RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Friday
Apr 25th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Tafsir Tafsir Edisi 22 : Perdagangan Perempuan

Tafsir Edisi 22 : Perdagangan Perempuan

E-mail Cetak PDF

Perdagangan perempuan atau yang secara populer disebut Trafficking in Women dewasa ini merupakan issu yang sangat aktual dan fenomenal di seluruh dunia. Trafficking telah dipandang sebagai kejahatan transnasional. Laporan PBB menyebutkan ada 150 juta perempuan dan anak diperdagangkan setiap tahunnya untuk berbagai keperluan kejahatan, terutama prostitusi (pelacuran). Data-data yang ditemukan sejauh ini hanya merupakan kasus-kasus yang bisa dilaporkan. Realitas yang sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar.

Pedagangan manusia (trafficking) menurut Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia merupakan bentuk pelanggaran Hak-hak Asasi Manusia dalam bentuknya yang sangat kompleks. Ia pada intinya adalah tindakan mengeksploitasi manusia atas manusia dengan cara yang sangat beragam, meliputi kekerasan fisik, mental, seksual, sosial, ekonomi, dan budaya. Dan semuanya dikemas dengan cara terorganisir.

Trafficking dalam Pandangan Islam
Fenomena trafficking saat ini sungguh mengingatkan kita kembali pada praktik-praktik perbudakaan yang pernah terjadi sebelum Islam lahir. Meski secara hukum internasional, perbudakan sudah dihapuskan tetapi praktik trafficking secara substansial tidak berbeda dengan praktik perbudakan itu sendiri, bahkan boleh jadi justru lebih mengerikan. Islam sejak awal telah meletakkan dasar-dasar bagi pembebasan dan penghapusan perbudakan, karena ia bertentangan dengan prinsip Tauhid (Keesaan Tuhan). Teologi ini selalu mengajarkan kepada manusia tentang makna kebebasan (kemerdekaan), kesetaraan, dan penghargaan manusia terhadap manusia yang lain, bahkan juga terhadap alam. Oleh karena itu tidak ada keraguan sedikitpun bahwa trafficking dalam segala bentuknya adalah bertentangan dengan dan melanggar nilai-nilai Islam dan melawan Tuhan.

Dalam Islam manusia adalah makhluk Tuhan yang terhormat. Tuhan menyatakan:

“Sungguh Kami benar-benar memuliakan anak-anak Adam (manusia). Kami sediakan bagi mereka sarana dan fasilitas untuk kehidupan mereka di darat dan di laut. Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, serta Kami utamakan mereka di atas ciptaan Kami yang lain”.(Q.S. al-Isra’: 70).

Nabi Muhammad saw. dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan ummatnya di Arafah pada Haji Perpisahan, antara lain menyatakan: “Ingatlah, bahwa jiwamu, hartamu, dan kehormatanmu adalah suci seperti sucinya hari ini”. Tiga kata ini yang dalam Bahasa Inggris disebut life, property, dan dignity adalah kata-kata kunci dan mendasari Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia.

Masih di tempat yang sama, beliau juga menyampaikan: “Camkan benar-benar, perlakukanlah perempuan dengan sebaik-baiknya karena mereka dalam tradisi kalian dianggap sebagai layaknya budak. Kalian tidak berhak atas mereka kecuali memperlakukan mereka secara baik”.

Dalam kaedah fikih disebutkan: “al Hurr la Yadkhul tahta al Yad” (Orang merdeka tidak berada di bawah kekuasaan siapapun).

Secara lebih spesifik kasus yang serupa dengan perdagangan perempuan pernah disinggung oleh Alquran. Kitab Suci ini mengecamnya. Ayat itu menyatakan:

“Dan orang-orang yang tidak (belum) mampu kawin hendaklah menjaga kesucian dirinya sehingga Allah menganugerahinya kemampuan. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian (untuk pembebasan dirinya) hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui kebaikan pada mereka. Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak perempuanmu untuk melakukan pelacuran, padahal mereka menginginkan kesucian diri, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa memaksa mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa”.(Q.S. al-Nur:33).

Ayat di atas secara singkat dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal. Pertama, kewajiban melakukan perlindungan terhadap mereka yang lemah. Ini lebih ditujukan kepada kaum pempuan, karena mereka adalah kelompok masyarakat yang dilemahkan dalam konteks masyarakat Arab ketika itu. Kedua, kewajiban membebaskan orang-orang yang terperangkap dalam perbudakan. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa kewajiban ini dibebankan ke pundak kaum muslimin. Sebagian lagi mewajibkan pembebasan tersebut kepada tuan/pemiliknya (al-sayyid). Dalam konteks perbudakaan lama, pembebasan tersebut dilakukan dengan cara membelinya untuk kemudian memerdekakannya, sebagaimana yang dilakukan, misalnya, oleh Abu Bakar terhadap Bilal bin Rabah. Ketiga, kewajiban menyerahkan hak-hak ekonomi mereka. Hak-hak mereka yang bekerja untuk majikannya harus diberikan. Dan keempat, haramnya mengeksploitasi tubuh perempuan untuk kepentingan duniawi.

Paragraf yang terakhir dari ayat tersebut sengaja diturunkan Tuhan untuk membatalkan praktik-praktik “trafficking in women” yang umum dilakukan masyarakat Arab ketika itu. Ayat ini diturunkan untuk merespon kasus Abd Allah bin Ubay bin Salul, tokoh utama kaum munafik. Dia memaksa para budak perempuannya untuk melacur sebagai cara untuk memperoleh beberapa kepentingan pribadinya. Para ahli tafsir menyebut nama budak perempuan Ubay bin Salul, yaitu; Masikah dan Mu’adzah. Mereka juga menyebut kepentingan Ubay bin Salul melacurkan budaknya dengan paksa bahkan tidak jarang memukulnya, antara lain: demi uang (thalaban li kharajihinna), mendapat keturunan orang terhormat, berdarah Quraisy yang diharapkan akan menjadi pemimpin masyarakat (raghbah fi awladihinna wa riyasah), dan demi mendapat pahala dan kehormatan (iradah al tsawab wa al karamah) atau ”barokah/berkah” dalam tradisi Jawa. Beberapa informasi menyebutkan bahwa budak perempuan Ubay bin Salul yang dilacurkan tersebut ada enam orang: dua nama di atas, dan Umaymah, Umrah, Arwa, serta Qatilah. Informasi Imam Fakhr al Din al Razi menyebutkan tiga peristiwa yang mengantarkan turunnya ayat ini. Pertama, bahwa Abd Allah bin Ubay mempunyai enam budak perempuan. Dia memaksa mereka melacur dan mereka diwajibkan menyetor hasil prostitusinya. Dua orang di antara mereka mengadukan kasusnya kepada Nabi. Lalu ayat ini turun. Kedua, Abd Allah bin Ubay bin Salul mempunyai seorang tawanan laki-laki. Tawanan ini memeluk salah seorang budak perempuan Ubay yang sudah masuk Islam. Perempuan tersebut menolak. Namun Ubay memaksanya untuk menerima ajakan si tawanan tersebut untuk hubungan seksual. Ubay berharap mendapatkan anak dari dia. Ketiga, Ubay membawa Mu’adzah, budak perempuannya yang paling cantik kepada Nabi. Kepada Nabi Ubay mengatakan: “Nabi, ini perempuan yang bisa membantu anak-anak Yatim si Anu. Bolehkah aku menyuruhnya melacur agar hasilnya digunakan untuk membantu anak-anak yatim itu?.” Nabi menolak, lalu ayat ini turun.

Kasus perdagangan perempuan tersebut memang terjadi pada perempuan budak belian. Kasus-kasus semacam ini tidak hanya dilakukan oleh Ubay bin Salul, tetapi populer dalam masyarakat Arab pada saat itu. Praktik rumah bordil juga berlaku di sana. (Lihat, Ibnu Jarir al Thabari, Jami al Bayan ‘an Ta’wil Aay al Qur-an, XVIII/132; Fakhr al Din al Razi, al Tafsir al Kabir, XXIII/220-221; Ibnu Katsir, Tafsir al Qur-an al Karim, III, 288-289; At Thabathaba’i, Tafsir al Mizan, XV/119).

Model eksploitasi tersebut hari ini berubah dalam bentuk yang lebih canggih. Modus operandinya juga beragam. Eskploitasi tersebut berganti nama menjadi Trafficking. Ini lebih jahat daripada perbudakan lama, karena justru dilakukan terhadap orang-orang yang sudah merdeka.

Hadis Nabi Muhammad saw. menyatakan:
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. Beliau bersabda bahwa Allah swt. berfirman: “Tiga golongan manusia yang akan menjadi musuh besar-Ku pada Hari Kiamat nanti, yaitu: (1) orang yang telah mengadakan perjanjian dengan-Ku, lalu melanggarnya,(2) orang yang menjual orang merdeka lalu memakan hartanya dan (3) orang yang tidak memberikan upah kepada buruh (pekerja) yang sudah melaksanakan pekerjaannya”. (H.R. Bukhari).

Uraian serba singkat di atas telah dapat menggambarkan kepada kita bagaimana Islam memandang kasus perdagangan tersebut. Islam mengharamkan praktik perdagangan manusia, terutama perempuan dan anak, sekaligus menyatakannya sebagai menentang dan melanggar hak-hak Tuhan (hak-hak kemanusiaan). Islam juga menegaskan keharusan penghapusannya, melalui tiga cara. Yakni pencegahan, perlindungan terhadap korban, dan menghukum pelakunya dengan hukuman yang berat. Islam juga menyatakan secara eksplisit bahwa korban perdagangan manusia bukanlah orang yang berdosa dan karena itu harus dibebaskan dan tidak boleh dikriminalisasi.

Maka tidak ada jalan lain bagi kita semua kecuali bergerak secara bersama-sama sekarang juga untuk melakukan segala upaya guna menghentikan kejahatan yang mengancam eksistensi kehidupan tersebut. Ini adalah medan jihad yang lain. Alquran menegaskan:

”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan-perempuan, dan anak-anak yang mereka selalu berdo’a; ”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri kami yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”. (Q.S. al Nisa’ :75).

Para perempuan dan anak-anak di negeri kita sekarang ini tengah menjerit karena kelaparan dan kemiskinan yang diciptakan manusia. Mereka terpaksa menjalani hidup dengan mempertaruhkan dirinya. Tidak banyak orang yang memahami dan merasakan duka nestapa mereka. Bahkan masih banyak di antara masyarakat yang mengkriminalisasi mereka atas perbuatan yang sesungguhnya sama sekali tidak mereka kehendaki. Padahal telah jelas bahwa Tuhan Maha Mengampuni orang-orang yang dipaksa karena ketidakberdayaannya.

Upaya-upaya di atas meniscayakan langkah-langkah struktural dan kultural, strategis dan praktis. Langkah struktural dilakukan antara lain melalui penyusunan instrumen-instrumen hukum yang tepat dan menjalankannya secara konsekuen (penegakan supremasi hukum) serta menghilangkan segala faktor yang menjadi penyebabnya. UU PTPPO pasal 57 menyatakan bahwa (1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan keluarga wajib mencegah terjadinya tindak pidana perdagangan orang. (2)  Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membuat kebijakan, program, kegiatan, dan mengalokasikan anggaran untuk melaksanakan pencegahan dan penanganan masalah perdagangan orang.

Sementara langkah kultural antara lain melalui dakwah antitrafficking, al Ta’awun ’ala al Birr (salah satunya, saling membantu dalam mengentaskan kemiskinan dan pendidikan), reinterpretasi atas teks-teks yang bias gender, dan lain-lain. Upaya penghapusan perdagangan orang, khususnya perempuan dan anak adalah kewajiban agama, kewajiban negara, kewajiban kaum muslimin dan kewajiban semua orang yang menghargai martabat manusia dan kemanusiaan. Kita bergembira dan bersyukur kepada Tuhan bahwa Organisasi Islam terbesar di Indonesia sekaligus pemilik warga negara yang paling banyak menjadi korban trafficking, Nahdlatul Ulama, telah menyatakan perang terhadap praktik trafiking ini melalui keputusan nasionalnya, yang dikeluarkan pada bulan Agustus 2006. Di dalamnya ada dua keputusan substansial. Pertama, mengharamkan trafiking. Kedua, mewajibkan semua pihak; pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat mencegah terjadinya trafiking dan melindungi korban. Keputusan tersebut juga merekomendasikan agar organisasi ini beserta seluruh jajarannya di semua lini untuk melakukan gerakan bersama menolak trafiking. Selamat dan Semoga. ]
 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 19 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini85
mod_vvisit_counterKemarin682
mod_vvisit_counterMinggu ini3108
mod_vvisit_counterBulan Ini20282
mod_vvisit_counterSemua1057861

Yang Online

Kami memiliki 13 Tamu online

Flag Contries

free counters