RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Monday
Sep 22nd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Ahwatuna Akhwatuna Edisi 25: Sumiyati, Nasibmu kini

Akhwatuna Edisi 25: Sumiyati, Nasibmu kini

E-mail Cetak PDF

Setelah pemerintah menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak), Sumiati, sebut saja demikian, janda miskin yang tinggal di pinggiran Provinsi Jawa Barat, seringkali hanya mampu membeli satu liter beras untuk hari-harinya. Sebelumnya, Sumiati yang memiliki 4 anak mengaku bisa membeli dua liter beras. Penghasilannya sebagai buruh cuci belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Biasanya, kami makan sehari dua kali, namun kali ini hanya sekali sehari. Itupun dengan lauk seadanya", katanya.

Sebelum harga BBM naik, sesekali Sumiati masih menyisakan uang belanja untuk membeli susu formula yang harganya terjangkau untuk anaknya yang paling kecil. Namun, kini ia harus rela berganti teh manis. Itupun kalau punya gula. Sementara anaknya yang paling besar sudah duduk di kelas 2 SMP swasta di kota kecamatan. Perjalanan ke sekolah harus ditempuh dengan dua kali naik angkot. Terkadang anak tertuanya ini tak bisa berangkat ke sekolah karena tidak ada ongkos.

Lebih dari itu, ada kejadian tragis di Kediri. Seorang ibu bersama anaknya ditemukan mengambang di dalam sumur. Menurut keterangan tetangganya, ibu tersebut nekad bunuh diri karena faktor himpitan ekonomi. Sedang di salah satu kawasan di Tangerang, seorang ibu membakar diri bersama 2 anaknya yang tengah tidur. Lain halnya di Pandegelang, karena himpitan kemiskinan, seorang suami tega menganiaya istrinya di hadapan 5 anaknya hingga tak bernyawa.

***

Masih banyak kasus sejenis yang menimpa perempuan-perempuan akibat deraan kemiskinan, terlebih setelah harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik seiring naiknya harga BBM. Kemiskinan tidak saja memaksa orang untuk berbuat di luar nalar sehatnya, bahkan lebih jauh lagi, kondisi pahit itu memaksa banyak orang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan akal sehat dan ajaran agamanya. Ini persis tergambarkan dalam sebuah riwayat, kada al-faqru an yakuna kufran atau "seringkali, kemiskinan mendekatkan pada kekufuran", (al-'Ajluni, Kasyful khafa, jil. II). Karenanya, sejak lama, Nabi saw. mengajarkan doa bagi umatnya, Allahumma inni a'udzu bika minal-kufri wal-faqri, artinya "Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran". Hadis riwayat Abu Dawud, Nasa'i, dan Ahmad ini setidaknya menguatkan kondisi jiwa di kala mengalami ujian kemiskinan untuk tidak terjerumus pada tindakan negatif.

Seiring belum pulihnya kondisi ekonomi pasca krisis sejak satu dasawarsa terakhir, banyak warga kalangan ekonomi kecil (wong cilik) mengalami tekanan batin sehingga berdampak pada sikap dan tindakan yang tak terbayangkan dan irasional seperti kasus-kasus tersebut. Banyak kasus kriminal terjadi dengan kualitas dan intensitas yang makin parah dari waktu ke waktu.

Cerita-cerita pilu di atas adalah kenyataan yang ironis di tengah hiruk-pikuk pelaksanaan otonomi daerah dan pemilu/pilkada yang penuh janji-janji manis. Kondisi masyarakat kecil, khususnya perempuan miskin dan anak-anak, pasca BBM naik, semakin sulit saja. Naiknya harga BBM yang berdampak naiknya harga bahan pangan dan kebutuhan lainnya, tidak saja telah memporak-porandakan perekonomian keluarga kaum mustadh'afin (yang dilemahkan oleh sistem), tetapi juga menambah daftar panjang orang miskin. Kemiskinan seringkali menjadi faktor laten meningkatnya tindak kekerasan, baik yang terjadi di ranah publik seperti kekerasan yang dilakukan oleh kelompok sosial tertentu kepada kelompok lain, maupun kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di dalam rumah tangga.

***

Menyikapi hal demikian, sejumlah tokoh perempuan dari kalangan pesantren angkat bicara. Nyai Hj. Judju Zubaedah, tokoh perempuan Pesantren Cipasung Tasikmalaya mengatakan, "Perempuan yang menjadi ibu rumah tangga semakin terbebani. Karenanya, harus berpikir lebih keras untuk mencari tambahan dan mengatur keuangan keluarga, terlebih setelah harga BBM naik. Di masyarakat sekitar saya, banyak suami bekerja sebanyak yang dia mampu dan hasilnya diserahkan kepada si istri. Cukup atau tidak, para suami tidak tahu-menahu. Pokoknya harus cukup."

Hal senada juga diungkapkan oleh Nyai Hj. Ruqoyah dari Pesantren al-Ma'shumy Bondowoso. Menurutnya dampak kenaikan BBM tidak saja pada kebutuhan sandang, pangan dan papan, tetapi berimbas pula menurunnya interaksi silaturahim, hubungan antarkeluarga, bahkan berpengaruh pada relasi suami istri. Banyak istri menjadi tertekan oleh desakan kebutuhan. Kenaikan harga BBM ini berdampak luar biasa pada kehidupan masyarakat, khususnya perempuan miskin yang semakin miskin dan terpinggirkan.

Hal-hal tersebut juga diamini oleh Nyai Hj. Luluk, pengasuh pesantren di Jombang Jawa Timur. "Akibat naiknya harga BBM, banyak dapur jadi sulit ngepul. Para suami stres dan akhirnya terjadi KDRT", ungkapnya.

***

Budaya Patriarki, BBM, dan Maraknya Tindak Kekerasan

Masyarakat Indonesia pada umumnya masih memposisikan laki-laki sebagai menjadi tulang punggun keluarga, termasuk urusan ekonomi. Dengan pandangan seperti itu, laki-laki diperankan sebagai ujung tombak pencari nafkah dalam menghidupi keluarga. Karenanya laki-laki banyak bekerja di luar rumah. Di sisi lain, perempuan sebagai istri diposisikan sebagai pengatur rumah tangga. Karenanya banyak yang bekerja di dalam rumah. Kalaupun perempuan bekerja, hanya dianggap sebagai pencari nafkah tambahan saja.

Pandangan seperti itu akan semakin memperburuk situasi masyarakat dalam keadaan ekonomi susah. Laki-laki sebagai suami yang dipersepsikan sebagai pemimpin, pencari nafkah utama dan sejumlah predikat lainnya akan terus dituntut oleh kelurga dan lingkungannya untuk dapat berperan sukses seperti yang diharapkan. Tuntutan seperti itu seringkali membebani dan menekan kejiwaan para suami. Pada akhirnya ketika suami tidak bisa memenuhi tuntutan budaya (keluarga) dan lingkungannya, maka yang terjadi adalah tindakan yang tak patut. Banyak suami melakukan kekerasan, baik fisik maupun psikis kepada "warga" rumah tangga, istri dan anak-anak. Data-data tindak kekerasan itu semakin meningkat dari tahun ke tahun seperti dinyatakan oleh Komnas Perempuan dan LBH Apik Jakarta. Kondisi demikian, yang dipicu oleh kepahitan hidup lain, semakin memperparah ketegangan-ketegangan dalam keluarga. Banyak suami-istri yang awalnya terlihat "baik-baik" saja, mulai menunjukkan gejala timpang, bahkan perselisihan hingga kekerasan.

Kenyataan-kenyataan pahit, baik ekonomi, sosial, maupun budaya yang dijumpai di luar dan di dalam rumah semakin menjadikan orang-orang kecil, kaum dhua'afa sebagai korban yang terus dikorbankan. Entah sampai kapan. Orang-orang kecil yang jumlahnya puluhan juta itu merupakan pemilik sah kedaulatan negeri ini. Mereka terus ditipu, dihisap, ditindas, didulang suaranya saat pemilu, untuk kemudian dilupakan dan dicampakkan saat sang calon dinobatkan sebagai pemimpin atau wakil rakyat. Mereka yang tetap setia membayar pajak dan tulus memasang Bendera Merah Putih, walau telah lusuh dimakan usia, terus dihantui ketidakadilan dan kekerasan. Mereka ada di sekeliling kita, bahkan tampak di kaca cermin kita. Untuk merekalah, Rasulullah saw. bersabda: "Innama tunsharuna wa turzaquna bi dhu'afa'ikum" (Kalian ditolong dan diberi rezeki karena orang-orang lemah di antara kalian). Sumiati dan anak-anaknya serta berjuta sumiati lainnya adalah saudara kita dan bagian hidup kita.
 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

28-31 Agustus 2014 Tadarus 7 Pengkaderan Ulama Perempuan di Klaten - Jawa Tengah

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini162
mod_vvisit_counterKemarin847
mod_vvisit_counterMinggu ini162
mod_vvisit_counterBulan Ini23302
mod_vvisit_counterSemua1210962

Yang Online

Kami memiliki 28 Tamu online

Flag Contries

free counters