RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Thursday
Jul 24th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Category Table Fokus Edisi 8: Menyoal Incest

Fokus Edisi 8: Menyoal Incest

E-mail Cetak PDF

Incest sesungguhnya bukanlah fenomena baru. Bahkan bisa jadi sesungguhnya fenomena ini sudah setua umur kehidupan manusia itu sendiri. Di banyak masyarakat, incest biasanya dikategorikan sebagai tindakan asusila yang ditabukan. Dia tidak nampak ke permukaan karena selalu dianggap aib jika terungkap dan ini tentu saja erat kaitannya dengan budaya dan kepercayaan masyarakat di setiap zamannya. Secara konseptual seperti dikutip dari Bagong Suyanto, kepala divisi Litbang Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, incest berarti hubungan seksual yang terjadi diantara anggota kerabat dekat, dan biasanya adalah kerabat inti seperti ayah, atau paman. Incest dapat terjadi suka sama suka yang kemudian bisa terjalin dalam perkawinan dan ada yang terjadi secara paksa yang lebih tepat disebut dengan perkosaan.

Sebagai perkosaan, incest adalah salah satu bentuk tindakan kekerasan seksual yang paling dikutuk karena menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi korbannya. Persoalannya, incest masih terus dianggap tabu untuk diungkap dan dibicarakan. Jika tabu ini terus terpelihara, maka sama saja kita melindungi pelaku kejahatan dan membiarkan penderitaan terus tercipta. Jika kasus incest tidak segera diungkap ke publik, akibat yang nyata di hadapan kita adalah sama saja dengan ‘membunuh’ karakter dan hidup korban secara tidak langsung yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab jelas Islam sebagai hukum umum melarang semua perbuatan keji baik secara fisik, mental, emosional atau spiritual. Dalam hal ini disebutkan dalam surah al-an’am ayat 120 “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat) disebabkan apa yang telah mereka kerjakan”. [Lihat juga surah Al a’raf ayat 33]. Dengan mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan larangan berbuat keji di sini dapat dilihat bahwa Islam tidak menyepakati tindakan perkosaan incest dan kekerasan .
Sedangkan untuk kasus perkawinan incest, tertolaknya perkawinan incest karena dalam Islam mengenal istilah mahram (orang-orang yang haram dinikahi). Alasannya adalah bahwa orang-orang ini tanpa ikatan pernikahanpun memiliki kewajiban sebagai pelindung. Sedangkan dari kacamata medis, perkawinan incest tidak dianjurkan karena dikhawatirkan akan menimbulkan akibat medis pada keturunan selanjutnya.
Dalam sejarah Islam klasik, kita mengenal kisah pernikahan silang Habil dan Qobil. Dua anak Adam ini dititahkan untuk menikahi secara silang adik perempuan mereka sendiri, Iqlima dan Labuda. Kasus nikah silang ini dapat dikategorikan juga sebagai kasus incest atau pernikahan sedarah walaupun di lain hal kasus ini juga sarat pesan lain misalnya tentang tujuan pernikahan yang bukan semata untuk pemenuhan seksual. Penghargaan Islam pada perempuan dari kasus ini adalah bahwa menikahi perempuan bukanlah berdasarkan atas kecantikannya. Qabil yang bersaudara kembar dengan Iqlima menolak pernikahan silang karena dia mendasarkan pernikahan itu hanya kepada naluri seksualnya. Dia melihat bahwa saudara kembarnya lebih cantik dari saudara kembar Habil. Karena mereka adalah manusia pertama di bumi maka Qabil dan Habil harus melakukan pernikahan dengan tujuan utama untuk regenerasi.

Incest dari Perkawinan hingga Perkosaan
Menyoal Incest sebenarnya tidak saja tentang apakah berkaitan perkawinan incest atau perkosaan incest. Lebih dari itu dia juga dapat membongkar masalah kebudayaan dan kemanusiaan. Di satu sisi incest juga merupakan persoalan keluarga yang sangat kompleks. Jika ia terjalin sebagai ikatan perkawinan incest, maka mau tidak mau kita akan ditarik pada pembicaraan seputar sejarah perkawinan (baca: seksualitas sosial) yang bisa jadi lebih tua daripada sejarah agama apapun. Hingga kadang membicarakan masalah perkawinan dalam masyarakat tidak bisa hanya melihat aspek budaya saja, atau sudut pandang agama saja, sebab pada waktu dan zamannya, pikiran, perbuatan, perasaan manusia terus menyejarah termasuk perkawinan yang lahir sebagai bagian seksualitas manusia. Dan sejarah perkawinan terus terbangun dalam lingkup budaya hingga diatur dengan ‘pedang’ berdasarkan dugaan, dogma dan prakonsepsi para penguasa agama. Bahkan dari situ kemudian aturan perkawinanpun mewujud dalam hukum positif negara. Meskipun dalam aturan hukum positif perkawinan incest tidak terbahas akan tetapi ia akan banyak terbahas dari sudut pandang agama dan budaya. Dalam agama Islam, perkawinan incest terlarang (haram) karena jelas dalam teks al-Qur’an disebutkan [lihat Q.S 4 : 22]

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara bapakmu yang perempuan (bibi), anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki (keponakan), ibumu yang menyusukanmu, mertua, anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri (anak tiri), akan tetapi jika belum campur dengan istrimu itu (sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa bila kamu kawini, dan diharamkan bagimu mengawini menantumu;…”

Ironisnya, mahram yang dalam teks di atas haram untuk dikawini pada kenyataannya justru kerap menjadi ‘objek’ kekerasan. Dalam hal inilah kita mengenal perkosaan incest. Dalam kasus perkosaan incest, hanya dengan hamilnya korban dapat merupakan bukti nyata akan kejadian yang selama ini ditutup-tutupi. Kehamilan yang justru belum tentu membawa korban keluar dari lingkaran yang menakutkannya, akan tetapi melahirkan pilihan-pilihan lain yang lebih dilematis; aborsi atau siap dihina dan dipojokkan masyarakat. Tentu saja konstruksi masyarakat tentang perempuan sebagai korban dalam hal ini sangat berpengaruh pada prilaku mereka kepada si korban tadi. Lalu bagaimana dengan perempuan yang menjadi korban incest? Apa yang harus dilakukan agar dapat berempati dan meringankan beban mereka? Membahas kasus ini setidaknya menyadarkan kita akan berbagai tujuan agama (maqashid asy-syar’iyyah) yang harus kita aplikasikan dengan mempelajari, meredefinisi, atau menyempurnakan berbagai konsepnya. Dari ayat mahram di atas (yang seringkali kita sebut muhrim), sesungguhnya disamping orang yang diharamkan untuk dinikahi, maka ia memiliki tugas khusus yang lain yaitu untuk menjaga, mendampingi, dan melindungi. Selama ini mahram selalu dikaitkan dengan keluarga secara fisik, namun tak dapatkah kita perbaharui konsepnya dengan mengalihkan tugas-tugas perlindungan tersebut kepada negara, mengingat negara berkewajiban melindungi rakyatnya? Kehamilan yang tidak dikehendaki yang terjadi pada perempuan korban incest, dapatkah menjadi alasan baginya untuk melakukan aborsi aman demi alasan kemaslahatan diri dan pertimbangan sosial anak yang dikandungnya? Dia mungkin sempat berpikiran seperti Maryam yang berkata : “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam : 23). Memberi alternatif baginya, mungkin akan memperpanjang kehidupannya sehingga ia masih dapat melakukan sesuatu yang bermakna. Mungkin, keberanian kita untuk melakukan berbagai ijtihad kembali diperlukan. Akhirnya menyoal incest berarti menyoal tindakan kekerasan yang terjadi kepada perempuan. Menyoal bagaimana negara mampu lebih peduli terhadap hal ini. Menyoal masalah budaya yang masih belum berpihak kepada perempuan! ]

(daandeka)

 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 26 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini45
mod_vvisit_counterKemarin878
mod_vvisit_counterMinggu ini2592
mod_vvisit_counterBulan Ini24100
mod_vvisit_counterSemua1145432

Yang Online

Kami memiliki 21 Tamu online

Flag Contries

free counters