RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Saturday
May 25th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Cerpen Cerpen Edisi 21: Emak

Cerpen Edisi 21: Emak

E-mail Cetak PDF
Emak…
Lima menit yang lalu
Aku memberimu puisi
Anggukmu dan senyummu
Adalan nafas buat perjuangan hidupku
Langkahmu yang tertatih ke arah dapur
Rambutmu yang mulai dihiasi salju waktu
Menyadarkanku akan jarak saat
Bisakah kau sadar bahwa tangan-tanganku
Yang kini perkasa menari diatas keyboard komputer
Adalah darah dan air matamu?


Aku menatap perempuan tua yang sedang terlelap di sofa itu. Wajahnya mengerut bercampur dengan garis-garis di dahinya yang sedikit hitam. Rambutnya sebagian besar sudah memutih seperti salju. Kebayanya berkibar ditiup angin sore, nafasnya terdengar berirama . Satu dua terdengar lebih panjang.

Emak sudah hampir seminggu ini tinggal di rumahku. Meninggalkan semua kenang-kenangan yang terindah dari hidupnya di desa. Memilih melupakan persahabatannya dengan kesejukan hawa gunung dan gemercik air sungai. Memutuskan untuk tidak menyerah pada keinginan bapakku untuk menikah lagi.

Aku tahu dia tidak begitu menyukai suasana kota. Dia sering mengatakan bahwa tinggal di kota adalah pilihan terburuk dari situasi yang paling buruk. Dan saat ini, nampaknya masa-masa itu telah tiba. “Emak teu bisa hirup diduakeun, Jang,”(1 ) katanya suatu hari saat aku membawanya jalan-jalan ke Museum Fatahillah, tempat yang paling ingin dikunjunginya saat ke Jakarta.

Emak benar. Cinta tidak bisa dibelah-belah. Ia bukan sepotong roti atau kue cucur yang bisa diduakan, ditigakan bahkan diempatkan. Cinta adalah persoalan simbiotik antar dua manusia. Karena itu, ia akan kehilangan subtansinya saat ada salah satu yang merasa tersakiti. Tak ada alasan sesungguhnya bagi seorang manusia yang telah disatukan untuk mengalihkan rasa sakral itu. Atau membuatnya seperti seorang pembeli yang meninggalkan seonggok barang karena sudah terperangkap rasa bosan. Walau aku yakin rasa jenuh itu tentunya ada. Tapi bukankah kejenuhan itu tak memiliki batas dan selalu terulang jika kita sudah merasa tak berbatas lagi dengan sesuatu?Dan yang terpenting, bukankah nilai berharga dari seorang manusia dihadapan manusia lainya adalah kesetiaan?

Aku cuma mengangguk dan tersenyum mendengar kata Emak itu. Aku pikir inilah giliran aku harus mengerti dia, setelah bertahun-tahun saat aku bayi dan remaja dia selalu berusaha mengerti aku. Memaklumi semua yang pernah aku lakukan padanya: ngompol dan menangis di tengah malam, merengek minta disusui, memukul bila tak diberi uang jajan dan bahkan memakinya saat dia memakai uang tabunganku untuk membeli beberapa liter beras buat kami makan. Ya inilah saatnya aku harus menyicil hutang-hutangku padanya.

“Emak benar, Emak tidak salah melakukan ini,” ucapku. Tiba-tiba dia berhenti. Matanya yang bulat sedikit redup. Menatap dengan penuh keresahan ke arahku
“Tidakkah itu berarti aku meninggalkan tanggungjawabku kepada bapakmu, Jang ?” tanyanya perlahan.

“Mengapa Emak berkata begitu? Harusnya aku yang menanyakan pertanyaan itu ke Bapak..”ucapku. Ya, aku sangat ingin bertanya kepada laki-laki itu, apa arti 38 tahun buat dia saat memutuskan menduakan Emak ? Apa ?

Aku raih pundak perempuan tua itu. Aku rangkul dia. Tercium wangi tanaman orang-aring dari rambut saljunya. Wangi yang sangat akrab dengan masa kecilku. Wangi yang membuatku selalu merasa aman dan terlindung jika ada di dekatnya. Dan wangi ini pula yang menjadikan Emak tak mungkin kulupa. Sampai kapanpun.

**
Aku menatap perempuan tua yang sedang terlelap itu. Kali ini dia tidak berbaring di sofa, melainkan jauh di bawah gundukan tanah yang memerah. Padahal sepuluh jam lalu, baru saja Emak membuatkanku secangkir teh. Sambil tertawa riang, dia mengulang kisah lama tentang masa kecilku: bila bangun tidur aku akan mengamuk bila tak dibacakan cerita-cerita dari Mangle2 . Ya aku pertama kali mengenal kata dan cinta memang dari Emak.

Emak kemudian duduk di kursi dekat jendela, tepat disebelah komputerku. Matanya yang bulat dan sedikit redup menatap lalu-lalang kendaraan dan hiruk pikuk manusia di jalanan. Sejenak dia terdiam. Menghela nafas kemudian beralih menatapku penuh arti. “Jang, jangan pernah menyakiti siapapun ya... terutama perempuan,” katanya pelan. “Menyakiti mereka, sama juga Ujang menyakiti hati Emak,”lanjutnya. Aku mengernyitkan dahiku. Tanganku yang sedang sibuk mengetik jadwal liputanku hari ini di hand phone, mendadak terhenti. Aku tatap perempuan tua berambut salju di hadapanku itu. Perlahan mata ini terasa hangat. Ada air yang mengambang di dalamnya saat tenggorokanku tercekat. Ah, sadarkah Emak, bahwa diriku yang sekarang ada di hadapannya adalah darah dan air mata dia? Jadi bagaimana aku bisa menyakiti sesuatu yang merupakan bagian hidupku ?

Emak kemudian berdiri dan melangkah ke sofa.Merebahkan tubuhnya yang sedikit ringkih. Sambil menatap lemah para-para, mulutnya menggumankan sebuah kidung tua, ya sebuah kidung kerinduan akan tanah tumpah darah kami yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari tempat ini. Sesekali ada suara-suara Tuhan di sela gumanannya. Kemudian pelan-pelan dia terlelap, masih dengan sesungging senyum. Aku tahu itu bukan senyum biasa. []

Ciputat, 17 Maret 2007


1 Kalimat dalam Bahasa Sunda, artinya: “Ibu tidak bisa hidup diduakan, Nak”
2 Mangle adalah sebuah majalah populer berbahasa Sunda, sebagian besar isinya adalah karya-karya sastra, mulai dari cerpen, cerbung hingga prosa yang dibuat oleh para penulis Sunda kenamaan.

 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

5-6 April 2013 Workshop Bedah Modul Pengkaderan Ulama Perempuan di Yogyakarta

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini642
mod_vvisit_counterKemarin789
mod_vvisit_counterMinggu ini4615
mod_vvisit_counterBulan Ini23067
mod_vvisit_counterSemua777588

Yang Online

Kami memiliki 18 Tamu online

Flag Contries

free counters