RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Thursday
Apr 24th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Fikrah Fikrah Edisi 8: Perempuan dan Otoritarianisme Hukum Islam

Fikrah Edisi 8: Perempuan dan Otoritarianisme Hukum Islam

E-mail Cetak
Khalid Aboul El Fadl adalah seorang intelektual Islam kelahiran Kuwait yang sangat tajam mempersoalkan otoritarianisme di dalam hukum Islam. Intelektual Islam yang mungkin tidak begitu disukai oleh negara-negara Islam di Timur Tengah ini, terbukti dengan dicekalnya terjemahan buku dalam bahasa Arab (Speaking In God’s Name) di Arab Saudi, membuktikan hal itu. Menurut Abou El Fadl otoritarianisme dalam hukum Islam itu terjadi pada dua tingkatan: pertama, otoritarianisme pada metodologi (harmeunetik), dan kedua, otoritarianisme dalam kandungan hukumnya sendiri. Otoritarianisme metodologis adalah seluruh perangkat cara pengkajian dan penggalian hukum Islam yang sudah ditentukan oleh kalangan terdahulu, para mujtahid, tidak bisa diganggu gugat lagi.

Ambil contoh saja soal tata cara pengambilan hukum (ijtihad) dimana seorang mujtahid haruslah mengikuti aturan yang sudah ditentukan tersebut. Otoritarianisme pada tingkatan kandungan adalah adanya kecenderungan bahwa apa yang dibicarakan di dalam kitab-kitab fiqih sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dalam hal ini, orang harus tunduk kepada perkataan-perkataan kitab kuning. Dalam bahasa kaum Nahdliyyin, otoritarianisme metodologis sama dengan taqlid manhaji dan otoritarianisme substantif sama dengan taqlid qauli.

Otoritarianisme itu akhirnya tidak aneh lagi apabila terjadi dalam hal-hal yang berkaitan dengan soal perempuan dalam fiqih. Fiqih adalah produk metodologis karena ini merupakan hasil dari penalaran ijtihadiyyah (ushul fiqh), dan wujud dari hukum Islam itu sendiri. Dalam konteks otoritarianisme ini, apa yang dikatakan oleh fiqih sebagai hal yang pasti benarnya, dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Abou El Fadl menelusuri otoritarianisme tidak hanya berpangkal dari fiqih itu saja akan tetapi berusaha melacaknya dari tradisi yang sudah lama bertumpuk-tumpuk. Cara ini sebenarnya sudah biasa dilakukan oleh para intelektual Islam sebelum dan semasanya, mungkin yang membuat berbeda adalah pernyataan setelah penelusuran tersebut terjadi. Dalam konstruksi bahasa saya, rangkaian tradisi tersebut adalah rangkaian otoritarianisme ideologi laki-laki dalam agama.

Menarik untuk melihat bagaimana sesungguhnya otoritarianisme bisa terjadi di dalam hukum Islam. Gambaran tentang hal ini Aboul El Fadl gambarkan lewat tafsirnya atas sebuah penggalan ayat suci al-Qur’an “wa ma ya’lamu junuda rabbika illa huwa” (dan tidak seorangpun mengetahui para prajurit Tuhan kecuali Tuhan itu sendiri). Lewat penggal ini, dia ingin mengajak kita semua untuk berpikir bahwa sesungguhnya pengetahuan kita sebagai pembaca akan ayat-ayat Tuhan tidaklah pernah menyentuh pada pengetahuan yang benar-benar dikehendaki secara persis oleh Tuhan termasuk dalam hal ini soal bagaimana kita harus memperlakukan kaum perempuan. Apa yang terjadi dengan kita sehari-hari kaitannya dengan persoalan perempuan adalah seolah-olah sudah terjadi kepastian bahwa perempuan harus diperlakukan seperti ini dan itu. Pemastian ini bukan dilakukan oleh Tuhan akan tetapi oleh mereka yang mengaku sebagai para prajurit Tuhan.

Memang dalam membaca ayat di atas, kaitannya dengan terbentuknya otoritarianisme dalam Islam, bisa dipahami lewat dua cara. Pertama, memang yang tahu akan siapa prajurit Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan itu sendiri. Dan pembaca atau penafsir haruslah mencari teks suci ini dalam kerangka para prajurit Tuhan yang sudah ditentukan di atas. Para prajurit ini mewakili otoritas ketuhanan dan karena kedudukannya yang sangat tinggi, maka orang yang menjadi prajurit Tuhan ini menjadi luar biasa juga yang pada akhirnya bisa menjadi penentu segalanya selain Tuhan. Kedua, ayat di atas membawa konstruksi makna yang lebih komplek bagi para pembaca. Dari sini, pembaca mungkin bisa mengambil kesimpulan bahwa ayat tersebut adalah dinamis tak terbatas dan lebih umum.

Abou El Fadl tetap yakin bahwa semangat ayat suci al-Qur’an adalah bertentangan dengan otoritarianisme. Ia juga akan menolak siapa saja yang mengaku bahwa mereka dibekali oleh otoritas ketuhanan. Setiap orang bisa saja berjuang, berharap dan berkeinginan menjadi prajurit Tuhan, akan tetapi mereka tidak berhak mengklaim bahwa mereka sudah mencapai posisi tersebut. Namun apa yang bisa diambil pelajaran dari penampakan soal siapa “para prajurit Tuhan” ini pada intinya adalah keinginan Abou El Fadl memunculkan hubungan antara ketiga pihak, yaitu pihak pembaca, teks itu dan pengarang teks (author). Misalnya, sampai sejauhmana seorang pembaca bisa menentukan sebuah makna dari suatu teks? Misalnya, ayat al-Qur’an surat al-Nisa ayat 1 (tentang kejadian manusia) sampai sejauhmanakah pembaca bisa menentukan atas teks tersebut sebuah pemaknaan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Apakah ketika para ahli tafsir menyatakan demikian ini tidak dipengaruhi oleh sensibilitas dan juga subyektivitas pribadi dalam membangun makna atas sebuah teks (ayat).

Apabila ditarik lebih dalam lagi pernyataan-pernyataan teoritis yang dikembangkan oleh Abou El Fadl di atas dalam konteks isu perempuan dalam Islam maka sebenarnya adalah sangat berguna untuk membantu kita dalam rangka mempertanyakan dan mencurigai setiap bentuk penafsiran dan pemaknaan atas ayat-ayat Tuhan yang selama ini diproduksi dan dilahirkan yang tidak terlepas dari relasi yang terjadi antara ketiga pihak yang disebutkan di atas, pembaca, pengarang dan teks. Misalnya, bagaimanakah seharusnya seorang pembaca, yang kelak akan melahirkan makna, harus memposisikan diri di depan teks dan juga pengarang? Apakah seorang pembaca harus berusaha menangkap tujuan pengarang dan mempertimbangkannya sebagai hal yang sangat menentukan dalam makna teks? Jadi, apabila kita hendak mengetahui makna poligami, apakah seorang pembaca harus mengetahui tujuan dari pengarang yang memproduksi teks poligami tersebut. Pertanyaan lanjutnya adalah bagaimana mungkin mencapai tujuan pengarang apabila ia bersifat suci dan tidak bisa diakses. Ini adalah problem mendasar yang menyebabkan mengapa kita sering bertikai soal pemaknaan, karena sumber makna yang hakiki adalah Tuhan, yang tidak dapat kita raba dan duga.
Namun hal ini bukan berarti tidak ada cara untuk sekedar merabaNya. Pengarang teks suci (Tuhan) telah mempercayakan dan menyimpan tujuan kepengarangannya melalui medium bahasa yang bisa disaksikan oleh manusia misalnya melalui bahasa Arab sebagaimana kita lihat dalam al-Qur’an atau kitab suci lainnya. Namun pertanyaan berikutnya adalah apakah tanda bahasa yang digunakan Tuhan tersebut merupakan produk ketuhanan ataukah apakah tanda bahasa tersebut sebagian atau seluruhnya mereformulasikan tujuan kepengarangan dengan cara memaksanakan subyektivitas pengarang untuk melahirkan struktur dan logika tanda bahasa tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan memang banyak sekali dan mungkin tidak cukup dekat dengan perasaan para ahli agama. Memang Abou El Fadl meminjamnya dari teori-teori kritik sastra. Dan tujuan Abou El Fadl membawa pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah ingin mengemukakan tentang peranan yang dimainkan oleh pembaca, pengarang dan teks yang mungkin akan membawa kita semua dalam sebuah keragu-raguan baru. Dan justru, ia menyatakan bahwa “keraguan” tersebut memiliki peranan dan maksud yang sangat penting dalam memahami teks-teks Islam. Bahkan secara berani ia menyatakan keraguan adalah hal yang sangat dituju dalam proses dan dinamika hukum Islam, termasuk keraguan soal kedudukan perempuan dalam Islam. Wallahu alamu bi al-shawab.
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 22 Juni 2009 07:39 )  

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 19 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini324
mod_vvisit_counterKemarin776
mod_vvisit_counterMinggu ini2665
mod_vvisit_counterBulan Ini19839
mod_vvisit_counterSemua1057418

Yang Online

Kami memiliki 15 Tamu online

Flag Contries

free counters