Pada awalnya Pondok Pesantren (PP) al-Qur’aniyah yang dimulai pada 1993, hanya sebuah pengajian kecil berupa majlis taklim
remaja dan anak-anak. Pada tahun kedua mulai didirikan Taman Pendidikan Alquran (TPA) sebagai fondasi awal berdirinya lembaga pendidikan semi formal. Majlis taklim remaja lebih berorientasi pada pembinaan remaja pada penguasaan ilmu Alquran baik berupa nagham maupun tahfidz. Banyak di antara mereka yang kemudian ikut serta dalam perlombaan-perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Lambat laun dengan prestasi yang diperoleh santri majlis taklim dan TPA tersebut, tuntutan masyarakat untuk menitipkan anaknya di majlis taklim ini semakin kuat. Pada 1998 mulailah diterima santri secara resmi untuk mondok. Karena belum ada bangunan khusus untuk asrama maka beberapa kamar dipergunakan untuk asrama. Dan bertambah tahun semakin ada peningkatan, baik sarana bangunan, maupun peningkatan santri. Saat ini tercatat kira-kira 162 santri dan 105 santriwati.
Karena PP al-Qur’aniyah ini dibangun berdasarkan pada kebutuhan masyarakat sekitar terutama dhu’afa dan yatim maka tujuan utamanya memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas bagi kalangan du’afa dan yatim secara cuma-cuma. Pesantren beralamat di Jl. Panti Asuhan Ceger Jurang Mangu Timur, Pondok Aren Tangerang ini mengukuhkan dirinya sebagai PP di bawah Yayasan Pendidikan Islam Yatim Piatu.
Secara fisik, kondisi pesantren saat ini masih membutuhkan perbaikan meskipun pihak yayasan terus melakukan peningkatan. Seperti banyak pesantren lain, alasan dana adalah masalah yang dihadapi, tetapi dalam hal non-fisik (akademis) pesantren ini memiliki beberapa keunggulan. Nilai keunggulan tersebut di antaranya terletak pada semangat para guru dan staf yang ingin mengembangkan pesantren ini menjadi salah satu pesantren yang diperhitungkan dengan mengintegrasikan wawasan Alquran, pendidikan salaf dan modern. Apalagi di mata masyarakat, pesantren ini mempunyai daya tarik yang kuat. Hal ini dapat dilihat dari banyak prestasi yang dicapai dalam bidang Tilawat Alquran dalam tingkat nasional dan beberapa kali di tingkat internasional.
Memberi Ruang yang Sama untuk Berprestasi
PP al-Qur’aniyah sejak awalnya memang menetapkan dirinya pada penguasaan ilmu-ilmu Alquran, qira’at bi al-Nagham, tahfidz dan tajwid. Secara umum tujuannya adalah mencetak qari, qari’ah, hafidz, hafidzah yang juga menguasai dan memiliki pengetahuan keislaman klasik maupun modern. Tetapi seperti mayoritas pesantren lain, dalam pengembangan kurikulum selanjutnya juga memberikan pengetahuan tentang kutub al-turats. Kajian ilmu-ilmu keislaman klasik juga diberikan dan merupakan bagian integral dari kurikulum dan bukan suplemen. Di antaranya nahwu, sharaf, balaghah, ushuluddin (tauhid), fiqh, ilmu ulum Alquran, dan lain-lain.
Sebagai pesantren Alquran, disamping pembelajaran yang terdapat dalam muatan kurikulum pesantren, kegiatan-kegiatan pengembangan minat dan bakat selalu dilakukan dua kali seminggu. Misalnya bimbingan dalam kerangka Musabaqah Tilawatil Quran, seperti tahfidz Qur’an, syarhiil Qur’an, tajwid, cerdas cermat, pidato bahasa Inggris, Indonesia dan Arab, nagham, hajir marawis, hadrah serta beberapa kegiatan lain yang berada dalam koridor ilmu-ilmu Alquran.
Meskipun kitab kuning masih dinilai sarat dengan kultur patriarki (terutama bidang fiqh) namun tetap digunakan. Hanya saja ustadzah yang mengajar telah memiliki perspektif baru tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki. Penanaman kesetaraan dengan wacana-wacana yang mencerahkan dilakukan oleh pengajar yang selalu menekankan bahwa kitab fikih ini diproduk pada beberapa abad yang lalu. Setidaknya dengan wawasan baru ini, mereka memahami kontekstualisasi fikih dalam masyarakat.
Semua upaya ini diperkuat dengan keterbukaan sikap pimpinan pesantren yang pro kepada perubahan ke arah yang mencerahkan. Tidak tertutup pada pendapat dan gagasan baru. Disamping itu sebagian besar pengajar selalu diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri dan memperkaya wawasan di berbagai kegiatan dan workshop yang mencerahkan.
Biasanya di beberapa pesantren, kepada santri perempuan diberlakukan aturan yang lebih ketat dibanding santri laki-laki. Di pesantren ini, tidak dibedakan perlakuan antara santri laki-laki dan perempuan. Santri perempuan bisa beraktifitas tanpa ada kungkungan-kungkungan dari pesantren. Dalam berbagai kegiatan, baik dalam kepanitiaan, atau pertunjukan-pertunjukan, laki dan perempuan sama-sama memiliki ruang yang sama. Meskipun organisasi kesantrian masih dibedakan, dan masing-masing mempunyai organisasi sendiri-sendiri. Selain itu juga, tidak ditemukan pemisahan ruang belajar bagi santri laki-laki dan perempuan. Bagi ustadz dan ustadzah diperkenankan mengajar santri perempuan maupun laki-laki sesuai kapasitas dan kompetensi pengajar. Begitupun dalam hal persoalan kepemimpinan dalam pesantren. Siapapun ustadz atau ustadzah yang memiliki potensi maka diberikan kesempatan untuk memimpin kegiatan, atau bahkan jabatan tertentu dalam kepengurusan pesantren.
Santri laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk dikader menjadi hafidz, hafidzah atau qari’ dan qari’ah. Bahkan dalam pemilihan utusan ke setiap MTQ atau acara- acara tertentu selalu mempertimbangkan potensi dan kompetensi setiap santri. Sehingga sekarang ini telah banyak tercatat santri dan santriwati yang berprestasi baik di tingkat lokal, nasional dan bahkan di tingkat internasional. Dan bagi mereka yang berprestasi diberikan beasiswa kuliah dengan aturan yang tidak ketat. Selama ini beasiswa diberikan bagi santri dengan katagori yatim dan dhu’afa lebih-lebih yang memiliki prestasi yang baik. Dalam rangka untuk mengembangkan diri, pesantren juga menyelenggarakan TPA, majlis ta’lim kaum ibu dan bapak, pengajian remaja Irqoh, penyiaran (radio), dan travel penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh serta klinik bagi santri dan masyarakat.
Pada 2005, tim akademik yayasan memutuskan membuka sekolah formal untuk para santrinya. Selama ini para santri masih sekolah ke Madsarah lembaga lain. Dalam pembahasan, mayoritas pengurus yayasan memilih sekolah Formal dalam bentuk Madrasah Tsanawiyah (MTs), tetapi ada juga yang memilih dalam bentuk SMP. Akhirnya pengurus sepakat untuk membuka SMP Islam Terpadu yang mengadopsi sistim boarding school dengan kurikulum terpadu antara ilmu-ilmu umum dan kepesantrenan. Meskipun dengan SDM yang rendah, tetapi semangat yang dibangun berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara integral dengan kultur Islam. Disusul kemudian pada 2007 dengan pembukaan SMA Plus al-Qur’aniyah serta mulai dilakukan pengembangan bahasa Inggris dan Arab baik di sekolah maupun pesantren. Pendidikan bahasa ini terintegrasi dalam kurikulum pesantren. Biasanya dilakukan setelah shalat subuh sebelum pengajian klasik.
Sementara kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang juga dilakukan di sekolah seperti paskibra, club sains, nasyid, futsal, volley dan lain-lain. Pengembangan baik secara kelembagaan maupun personal selalu dilakukan. Dalam konteks kelembagaan telah beberapa kali dilakukan pelatihan kewiraswastaan dari LSM yang diperuntukan bagi kelas atau tingkat 5 dan 6. Sementara pengembangan personal dilakukan di antaranya melalui pengiriman beberapa guru dan ustadz untuk ikut di beberapa pelatihan-pelatihan yang diselengggarakan baik pada tingkat perguruan tinggi maupun LSM.
Melihat PP al-Qur’aniyah sekarang, tentunya juga melihat banyak energi dan perjuangan yang telah dilakukan. Meskipun tetap masih terus dilakukan pengembangan dan perbaikan- perbaikan. Wacana dan perspektif kesetaraan juga masih harus diupayakan dengan cara- cara yang santun. Karena komposisi pengajar sangat tidak imbang, ustadzah baru dua orang sementara selebihnya 18 orang ustadz.
Perlu menampilkan sosok perempuan dengan kompetensi dan kemampuan yang baik serta selalu dibarengi dengan usaha yang sinergis agar ada penambahan yang signifikan. Karena ibu asuh atau ustadzah pamong masih sangat dibutuhkan, semoga. Wallahu a’lam Aan Ashariyah - Pengasuh PP al Qur’aniyah



















