RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Wednesday
Sep 08th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Al-Arham Antara Usaha dan Tawakal : Al Arham Edisi 26 (A)

Antara Usaha dan Tawakal : Al Arham Edisi 26 (A)

E-mail Cetak PDF

Saat permasalahan hidup membelit dan semua pintu keluar terlihat buntu, kadang kita akan semakin tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Begitu pula ketika kesedihan sedang mendera atas musibah-musibah yang menimpa, kita merasa tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban? Banyak orang tak bisa menemukan kunci keluarnya. Padahal tawakal bisa jadi salah satu solusinya.

Makna Tawakal
Istilah tawakal berasal dari kata tawakala yang memiliki arti menyerahkan, memperca- yakan, dan mewakilkan.1 Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerah- kan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah swt. Tawakal secara istilah juga didefinisikan oleh beberapa ulama salaf, yang sesungguhnya memiliki muara yang sama. Di antara definisi tersebut adalah:

Pertama, menurut Imam Ahmad bin Hambal, tawakal merupakan aktivitas hati, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh hati; Bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.2

Kedua, tawakal menurut Ibnu Qoyim al-Jauzi, yaitu merupakan amalan dan ubudiyah (penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah swt., berlindung hanya kepada-Nya dan rela atas sesuatu yang menimpa dirinya. Hal ini tentu saja berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikan segala ‘kecukupan’ bagi dirinya; dengan tetap melaksanakan sebab atau faktor-faktor yang mengarahkannya pada sesuatu yang dicarinya; serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.3


Sebagian ulama salaf lainnya memberikan komentar beragam mengenai tawakal. Di antaranya, “Jika dikatakan bahwa Dinul Islam secara umum meliputi dua aspek, yaitu  al-isti’anah (meminta pertolongan Allah swt.) dan al-inabah (taubat kepada Allah swt.); Maka tawakal merupakan setengah dari komponen Dinul Islam. Sebab, tawakal merupakan refleksi dari al-isti’anah. Yaitu apabila seseorang hanya meminta pertolongan dan perlindungan serta menyandarkan diri hanya kepada-Nya, maka pada hakekatnya ia bertawakal kepada Allah swt.


Tawakal adalah Setelah Usaha
Dari Anas bin Malik ra., ada seseorang berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?” Rasulullah menjawab,
“Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi).


Hadis tersebut terlihat jelas bahwa sebelum bertawakal hendaknya seseorang berusaha terlebih dulu. Tawakal tanpa didahului usaha juga akan sia-sia. Bukankah Alquran juga sangat terang menjelaskan, “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali ia merubahnya sendiri.” Apa jeleknya jika kita berpasrah kepada Allah swt., merendahkan diri ke haribaan-Nya. Terkadang manusia sering lupa dan bersombong diri karena menganggap apa yang diusahakan akan benar-benar dapat membahagiakan hidupnya. Padahal tidak demikian, semua apa yang diberikan Allah swt. di dunia adalah “cobaan”. Kesenangan yang kita dapatkan; kesedihan yang diderita; semua adalah cobaan. Tingggal bagaimana manusia menyikapinya. Jika semua dijalankan karena- Nya, maka semua akan bernilai ibadah.


Hendaknya manusia tidak terlena ketika sedang berada “di atas”; dan segala apa yang diinginkan terkabulkan. Jangan pula terlalu bersedih ketika sedang berada dalam kesusahan.  Allah swt. menyampaikan dalam QS. Al-Insyirah ayat 5 dan 6, “Sesungguhnya disamping ada kesukaran pasti ada kemudahan.” Sebab itu, merupakan kewajiban manusia untuk berusaha dan selalu tawakal kepada-Nya. Usaha manusia harus sampai titik kemampuan terakhirnya; dan ketika itu, ia baru bisa bertawakal. Ini adalah jalan yang terbaik baginya.

Derajat Tawakal
Terealisasinya sikap tawakal merupakan gabungan dari berbagai unsur yang menjadi satu. Unsur-unsur ini juga merupakan derajat dari tawakal itu sendiri.

Pertama, derajat dari tawakal adalah Ma’rifat kepada Allah swt. dengan segala sifat-sifat-Nya. Minimal meliputi tentang kekuasaan-Nya; keagungan-Nya; keluasan ilmu-Nya; keluasan kekayaan-Nya; bahwa segala urusan akan kembali pada-Nya. Sebab segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya.

Kedua, memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha. Misalnya, bila seorang perempuan selalu mendapat perlakuan buruk dari suaminya, majikannya, atau orang lain, maka sudah seharusnya ia berusaha membebaskan dirinya dari perlakuan aniaya itu dengan mencari perlindungan dan tidak hanya berdiam diri menerima nasib.

Ketiga, adanya ketetapan hati dalam mengesakan Allah swt. Sebab, tawakal harus disertai keyakinan akan ketauhidan-Nya. Jika hati syirik, maka batal ketawakalannya.

Keempat, menyandarkan hati sepenuhnya hanya kepada Allah swt. Seorang hamba yang bertawakal, hanya akan bisa tenang dan tentram jika berada dalam haribaan Allah swt.

Kelima, husnudzan (berbaik sangka) terhadap  Allah swt. Sebab, tidak mungkin seseorang bertawakal terhadap sesuatu yang dia su’udzan (berburuk sangka) kepadanya.

Keenam, harus sepenuh hati menyerahkan segala sesuatu kepada Allah swt.

Ketujuh, menyerahkan, mewakilkan, mengharapkan, dan memasrahkan segalanya hanya kepada-Nya.


Marilah kita tingkatkan sikap tawakal kita supaya dapat menjalani kehendak Allah swt. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan doa si miskin atau si kaya; laki-laki atau perempuan, karena mereka sama dihadapan-Nya.By Laras

Catatan Kaki

1 Munawir, 1984 : 1687.
2 Al-Jauzi, Tahdzib Madarijis Salikin, tt: 337.
3 Al-Jauzi, Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya ’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975: 254.

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 01 Juli 2010 07:40 )  

Perpustakaan

Perpustakan

Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Foto, Kliping, CD-ROM, CD, VCD dan DVD.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

 
Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78880568 atau 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 42.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 46.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) + ongkos kirim.

Agenda Rahima

24 Agustus 2010 Diskusi Terbatas, "Hukum Keluarga" kerjasama Rahima & JKP3. di Komnas Perempuan jam 14.00

Admin Rahima

Ulfah

Maman
Nining


Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini230
mod_vvisit_counterKemarin436
mod_vvisit_counterMinggu ini1103
mod_vvisit_counterBulan Ini3420
mod_vvisit_counterSemua107164

Yang Online

Kami memiliki 11 Tamu online