RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Monday
Feb 08th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Suplemen Tubuh Perempuan Dalam Kajian: Menimbang Ulang Makna Hijab, Jilbab, dan Aurat : Suplemen 8/Ed.27

Tubuh Perempuan Dalam Kajian: Menimbang Ulang Makna Hijab, Jilbab, dan Aurat : Suplemen 8/Ed.27

E-mail Cetak PDF

Prolog
erlakuan  terhadap  tubuh  perempuan  dalam sejarah bangsa-bangsa memperlihatkan, bahwa selama ini nyaris tidak ada tempat bagi perempuan untuk meletakkan tubuhnya pada posisi terhormat. Peninggalan artifak Yunani Kuno, berupa patung  perempuan  telanjang  mengkonfirmasikan sebuah fenomena tubuh yang kehilangan hak privatnya. Setelah Yunani runtuh dan bermetamorfosa (ber- ubah)  menjadi  Romawi,  nasib  tubuh  perempuan masih belum mendapat tempat yang menguntungkan. Kekaisaran Romawi, yang meliputi Eropa Utara dan Eropa Timur saat ini, memberlakukan undang-undang yang menempatkan perempuan sebagai harta benda milik laki-laki, yang dapat diperlakukan sekehendak hati, dan dikuasai hidup dan matinya. Kuasa atas tubuh perempuan itu dimiliki oleh ayah dan setelah  menikah  berpindah  tangan  kepada  suami. Kekuasaan ini sangat mutlak, termasuk kewenangan untuk  menjual,  mengusir,  menganiaya,  bahkan membunuh. Padahal, kebudayaan Romawi saat itu telah mengenal agama Kristen dan jadi pengikut Isa al-Masih.

Dalam sebuah pertemuan konsili di abad ke-5 Masehi,  gereja  menyatakan  perempuan  tidak  me- miliki ruh yang suci. Lalu, pada pertemuan konsili di abad berikutnya (ke-6 M), kalangan elite Kristen menyimpulkan perempuan hanya manusia yang tercipta untuk melayani kebutuhan laki-laki. Mimpi buruk bagi tubuh perempuan juga terjadi dalam tradisi Hindu Kuno. Pra abad ke-7 Masehi, tubuh perempuan masih dijadikan sesajen bagi para dewa.  Hak  hidup  perempuan  harus  berakhir  saat suaminya  mati.  Caranya,  tubuh  perempuan  harus dibakar hidup-hidup bersama jenazah suaminya.

Dalam tradisi masyarakat Arab pra Islam (jahiliyah) tubuh perempuan tidak dianggap sebagai sesuatu yang memberikan martabat apa-apa kepada keluarga. Karenanya, dalam tradisi itu kelahiran anak perempuan dianggap sebagai peristiwa memalukan. Atas dasar itu pulalah pembunuhan atas bayi perempuan dianggap benar oleh tradisi saat itu. Alquran melukiskan tradisi itu sebagai berikut:

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Georgia; panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:IN;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan  (kelahiran)  anak  perempuan,  hitamlah  (merah padamlah)  mukanya,  dan  dia  sangat  marah.  (Dia) Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”. (QS. Al-Nahl: 58-59)

Sebagai suku nomaden (yang berpindah-pindah) masyarakat Arab umumnya tidak mengenal norma sosial terkait antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat  ini  tidak  memiliki  ketentuan  keluarga  yang tetap, undang-undang pernikahan, perceraian, hak penggunaan tubuh, dan seksualitas. Termasuk soal perbudakan dan pemaksaan pelacuran (QS. Al-Nur: 33),  poligami  tak  terbatas,  dan  zina.  Aturan  yang dianut saat itu hanya mengikuti kecenderungan gaya hidup nomaden (berpindah-pindah) dan hedonistik (kesenangan)  belaka  dalam  naungan  gaya  padang pasir.  Husain  Haekal,  seorang  sejarawan  Muslim, berkesimpulan bahwa hubungan laki-laki dan perem- puan Arab saat itu hanyalah sebatas hubungan jantan dan betina.


Perzinaan, pornoaksi, atau sekadar bercumbu rayu dengan kata-kata adalah hal biasa yang dilakukan  pemuda-pemudi  kala  itu.  Diawali  dengan mempertontonkan tubuh (tabarruj) dan “perhiasan” (dalam arti sesungguhnya maupun konotatif), mereka menggoda atau dipaksa menggoda para “pria hidung belang” di padang pasir. Dalam tingkat yang sangat akut, puisi-puisi erotik bahkan menjadi alat propa- ganda paling mujarab untuk memberikan semangat di medan tempur. Saat perang melawan pasukan Muslim  di  Uhud,  Hindun  isteri  Abu  Sofyan  bersama perempuan  jahiliyah  lainnya  mengumandangkan syair erotik itu dengan penuh semangat.

Majulah, kami akan mendekapmu, Dan menggelar permadani indah,
Tapi kalau engkau berbalik, kami akan meninggalkanmu,
Kami tinggalkan kamu dan tak mau mencintaimu.

Tidak hanya sampai di situ. Suasana kondusif bagi perempuan di padang pasir nyaris tidak ditemukan. Perempuan tidak dapat melakukan perjalanan sendiri tanpa ditemani laki-laki karena suasana ke- amanan yang tidak memungkinkan. Atas dasar situasi sosial seperti inilah di kemudian hari Nabi saw. bersabda, “Janganlah perempuan pergi tanpa didampingi mahramnya”. Konsep toilet yang saat itu belum dikenal, membuat para orang Arab terbiasa membuang hajat mereka di padang pasir. Celakanya, bagi perempuan yang keluar buang hajat akan diikuti dan diganggu oleh lelaki  nakal,  untuk  sekadar  mengintip,  menghina, atau  bermain-main.  Insiden  ini  bahkan  terjadi  di Madinah sehingga Nabi saw. harus mencari solusi agar kebiasaan ini tidak berlanjut.

Salah satu solusi yang ditawarkan Alquran untuk melindungi perempuan dari street crime adalah perlindungan  terhadap  tubuh  perempuan.  Perlindungan tersebut dilakukan dengan cara memperkenalkan bahwa bagian tubuh yang dianggap aib (aurat) tidak boleh dipertontonkan. Penutupan aurat itu dilakukan dengan cara mengenakan kain panjang yang di kemudian hari dikenal dengan jilbab. Pada masanya solusi tersebut ternyata cukup efektif meminimalisir kejahatan.


Efektivitas ajaran jilbab yang digunakan untuk melindungi tubuh perempuan disebabkan karena ma- syarakat Arab saat itu menilai bahwa perempuan yang mengenakan pakaian tertutup merupakan perempuan dari kalangan bangsawan yang terhormat dan dilindungi oleh sukunya. Dan sesungguhnya, model pakaian tertutup bagi perempuan bukan hal yang baru. Jauh sebelum Islam, model jilbab atau sejenisnya telah dikenal di banyak belahan dunia lainnya.


Pertanyaannya kemudian, benarkah aurat, hijab, dan jilbab, yang saat itu dipraktikkan oleh masyarakat Muslim merupakan kewajiban agama yang mutlak (al-Wajib al-Dharuriy)? Lalu, bagaimanakah latar bela- kang  sesungguhnya  dari  ayat-ayat  terkait  tubuh perempuan? Dan bagaimana memahami ayat tersebut dengan konteks kekinian?

Tubuh Perempuan Aurat?
Secara  etimologis  (kebahasaan),  aurat  berasal dari bahasa Arab: a‘wara yang berarti mencemarkan, membuat  malu,  atau  mengkonotasikan  dengan sesuatu yang jelek. A’wara merupakan derivasi (kata turunan) dari kata ‘awira yang berarti hilang perasaan. Apabila ‘awira ini dikaitkan dengan sifat penglihatan maka,  ia  berarti  mata  yang  buruk,  hilang  cahaya penglihatannya,  dan  lenyap  pandangannya.  Dari akar kata ini, Nabi saw. pernah menceritakan bahwa salah  satu  ciri  Dajjal  adalah  memiliki  mata  yang a’war (buta, rabun, dan buruk pandangannya). Dari akar kata yang sama muncul kata ‘aara yang berarti menimbun atau menutup sesuatu. Dari akar kata ini pulalah ‘uraa (dengan alif layyinah di belakangnya) berasal, ‘uraa berarti menunjukkan semua celah atau telanjang.


Dalam  konteks  tubuh,  ‘aurat  berarti  celah, kekurangan, atau anggota tubuh yang memalukan jika terlihat, karenanya celah yang terbuka itu harus ditutup agar tidak memalukan. Aurat telah disadur ke dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata ini berarti bagian badan yang tidak boleh kelihatan (menurut hukum Islam), kemaluan, atau organ untuk mengadakan perkembangbiakan. Dalam  Alquran  kata  ‘aurat  disebut  sebanyak empat kali. Dua dalam bentuk tunggal dan disebut sekaligus dalam satu ayat (QS. Al-Ahzab: 13). Semen- tara dua lainnya tersebut dalam bentuk jamak (QS. Al-Nur: 31 dan 58).

Dalam  QS.  Al-Ahzab:  13,  istilah  ‘aurat digunakan  untuk  merujuk  keadaan  rumah  yang ditinggal terbuka tanpa penjagaan. Sementara dalam QS. Al-Nur: 58, ‘auraat (yang tersebut dalam bentuk jamak) berarti celah waktu yang harus ditutup. Sedangkan  makna  ‘aurat  yang  berarti  bagian tubuh perempuan yang harus ditutup dapat dilihat dalam surat Al-Nur ayat 31. Dalam pengertian ini, Allah berfirman:

“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar  mereka  menjaga  pandangannya,  dan  memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan  perhiasannya,  kecuali  kepada  suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki  mereka,  atau  putra-putra  saudara  perempuan mereka,  atau  perempuan  (sesama  Islam)  mereka,  atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki- laki  (tua)  yang  tidak  mempunyai  keinginan  (terhadap perempuan),  atau  anak  laki-laki  yang  belum  mengerti ‘auraatun/aurat  perempuan.  Dan  janganlah  mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka  sembunyikan.  Dan  bertobatlah  kamu  sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung”. (QS. Al-Nur: 31)

Dalam ayat 30 dan 31 surat Al-Nur, Alquran memberikan pelajaran terkait etika pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Ayat 30 secara khusus berisi tentang  apa  yang  harus  dilakukan  laki-laki  dalam pergaulan tersebut. Sementara ayat berikutnya (31) merupakan panduan etika pergaulan bagi perempuan. Pada saat berbicara tentang etika pergaulan laki-laki, Alquran hanya berpesan agar laki-laki menjaga pandangan matanya dan menjaga kemaluannya. Sementara saat berbicara tentang etika perempuan dalam bergaul, Alquran berbicara empat kali lebih panjang dibanding saat berbicara dengan laki-laki.

Ada empat pesan terhadap perempuan beriman yang disampaikan dalam ayat tersebut. Pertama, pe- san untuk menundukkan pandangan saat berhadapan dengan lawan jenis; kedua, menjaga kemaluannya dari hal yang dilarang; ketiga, tidak menampakkan ziynataha/perhiasannya, kecuali yang memang biasaterlihat;  keempat;  mengenakan  kain  khimar/kerudung ke depan dada; dan kelima, tidak menghentakkan  kaki  dalam  rangka  memamerkan  ziynatihinna/perhiasannya yang tersembunyi.

Namun, banyaknya pesan bagi perempuan di- banding laki-laki dalam satuan ayat ini tidak berarti ayat ini memberlakukan perlakuan diskriminatif terhadap perempuan. Sebab, pada dua pesan pertama, menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, bersifat umum bagi laki-laki dan perempuan. Sementara, pesan ketiga, keempat, dan kelima, merupakan reaksi budaya atas tradisi jahiliyah. Sehingga, dalam pemahaman penulis, jika tradisi seperti tergambar pada pesan ketiga hingga kelima di atas telah terkikis, maka laki-laki dan perempuan telah memiliki kewajiban yang sama. Implikasi hukumnya, perintah ketiga hingga kelima dinyatakan tidak berlaku lagi, al- hukmu yaduuru ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman. Di tengah-tengah perintah yang harus dilakukan dalam ayat di atas, tersebutlah pengecualian menampakkan ziynatahunna/perhiasan mereka (perempuan) di hadapan laki-laki mahram.

Selain mahram, membuka ziynah/perhiasan juga boleh dilakukan di hadapan laki-laki yang menjadi suaminya, pria tua yang tidak lagi punya hasrat terhadap perempuan, dan anak kecil laki-laki yang belum paham tentang aurat  perempuan,  awith-thiflilladziina  lam  yazh- haruu ‘alaa ‘aurotinnisaa’i. Dari penggalan ayat inilah pembahasan kata ‘aurat menjadi perbincangan.

Batasan aurat dalam diskursus tafsir selalu dikaitkan dengan frase ayat illa maa zhohara minha, kecuali bagian tubuh yang biasa terlihat. Para ulama berbeda pendapat terkait hal ini.  Sebagian menafsirkan, bagian tubuh perempuan yang biasa terlihat adalah muka dan kedua telapak tangan, pendapat ini diadopsi oleh mazhab Maliki. Sebagian yang lain mengatakan hingga kedua telapak kaki sampai se- tengah betis. Mazhab Hanafi berpegang pada tafsiran ini. Yang paling ekstrim menganggap bahwa seluruh tubuh  perempuan  aurat  dan  “yang  biasa  terlihat” adalah apabila tersingkap angin. Pendapat terakhir ini masuk dalam mazhab Syafi’i dan Hanbali.

Pembatasan aurat perempuan juga diklasifikasikan berdasarkan status sosial, budak atau merdeka. Ini karena konteks masyarakat saat itu masih ada sisa-sisa budak. Perempuan budak memiliki batasan aurat lebih longgar dari perempuan merdeka, yaitu sebagaimana aurat laki-laki antara pusar dan lutut.Aurat perempuan dalam shalat dan ihram juga dibedakan dengan aurat di luar shalat. Untuk aurat di luar shalat bagi perempuan merdeka menurut Imam Syafi’i, yang mazhabnya dianut mayoritas Muslim Indonesia,  adalah  seluruh  tubuh.  Sementara  saat shalat dan ihram membuka wajah dan telapak tangannya. Bahkan, aurat perempuan juga dibedakan berdasarkan usia. Anak-anak dan orang tua renta, yang dianggap tidak dapat mendatangkan libido (hasrat seksual) bagi orang lain, memiliki batasan aurat lebih longgar dibanding perempuan “produktif”.

Perbedaan  memahami  batasan  aurat  di  atas dengan demikian membuktikan, betapa teks terkait tidak memberikan batasan yang jelas tentang aurat. Sehingga, terbuka peluang yang sangat luas dalam melakukan penafsiran. Para penafsir dan ahli fiqh menggunakan kerangka paradigmatiknya masing-masing yang terkait “ruang” dan “waktu” saat menjelaskan batasan aurat. Mazhab Hanafi dikenal sebagai mazhab  yang  memiliki  aturan  yang  lebih  longgar soal batasan aurat ini. Barangkali, hal demikian ter- jad