RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Thursday
Jul 30th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Tafsir Tafsir Edisi 23 : Ulama Perempuan

Tafsir Edisi 23 : Ulama Perempuan

E-mail Cetak PDF

Terma ulama dalam konteks kebudayaan Indonesia dimaknai secara khusus. Ia adalah gelar yang diberikan kepada orang-orang yang dipandang mengerti dan memahami ilmu-ilmu agama Islam. Hal itu biasanya dibuktikan dengan kemampuannya membaca Alquran dan “kitab-kitab kuning”. Kitab-kitab ini umumnya berisi ilmu-ilmu fiqh, tafsir, hadis, tauhid, dan sejenisnya yang ditulis para tokoh Islam abad pertengahan. Dengan keahliannya dalam keilmuan agama tersebut, ulama juga acapkali dipahami sebagai pemimpin/tokoh agama. Ulama adalah juga agen perubahan sosial.

Meskipun tidak sepenuhnya tepat, tetapi dalam bacaan antropologis yang sederhana, ulama di Indonesia biasanya tampil dengan pakaian sarung, peci, sorban atau tutup kepala yang lain. Tutup kepala ini konon merupakan ciri yang meneguhkan sosoknya sebagai ulama. Tanpa asesori ini ke “wira’i” (kehormatan)-nya menjadi berkurang. Ulama juga dikesankan sebagi orang yang rajin beribadah, banyak berzikir dan pandai berdoa. Mereka menjadi rujukan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan agama, termasuk memberi fatwa.

Terminologi tersebut tentu saja telah mereduksi makna genuin (asli) dari kata ‘ulama. Ulama adalah kata jamak (plural) dari ‘alim. Yakni orang yang mengerti, orang yang tahu tentang banyak bidang ilmu. Kata lain yang semakna dengan ulama adalah “ulu al ‘ilm” (para pemilik ilmu pengetahuan), “ulu al-albab” (pemiliki ketajaman pikiran) dan “ulu al-abshar” (pemilik pandangan yang jauh). Pada masa awal Islam, sebutan ulama ditujukan kepada orang-orang yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu diniyyah (agama), tetapi juga ilmu-ilmu secara lebih luas (ilmu umum), seperti fisika, kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu humaniora. Bidang-bidang keilmuan ini pada masa lalu tidak dihadapkan secara dikotomis. Alquran menyatakan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi dan pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mempunyai pikiran yang mendalam. Yakni orang-orang yang senantiasa mengingat Allah saat berdiri, duduk dan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan Bumi. (Mereka kemudian mengatakan) “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka jauhkan kami dari siksa neraka”.(QS. Ali Imran [3]:190).

Peran dan Kedudukan Ulama
Terlepas dari perdebatan terminologis di atas, ulama bagaimanapun mempunyai kedudukan istimewa dalam masyarakat. Menurut Alquran, ulama adalah orang-orang yang paling dekat dengan Tuhan. Merekalah orang yang paling takut kepada-Nya. Alquran menyatakan :”Innama yakhsya Allaha min ‘ibadihi al ‘ulama” (QS. Fathir [35]: 28). Ayat ini ingin menegaskan bahwa ulama adalah mereka yang hati dan pikirannya senantiasa mengingat Tuhan dan takut tidak bisa melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan baik. Pernyataan ini tampaknya lebih menunjukkan pada aspek moralitas yang harus dimiliki ulama.

Pada ayat lain, ulama menempati kedudukan istimewa di hadapan Tuhan, karena tugasnya yang sangat penting dan besar; sebagai penegak keadilan di antara manusia. Alquran menyatakan: “Syahida Allah annahu La Ilaha Illa Huwa wa al Mala’ikatu wa Ulu al ‘Ilm Qa’iman bi al-Qisthi”. (Tuhan memberi kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia, dan para Malaikat dan orang-orang yang mempunyai ilmu, sebagai penegak keadilan). Para santri di pesantren sangat hafal ayat Alquran yang menyatakan:”Tuhan mengangkat derajat berlipat ganda orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan”. (QS. al-Mujadilah [58]: 11).

Predikat paling sering diingat dalam memori kolektif masyarakat beragama adalah: “al-Ulama waratsat al-Anbiya”, (Ulama adalah para pewaris para Nabi). Predikat lain adalah “al-Ulama Siraj al-Ummah” (Ulama adalah lampu yang menyinari umatnya) dan sebagainya. Santri-santri di pesantren juga sangat hafal bahwa seorang alim faqih (Ahli Fiqh) yang menjaga kehormatannya lebih ditakuti setan daripada seribu orang yang tekun ibadah.

Ulama Perempuan di Panggung Sejarah
Sebutan ulama dalam banyak komunitas muslim selama ini hanya ditujukan kepada kaum laki-laki dan tidak untuk perempuan. Untuk menyebut perempuan sebagai ulama harus ditambahkan “perempuan”, menjadi “Ulama perempuan” atau “perempuan ulama”. Kenyataan ini jelas memperlihatkan bahwa kaum perempuan dianggap tidak ada yang layak disebut ulama. Dengan kata lain mereka dianggap tidak memiliki kapasitas intelektual, keilmuan, moral dan keahlian yang lain. Ini adalah fakta peradaban patriarkhis yang telah berlangsung berabad-abad lamanya. Perempuan dalam peradaban ini sangat jarang, kalau tidak dikatakan terlarang, untuk berada pada posisi mensahkan, mengelaborasi dan mengimplementasikan hukum-hukum agama.

Penciptaan konstruksi sejarah ini sungguh-sungguh bertentangan dengan perintah-perintah agama. Pembatasan atau pengucilan terhadap mereka