RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Wednesday
Apr 23rd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Potret Potret Edisi 29 : Ratu Vina, ‘Ratu’ Banten PejuangPendidikanPerempuan

Potret Edisi 29 : Ratu Vina, ‘Ratu’ Banten PejuangPendidikanPerempuan

E-mail Cetak

“Jadilah perempuan yang kuat Vina, agar menjadi contoh bagi perempuan lain.”


Ratu Vina Rohmatika, biasa dipanggil Vina, ingat betul pesan di atas. Pesan itu diteruskanoleh Ayahnya dari Nenek Vina, Nyai Hj. Nadhrah, istri dari KH. Hasuri Thohir, pendiri Pesantren At-Thohiriyah Serang. Pesan ini disampaikan tidak hanya dalam satu kesem- patan. Menurut perempuan kelahiran Serang, 2 Februari 1985 ini, maksud dari pesan Neneknya itu agar ia menjadi perempuan ‘kuat’ pada jamannya kelak.

Nyatanya, pesan tersebut benar-benar diimplementasikan oleh kedua orang tua Vina, Hj. Eha Solihah dan KH. Tubagus Nurudin, pendiri Pesantren Salaf Putri Bani Thohir. Orang tua Vina memahami, anak-anak mereka akan hidup di jaman yang sangat berbeda di masa depan; sebuah jaman dimana tidak hanya mengandalkan kitab klasik sebagai pegangan hidup, tapi juga pendidikan formal dan penguasaan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi). Pasangan suami istri itu lalu menerapkan pendidikan yang mengkombinasikan pendidikan umum dan pesantren (salaf) kepada kelima anaknya (3 perempuan dan 2 laki-laki). Tidak hanya itu, di rumah, orang tua Vina juga memberlakukan pendidikan berkesetaraan bagi putra-putrinya. Vina dan adik- adiknya sudah sangat terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu,mencuci pakaian bahkan membuat kue. Tidak ada pembedaan perlakuan kepada anak laki-laki dan anak perempuan dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

Menurut Ayah Vina, melakoni kedua model pendidikan tersebut tidaklah cukup sekedar melakoni saja. Ia menuntut anak-anaknya harus berprestasi pada kedua bidang itu. Sekolah umum tidak menghalangi untuk berprestasi di pesantren, dan pesantren salaf tidak menghalangi untuk  berprestasi di sekolah umum. Karena hal itu jualah yang dicontohkan oleh Ayah Vina, yang saat ini selain menjadi pengasuh pesantren salaf yang mumpuni, juga menjadi Kepala Bidang Usaha Kredit Menengah (UKM) pada Kantor Departemen Perindustrian dan Koperasi Kabupaten Serang.

Tak heran, sejak kecil perempuan yang merupakan cucu buyut dari Abah Kyai Thohir, pendiri Pesantren Salaf Bani Thohir, yang terletak di Desa Pelamunan, Kramatwatu, Serang, Banten itu menjalani kehidupan ‘dua dunia’. Pagi hingga sore ia menjalani pendidikan umum di luar pesantrennya (sesuatu yang tidak dilakukan oleh keturunan Abah Kyai Thohir yang lain, yang tetap berpegang teguh pada pendidikan salaf). Sedang malam harinya ia menjalani aktifitas di pesantren salafnya.

Bagaimana Vina bisa sukses menjalani itu semua? “Kuncinya adalah disiplin,” ujar perempuan yang Agustus lalu berhasil lulus dari program S2 di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung, dengan yudisium Cumlaude, IPK nya 3,92.

***

“Ibu adalah bintang", maka pendidikan bagi ibu sangat penting. Dari seorang ibu yang shalehah akan lahir anak laki-laki dan perempuan yang shalehah.” Demikian Vina berpendapat dalam sebuah workshop di Serang yang diadakan Rahima hampir dua tahun lalu. Dalam kesehariannya, pendidikan bagi perempuanlah yang menjadi konsen ’Ratu’ yang tidak mengenakan tiara tetapi kerudung panjang itu.

Di pesantren salafnya, Pesantren Putri Bani Tohir, perempuan keturunan bangsawan yang masih memiliki jalur keturunan dari  Kesultanan Banten ini, mengajar Tata Bahasa Arab, berbagai kitab Fiqh, Tafsir dan juga Hadis. Hanya saja berbeda dengan pengajar yang lain, Vina telah menerapkan model pendidikan kritis kepada santriwatinya. Salah satunya adalah, meminta mereka (yang sebagian memiliki berbagai latar belakang pendidikan umum dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi) melakukan presentasi sebuah tema; baik yang ada di kitab Fiqh maupun Hadis selama satu jam, lalu santri yang lain mengkritisinya.

Berbagai terobosan juga dilakukan Vina di pesantrennya. Di antaranya, ia mewajibkan santrinya menerjemahkan kitab fiqh maupun hadis yang telah dipelajari (yang biasanya diterjemahkan dalam bahasa Jawa maupun Sunda; bahasa daerah yang dipakai di Serang) ke dalam bahasa Indonesia.Alasannya, agar pada era globalisasi ini, santri tidak gagap berbahasa Indonesia.

Vina juga memotivasi santri yang belum mengikuti pendidikan formal untuk mengikuti program paket B dan C. Hasilnya, saat ini beberapa santrinya yang telah lulus program paket C melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Tidak hanya itu, ia juga mendorong para santri untuk mengikuti berbagai kursus ketrampilan seperti menjahit dan membuat kue.Tak lain, agar kelak ketika mereka telah berumah tangga, mereka tetap bisa mandiri secara ekonomi.

Di luar pesantren, Vina juga melakukan berbagai aktivitas, mulai dari mengajar di berbagai perguruan tinggi di Serang, seperti di Institut Agama Islam Banten (IAIB) untuk mata kuliah Psikologi, Bahasa Arab, dan Qiro’atul Kutub; dan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Metode pengajaran yang ia terapkan di perguruan tinggi dengan berbagai model pembelajaran sesuai dengan konsentrasi studinya di Sekolah Pascasarjana (SPs) UPI Bandung, yang intinya ingin membuka wawasan berpikir mahasiswanya dengan cara yang lebih menyenangkan.

Mengisi Majlis Taklim (MT) ibu-ibu baik di tingkat Rukun Tetangga (RT) maupun Rukun Warga(RW) juga menjadi ikhtiar Vina untuk melakukan pendidikan kepada kaum perempuan. Saat ini, Vina secara rutin menjadi narasumber di beberapa Majlis  Taklim yakni di komplek perumahan Pondok Cilegon Indah (PCI), Perumnas Cibeber, Griya Serdang Indah (GSI), Bumi Agung Permai (BAP) juga di Kaloran. “Latar belakang pendidikan formal dari ibu- ibu anggota MT sangat beragam, jadi dalam menyampaikan  taklim, saya menggunakan bahasa yang dapat mereka mengerti sesuai dengan latar belakang sosial dan pendidikan mereka,” terang Vina tentang metode taklimnya.

Tantangan di pesantren kami (juga dunia pesantren lain) saat ini, adalah semakin menurunnya jumlah santri. Tantangan tersebut semakin besar karena pesantren kami hanya menerapkan model pendidikan salaf. Saya sudah berikhtiar untuk melakukan sosialisasi di segala kesempatan. Hasilnya sudah ada sedikit penambahan santri yang berasal dari mahasiswa saya.  Tetapi jumlahnya belum signifikan dibanding dengan masa lalu yang pernah mencapai ratusan santri,” ujar Vina.

Menurut penulis, sebaiknya para santri putri dapat semakin termotivasi untuk menjalani model pendidikan yang mengombinasikan model pendidikan pesantren salaf dengan model pendidikan modern. Sebab, contoh nyata ’perempuan kuat’ itu ada di hadapan mereka, dialah Ratu Vina Rohmatika.AD.Eridani







 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 19 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini692
mod_vvisit_counterKemarin791
mod_vvisit_counterMinggu ini2257
mod_vvisit_counterBulan Ini19431
mod_vvisit_counterSemua1057010

Yang Online

Kami memiliki 16 Tamu online

Flag Contries

free counters