdiri konsen pada masyarakat pesantren, guru agama, tokoh agama dan komunitas keagamaan Islam. Sehingga dalam program ini Rahima menjadi leading sector untuk kelompok agama Islam yakni Guru dan siswa di pesantren, dan Kementrian Agama. PKBI Pusat dalam tim ini menjadi leading sector untuk guru dan siswa di sekolah umum, karena PKBI merupakan organisasi yang sudah sangat lama konsen pada isu Kespro dan Seksualitas dan mempunyai basis remaja di sekolah-sekolah umum. YJP merupakan yayasan yang banyak menerbitkan jurnal tentang kespro dan seksualitas, selain itu YJP juga mempunyai media kampanye anak muda yang disebut Change dalam berbagai versi baik majalah, maupun jejaring sosial seperti twitter. Dan yang terakhir adalah Puska GenSeks Fisip UI yang dalam tim ini sebagai leading sector untuk Penelitian-penelitian baik itu baseline, end line maupun policy mapping terkait dengan kebijakan SRHR yang ada khususnya di Kemendikbud.

Ada beberapa strategi yang dilakukan oleh Task Force yaitu:
Mendorong lokal/daerah untuk berinisiatif melakukan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas (PKRS) di sekolah.
Langkah awal adalah dengan ini melakukan pemetaan kebutuhan oleh PKBI di 18 wilayah, Rahima 4 wilayah untuk melihat kebutuhan yang tentunya berbeda di setiap wilayah, selain itu juga untuk melihat faktor pendukung dan penghambat di setiap wilayah, ini juga sekaligus membangun jeringan dengan kelompok pemangku kebijakan, kelompok guru dan kelompok remaja. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan dan membuat joint guidelines SRHR (yang leading sector-nya mengenai hal ini adalah PKBI) yang bisa dipakai sebagai panduan kurikulum PKRS yang kemudian disesuaikan dengan konteks masing-masing daerah bekerjasama dengan guru dan siswa. Langkah terakhir menyiapkan guru dan siswa sebagai agen informasi PKRS dengan memberikan penguatan tentang pengetahuan PKRS, PE, dan Advokasi.
Pemberdayaan kaum muda sebagai pendukung untuk pendidikan SRHR, kelompok-kelompok remaja yang sudah dibentuk oleh YJP, PKBI dan Rahima diberikan penguatan terkait kampanye dan advokasi kemudian diberdayakan dengan diberi wadah dalam forum remaja nasional, forum menulis di Jurnal Perempuan dan Majalah Swara Rahima.
Pemetaan Kebijakan dan Advokasi Kebijakan
Pemetaan kebijakan dilakukan dengan penelitian-penelitian tentang kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan PKRS, baik itu di Kemendikbud (yang dilakukan oleh PUSKA GenSeks Fisip UI) maupun di Kementrian Agama (yang dilakukan oleh Rahima).

Hingga pertengahan tahun 2013 ini, program Rahima yang sudah berjalan adalah pemetaan kebutuhan, pembuatan joint guidelines, membentuk jaringan stakeholders dan anak muda/remaja, penguatan-penguatan berupa training tentang PKRS dan Pendidik Sebaya, Pemetaan kebijakan baik daerah maupun nasional, serta kampanye melalui media cetak (majalah Swara Rahima) maupun media online (website Change). Demikian sekilas tentang Program PKRS, semoga dengan adanya penguatan di beberapa level tersebut diharapkan tumbuh pemahaman akan pentingnya mendorong pendidikan SRHR terintegrasi kedalam pendidikan di sekolah maupun pesantren. Semoga!  (Anis)   

___________

Awas, Kekerasan Seksual Saat Pacaran !

Pacaran seolah sudah menjadi “budaya” bagi semua remaja. Terutama bagi anak seusia SLTP dan SLTA. Dalihnya adalah untuk saling mengenal satu dengan lain. Perkembangan psikologis yang dialami remaja memang “tidak bisa disalahkan” untuk saling mengetahui tentang banyak hal. Namun ketika hubungan pacaran sudah mengarah kepada hubungan seksual yang tidak pada tempatnya, bahkan kekerasan seksual, maka akan menjadi catatan buram tersendiri.

Kesalahan Makna
Dalam sebuah rilis tertanggal 29 Agustus 2012, Women Crisis Center (WCC) Jombang memuat fakta mencengangkan. Disebutkan bahwa penyebab kekerasan seksual terhadap pasangan remaja saat menjalin hubungan pacaran bervariasi. Semua itu terjadi karena kesalahan mereka sendiri dalam memaknai cinta. Di antaranya hubungan seks sebelum menikah atau yang populer disebut dengan making love (ML) dipolitisasi sebagai alasan pembuktian atas nama cinta. Pada varian lain, biasanya yang menjadi korban adalah pihak perempuan, diajukan pilihan simalakama. Jika dia bersedia melakukan ML, maka dianggap jatuh cinta sejati. Jika menolak, maka dituduh berbohong dalam berpacaran.

Cara lain yang digunakan adalah dengan menggunakan intimidasi psikologis. Korban biasanya diancam akan dilaporkan bahwa telah melakukan ML. Baik dilaporkan kepada orang tua, guru, pihak sekolah atau teman sebaya. Pemberian janji berupa kebahagiaan yang bersifat materi atau sesuatu yang membuat korban tidak berdaya, sekarang juga menjadi trend tersendiri. Yang sering digunakan adalah penyalahgunaan narkoba dan dicekoki dengan minuman keras.

Rasa penasaran terhadap nuansa tantangan untuk membuat kenangan yang tidak akan terlupakan juga disinyalir menjadi faktor terjadinya ML di luar nikah. Varian ini biasanya dilakukan sedang dalam kondisi suka ria atau berfoya-foya. Seperti perayaan Valentine’s Day, malam tahun baru, ulang tahun kelahiran, saat bepergian rekreasi atau perayaan hari jadian pacaran (anniversary).

Dengan redaksi agak berbeda, Perhimpunan Rahima pada Mei 2012 lalu juga mengadakan riset di Jombang, Kediri, Lamongan dan Banyuwangi. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam (in depth interview), focus group discussion atau FGD, survei dan studi literer. LSM yang intens dalam kegiatan kaum muda ini membagikan 473 kuesioner di 18 sekolah secara acak. Pihak yang diwawancarai sebanyak 20 informan.

Hasilnya membuat para orang tua mengelus dada. Sebanyak 72,6% responden mengaku sudah pernah berpacaran. Ironinya, yang dilakukan saat berpacaran sudah mengarah ke hal-hal negatif. Seperti berpegangan tangan dan berpelukan (30,8%), cium pipi (11,3%), cium bibir (12,7%) dan meraba-raba alat vital pasangan atau petting (4,8%). Bahkan, sebanyak 1,7% responden mengaku sudah melakukan hubungan intim di luar nikah atau intercouse.

Unjuk Prestasi
Realita ini menjadi suatu hal yang memprihatinkan. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa proses keruntuhan bangsa ini di masa depan mulai terasa. Lebih jauh lagi, budaya nge-mall seringkali membuat remaja tidak jujur kepada diri sendiri. Malu tampil apa adanya, atau malu jika tidak tampil gaul. Secara langsung, sikap ini akan melahirkan nalar berpikir manipulatif. Sehingga kaum muda Indonesia pada masa sekarang tertinggal jauh dari kaum muda negara lainnya.

Untuk mengatasi itu semua, kaum muda Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah modal dasar yang memadai. Di antara modal dasar terpenting adalah kenyataan bahwa rakyat dan bangsa Indonesia adalah amat agamis. Ajaran agama yang juga mencakup nilai-nilai moral dan etis pada gilirannya dapat diterjemahkan ke dalam pengembangan sains-teknologi yang berwawasan moral-etis tadi. Sehingga kaum muda mampu membentengi diri dengan kekuatan nilai agama dan budaya dalam memasuki era globalisasi.

Wawasan kaum muda juga harus diperluas dengan mengakses informasi sebanyak-banyaknya. Kemajuan teknologi harus dikuasai untuk menjadi jendela membuka cakrawala. Kemampuan intelektual harus terus diasah melalui diskusi, seminar dan forum ilmiah lainnya. Perjuangan untuk melakukan advokasi kepada rakyat harus terus dilakukan secara konsisten.

Religiusitas harus dinomorsatukan. Sikap yang arif dan bijak wajib ditunjukkan. Kesederhanaan penampilan dan revolusioner dalam pemikiran harus dijunjung tinggi. Hedonisme dalam dunia remaja harus segera diakhiri.

Remaja Indonesia sudah saatnya menunjukkan jati diri lewat prestasi. Bukan jamannya lagi terjebak ke dalam hedonisme hidup. Terlebih generasi mall yang berparadigma instant dalam memahami kehidupan modern. Termasuk pemahaman yang sempit saat memaknai pacaran dengan kekerasan seksual. Diharapkan mereka akan mampu menjadi pelopor bagi masyarakat sekitar. Semoga.{}

- Mukani, guru PAI di SMAN 1 Jombang, Jawa Timur -

_______________

Kekerasan atas Nama Cinta

Kekerasan terhadap perempuan tidak saja dilakukan dalam kehidupan rumah tangga saja. Namun, banyak juga yang terjadi justru saat pacaran. Seperti yang kita tahu, belakangan memang sedang santer diberitakan kasus yang menimpa salah satu pasangan selebriti, Ardina Rasti dan Eza Gionino. Diketahui Rasti mengatakan pernah dianiaya oleh Eza saat keduanya menjalin kasih. Lantas, bagaimana sebenarnya kekerasan dalam pacaran itu bisa terjadi? Sebelum kita membahas apa saja yang termasuk dalam kekerasan dalam pacaran, ada baiknya kita mendefinisikan dahulu apa yang disebut dengan pacaran.

Menurut definisi dari kamus besar Bahasa Indonesia, Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Dalam agama Islam, kita mengenal dengan istilah ta’aruf atau masa perkenalan untuk saling menjajaki pasangan sebelum memasuki bahtera perkawinan. Dalam Islam sendiri ada beberapa koridor yang mengatur masa ta’aruf yakni menjaga pandangan mata dan hati dari hal-hal yang diharamkan. Menghindari khalwat/berdua-dua-an, menghindari persentuhan fisik, menjaga aurat masing-masing sesuai aturan syar'i atau Islam. Ta’aruf juga dilakukan dengan satu orang pasangan saja, jadi tidak boleh melakukan ta’aruf dengan banyak orang. Biasanya orang yang melakukan ta’aruf adalah orang yang siap menuju pelaminan.

Lalu bagaimana dengan trend pacaran remaja saat ini? Ada beberapa tahap dalam pacaran khas remaja saat ini. Pertama,  yaitu perjumpaan yang diikuti oleh saling menukar nomer HP kemudian berlanjut dengan komunikasi secara intens yang diikuti dengan munculnya benih-benih cinta antara keduanya. Kedua,  adalah pengungkapan diri dan pertalian, dalam bahasa gaul-nya adalah “nembak” dan ”jadian”.  Dalam fase ini ada ikrar saling mencintai dan kesepakatan untuk terus bersama, berjanji sehidup semati. Biasanya ketika memasuki tahap ini remaja seperti dimabuk cinta, tak bisa berpisah barang sebentar dan selalu ingin bersama dengan sang kekasih. Fase selanjutnya adalah pembuktian; yakni sebuah pengungkapan diri dan pengekpresian rasa cinta pada sang kekasih. Dalam fase ini seringkali pasangan meminta kekasihnya untuk melakukan sesuatu atas nama pembuktian cinta, dan disinilah seringkali muncul kekerasan dalam pacaran.

Dibandingkan dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan dalam pacaran atau dating violence seringkali terabaikan. Menurut definisi dari Office on Violence Against Women (OVW) of the U.S. Department of Justice mengenai ‘dating violence’,  adalah Dating violence is controlling, abusive, and aggressive behavior in a romantic relationship. It occurs in both heterosexual and homosexual relationships and can include verbal, emotional, physical, or sexual abuse, or a combination of these (dikutip dari website Rifka Annisa,http://rifkaanisa.blogdetik.com/2012/10/23/kekerasan-dalam-pacaran-dating- violence/comment-page-1/).

Kekerasan dalam pacaran adalah mengontrol atau mengendalikan pasangan, bersikap kasar, dan agresif di dalam sebuah hubungan baik pada pasangan heteroseksual dan homoseksual. Kekerasan ini bisa dalam bentuk verbal, emosional, fisik dan kekerasan seksual.  Bentuk kekerasan dalam pacaran seringkali terjadi di sekitar kita namun banyak yang tidak menyadarinya baik itu oleh korban, atau bahkan pelakunya sendiri Rasionalisasinya adalah semua yang dilakukan dalam masa pacaran baik itu menyenangkan dan tidak menyenangkan adalah sebuah pembuktian cinta dan kesetiaan pada pasangan. Dalam hal ini seringkali perempuan yang menjadi korban. Para gadis remaja yang sedang dimabuk cinta akan menuruti semua keinginan pasangannya atas nama cinta meskipun seringkali menyakitkan.

Berikut beberapa bentuk kekerasan yang sering terjadi di dalam pacaran, yaitu: Kekerasan fisik, meliputi memukul, menendang, menjambak rambut, menampar, menonjok, melempar benda, membawa ke tempat yang membahayakan keselamatan korban. Kekerasan seksual, meliputi setiap kontak seksual yang tidak diinginkan, rabaan, ciuman, melakukan hubungan seksual yang tidak kita kehendaki dengan berbagai ancaman. Kekerasan emosional atau psikis, meliputi mengejek, curiga berlebihan, selalu menyalahkan pacar, mengekang, melarang atau membatasi aktifitas kita, memerasa, melarang kita untuk menegur orang lain. Kekerasan secara ekonomi, bentuk kekerasan ini memang tidak terlalu terasa dan bahkan menganggap tidak pernah ada, kekerasan yang sering timbul dalam hal ekonomi di antaranya berupa peminjaman uang dan/atau barang yang pada ketika ingin ditagih maka si peminjam beralasan yang macam-macam, kemudian dapat juga dengan pengendalian terhadap pengeluaran dari salah satu pihak, misal: selalu minta ditraktir dan belanja barang yang mewah, ketika tidak dituruti kemauannya maka akan berimbas kepada kekerasan yang lain, bisa fisik maupu psikis.

Pencegahan kekerasan dalam pacaran adalah dengan memahami bahwa cinta adalah kasih dan sayang bukan menyakiti ataupun memaksakan kehendak. Konsep inilah yang harus dipahami oleh remaja. Buatlah komitmen berpacaran secara sehat dari awal menjalani hubungan, saling menghormati pasangan dan memahami batasan-batasan dalam pacaran. Jika sudah terlanjur mengalami kekerasan, jangan segan-segan untuk melapor kepada pihak berwajib. Di Indonesia, telah ada hukum yang melindungi korban kekerasan (termasuk KDP) yaitu pasal 351-358 KUHP untuk penganiayaan fisik, pasal 289-296 tentang pencabulan, jika kita mengalami pelecehan seksual, pasal 281-283, pasal 532-533 untuk kejahatan terhadap kesopanan, dan pasal 286-288 untuk persetubuhan dengan perempuan di bawah umur. Mintalah perlindungan pada lembaga-lembaga perlindungan perempuan dan anak. Dan yang  terakhir jangan segan-segan untuk mengakhiri hubungan apabila pasangan anda menunjukkan gejala-gejala perlakuan kekerasan atas nama cinta, tidak ada alasan meneruskan hubungan dengan seseorang yang melakukan kekerasan pada pasangannya. Jangan bertahan dengan hubungan yang menyakitkan, apalagi atas nama cinta. waspadalah kekerasan atas nama cinta mengintai!{} Zulfi Zumala

______________

Kenali KDP di Sekitar Kita !

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, dimana pada masa ini para remaja bingung mencari dan menemukan jati dirinya, dan cenderung menjadikan idolanya sebagai figur. Masa yang ditandai dengan perubahan fisik maupun psikologis. Perubahan psikis biasanya ditandai dengan mulai adanya perasaan suka kepada lawan jenis. Dan perasaan yang tak menentu adalah ungkapan yang membuat masa remaja adalah masa yang paling indah itu tetap jaya sepanjang masa.

Jika berbicara tentang remaja tentu saja tak akanl epas dari kata cinta. Remaja yang selalu identik dengan cinta ini akan selalu cenderung menguasai dirinya sehingga mereka rela berbuat apa pun demi respon (timbal balik) cintanya terhadap seseorang, baik itu respon perhatian dan harapan kasih sayang  dari lingkungan keluarga, masyarakat dan teman sebaya seperti sahabat dan kekasihnya.

Hubungan sepasang kekasih yang paling dominan (sebut saja pacaran) merupakan bukti adanya cinta di antara remaja pada saat ini. Cinta yang tak seharusnya dibuktikan  dengan hubungan pacaran ini sekarang sudah menjadi lumrah bagi remaja.

Pacaran dalam kalangan remaja pesantren pun juga tak mau ketinggalan. Semuanya telah menjalar menjadi hal biasa, meski setiap saat, setiap waktu mereka selalu ditanamkan dan diperingati dengan curahan ilmu agama, mereka sudah tak begitu menghiraukan penjelasan bahwasanya pacaran diharamkan. Mereka sudah sangat terpengaruh pada kalangan yang  memandang tak punya pacar berarti ia dianggap ketinggalan, walau dalam Islam sebenarnya sudah sangat dilarang.

Pada zaman sekarang relasi pacaran yang biasanya dipandang sebagai hubungan sepasang remaja yang penuh dengan cinta dan kasih sayang ternyata sangat tak menjamin kebahagiaan selaras di antara keduanya. Hubungan ini menjadi sangat intim mengingat kebebasan remaja pada zaman sekarang  tanpa mereka sadari salah satu dari mereka sebenarnya memiliki perasaan yang membuatnya takut dan merasa dirugikan. Namun cinta yang mereka yakini membuatnya tidak mengakui bahwa mereka berada dalam posisi  ketidakadilan.

Ketika seorang remaja memiliki hubungan special seperti ini percaya atau tidak ia akan melakukan semua yang bisa  ia lakukan untuk selalu tampil sempurna di depan pasangannya. Sesuai penelitian, contoh saja dalam kehidupan kecil santri,  ia akan memberikan waktunya untuk sang do’i . Waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan berharga, ia malah sms-an di tempat persembunyian yang ia rasa aman dari pencarian pengurus pondok. Ia akan banyak menyita waktu gara-gara menemani sang do’i di dunia maya. Belum lagi jika sang do’i meminta untuk bertemu ia pasti akan berusaha mencuri waktu, tak peduli terkadang mengorbankan waktu sekolah untuk bolos, mencuri waktu mengaji untuk menghilang, membuang waktu istirahatnya yang terbatas, belum lagi ia akan rela berlagak seperti pencuri yang membobol pintu pondok dan bahkan meminta boyong (berhenti mondok), semuanya demi menuruti permintaan sang kekasih.

Jika kita pikirkan semua  yang  ia lakukan sangat  memiliki resiko yang sangat tinggi dan akan menyiksa dirinya, karena semua yang mereka lakukan sangat bertentangan dengan peraturan pesantren. Dari hal tidak ikut kegiatan saja ia sudah dikasus kecil oleh keamanan pondok, apa lagi hal-hal seperti bawa HP, bobol dan ketahuan ketemuan akan dikasus dan merupakan  pelanggaran berat yang hukumannya juga seimbang karena  orang tuanya juga harus terpanggil karena ulah anak remajanya, yang tentunya semua itu berawal dari sebab pacaran  yang tanpa kita sadari tersirat kekerasan di  dalamnya.

Melihat selintas gambaran pacaran  ala santri yang cukup menyiksa batin itu, kita sangat berprihatin memandang remaja luar yang penuh dengan kebebasan. Sangat miris sekali jika seorang remaja menganggap cinta adalah  segalanya, menyalahgunakan cinta dan mengotori makna kesucian cinta. Remaja harus sadar bahwa cinta tak harus dibuktikan dengan pacaran. Jangan sampai cinta dijadikan sebagai penghalang masa depan. Jadikan cinta sebagai semangat hidup yang  memberikan sejuta warna dan kepastian untuk masa depan yang  akan datang.{}

-Tanwirul Hawalik, Kelas XI IPA, PIP. Bustanul Makmur-
_______________


Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Pacaran

Dari hasil wawancara kepada para remaja yang mengaku pernah pacaran, dan selama pacaran ada beberapa bentuk kekerasan sebagai berikut :

  1. Bentuk kekerasan fisik : mereka bilang bahwa pernah mengalami kekerasan fisik diantaranya dicubit, ditampar, diglandang, diporotin duitnya, dipukul.
  2. Bentuk kekerasan mental : Beberapa bentuk kekerasan mental yang dialami oleh mereka adalah dibentak – bentak, direndahkan, dicuekin, dituduh, tidak diperhatikan, penghinaan, diputusin tanpa sebab yang jelas, ingkar janji, diselingkuhin, dikekang, over protektif.
  3. Bentuk kekerasan seksual  : tidak pernah mereka alami.


Dari beberapa pengalaman mereka saat pacaran, ada juga yang sakit karena :

  1. Diminta pasangannya untuk selingkuh.
  2. Diputus karena pindah tempat tinggal.
  3. Diputus lantaran terlalu sayang dengan pasangannya.


Korban dari kekerasan dalam pacaran ini memang kebanyakan adalah perempuan karena mereka seringkali dianggap sebagai manusia yang lemah. Namun ada juga korban dari pihak laki – laki.  Mereka bilang bahwa motivasi kekerasan dalam pacaran lantaran pernah disakiti oleh lawan jenis, sehingga mereka pun membalas dendam dengan melakukan tindak kekerasan ini.

Cinta adalah bagaimana kita bisa menghargai orang yang kita sayangi dan bukan karena hawa nafsu. Cinta sejati dalam Islam itu ada, yaitu mencintai seseorang karena Allah dan untuk menuju kepada Allah.{} Achmat Maschurrahman ; Ketua Forum Remaja Kediri

________________

Hati-Hati Dengan Lingkaran Kekerasan
Kekerasan merupakan siklus tiada henti dan berpola. Janji dan permintaan maaf tidak menjamin pelaku tidak melakukan kekerasan lagi walau dalam bentuk yang berbeda.

Bagaimana tahap-tahap siklus kekerasan dimulai:

1.    Tension Building Phase (Fase Pembagunan Ketegangan)
Pada fase ini merupakan fase awal lahirnya tindak kekerasan di dalam sebuah hubungan, biasanya bentuk-bentuk kekerasan yang timbul diawali dari komunikasi yang buruk, hinaan kepada pasangan, pemukulan dalam bentuk tamparan dan tindakan kekerasan fisik “kecil” lainnya kepada korban. Pada fase ini biasanya korban akan mulai menjaga jarak untuk tidak menimbulkan konflik dengan pelaku, namun pada kenyataanya modifikasi yang dilakukan oleh korban ternyata malah membuat ketegangan yang makin memuncak kepada pelaku dan bahkan pelaku akan melakukan tindakan yang lebih brutal. Pada fase awal korban dapat merasakan beberapa hal, yaitu:

  • Mencoba untuk menjaga dan membina keharmonisan dengan pelaku dan berusaha keluar dari ketakutan
  • Memanipulasi atau menjaga kondisi yang kondusif di dalam hubungan untuk mencegah terjadinya ketegangan yang dapat memicu kekerasan
  • Mulai menarik diri untuk relaksasi dan menenangkan diri dari tekanan yang ada

2.    Acting-out phase (Fase Tindakan Kronis)
Pada fase ini, tindakan yang dilakukan oleh pelaku makin kasar dan bahkan mengakibatkan luka fisik kepada korban, namun korban sering kali mengingkari tindakan yang dilakukan oleh pelaku dan korban juga tidak mau mendapatkan perawatan serta pengobatan atas luka yang ditimbulkan oleh tindak kekerasan tersebut. Pada fase ini korban akan mulai merasakan beberapa hal di antaranya:

  • Merasa sudah tidak bisa mengontrol diri
  • Menunggu untuk mendapatkan perawatan medis jika korban memilih untuk melakukan hal tersebut
  • Tidak percaya terhadap hukum dan aparat penegak hukum, takut menghukum pelaku melalui jalur hukum dan bahkan akan melindungi pelaku jika pelaku ditangkap oleh polisi

3.    Honeymoon Phase/Reconsiliation Phase (Fase Bulan Madu/Fase Rekonsiliasi)
Pada fase ini, karateristik pelaku akan menjadi lebih baik, memohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Jika korban sedang dalam tahap perawatan dan pengobatan dari luka yang dia derita, maka pelaku akan datang dengan membawakan bunga, kado, benda-benda yang disenangi oleh korban dan bahkan mengajak pihak keluarga untuk mudah mendapatkan pengampunan kepada korban, bahkan pelaku juga akan mengatakan bahwa jika korban meninggalkannya, hal tersebut akan berpengaruh kepada perkembangan anak-anak mereka.

Dampak dari upaya yang dilakukan oleh pelaku dalam fase ini, pada umumnya akan meningkatkan keyakinan korban bahwa akan ada perbaikan kepada pelaku dan hubungan mereka akan kembali menjadi lebih harmonis. Namun patut diingat nahwa pada fase ini terlihat seperti ada upaya perdamaian, tapi sebenarnya ini adalah suatu upaya untuk melanggengkan tindakan-tindakan kekerasan lain lagi dikemudian hari.

4.    Calm Phase (Fase Penenangan)
Selama fase ini (fase ini sering dianggap sebagai bagian dari fase bulan madu), hubungan antar pasangan relatif akan berjalan damai dan harmonis, namun dikarenakan tidak ada pemotongan mata rantai di fase-fase sebelumnya maka kecenderungan untuk kembali ke fase awal akan terjadi.

Sumber : http://sapaindonesia.wordpress.com/2011/04/04/lingkaran-kekerasan/

_____________

Tips
Mencegah lebih baik dari pada mengobati, begitu pepatah berujar. Buat kamu-kamu yang akan dan sedang dalam masa pacaran bisa mencegah terjadinya kekerasan, berikut beberapa tips yang bisa kamu coba:

  1. Pastikan kamu mengenal si dia dengan baik di dunia nyata, jangan hanya lewat chatting atau jejaring sosial (dunia maya) karena banyak sekali kejahatan yang bermula dari perkenalan dunia maya
  2. Mengenal keluarga dan teman-teman si dia akan mempermudah kamu mendapatkan informasi tentang kepribadian dan kebiasaan-kebisaannya


Trus gimana dong kalau terlanjur jadi korban?

  1. Berani mengambil sikap, kamu bukanlah orang yang penakut yang hanya bisa diam ketika menerima tindak kekerasan dari si dia, berani katakan "tidak" dan hentikan hubungan kamu dengan dia waktu itu juga ketika anda menerima tindak kekerasan.
  2. Meski saling cinta, tidak berarti pasangan boleh bertindak semau gue terhadap kamu
  3. Hati-hati terhadap rayuan dan janji-janji manis si dia. Jika terjadi pemaksaan hubungan seksual, si dia bisa aja berdalih bahwa hal itu dilakukan suka sama suka
  4. Laporkan ke polisi atau pihak berwenang lain, jika mengalami kekerasan.
  5. Mintalah Lembaga Bantuan Hukum untuk mendampingi


Sumber:
http://bumi-informasi.blogspot.com/2013/01/tips-menghindari-kekerasan-dalam-pacaran.html
http://muda.kompasiana.com/2012/07/22/tips-menghindari-kekerasan-dalam-pacaran-479742.html
http://matahati-christian.blogspot.com/2011/09/kekerasan-dalam-pacaran-2-habis.html

______________
Mitos atau Fakta

Pernah mendengar mitos-mitos seputar pacaran, seks & seksualitas, kehamilan dan yang lainnya?  Atau kamu juga masih mencari-cari apa sebetulnya yang dimaksud dengan mitos? Pastilah pernah mendengar mitos-mitos tersebut, tapi seringkali bingung untuk melakukan apa saat duduk pada posisi tersebut, akhirnya ya terus saja memelihara mitos tersebut.

Sebenarnya istilah mitos mulai dikenal sejak abad ke 19 dan seringkali diartikan sebagai legenda, ritual atau kepercayaan turun temurun untuk menjelaskan sebuah fenomena. Mitos dapat menyebar antar generasi meskipun belum dapat dibuktikan kebenarannya.
Yuk tengok yang satu ini dan temukan mana mitos dan mana faktanya.

Mitos
Mitos bahwa cemburu maupun kekerasan dari pacar adalah bentuk perhatian doi ke kita dan tanda kalau dia cinta banget.
Fakta
Itu bukan bukti cinta, tetapi upaya mengontrol serta membatasi agar kita patuh, tunduk dan selalu menuruti kemauan pacar.

Mitos
Bahwa korban kekerasan juga punya andil dan memancing pelaku. Jadi, korban sendirilah yang menyebabkan kekerasan itu.
Fakta
Pelaku akan tetap melakukan kekerasan meski korban tidak melakukan apapun. Dengan menyalahkan korban, si pelaku berupaya membela diri dan melemparkan kesalahannya.

Mitos
Kalau pacar sudah janji mau bertanggungjawab sebelum melakukan hubungan seksual, maka kita akan baik-baik aja, dan do’i pasti nepatin janjinya.
Fakta
Hati-hati dengan janji-janji manis dan rayuan ‘maut’ yang dilontarkan laki-laki saat memaksa berhubungan seksual. Karena sudah banyak kasus perempuan yang akhirnya ditinggalkan pasangannya setelah ia dinodai bahkan sampai hamil di luar nikah.

Mitos
Setelah punya pacar, maka pasangan kita berhak melakukan apa saja, karena kita sudah menjadi miliknya.
Fakta
Wah…nggak lah yaaa….Tak seorangpun berhak atas diri kita, selain kita sendiri. Pacar tidak berhak memperlakukan kita seenaknya

Mitos
Masturbasi/onani bisa menyebabkan kemandulan, ejakulasi dini, impotensi, rambut rontok dan lutut kopong
Fakta
Masturbasi /onani biasanya dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya belum memiliki pasangan atau saat jauh dari suami/istri. Masturbasi/onani tidak mengganggu kesehatan fisik selama dilakukan secara aman. Selain itu, secara ilmiah masturbasi/onani tidak ada hubungannya dengan kemandulan, ejakulasi dini, impotensi, rambut rontok atau lutut kopong. Hanya saja masturbasi/onani mengeluarkan banyak energi, maka biasanya setelah melakukan masturbasi/onani tubuh akan merasa sangat lelah. Pengaruhnya sering juga bersifat psikologis, seperti perasaan bersalah dan berdosa yang kadarnya berbeda dari setiap orang. Namun, frekuensi masturbasi/onani yang terlalu sering dapat mengurangi produktivitas.

Mitos
Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan seksual/tidak perawan lagi
Fakta
Tidak selalu demikian, selaput dara merupakan selaput kulit yang tipis yang dapat meregang dan robek karena beberpa hal. Selain karena melakukan hubungan seksual, selaput dara juga bisa robek karena melakukan olah raga tertentu seperti naik sepeda atau berkuda. Karena itu, robeknya selaput dara belum tentu karena hubungan seksual, malah ada juga perempuan yang sudah menikah dan berhubungan seksual tapi selaput daranya masih utuh dan tidak koyak karena selaput daranya elastik.

Mitos
Jangan minum air es saat menstruasi
Fakta
Air dingin tidak memiliki efek apapun saat menstruasi. Selama tidak merasakan sakit ataupun perut kembung, minum air es sah-sah saja.


Sumber
Tim Mitra Inti, Mitos Seputar Masalah seksualitas & Kesehatan Reproduksi, , Jakarta 2009.
http://wartametropolitan.blogspot.com/2012/09/tips-menghadapi-kekerasan-dalam-pacaran.html
http://matahati-christian.blogspot.com/2011/09/kekerasan-dalam-pacaran-2-habis.html



Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 08 Mei 2013 04:04 )  

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

28-31 Agustus 2014 Tadarus 7 Pengkaderan Ulama Perempuan di Klaten - Jawa Tengah

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini389
mod_vvisit_counterKemarin1184
mod_vvisit_counterMinggu ini3679
mod_vvisit_counterBulan Ini24890
mod_vvisit_counterSemua1246249

Yang Online

Kami memiliki 36 Tamu online

Flag Contries

free counters