RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Monday
Jul 28th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Hak-hak Pekerja Rumah Tangga dalam Islam : Al-Arham Edisi 14 (A)

E-mail Cetak PDF
Masalah yang dianggap kurang dapat perhatian menyangkut kelompok masyarakat minoritas adalah pengakuan hak-hak Pekerja Rumah Tangga (PRT) dalam Islam. Hal ini dimungkinkan, selain karena tidak berhubungan langsung dengan amal ibadah sehari-hari, juga mungkin karena persoalan ini lebih banyak terjadi di wilayah domestik.
Selama ini, PRT  kerap menjadi kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Terkadang mereka juga mengalami perlakuan kekerasan baik fisik berupa pemukulan, bekerja melebihi batas waktu normal, tidak dibayarkan gajinya, dan kekerasan seksual, maupun psikis berupa ancaman, makian atau dikurung paksa majikan.
Di balik keprihatinan itu, PRT sendiri sering kali tidak sadar akan hak-haknya. Mereka umumnya hanya tahu bekerja dan bekerja; dan tahu kapan waktunya dia menerima gaji. Kenyataan inilah yang tidak jarang dipandang sebagai salah satu penyebab seringnya terjadi kekerasan pada mereka.
Tulisan ini akan menjelaskan kedudukan PRT dalam Islam dan hak-hak dasarnya yang diakui oleh Islam. Terakhir tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan mengenai pentingnya seorang sadar akan haknya sebagai PRT pada satu sisi dan sadar akan kewajiban majikan di sisi yang lain.

PRT dalam Islam
Islam memberikan tempat yang mulia bagi profesi PRT. Hal ini dimungkinkan karena dua hal: pertama, kedudukan kerja di dalam Islam. Dalam hal ini Islam memberikan penghargaan yang tinggi bagi orang yang mau bekerja dalam rangka mencari rezeki. Jadi apapun jenis pekerjaannya, Islam menghargai itu. Allah berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS.62:10).
Ayat ini menegaskan perintah bagi setiap Muslim untuk mencari rezeki Allah di muka bumi ini. Ia tidak dibenarkan sibuk dengan ibadahnya, sementara melupakan kewajibannya kepada dunia dalam mencari anugerah Allah. Allah bahkan memberikan penghargaan yang tinggi bagi mereka yang berusaha mencari kerja. Sebagaimana hadis Nabi: “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri” (HR. Baihaqi).
Kedua, kedudukan profesi PRT yang memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Mereka melayani, membantu, dan memberikan segala kemudahan bagi setiap majikannya. Keberadaan mereka memiliki posisi yang sangat penting dalam kaitannya meringankan segala kesulitan muslim lainnya. Nabi Muhammad bersabda: “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meski di dalam hadis itu tidak secara khusus menunjuk pada profesi tertentu, indikatornya secara tidak langsung mengarah kepada setiap laku individu dalam memberikan manfaat bagi orang lain. PRT adalah profesi yang banyak memberikan manfaat. Dengan begitu, PRT bukanlah profesi yang hina, karena memiliki peran penting dalam membantu meringankan beban orang lain.
Pentingnya kedudukan PRT di dalam Islam, telah diperlihatkan oleh Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Nabi sendiri pernah menjadi pembantu saudagar kaya, Khadijah. Nabi dikenal sangat amanah dan pekerja keras; sementara Khadijah, tidak pernah memaksa Muhammad sebagai pembantunya.
Di samping itu, keluarganya sendiri pernah memiliki PRT bernama Barakah—gadis yang berasal dari suku Habsyah, yang pada awalnya seorang hamba yang diperdagangkan. Barakah bertugas membantu Aminah—ibunda Muhammad—dalam mengasuh dan menjaganya.
Sepeninggal Aminah, Muhammad memiliki khodim/pembantu, seorang anak muda yang beragama Yahudi. Pemuda itu meminta kepada Muhammad untuk dapat diterima dalam melayaninya. Nabi mempersilakan untuk berkhidmat, meski pemuda itu tetap dalam agamanya sebagai Yahudi. Ia melayani sepenuh hati, membawakan makan-minum nabi, dan segala keperluannya. Dalam hubungan itu, nabi tak pernah memaksa agar memeluk Islam.
Terdapat istri nabi pun yang memiliki pembantu. Aisyah RA, misalnya, yang memiliki pembantu yang bernama Barirah—yang sebelumnya berstatus sebagai hamba sahaya. Nabi dan istrinya memperlakukan pembantunya Barirah dengan lemah lembut.
Nabi Muhammad melarang memperlakukan PRT tidak secara manusiawi, menganiaya, menyakiti, dan mendeskriminasi. Dalam hal ini Nabi bersabda:
Dari Al-Marur bin Suwaid berkata,”Aku pernah melihat Abu Dzar Al-Ghifary r.a. sedang mengenakan sepotong baju jubah, juga budaknya yang mengenakan baju serupa. Kemudian aku menanyakan hal itu kepadanya. Jawabnya, "Aku pernah mencaci maki seseorang, lalu orang itu mengadukanku kepada Rasulullah Saw dan bersabda, Apakah kamu menghinanya karena ibunya. Sesungguhnya kamu adalah seseorang yang pada dirimu terdapat jiwa jahiliyah...” (HR. Bukhari Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap PRT disamakan dengan perilaku jahiliah, yang tidak berprikemanusiaan. Nabi melarang tindakan seperti itu.
Selain oleh Muhammad teladan itu diperlihatkan, teladan itu juga diperlihatkan oleh Umar bin Khattab saat mengadakan perjalanan ke Baitul Maqdis Jerusalem, dari Madinah bersama pembantunya. Ia sukarela bergantian menunggang unta dengan pembantunya.
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa Islam memberikan tempat yang terhormat bagi orang-orang yang berprofesi sebagai PRT.  

Hak-hak PRT dalam Islam
Islam menempatkan hak-hak PRT secara proporsional, dimana hak dan kewajibannya berimbang. Pengakuan hak terhadap PRT itu seperti pengakuannya terhadap profesi-profesi lainnya. Beberapa hak yang dijamin dan diakui oleh Islam adalah:
a.    Mendapatkan perlakuan yang adil tanpa diskriminasi
Islam menjamin PRT memiliki hak sama dengan majikannya. Tidak dibenarkan mereka mendapat perlakuan yang tidak adil dan diskriminatif, misalnya dalam hal panggil memanggil. Islam melarang dengan panggilan-panggilan tidak baik. Sebagaimana firman Allah:
"...Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."  (QS.49:11)

Selain itu, Nabi Muhammad Saw pun melarang memanggil PRTnya dengan panggilan yang hina lagi merendahkan: Sebagaimana hadisnya:''Janganlah seseorang kamu memanggil budak-budaknya dengan panggilan budakku, hendaklah memanggilnya dengan sebutan pemudaku atau pemudiku.''

b.    Mendapat gaji yang layak
Persoalan gaji seringkali menjadi persoalan yang sangat sensitif terjadi di kalangan PRT. Bahkan secara umum kasusnya para PRT itu tidak mendapatkan bayaran yang layak. Karena mereka umumnya masih mendapatkan gaji di bawah UMR.
Dalam kaitan ini, Islam menekankan pentingya memberikan hak PRT dalam menerima gaji setelah selesai pekerjaannya. Islam melarang menunda-nunda pembayaran gaji mereka. Dalam Hadis Nabi dikatakan: "Bayarlah kepada pekerja upahnya sebelum kering keringatnya dan beritahukanlah berapa upahnya, ketika dia masih bekerja,”(HR. Baihaqi).
Dalam konteks hadis di atas juga dapat dijelaskan bahwa majikan harus membayar upah pembantu sebelum keringatnya kering atau membayar gajinya setelah selesai bekerja sesuai kesepakatan, dalam arti ini dilarang bagi majikan menunda. Di samping itu, majikan  hendaknya transparan dalam permasalah gaji, bahkan sebelum PRT bekerja masalah besar gaji hendaknya sudah diketahui oleh PRT. Dengan adanya aspek transparansi itu, potensi pelanggaran terhadap PRT akan diatasi.
Nabi mengecam bagi majikan yang menahan gaji PRT. Sabdanya: ''Tiga orang yang aku musuhi pada hari kiamat nanti, adalah orang yang telah memberikan karena aku, lalu berkhianat; orang yang membeli barang pilihan, lalu ia makan kelebihan harganya; serta orang yang mengontrak pekerja kemudian pekerja tersebut menunaikan transaksinya sedangkan upahnya tidak diberikan.'' (HR Imam Bukhari, dari Abu Hurairah).

c.    Mendapatkan pelatihan
PRT berhak mendapatkan bimbingan dan pelatihan sehingga dapat berkembang lebih mandiri. Dalam kaitan dengan hak ini, Umar Bin Khattab memandang pentingnya memberikan keterampilan dan pendidikan PRT sehingga mereka dapat meningkatkan taraf kehidupannya.
Dalam kaitan ini, beliau menyuruh kepada setiap muslim untuk memberi ketrampilan dan pendidikan kepada pembantu, sehingga mereka dapat tumbuh lebih mandiri, kelak pada akhirnya tidak lagi tergantung kepada majikannya. ''Barangsiapa mempunyai jariah (pembantu),'' kata beliau, ''maka hendaknya ia mengajarinya dan berbuat baik kepadanya. Mereka yang berbuat demikian, akan mendapat dua pahala. Pertama, pahala telah memberi pelajaran. Dan kedua, pahala karena memandirikannya.''

d.    Mendapatkan derajat kehidupan yang layak
Pengertian mendapatkan kehidupan yang layak, PRT berhak akan kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan hidup yang lebih baik. Bagi PRT perempuan, mereka berhak mendapatkan istirahat atau cuti melahirkan, dan berhak memutus hubungan kerja bila dirasakan tidak membuat nyaman mereka. Dalam konteks ini, Islam menjamin bagi setiap PRT mendapatkan haknya.
PRT berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Diriwayatkan bahwa suatu hari, Abu Hurairah RA sangat marah ketika melihat laki-laki menunggang unta, sementara pembantunya berjalan di belakangnya. ''Wahai saudaraku,'' tegurnya, ''yang berjalan di belakangmu adalah saudaramu sendiri. Jiwanya sebagai jiwamu juga. Dudukkanlah dia di belakangmu.''
PRT berhak mendapatkan pelayanan kesejahteraan yang layak. Nabi bersabda: “...Sesungguhnya saudara-saudara kalian itu pembantu kalian juga, yang Allah jadikan berada di bawah kekuasaan kalian. Maka barang siapa yang saudaranya di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya pakaian seperti pakaian yang ia kenakan, janganlah kalian bebani mereka dengan apa yang memberatkan mereka, karena jika kalian membebani mereka dengan apa yang memberatkan maka bantulah.”(HR. Bukhari Muslim).

Penutup
Demikianlah mengenai kedudukan PRT di dalam Islam dan hak-hak dasarnya yang diakui. Memenuhi hak-haknya adalah tanggung jawab, baik kaitannya dengan PRT sendiri maupun dengan Tuhan. Berdosa kiranya bagi kita yang tidak memenuhi hak-haknya. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung. [Ahmad Mustofa - Jakarta]
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 28 Juni 2010 06:56 )  

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 26 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini737
mod_vvisit_counterKemarin928
mod_vvisit_counterMinggu ini737
mod_vvisit_counterBulan Ini28296
mod_vvisit_counterSemua1149628

Yang Online

Kami memiliki 55 Tamu online