RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Monday
Dec 22nd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Teropong Dunia Teropong Dunia Edisi 29 : WAW, Harapan Perempuan Afghan

Teropong Dunia Edisi 29 : WAW, Harapan Perempuan Afghan

E-mail Cetak PDF

Shameen masih trauma, bila mengingat beberapa kisah yang mengakibatkannya berada di Rumah Aman di Kabul, Afghanistan. Dia telah diperkosa dan ditikam suaminya sampai nyaris tewas. Bibirnya gemetar, sorot matanya penuh ketakutan ketika menceritakan peristiwa itu.

Suami Shameen yang dinikahi atas kehendak ayahnya, ketika Shameen masih remaja, telah menyiksa dan menganiaya selama usia perkawinan. Setiap hari dia menderita pukulan dengan kabel listrik atau lempengan logam, karena ia dan suaminya tidak bisa punya anak. Di Afghanistan, dalam masalah seperti ini, kesalahan selalu ditimpakan pada perempuan.1

Lain halnya cerita Bibi Kuku, 19 tahun, ia ingin mati untuk mengakhiri penderitaanya dengan membakar perutnya. Pernikahan paksa yang dialaminya, juga tuntutan untuk segera hamil, telah membuatnya menderita. Tindakan ekstrem yang merugikan diri sendiri ini diambilnya sebagai cara untuk lepas dari derita yang dialaminya.2

Sejak penggulingan rezim  Taliban pada 2001, pemerintahan bentukan Amerika memang telah tersusun. Ada sedikit perubahan yang terlihat, gagasan tentang hak-hak perempuan telah mulai mewacana. Di sana telah hadir pula Kementrian Negara Urusan Perempuan, dan juga komunitas kecil yang memperjuangkan perempuan.3 Tetapi, tradisi patriarki yang kuat membelenggu perempuan, membuat mereka masih terjebak di dalamnya.

Dalam kondisi pasca perang yang selalu meninggalkan luka, perempuan Afghan masih hidup dalam tradisi bisu tanpa harapan. Mereka masih terikat kuatnya tradisi yang melihat perempuan sebagai properti, yang tidak sejajar dengan lelaki. Perempuan sering kali dipaksa menikah di usia dini, dipukul, diperkosa, bahkan dijual kepada penawar tertinggi.4

Para aktivis perempuan di Afghan mengatakan, perkawinan paksa antara suku-suku dan keluarga yang dialami anak-anak perempuan telah jadi bagian realitas sosial yang selama berabad-abad hidup dan terjadi hingga saat ini. Padahal hukum perkawinan telah mengatur usia pernikahan, yaitu 16 untuk perempuan dan 18 bagi laki-laki. Tapi pernikahan dini, pemukulan, penyiksaan dan perdagangan perempuan, tetap saja terjadi secara luas. Ironisnya hal ini diterima masyarakat sebagai sesuatu yang wajar dan biasa.5

Banyak perempuan yang telah dijual dan dinikahkan paksa dengan lelaki bukan pilihannya. Akhirnya mereka jadi korban kekerasan, bila mencoba berlindung dengan kembali pada keluarganya sendiri. Saudara-saudaranya atau ayahnya akan mengembalikannya pada suaminya. Dan bagi perempuan yang kawin lari akan diusir dari keluarga. Ini karena mereka memiliki tradisi demi “melindungi kehormatan keluarga” (Family’s Honor). Karenanya, banyak dari perempuan Afghan yang coba bunuh diri, sebagai pengorbanan dirinya untuk keluarga. Bahkan ada pula yang melakukannya sebagai cara untuk melarikan diri dari keseng- saraan yang dialami. Ada budaya bisu yang dilakukan perempuan Afghan karena mereka tidak tahu bagaimana keluar dari masalah.

Sementara, pemerintahan yang belum lagi stabil membatasi kelompok atau lembaga yang berupaya melakukan pemberdayaan terhadap perempuan. Banyak dari lembaga yang bergerak di bawah tanah untuk memberikan ruang perlindungan bagi perempuan. Sebagai contoh pada 2005, beberapa organisasi sosial Afghanistan tidak secara terbuka mengakui, mereka bekerja untuk mendukung hak- hak perempuan, kata Nabila Wafez, seorang manajer proyek di Afghanistan untuk hak-hak perempuan Medica Mondiale. Yaitu, sebuah organisasi non-pemerintah Jerman yang men- dukung perempuan dan anak di daerah konflik.

WAW untuk Perempuan Afghan
Dalam ruang yang begitu hampa bagi perempuan Agfan, kehadiran lembaga yang memberi pemberdayaan adalah sebuah harapan akan adanya dunia baru bagi mereka. Salah satunya adalah WAW (Women for Afghan Women), sebuah lembaga yang berkomitmen menjamin hak-hak asasi perempuan Afghan. Organisasi yang dibangun untuk memberikan pencerahan bagi perempuan Afghan dan di luar Afghan ini didirikan para perempuan Afghan yang tinggal di Amerika. WAW berkantor dan melakukan aktifitasnya di Kabul.

WAW bergerak mempromosikan perempuan Afghan melalui pengadaan Ruang Aman, sebuah forum tempat para perempuan Afghan dapat berjaringan. WAW juga mengembangkan program- program untuk memenuhi kebutuhan khusus perempuan, dan berpartisipasi dalam advokasi hak asasi manusia secara nasional maupun internasional.6

Kegiatan yang selama ini dilakukan WAW meliputi penggalangan dana rekonstruksi Afghanistan, khususnya sekolah dan fasilitas kesehatan bagi perempuan dan anak-anak. WAW mendukung pengembangan program-program pelatihan kejuruan bagi perempuan Afghan yang telah diberi akses pendidikan dan pelatihan profesional. Selain itu, WAW aktif pula mendukung representasi perempuan Afghan dalam semua bidang, politik, sosial, budaya dan ekonomi.

WAW memberikan lingkungan yang aman bagi perempuan Afghan, sehingga mereka bisa berkumpul untuk saling mendukung. Mereka juga menyusun sebuah kampanye masa depan untuk fokus pada pendidikan dan kesiapan perguruan tinggi bagi perempuan muda Afghanistan. Konseling untuk masalah-masalah domestik yang dialami perempuan juga diberikannya. Secara kontinu, WAW juga mengadakan kegiatan pemberdayaan budaya di mana perempuan Afghan, cendekiawan, aktivis, seniman, dan lainnya dapat memamerkan karya mereka. Mereka juga memiliki program yang terkait dengan upaya mempertahankan hidup dan mengangkat wacana hak asasi manusia bagi perempuan dalam konteks Islam. WAW juga mempromosikan kepada masyarakat Afghanistan, bahwa Islam hadir untuk memberikan dan melindungi hak asasi manusia, lelaki dan perempuan.

Pusat Bimbingan Keluarga, Ruang alternatif Perempuan Afghan
Tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan, menunjukkan rendahnya posisi perempuan di Afghan. Berdasarkan data lembaga PBB untuk perempuan (Unifem), sekitar 90 persen perempuan Afghanistan menderita kekerasan dalam rumah tangga. Meski begitu, hanya ada kurang dari selusin tempat penampungan yang dapat memberi Ruang Aman bagi perempuan.7

Untuk merespon realitas tersebut, WAW lalu membangun program Pusat Bimbingan Keluarga (Family Guidance Center/FGC) di Kabul. Tahap awal program, mereka menyediakan bantuan bagi perempuan korban yang tak terhitung jumlahnya di Afghanistan. Program yang dimulai pada 2007 ini telah memberikan ruang baru bagi perempuan Afghanistan, yang sebelumnya telah kalah, terluka dan berkecil hati, karena tidak ada layanan berarti yang tersedia. Sekarang, kasus-kasus yang menimpa mereka dapat dirujuk ke pusat WAW. FGC memediasi dan secara berkelanjutan memberikan konseling bagi perempuan dan anggota keluarga yang terkena dampak minimal selama setahun.

Selama program tersebut berjalan, setidaknya dalam 17 bulan setelah FGC dibuka, ada sekitar 450 perempuan dan anak perempuan yang mendapatkan konseling dan layanan mediasi untuk menyelesaikan konflik dengan keluarganya. Saat ini, FGC menerima sekitar 40-50 kasus baru setiap bulan. Kadang perempuan dari provinsi yang jauh dari Kabul pun datang untuk mendapatkan layanannya.

Staf WAW sendiri sejumlah 32 orang, mencakup 3 pengacara untuk menyediakan layanan hukum. Selama tahun pertama, tempat penampungan FGC yang masih disembunyikan, telah dihuni sekitar 147 perempuan dan 45 anak-anak. Fasilitas dan layanan FGC juga telah digunakan atas permintaan badan- badan hak asasi manusia, untuk perlindungan darurat perawatan kasus pelecehan serius, termasuk perkosaan atas diri anak perempuan seusia 5 tahunan.

WAW mengaku, kehadiran FGC di sana telah cukup diterima oleh beberapa kalangan. Ini karena masyarakat yakin, ruang mediasi untuk keluarga dan konflik perkawinan disahkan dan merupakan salah satu ruang yang dianjurkan Islam. Karenanya, sasaran dari program ini yang dituju WAW adalah laki-laki dan perempuan. Tujuannya, mengurangi resistensi laki-laki yang masih berpikir tradisionalis. Kehadiran program WAW tersebut, punya nilai filosofis yang didasarkan pada dua premis mendasar.  Pertama,  perempuan tidak perlu membuang budaya mereka atau keyakinan agama mereka untuk mengambil alih hidup mereka.  Kedua, laki-laki dan perempuan, pelaku maupun korban harus menerima konseling, jika hendak mencapai kemajuan; mengurangi bencana sosial ini. Brava WAW, sungguh Islam telah memberikan ruang bagi perempuan.


Catatan Akhir
1.  http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/09/25/
14024393/duka.nestapa.perempuan. Afghanistan
2.  http://www.cnn.com/2007/WORLD/asiapcf/05/09/
afghan.women/index.html
3. Berita mengenai in pernah di muat dalam The New York Times 3 Maret 2009  Afghan Women Slowly Gaining Protection diambil dari   http://
www.womenforafghanwomen.org/
4.  http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/09/25/
14024393%20/duka.nestapa.perempuan.Afghanistan
5. Idem.
6.  http://www.wi kigender.org /index.php/
Women_for_Afghan_Women_(WAW) atau dapat langsung membuka  http://www.womenforafghanwomen.org /
7.  http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/09/25/
14024393%20/duka.nestapa.perempuan. Afghanistan

 

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

13-14 Desember 2014. Monitoring PUP IV di PP Mambaul Huda, Salaman Magelang

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini171
mod_vvisit_counterKemarin1371
mod_vvisit_counterMinggu ini171
mod_vvisit_counterBulan Ini29609
mod_vvisit_counterSemua1325140

Yang Online

Kami memiliki 20 Tamu online

Flag Contries

free counters