RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Tuesday
Sep 30th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Tafsir Tafsir Edisi 23 : Ulama Perempuan

Tafsir Edisi 23 : Ulama Perempuan

E-mail Cetak PDF

Terma ulama dalam konteks kebudayaan Indonesia dimaknai secara khusus. Ia adalah gelar yang diberikan kepada orang-orang yang dipandang mengerti dan memahami ilmu-ilmu agama Islam. Hal itu biasanya dibuktikan dengan kemampuannya membaca Alquran dan “kitab-kitab kuning”. Kitab-kitab ini umumnya berisi ilmu-ilmu fiqh, tafsir, hadis, tauhid, dan sejenisnya yang ditulis para tokoh Islam abad pertengahan. Dengan keahliannya dalam keilmuan agama tersebut, ulama juga acapkali dipahami sebagai pemimpin/tokoh agama. Ulama adalah juga agen perubahan sosial.

Meskipun tidak sepenuhnya tepat, tetapi dalam bacaan antropologis yang sederhana, ulama di Indonesia biasanya tampil dengan pakaian sarung, peci, sorban atau tutup kepala yang lain. Tutup kepala ini konon merupakan ciri yang meneguhkan sosoknya sebagai ulama. Tanpa asesori ini ke “wira’i” (kehormatan)-nya menjadi berkurang. Ulama juga dikesankan sebagi orang yang rajin beribadah, banyak berzikir dan pandai berdoa. Mereka menjadi rujukan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan agama, termasuk memberi fatwa.

Terminologi tersebut tentu saja telah mereduksi makna genuin (asli) dari kata ‘ulama. Ulama adalah kata jamak (plural) dari ‘alim. Yakni orang yang mengerti, orang yang tahu tentang banyak bidang ilmu. Kata lain yang semakna dengan ulama adalah “ulu al ‘ilm” (para pemilik ilmu pengetahuan), “ulu al-albab” (pemiliki ketajaman pikiran) dan “ulu al-abshar” (pemilik pandangan yang jauh). Pada masa awal Islam, sebutan ulama ditujukan kepada orang-orang yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu diniyyah (agama), tetapi juga ilmu-ilmu secara lebih luas (ilmu umum), seperti fisika, kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu humaniora. Bidang-bidang keilmuan ini pada masa lalu tidak dihadapkan secara dikotomis. Alquran menyatakan: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi dan pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mempunyai pikiran yang mendalam. Yakni orang-orang yang senantiasa mengingat Allah saat berdiri, duduk dan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan Bumi. (Mereka kemudian mengatakan) “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka jauhkan kami dari siksa neraka”.(QS. Ali Imran [3]:190).

Peran dan Kedudukan Ulama
Terlepas dari perdebatan terminologis di atas, ulama bagaimanapun mempunyai kedudukan istimewa dalam masyarakat. Menurut Alquran, ulama adalah orang-orang yang paling dekat dengan Tuhan. Merekalah orang yang paling takut kepada-Nya. Alquran menyatakan :”Innama yakhsya Allaha min ‘ibadihi al ‘ulama” (QS. Fathir [35]: 28). Ayat ini ingin menegaskan bahwa ulama adalah mereka yang hati dan pikirannya senantiasa mengingat Tuhan dan takut tidak bisa melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan baik. Pernyataan ini tampaknya lebih menunjukkan pada aspek moralitas yang harus dimiliki ulama.

Pada ayat lain, ulama menempati kedudukan istimewa di hadapan Tuhan, karena tugasnya yang sangat penting dan besar; sebagai penegak keadilan di antara manusia. Alquran menyatakan: “Syahida Allah annahu La Ilaha Illa Huwa wa al Mala’ikatu wa Ulu al ‘Ilm Qa’iman bi al-Qisthi”. (Tuhan memberi kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia, dan para Malaikat dan orang-orang yang mempunyai ilmu, sebagai penegak keadilan). Para santri di pesantren sangat hafal ayat Alquran yang menyatakan:”Tuhan mengangkat derajat berlipat ganda orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan”. (QS. al-Mujadilah [58]: 11).

Predikat paling sering diingat dalam memori kolektif masyarakat beragama adalah: “al-Ulama waratsat al-Anbiya”, (Ulama adalah para pewaris para Nabi). Predikat lain adalah “al-Ulama Siraj al-Ummah” (Ulama adalah lampu yang menyinari umatnya) dan sebagainya. Santri-santri di pesantren juga sangat hafal bahwa seorang alim faqih (Ahli Fiqh) yang menjaga kehormatannya lebih ditakuti setan daripada seribu orang yang tekun ibadah.

Ulama Perempuan di Panggung Sejarah
Sebutan ulama dalam banyak komunitas muslim selama ini hanya ditujukan kepada kaum laki-laki dan tidak untuk perempuan. Untuk menyebut perempuan sebagai ulama harus ditambahkan “perempuan”, menjadi “Ulama perempuan” atau “perempuan ulama”. Kenyataan ini jelas memperlihatkan bahwa kaum perempuan dianggap tidak ada yang layak disebut ulama. Dengan kata lain mereka dianggap tidak memiliki kapasitas intelektual, keilmuan, moral dan keahlian yang lain. Ini adalah fakta peradaban patriarkhis yang telah berlangsung berabad-abad lamanya. Perempuan dalam peradaban ini sangat jarang, kalau tidak dikatakan terlarang, untuk berada pada posisi mensahkan, mengelaborasi dan mengimplementasikan hukum-hukum agama.

Penciptaan konstruksi sejarah ini sungguh-sungguh bertentangan dengan perintah-perintah agama. Pembatasan atau pengucilan terhadap mereka telah mengabaikan perintah Tuhan dan Nabi. Betapa banyak ayat Alquran yang menyerukan kepada manusia untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Beberapa di antaranya adalah QS. al-’Alaq, 1-5, Q.S. al-Mujadilah, 11, QS. al-Taubah, 71 dan lain-lain. Kita tidak tahu, siapa yang mengkhususkan perintah Tuhan ini hanya kepada laki-laki? Siapa yang mengecualikan perempuan dari ketentuan ayat-ayat Tuhan ini?

Lebih dari itu, siapa sesungguhnya yang menggelapkan sejarah keulamaan perempuan? Padahal terlalu banyak para ahli hadis yang mengambil riwayat dari kaum perempuan. Mereka sepakat bahwa riwayat perempuan dapat dipercaya. Al-Dzahabi, seorang kritikus hadis terkemuka mengatakan: “Tidak pernah terdengar bahwa riwayat seorang perempuan adalah dusta”.1 Kaum muslimin di dunia mengetahui dengan pasti sabda Nabi bahwa ‘Aisyah adalah perempuan paling cerdas dan ulama terkemuka; “Kanat ‘Aisyah a’lam al-nas wa afqah wa ahsan al-nas ra’yan fi al-’ammah”. Al-Dzahabi juga menginformasikan bahwa lebih dari 160 ulama laki-laki terkemuka yang berguru kepada Siti Aisyah ra.2 Mereka antara lain Ibrahim al-Taimi, Thawus, al-Sya’bi, Sa’id bin al-Musayyab, Sulaiman bin Yasar, Ikrimah, dan lain-lain. Selain Aisyah, sejumlah perempuan juga adalah para ulama, antara lain Ummu Salamah bint Abi Umayyah, Hafshah bint Umar, Asma’ bint Abu Bakar, Ramlah bint Abi Sufyan, Fatimah bint Qais dan lain-lain. Mereka adalah guru besar bagi kaum perempuan juga bagi kaum laki-laki. Mereka biasa berdebat secara terbuka dengan ulama laki-laki dalam banyak aspek dan untuk menyelesaikan problem kehidupan umat pada masanya.

Sayyidah Nafisah adalah ulama perempuan yang cemerlang. Imam al Syafi’i dan banyak ulama lain hampir setiap hari datang ke rumahnya untuk mengaji kepadanya. Cicit Nabi ini seorang hafiz (hafal Alquran), mufassir (ahli Tafsir) dan muhaddits (ahli hadis), rajin shalat, puasa, dan haji sebanyak 30 kali. Pengajian tafsir yang diselenggarakannya di masjid maupun di rumahnya dihadiri ratusan orang yang datang dari berbagai penjuru. Sayyidah Nafisah juga pemimpin gerakan rakyat untuk menentang penguasa yang zalim; Ibnu Talun. Dia pernah menulis surat kepadanya berisi kritik tajam. Katanya: “Anda telah menyakiti dan membuat rakyat lapar. Orang-orang yang dizalimi tidak akan mati dan orang yang menzalimi tidak akan hidup lama. Lakukan semaumu. Tuhan pasti akan membalas kelakuan burukmu”.

Al-Sakhâwî (w. 1497 M), Imâm Ibnu Hajar al-‘Asqallanî (w. 1449 M) dan Imâm al-Suyûthî (w. 1505), ketiganya ahli hadis terkemuka, belajar pada guru-guru perempuan. Ibnu Hajar, misalnya, belajar pada 53 orang perempuan, al-Sakhâwî berguru pada 46 orang perempuan dan al-Suyûthî berguru pada 33 perempuan.

Al-Sakhâwî juga mencatat ada 1075 perempuan terkemuka, 405 orang di antaranya adalah ahli hadis dan fiqh terkemuka. Ibnu Hajar mencatat 191 perempuan, 168 di antaranya adalah guru besar hadis dan fiqh. Dan sufi agung, al-Syaikh al-Akbar, Muhyiddîn ibnu ‘Arabî juga berguru pada tiga orang perempuan cerdas dan alim di Makkah : Sayyidah Nizam, Fakhr al-Nisa, dan Qurrah al-’Ain. Perempuan paling populer di kalangan para sufi, Rabî’ah al-‘Adawiyah (801 M) telah menjadi icon mazhab ‘cinta’ dalam sufisme. Puisi-puisinya tentang cinta (mahabbah) telah memberikan inspirasi kepada para sufi lain sepanjang sejarah. Terlampau sempit ruang di sini untuk menyebut ulama perempuan yang telah tampil dalam panggung sejarah peradaban Islam.

Hafiz Ibrahim, penyair Nil (Sya’ir al-Nil) mengungkapkan fenomena peran perempuan ulama tersebut dalam puisinya:

Lihatlah
Buku-buku dan kaligrafi yang indah
Bercerita tentang tempat
Perempuan-perempuan Islam yang gagah

Baghdad
adalah rumah perempuan-perempuan cerdas
Padepokan perempuan-perempuan elok
Yang mengaji huruf dan menulis sastra

Damaskus ketika Umayyah
adalah sang ibu bagi gadis-gadis cendekia
Tempat pertemuan sejuta perempuan piawai.

Taman-taman Andalusia merekah bunga
Perempuan-perempuan cantik
bernyanyi riang
Dan gadis-gadis anggun membaca puisi

Fakta-fakta sejarah dalam peradaban awal Islam tersebut menunjukkan dengan pasti betapa banyak sesungguhnya perempuan yang menjadi ulama dengan kapasitas intelektual yang relatif sama dengan bahkan mengungguli ulama laki-laki. Fakta ini dengan sendirinya telah menggugat anggapan banyak orang bahwa akal perempuan secara kodrat, natural, fitrah atau apapun namanya, lebih rendah dari akal perempuan. Jumlah ulama perempuan yang lebih sedikit dari ulama laki-laki bukanlah sesuatu yang essensial. Satu atau dua orang perempuan ulama saja sebenarnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa mahluk Tuhan berjenis kelamin perempuan tersebut memiliki potensi dan kualitas intelektual dan moral bahkan tenaga yang tidak selalu lebih rendah atau lebih lemah dari mahluk berjenis kelamin lelaki. Soalnya adalah terletak pada apakah orang, masyarakat, budaya, politik, instrumen-instrumen hukum, pandangan agama dan kebijakan lain memberi ruang dan akses yang sama untuk laki-laki dan perempuan. “Al Insan Madaniyyun bi al Thab’i” (Manusia adalah produk dari konstruksi sosialnya).

Para ulama perempuan tersebut telah mengambil peran-perannya sebagai tokoh agama, tokoh ilmu pengetahuan, dan tokoh moral yang terpuji. Mereka memainkan peran-peran tersebut tidak hanya dari dan dalam ruang domestik (rumah) melainkan juga dalam ruang publik dalam arti yang lebih luas. Kehadiran mereka di ruang publik bersama kaum laki-laki tidak pernah dipersoalkan. Mereka bekerjasama dengan ulama laki-laki membangun peradaban Islam.

Sayangnya, sejarah kaum muslimin sesudah itu, memasukkan kembali kaum perempuan ke dalam kerangkeng-kerangkeng rumahnya. Aktivitas intelektual mereka dibatasi dan kerja sosial-politik mereka dipasung. Perempuan-perempuan Islam tenggelam dalam timbunan pergumulan sejarah. Mereka dilupakan. Sistem sosial patriarkhis kembali begitu dominan. Konon itu dilakukan atas nama kasih sayang, perlindungan dan penghormatan terhadap perempuan. Tindakan itu dilakukan agar mereka tidak menjadi sumber “fitnah” (kekacauan sosial). Maka kebudayaan Islam lalu mengalami stagnasi bahkan degradasi yang panjang.

Ulama Perempuan Hari ini
Sejak awal abad 20 sampai hari ini kita menyaksikan di banyak negara muslim tidak sedikit para ulama perempuan tampil kembali ke panggung sejarah. Pengetahuan mereka dalam bidang ilmu-ilmu agama (Islam) sangat mendalam dan luas. Beberapa di antaranya adalah Huda Sya’rawi, Batsinah, Nabawiyah Musa, Aisyah bint Syathi, Zainab al-Ghazali dan Aminah Wadud. Seorang ulama perempuan lain yang menarik bagi saya adalah Nazhirah Zainuddin (1908-1976). Dia, sebagaimana juga beberapa ulama perempuan tadi, memiliki kesadaran yang utuh bahwa kaum perempuan muslim selama berabad-abad tidak diberikan ruang untuk menjadi cerdas, apalagi menjadi ulama. Nazhirah menulis sebuah buku “al-Sufur wa al-Hijab”. Melalui buku ini Nazhirah mengkritik keras pandangan ulama pada masanya, terutama para ulama besar al-Azhar, tentang hijab, jilbab, dan isu-isu perempuan lain yang masih konservatif. Argumen-argumennya mengambil sumber-sumber otoritatif Islam; Alquran dan hadis Nabi saw. sambil melakukan studi komparasi dengan kitab-kitab tafsir klasik seperti tafsir Baidhawi, Khazin, Nasafi, Thabari, kitab-kitab fiqh klasik, dan lain-lain. Ulama perempuan kelahiran Aleppo ini juga banyak mengutip sekaligus menganalisis pikiran-pikiran tokoh besar lainnya seperti Muhyiddin ibnu ‘Arabi. Kemampuannya memahami kitab-kitab klasik tersebut tidak diragukan lagi. Dia mengajak para ulama untuk melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi atas wacana keagamaannya dengan melihat fakta-fakta perkembangan dan perubahan sosial, budaya, dan politik yang tidak bisa dilawan. Nabawiyah Musa, ulama perempuan Mesir, menuntut dibukanya akses pendidikan bagi kaum perempuan negerinya. Dalam sebuah ceramahnya dia mengatakan: “Uridu an tahya al-Mishriyyat hayah haqiqiyyah. Fayaqbalna ‘ala al ‘ilm wa yas’ayanna sa’yan mutawashilan. Fa la yamdhi zaman hatta ara fi hadzihi al-dar mi-at min al sayyidat” (Aku ingin kaum perempuan Mesir bisa hidup dengan baik. Mereka mengapresiasi ilmu pengetahuan dan bekerja keras tanpa henti, sampai tiba masanya aku dapat melihat lahirnya ratusan tokoh perempuan dalam negeri tercinta ini).

Hari ini kita semua sangat memerlukan lahirnya para ulama perempuan dengan seluruh makna keulamaanya. Mereka dibutuhkan untuk bersama kaum laki-laki membangun negara dan bangsa ini demi terwujudnya cita-cita bersama: kehidupan yang adil dan sejahtera. Mereka dibutuhkan untuk memberi makna-makna baru atas keadilan. Karena keadilan adalah gagasan paling sentral sekaligus tujuan tertinggi yang diajarkan setiap agama dan kemanusiaan. Abu Bakar al-Razi (w. 865 M), salah seorang pemikir besar Islam abad pertengahan menegaskan: “Tujuan tertinggi untuk apa kita diciptakan dan kemana kita diarahkan bukanlah kegembiraan atas kesenangan-kesenangan fisik. Akan tetapi pencapaian ilmu pengetahuan dan praktik keadilan”.3 Keadilan adalah kebajikan tertinggi.

Indonesia adalah negara yang sedang menghadapi sungguh banyak problem kehidupan yang berat; kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Lebih dari separoh bangsa ini adalah perempuan. Negara ini mengharapkan lahirnya banyak cendekiawan dan ulama perempuan untuk memberikan kontribusi bagi upaya-upaya memecahkan problem-problem besar tersebut. Pengalaman negara bangsa yang sejahtera di sejumlah negara Eropa menunjukkan bahwa negara-negara tersebut dikelola oleh banyak perempuan cerdas dan terpelajar atau ”ulama”. Lebih dari itu perempuan-perempuan Indonesia tengah mengalami problem besar: kekerasan. Fakta-fakta kekerasan terhadap mereka berlangsung hampir di semua ruang kehidupan. Mereka harus dibebaskan. Kehadiran ulama perempuan niscaya akan memberikan dampak positif bagi kehidupan, bukan saja mereka sendiri, tetapi bagi seluruh anak bangsa ini. Semoga. ]


1 Al-Dzhahabi, Muqaddimah Mizan al I’tidal.
2 Mereka antara lain: Ibrahim al-Taimi, Thawus, al-Sya’bi, Sa’id bin al-Musayyab, Sulaiman bin Yasar, Ikrimah dan lain-lain.
3 Baca : Majid Khadduri, Teologi Keadilan Perspektif Islam, Risalah Gusti, Surabaya, Cet. I, 1999, hl. 155

 

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

28-31 Agustus 2014 Tadarus 7 Pengkaderan Ulama Perempuan di Klaten - Jawa Tengah

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini1332
mod_vvisit_counterKemarin1416
mod_vvisit_counterMinggu ini2748
mod_vvisit_counterBulan Ini33639
mod_vvisit_counterSemua1221300

Yang Online

Kami memiliki 32 Tamu online

Flag Contries

free counters