RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Saturday
Aug 30th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Tanya jawab Kecewa kepada Orang Tua : Tanya Jawab Edisi 28

Kecewa kepada Orang Tua : Tanya Jawab Edisi 28

E-mail Cetak PDF

Assalamu’alaikum  wr.  wb.

Pengasuh Tanya Jawab SR yang saya hormati. Saya, 26 tahun, anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga yang boleh dibilang broken home. Sembilan tahun lalu, ayah dan ibuku bercerai.  Sebelumnya, kehidupan  keluarga  kami memang sudah mulai tidak karuan, meski secara ekonomi  sebetulnya  berkecukupan. Ayah  memiliki kebiasaan buruk sering membawa ‘perempuan
lain’ ke rumah. Ketika ibu memrotesnya, ayah marah-marah dan mencaci-maki ibu. Lama-lama ibu tidak tahan dengan tindakan ayah dan akhirnya  bercerai.
Secara jujur, saya tidak senang dengan kelakuan  ayah,  bahkan  sulit  untuk memaafkannya. Saya pun memilih tetap tinggal bersama ibu. Seiring dengan waktu berlalu, setelah  mereka  bercerai,  saya  menyaksikan kebiasaan buruk yang sama dilakukan oleh ibu. Ibu yang saya cintai dan yang menjadi pegangan, hampir tiap hari membawa pulang laki-laki berganti-ganti ke rumah. Tiap pulang sekolah, rasanya tidak ingin pulang ke rumah, karena saya tidak  tahan  menyaksikan  ibu  yang  minum minuman keras, mabukan-mabukan dengan laki- laki yang  jelas bukan  suaminya. Saya merasa tidak  suka,  bahkan  jijik  melihat  tingkah  ibu yang aneh-aneh. Saya pun menjadi kecewa dan tidak suka  kepadanya.
Kini,  setelah  bertahun-tahun,  saya  sadari ketidaksukaanku  pada  ibu  membuatku  tidak tertarik  pada  teman-teman  perempuanku. Pengasuh yang saya hormati. Apa yang harus saya  lakukan  untuk  menyadarkan  ibu? Bagaimana  saya  harus  menyelamatkan  keluarga kembali? Mohon jawaban dari pengasuh.
Demikian,  terimakasih  atas  jawabannya.

Wassalamu’alaikum  wr.  wb. B, di Kota J





Wa’alaikum salam Wr.Wb.

Saudara B. yang baik.
Masalah yang saudara hadapi sungguh kompleks. Kami ikut prihatin atas keadaan tersebut. Itulah kenyataan hidup. Terkadang indah, namun sering pula sebaliknya. Semua dimulai dari perselingkuhan (bahkan, terang-terangan) ayah saudara yang berakibat kesalnya ibu dan akhirnya cerai. Di sini, satu nilai moral yang terabaikan adalah prinsip kejujuran. Ketika nilai kejujuran dilanggar, cepat atau lambat akan muncul masalah baru yang lebih besar. Karenanya sangat wajar jika agama menekankan pentingnya menjaga kejujuran dan kepercayaan (sidiq dan amanah).

Patut disayangkan, langkah ibu saudara yang melampiaskan kekesalan pada mantan suami dengan cara meniru tindakan salahnya. Dalam agama, kejahatan atau kejelekan tidak perlu dibalas dengan kejelekan. Pengkhianatan tidak perlu dibalas dengan pengkhianatan. Nabi bersabda: “Wa la takhun man khanaka” (Janganlah kamu mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu). Bahkan agama mengajarkan untuk memaafkan dan memberi kesempatan kepada pelaku untuk kembali ke jalan yang benar, bertaubat.

Apa boleh buat, semua sudah terjadi di luar kendali dan waktu pun terus berjalan tanpa dapat diputar ke belakang. Siapa pun bisa berlaku salah atau khilaf, tidak terkecuali orang tua. Bahkan raja, panglima, orang besar, dan ‘orang suci’ sekalipun bisa terjebak pada kondisi yang tidak baik, salah. Pepatah menyatakan, sepandai-pandai tupai melompat, sesekali jatuh juga.  Dalam bahasa hadis Nabi: “Kullu bani  Adama  khatta’un  wa  khairul-khatta’in  al- tawwabun” (Semua anak cucu Adam sangat mungkin berbuat  salah. Namun, sebaik-baik orang yang berlaku salah adalah yang mau kembali ke jalan yang benar, bertaubat). (HR. Tirmizi, Ahmad, Ibn Majah dan Hakim; Lihat dalam al-Manawi, Faid al-Qadir Syarh Jami’ al- Sagir, hadis no. 6292).

Karena semua orang berpotensi berbuat salah dan Allah telah menyediakan ampunan bagi yang sungguh-sungguh memohonnya, maka sebaiknya kita pun bersedia memaafkan kesalahan orang lain, sebagaimana Allah Yang Maha Memaafkan. Apalagi memaafkan kesalahan orang tua, ayah maupun ibu. Sesalah apapun, keduanya adalah jalan sehingga kita dapat hidup dan tinggal di bumi ini. Tanpa keduanya, kita tidak dapat ada. Nabi Ibrahim telah memberi contoh bahwa ayahnya yang menyembah berhala (syirik) dan telah mengusirnya sekalipun, tetap dihormati sebagai orang tua, manusia yang telah berjasa. Nabi Ibrahim tetap memohonkan ampunan kepada Allah untuk ayahnya. Selanjutnya terserah Allah yang akan memberi keputusan.

Saudara B. yang baik.
Sekarang, sikap yang bijak adalah mulailah memaafkan kedua orang tua saudara, walaupun mungkin saudara belum bisa melupakannya. Dengan memaafkan, saudara akan diberi jalan oleh Allah untuk memperbaiki keadaan dengan tenang guna mendorong orang tua saudara untuk bangkit dalam hidupnya. Siapa lagi yang akan melakukan upaya ini kalau bukan saudara sebagai anaknya. Niatkan bahwa tindakan ini merupakan upaya pembebasan orang tua saudara dari tindakan yang tidak baik, dari jurang yang gelap. Sebaliknya, jika saudara tidak bersedia memaafkannya dan membiarkan keadaan demikian berlangsung terus, apalagi ditambah dengan menghukum diri sendiri, maka keadaan akan menjadi lebih buruk.

Di sinilah saudara ditantang untuk menjadi ‘penyelamat’ bagi orang yang paling berjasa dalam hidup saudara yang kini dalam keadaan kritis, menzalimi diri sendiri (zalimun li nafsihi). Saatnyalah untuk menyalakan obor penerang sehingga menerangi jalan orang di sekitar hidup saudara. Jika upaya ini belum membuahkan hasil, tidak perlu berputus asa. Coba terus dan coba lagi. Bukankah Ibunda Nabi Ismail, Siti Hajar rela berlari kecil tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwa untuk mencari air minum anaknya, Ismail? Dan usaha maksimal itupun dikabulkan oleh Allah. Teladan ini, patut menjadi inspirasi bagi kita untuk bangkit.
Selanjutnya, ajaklah ibu untuk dialog atau ngobrol-ngobrol. Dengarkan curhatnya. Petakan masalahnya secara jelas sehingga saudara dapat mencari dan menemukan strategi yang pas sesuai kondisi. Ajaklah ibu untuk merenungi bahwa tindakan beliau kuranglah bijaksana, baik bagi diri sendiri maupun bagi anggota keluarga yang lain. Sudah menjadi tugas orang yang sadar mengingatkan yang lupa dan yang kuat (mental) menolong yang lemah. Di sini posisi saudara sangat penting untuk bisa mengajak ibu keluar dari hal tidak menguntungkan ini dan kembali menjadi normal seperti dulu. Ini adalah tugas mulia, menyelamatkan orang tercinta.

Saudara B. yang sedang berjuang.
Hidup harus terus berjalan maju, tidak mundur. Bisa jadi masa lalu seseorang berjalan suram atau gelap, tapi tetaplah yakin bahwa masa depan akan datang lebih baik dan lebih terang. Keyakinan untuk bangkit menjadi lebih baik dan lebih tercahayai oleh iman haruslah tetap tumbuh di dalam hati. Sikap hidup optimistis ini modal utama kebangkitan hidup. Apapun yang terjadi, “wa la tai’asu min rauhillah” (janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah). Begitulah pesan Nabi Ya’qub ketika musibah datang bertubi-tubi. Ini diabadikan Allah dalam Qs. Yusuf, 12:87. Sebaliknya, berputus asa adalah jalan orang-orang yang ingkar. Di ayat lain, Allah juga berpesan:


Artinya: Katakanlah (hai Muhammad), wahai hamba-hamba-Ku yang telah bertindak melampaui batas pada diri sendiri, janganlah kalian berputus asa dalam meraih kasih sayang Allah (dengan memperbaikai  diri  dan  bangkit).  Sungguh  Allah Maha Mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dia Maha Pengampun dan Penyayang (53). Dan kembalilah ke jalan Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya  sebelum  (akhirnya,  jika  tak  bertaubat) tiba  kepada  kalian  hukuman  (atas  perbuatan  dosa) kemudian kalian tidak ditolong (54). (QS. Al-Zumar, 39: 53-54).

Terkait dengan diri saudara, jangan sampai pula ketidakbaikan apapun yang dilakukan oleh orang di sekitar kita menyebabkan kita menghukum diri dengan berbuat tidak baik atau tidak aman bagi diri sendiri dan untuk masa depan kita. Alangkah indahnya, jika masalah kedua orang tua sudara diselesaikan tanpa menimbulkan masalah baru bagi diri anda. Bijak sekali pepatah yang menyatakan, “Menyelesaikan masalah tanpa masalah” yang kemudian menjadi motto perusahan tertentu. Seandainya kita belum bisa membantu menyelasikan masalah ibu atau ayah, setidaknya kita tidak membuat masalah baru bagi diri sendiri maupun orang lain. Allah berpesan:


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu. Orang yang telah tersesat tidak akan mempengaruhimu, jika kamu memegangi petunjuk Tuhan. Kepada Allah jualah tempat kembalimu semua dan Allah akan memberitahukan kepadamu apa saja yang pernah kamu lakukan.” (Qs. Al-Maidah, 5: 105).

Ayat di atas menegaskan perlunya kita memiliki perlindungan diri yang kuat sehingga tidak terjebak dalam jaring-jaring kehidupan yang kadang seperti benang kusut. Kita juga diingatkan bahwa ke manapun kita pergi dan berpetualang (apapun ulah kita), kepada Allah juga kita kan kembali, meninggal dunia dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di dunia. Selagi ajal belum tiba, masih ada waktu untuk berbenah dan kemudian bangkit menatap masa depan dengan semangat baru dan lembaran baru.


Terakhir, maafkanlah diri anda sendiri dan maafkan orang-orang yang salah menurut saudara. Mulailah dengan menerima kenyataan dan kemudian berdamailah dengan diri sendiri. Damai adalah modal utama untuk bergerak maju dan meraih keutamaan. Mohonlah kepada Tuhan agar diberi kedamaian dan dihidupkan dalam damai di dunia dan akhirat. Allah senantiasa bersama saudara. Demikian. Wallahu a’lam bish-shawab.  [na]






Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 12 Desember 2013 09:37 )  

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

28-31 Agustus 2014 Tadarus 7 Pengkaderan Ulama Perempuan di Klaten - Jawa Tengah

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini685
mod_vvisit_counterKemarin1063
mod_vvisit_counterMinggu ini6209
mod_vvisit_counterBulan Ini33067
mod_vvisit_counterSemua1186529

Yang Online

Kami memiliki 24 Tamu online

Flag Contries

free counters