RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Friday
Oct 24th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Dirasah Hadist Kepemimpinan Perempuan di Wilayah Konflik: Otoritas, Efektifitas, dan Perspektif Kemanusiaan : Dirasah Hadist Edisi 42

Kepemimpinan Perempuan di Wilayah Konflik: Otoritas, Efektifitas, dan Perspektif Kemanusiaan : Dirasah Hadist Edisi 42

E-mail Cetak PDF

Hadis Bukhari: “Tidak akan sejahtera suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada perempuan” (Riwayat Bukhari, no. 4469) muncul pada saat konflik besar pertama kali melanda umat Islam. Yaitu perang saudara paska pembunuhan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan ra., oleh para pemberontak. Satu kubu menghendaki pengangkatan khalifah pengganti secara langsung, kubu yang lain menghendaki pembersihan para pemberontak terlebih dahulu, sebelum pengangkatan khalifah pengganti.

Kubu pertama meminta Ali bin Thalib ra. menjadi pemimpin, kubu kedua justru datang kepada Aisyah ra., istri tercinta Nabi saw.Mereka memintanya menjadi pemimpin mereka menuntut pembersihan kota dari para pemberontak. Kedua kubu kemudian terlibat perang yang disebut perang Jamal, atau perang Unta. Karena Aisyah memimpin pasukannya dengan menunggang unta, bukan kuda sebagaimana pemimpin yang lain.

Kubu pertama tentu mendiskreditkan kepemimpinan Aisyah, begitupun kubu kedua pada Ali. Ada kubu yang ketiga, yaitu mereka yang memilih abstain dari konflik ini, tentu menyalahkan Ali maupun Aisyah, sebagai pihak yang bertanggung-jawab terhadap konflik. Yang meriwayatkan hadis di atas adalah dari kubu ketiga yang abstain, yaitu Abi Bakrah ra. Itupun diriwayatkan jauh setelah perang usai. Sayangnya, tidak ada catatan bagaimana reaksi dari kedua kubu terhadap hadis ini. Aisyah biasanya keras mengkritik orang yang seenaknya meriwayatkan Hadis.

Begitupun kubu pertama, tidak merespon sama sekali terhadap hadis ini. Ammar bin Yasir ra, juru bicara kubu pertama, yang ditugaskan keliling mendelegitimasi Aisyah, tidak menggunakan Hadis ini. Ketika ia sampai di Kota Basrah dan meminta penduduknya menolak kepemimpinan Aisyah dan mendukung Ali, ia justru ditentang dua Sahabat besar, Abu Musa ra. dan Abu Mas’ud ra. (Sahih Bukhari, Kitab al-Fitan, no. Hadis: 7191). Ammar tidak menjawab mereka dengan hadis di atas. Bisa jadi, Abi Bakrah meriwayatkannya secara diam-diam, atau di akhir hayatnya. Hanya untuk melegitimasi sikapnya di hadapan orang sekelilingnya.

Jika hanya melihat penggalan teks semata sebagaimana di paragraf pertama, mungkin kepemimpinan perempuan dalam Islam hanya berkutat pada isu otoritas. Tetapi jika melihat pada konteks sebagaimana dalam penjelaskan singkat di atas, ia bisa ditarik lebih luas lagi, misalnya isu efektitas dan isu kemanusiaan. Dalam masa-masa konflik biasanya kedua isu ini lebih mengemuka dibanding yang isu otoritas. Pada kasus Aisyah di atas misalnya, ia didorong menjadi pemimpin karena dianggap paling otoritatif untuk dihadapkan dengan Ali, keponakan sekaligus menantu Nabi saw. Aisyah adalah istri tercinta Nabi saw., perempuan paling pintar, guru dari banyak laki-laki, dan diakui publik.

Otoritas Kepemimpinan Perempuan

Berkaca pada kasus pencalonan Khofifah Indar Parawansa dalam Pilkada Jawa Timur 2013, yang digugat Sekjen Partai Persatuan Nahdatul Ummah Indonesia (PPNUI) Jawa Timur, Andi William Irfan, karena dianggap melanggar fatwa haram ulama (Kompas, 2/6/2013), memang isu otoritas masih seksi di kalangan agamawan terkait kepemimpinan perempuan. Teks yang paling banyak dirujuk dalam hal ini adalah penggalan hadis di atas. Memang sudah banyak reinterpretasi yang lebih kontekstual yang dilakuan ulama, termasuk oleh kalangan ulama Azhar Mesir.

Syekh Muhammad Ghazali misalnya, memahami pernyataan Nabi di atas sebagai respon atas kasus pengangkatan seorang putri raja yang masih belia, untuk menduduki singgasan Kisra Persia. Karena itu, ia harus dipahami secara khusus, yaitu kepemimpinan yang serba mutlak seperti Kaisar atau raja oleh perempuan yang tidak cakap (Muhammad al-Ghazali, as-Sunnah an-Nabawiyah, 1989: 44-53). Presiden, perdana mentri, atau ketua parlemen, atau jabatan apapun, berbeda juah dari pola kepemimpinan Kisra. Hanya jabatan khalifah yang mungkin mirip dengan jabatan Kisra (al-Ghadban, al-Huquq al-Mi’ah li al-Mar’ah al-Muslimah, 2011: 265-268).

Memang, kebanyakan ulama Arab masih mengharamkan perempuan menjadi pemimpin tertinggi dalam sebuah negara, seperti presiden atah perdana mentri (Hiba Rauf Izzat, al-Mar’ah wa al-‘Amal as-Siyasi, 1995). Tetapi di Indonesia, baik kalangan NU maupun Muhammadiyah, sudah banyak yang memahami teks hadis di atas secara kontekstual, sehingga jabatan presiden sekalipun tidak diharamkan bagi perempuan. Ada beberapa ulama yang masih mengharamkan semua jenis jabatan apapun bagi perempuan. Baik presiden, mentri, gubernur, bahkan ketua RW sekalipun. Seperti yang dianut MMI, Muhammad Thalib (2001: 68-108). Asumsinya, teks hadis di atas berlaku umum dan tidak terikat pada konteks kemunculan maupun periwayatan.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini teks lengkap yang diriwayatkan Bukhari mengeni penggalan hadis di atas:

Dari Abi Bakrah, berkata: “Sungguh, Allah telah menyelematkan saya pada saat perang Jamal, dengan pernyataan yang saya dengar dari Rasulullah Saw., padahal hampir saja saya terlibat mendukung pasukan Jamal (yang dipimpin ‘Aisyah ra)”. Dia kemudian berkata: ketika Rasulullah Saw. memperoleh kabar bahwa Bangsa Persia telah mengangkat putri Kisra di tampuk kerajaan mereka, Rasul merespon: “Tidak akan sukses suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka pada perempuan” (Riwayat Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab Kitab an-Nabi Saw. ila Kisra wa Qaishar, no. 4469).

Pada masa-masa konflik, bisa jadi isu otoritas masih disinggung kalangan tertentu untuk mendeligitimasi kepemimpinan perempuan. Tetapi biasanya, isu efektifitas lebih dominan dibanding isu otoritas. Pada saat konflik, orang lebih menonjolkan hal-hal yang dianggap paling efektif bisa disandarkan pada seseorang, tanpa melihat jenis kelamin, yang dapat mengurai konflik, menjamin pencapaian negoisasi, dan bisa menghadirkan solusi, terutama perdamaian.

Isu Efektifitas Peran Perempuan

Jika melihat konteks sejarah hadis di atas, pertimbangan jenis kelamin sesungguhnya tidak memperoleh tempat untuk menggugat kepemimpinan perempuan. Aisyah diminta memimpin dan sudah memimpin. Bahkan, dalam banyak kasus yang tercatat di berbagai teks hadis lain, justru peran perempuan yang mampu memberikan alternatif di masa perang, konflik, dan termasuk perdebatan kecil di kalangan masyarakat. Perempuan seringkali lebih leluasa, lebih bijak, dan mampu memberikan jalan tengah bagi kelompok-kelompok yang bertikai. Bisa jadi karena lebih sering menjadi pihak yang terkena dampak dari konflik, perempuan juga banyak berperan menyuarakan perdamaian.

Umm al-Fadl ra, bercerita: pada saat Haji Wada’ ada pertikaian kecil di kalangan sahabat. Satu kelompok menganggap harus puasa pada hari Arafah, karena mendengar kabar: Nabi saw. berpuasa di hari itu. Kelompok lain menolak karena mendengar kabar lain: Nabi saw. justru tidak berpuasa pada hari Arafah. Anehnya, tidak ada satupun dari kedua kelompok ini yang berpikir untuk datang menemui Nabi Saw. daripada terus bertengkar. Mungkin karena suasana sedang khusyu’ ibadah, dan Nabi saw.. pun bisa jadi sedang berdoa saat wuquf Arafah. Umm al-Fadl punya inisiatif. Ketika melihat Nabi saw. berdiri, ia langsung mengirim semangkok susu. Lalu Nabi saw. meminumnya di hadapan khalayak (Sahih Bukhari, Kitab ash-Shaum, bab Shaum Yaum ‘Arafah, no. 2027).

Kisah Umm Salamah ra yang menyampaikan penyelesaian bagi Nabi saw. dan para Sahabat, paska perjanjian damai Hudaibiyah adalah amat terkenal. Perjanjian damai antara Nabi saw. dan orang Quraisy ini tidak diterima oleh sebagian besar Sahabat. Mereka menerima hanya karena Nabi Saw. meminta mereka menerimanya. Mereka teramat gundah dan sedih, karena di antara klausul perjanjian itu: mereka tidak diperbolehkan haji tahun itu dan harus pulang ke Madinah. Padahal sudah berpakaian ihram dan sudah mendekat ke pintu masuk Kota Mekah.

Para Sahabat, di antaranya Umar bin Khattab ra, sesungguhnya memilih melawan dan perang. Tetapi Nabi saw. memilih tawaran damai yang diajukan orang Quraish. Karena batal haji, Nabi saw. meminta para Sahabat untuk menyembelih korban dan mencukur rambut sebagai tanda niat haji berakhir. Tetapi tidak satupun dari mereka yang mengikuti perintah. Tiga kali Nabi saw. mengumumkan dengan suara lantang. Para Sahabat tetap tidak bergeming. Nabi saw. gundah dan masuk tenda Umm Salamah ra. “Nabi, gak usah pakai perintah, mereka memang sedang bersedih. Keluar saja dari tenda, potong hewan sendiri, lalu panggil tukang cukur, minta dia mencukur rambut di depan mereka. Nanti juga, mereka akan ikut”, kata Umm Salamah ra. Nabi Saw. mengikuti saran ini, dan para Sahabat akhirnya mengikuti Nabi Saw. (Sahih Bukhari, Kitab asy-Syurut, no. 2770).

Jika masa Nabi saw. di Mekah dianggap sebagai masa-masa kritis yang penuh dengan konflik di antara kerabat dan keluarga, maka yang berperan banyak untuk menangani hal-hal ini adalah perempuan. Khadijah ra. yang menenangkan Nabi saw. ketika masih ragu dengan wahyu yang pertama kali turun. Khadijah mengajak Nabi saw. menemui seorang pendeta Kristen, Waraqah bin Naufal, untuk memastikan wahyu yang diterimanya itu. Bahkan, ia mendermakan seluruh hartanya untuk umat Islam ketika mereka diboikot orang-orang Quraisy dari seluruh aktifitas perekonomian.

Fatimah az-Zahra ra yang menghalau orang-orang Quraish yang menimpuki Nabi Saw. dengan kotoran ketika sedang sujud di Ka’bah. Fathimah bin al-Khattab ra yang menenangkan kakaknya, Umar bin Khattab ketika marah dan hendak menghunus pedang pada orang-orang Islam, saat dia belum masuk Islam. Asma bint Abu Bakr yang menanggung segala urusan logistik ketika Nabi saw. dan Abu Bakr ra berhijrah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Bahkan dia juga yang memastikan agar jalan yang dilalui Nabi Saw. tidak terendus orang Quraisy.

Pada saat perang Uhud, di saat semua laki-laki lari menyelamatkan diri, adalah Nusaibah bint Ka’ab ra, seorang diri, yang tetap berdiri melindungi Nabi Saw. dari serangan-serangan musuh. Dan hampir dipastikan, setiap habis perang, seluruh jasa pelayanan dilakukan perempuan. Merawat dan mengobati pasukan yang terluka. Rufaidah ra adalah sahabat yang selalu menafkahkan hartanya untuk urusan ini. Dia membikin tenda di depan masjid dan melakukan pemulihan para pasukan paska perang. Tentu, yang pasti, para perempuan janda akan merawat dan mendidik anak-anak yang ditinggal mati ayah mereka, yang terbunuh di medan perang. Banyak sekali tanggung jawab yang harus diemban perempuan paska konflik, terutama ekonomi dan sosial.

Aisyah ra bercerita di hadapan Nabi saw. tentang seorang ibu yang menanggung beban mengurus dua orang anak perempuan. Dia datang bersama kedua anaknya ke Aisyah meminta sesuatu yang bisa mereka makan. Kebetulan hanya ada satu biji kurma di rumah Aisyah. Sebiji kurma itu diberikan pada perempuan. Oleh sang ibu, kurma itu dibelah dua agar bisa dimakan kedua anaknya. Nabi saw. merespon: “Barangsiapa yang mengurus anak perempuan dengan baik, maka ia akan menjadi penghalang dari api neraka” (Sahih Bukhari, Kitab az-Zakah, no. 1459).

Perspektif Kemanusiaan

Persoalannya, peran perempuan seringkali tidak diperhitungkan, tidak dianggap, dan tidak dihargai. Jikapun diakui secara sosial, mereka seringkali tidak diakui secara politik dan ekonomi. Ketika konflik, perempuan dilibatkan dengan melimpahkan peran-peran besar, terutama untuk menanggung berbagai akibat yang dialami masyarakat. Tetapi begitu perdamaian terjadi, perempuan dipinggirkan dan tidak disertakan untuk membangun masyarakat secara besama. Pernyataan Nabi Saw. pada ibu dua anak tersebut, mungkin bisa disebuat sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap peran perempuan yang mengemban tugas domestik maupun sosial akibat konflik.

Pengakuan perempuan ini penting untuk mewujudkan perdamain yang sejati, adil, dan utuh. Perdamaian akan pincang jika tidak menyertakan perempuan sebagai subyek yang setara untuk menerima hak-hak hukum, politik, dan eknomi. Pengakuan ini hanya terjadi jika didasarkan pada perspektif kemanusiaan. Artinya, memandang perempuan sebagai manusia yang memiliki hak asasi, baik secara sosial, politik, maupun ekonomi. Jika perspektif ini lemah dalam suatu masyarakat, perempuan bisa menjadi warga kelas dua, bahkan rentan terhadap segalan tindak kekerasan.

Suatu saat Umm Salamah ra sedang disisir dan dirapikan rambutnya dan mendengar panggilan dari Masjid Nabawi “Ya ayyuhannas”, atau “Wahai manusia”, suatu panggilan untuk berkumpul di masjid. Umm Salamah ra meminta yang merapikan rambutnya untuk berhenti, karena ia ingin bergegas pergi ke masjid. “Itu kan panggilan untuk laki-laki, bukan untuk perempuan?”, kata sang pelayan. “Aku kan juga manusia”, jawab Umm Salamah ra sambil bergegas menuju masjid (Sahih Muslim, Kitab al-Fadail, Bab Itsbat Hawd Nabiyyina, no. Hadis 6114).

Memandang perempuan sebagai manusia adalah sesuatu yang seringkali hilang dalam perspektif banyak orang, laki-laki maupun perempuan. Kita seringkali menganggap perempuan sebagai yang berbeda, yang lemah, yang harus dilindungi, dan dibela. Tetapi perlindungan ini, karena lebih berbasis pada jenis kelamin perempuan, bukan pada kemanusiaan perempuan, kemudian berubah menjadi larang-larangan tertentu terhadap mereka. Perlindungan-pelarangan ini menjadi abadi terhadap perempuan, sekalipun sebagai manusia, banyak perempuan yang menjadi kuat sebagaimana banyak laki-laki yang menjadi lemah.

Dengan alasan perlindungan, perempuan di wilayah konflik seringkali dijadikan alat untuk mencapai kesepakatan damai, tetapi kemudian ditinggalkan ketika terjadi perumusan kesepakatan, apalagi ketika membangun paska perdamaian. Kelemahan perempuan dianggap abadi dan melekat pada jenis kelamin, sehingga harus selalu berada di bawah perlindungan laki-laki. Segala kebutuhan perempuan harus melalui kekuasaan laki-laki. Perempuan menjadi rentan pada kekerasan, karena hanya disiapkan untuk dilindungi bukan melindungi, termasuk dirinya sendiri. Pada saat pembagian bantuan, perempuan harus menerima melalui perwakilan laki-laki. Semua ini terjadi karena asumsi logika perlindungan laki-laki terhadap perempuan.

Jika menggunakan perspektif kemanusiaan, orang-orang yang lemah pada situasi konflik maupun damai, harus diperkuat. Ketika sudah kuat dan memiliki kemampuan, harus diberi kesempatan menjadi pemimpin untuk melakukan penguatan-penguatan mereka yang masih lemah. Yang lemah itu bisa laki-laki dan bisa perempuan. Begitupun yang kuat dan mampu bisa perempuan dan bisa laki-laki. Sifat lemah tidak bisa diabadikan berada pada perempuan semata. Begitupun sifat kuat tidak bisa selamanya hanya dilekatkan pada laki-laki saja.

Perspektif ini menegaskan bahwa perempuan adalah manusia sebagaimana laki-laki. Prinsipnya adalah kemanusiaan yang setara, dengan mempertimbangkan kapasitas, kemampuan, dan kebutuhan. “Perempuan adalah mitra setara laki-laki”, demikian dinyatakan Nabi saw. dalam Riwayat Abu Dawud (Sunan Abu Dawud, Kitab ath-Thaharah, no. 236). Perspektif kemanusiaan juga meniscayakan prinsip-prinsip perdamaian, sehingga segala upaya harus dilakukan untuk menghindarkan konflik jika belum terjadi dan mengakhiri konflik jika sedang terjadi.

Menjaga sendi-sendi kehidupan yang baik adalah juga niscaya dalam perspektif ini, untuk melestarikan kehidupan yang damai dan tanpa konflik. Seperti bertegur sapa, berkirim salam, bersikap ramah, senyum, banyak membantu orang, dan banyak berbuat pada kerja-kerja sosial kemanusiaan. “Sebarkanlah salam di antara kamu”, kata Nabi saw. (Sahih Muslim, Kitab al-Iman, no. 203). Mungkin salam di sini tidak hanya diartikan secara sempit, yaitu mengucapkan salam. Tetapi lebih dalam lagi adalah segala kebaikan yang akan menghadirkan perdamaian, karena salam sendiri artinya adalah perdamaian.

Hadis Nabi: “Barang siapa yang tidak memiliki kasih sayang, maka tidak akan memperoleh kasih sayang” (Sahih Bukhari, Kitab al-Adab, no. 6063) juga menjadi prinsip bagi pelembagaan perspektif kemanusiaan. Begitupun hadis yang amat terkenal: “Janganlah melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri maupun orang lain” (Muwatta Imam Malik, Kitab al-Aqdiya, no. 1435). Ketiga hadis yang terakhir disebut ini bisa menjadi prinsip dasar dalam kerja-kerja budaya untuk menggalang perdamaian, mengakhiri konflik, dan memperjuangkan penghapusan segala bentuk kekerasan yang menimpa perempuan. Wallahu a’lam.


Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 08 Oktober 2013 08:51 )  

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

28-31 Agustus 2014 Tadarus 7 Pengkaderan Ulama Perempuan di Klaten - Jawa Tengah

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini738
mod_vvisit_counterKemarin1197
mod_vvisit_counterMinggu ini5225
mod_vvisit_counterBulan Ini26436
mod_vvisit_counterSemua1247795

Yang Online

Kami memiliki 27 Tamu online

Flag Contries

free counters