RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Thursday
Apr 17th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Al-Arham Menyayangi Sesama : Al Arham Edisi 27 (B)

Menyayangi Sesama : Al Arham Edisi 27 (B)

E-mail Cetak PDF

Islam berpandangan bahwa menyayangi sesama manusia, baik lelaki maupun perempuan merupakan sebuah keutama- an. Sebagai sebuah keutamaan, kasih sayang sering dipesankan oleh Nabi Muhammad saw. Misalnya, dalam sebuah hadis kata Nabi saw.:

“Siapa yang tidak sayang pada manusia, maka tidak akan disayang oleh Allah swt.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Baihaqi dan Al-Bukhari)1

Hadis tersebut dengan gamblang menjelaskan, kasih sayang terhadap sesama manusia berkaitan dengan kasih sayang Allah swt. Sebab kasih sayang adalah salah satu dari sifat-sifat Allah swt., yaitu al-rahman (Maha Penyayang). Sifat ini membuat kehidupan berjalan dengan indah dan harmonis. Betapa tidak, dengan kasih-sayang Allah, makhluk-Nya yang bernama perempuan dapat mengandung bayinya selama sembilan bulan; menyusuinya; dan merawatnya tanpa kenal lelah.

‘Kasih’ dan ‘sayang’ tampaknya merupakan dua kata yang saling beriring; yang selalu ingin kita tumpahkan kepada orang-orang terdekat, orang tua, anak, istri, suami, sahabat dan handai taulan lainnya. Karenanya, bila kita dapat memberi ‘kasih’ dan ‘sayang’ dengan tulus dan diikuti dengan perbuatan nyata tanpa pamrih, maka hubungan kita dengan sesama akan terasa hangat dan harmonis.

Membahasakan Rahmat
Bagaimana sesungguhnya bentuk nyata dari kasih sayang? Apakah ucapan ‘kasih’ dan ‘sayang’ dari orang-orang terdekat? Atau ungkapan tanpa kata-kata ’kasih’ ataupun ’sayang’ melainkan perbuatan nyata?

Kasih sayang sebetulnya bisa dilakukan dalam bentuk perbuatan nyata sekaligus ungkapan verbal yang bisa dilakukan semua orang, termasuk anak-anak. Namun demikian, sifat kasih sayang hendaknya perlu diajarkan pada setiap anak sejak dini. Ini penting untuk membangun kepekaan anak agar peduli terhadap orang lain; peduli dengan kesulitan yang dihadapi orang lain.

Tidak mudah memang mengajarkan anak mengerti pentingnya berbagi kasih sayang terhadap sesama; kecuali dengan pelatihan dan pendidikan yang dilakukan terus-menerus di rumah dan lingkungan terdekat bagi si anak. Hal ini paling tidak bisa dilakukan dengan mengajarkan anak untuk berbagi kebaikan; memberikan pertolongan; atau menyumbangkan sedekah bagi yang membutuhkan. Agar anak-anak benar-benar paham bahwa kasih sayang adalah rasa peduli terhadap kesulitan sesama.

Selain dengan tindakan-tindakan nyata tersebut, anak juga bisa diajari untuk mengutarakan isi hatinya; mengucapkan kasih dan sayang terhadap orang tua, saudara, dan juga teman- temannya. Bila hal ini dapat dilakukan, sangat mungkin anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki sikap hangat dan peduli terhadap sesama.

Hal lain yang harus diajarkan orangtua kepada anak, adalah mengajari mereka untuk menolak perilaku yang bertentangan dengan kasih sayang.2 Misalnya, anak-anak perlu belajar tentang apa yang dapat atau tidak diterima untuk mencapai keinginannya. Jika untuk mendapatkan keinginannya seorang anak menyakiti atau merugikan orang lain, hal ini bertentangan dengan kasih sayang. Atau jelasnya, orangtua perlu menjelaskan pada anak bahwa menyakiti orang lain adalah cara yang salah untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


***
Ada sebuah cerita tentang seorang ibu dengan tiga orang anaknya. Ketika hujan turun deras, sang ibu masih saja membuat kue-kue dagangannya dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, “Ibu, aku begitu mengasihi dan menyayangimu!” Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datangi ibunya, lalu berkata pula, “Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang paling mengasihi dan menyayangi ibu!”

Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih dan sayang. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing.

Setelah kue-kue dagangan ibu masak, hujan di luar rumah masih sangat derasnya disertai guruh dan kilat yang menyambar-menyambar. Sang ibu pun memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengantarkan kue- kue itu ke warung-warung yang biasa mereka titipi untuk menjual kue. Ibu berpesan pada anak-anak bahwa kue-kue itu harus segera dikirim.

Mendengar perintah ibu tersebut, anak pertama berkata dan memberi alasan, “Bu, di luar masih hujan, aku tidak bisa pergi dan mengantarkan kuenya saat ini.”
Datanglah anak yang kedua juga berkata dan beralasan, “Bu, aku lagi mengerjakan tugas sekolah dan harus selesai sore ini.”
Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, “Bu, biarlah saya yang akan mengantarkan semua kue-kue dagangan ibu ke warung-warung langganan kita.” Tanpa pikir panjang sang Ibu menjawab, “Sabar nak, di luar masih hujan.” Namun demikian, si bungsu langsung mengambil semua kue-kue ibu, lalu pergi mengantarkannya ke warung-warung langganan ibu.

Demikianlah, seringkali kita berkata kepada orang tua, “Ayah, Ibu…, aku mengasihi dan menyayangi kalian semua.” Tetapi itu hanya ucapan yang keluar dari bibir belaka, dan tidak ditindaklanjutkan dengan tindakan nyata. Seperti halnya ungkapan “kasih-sayang” anak yang pertama dan kedua itu. Padahal, untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi dan menyayangi orang tua dan sesama, kita perlu bertindak sebagaimana anak bungsu, dengan sikap nyata yang tulus.

Ayo kita harus bisa menjadi seperti anak bungsu itu... Dan bila sudah bisa mengasihi dan menyayangi sesama, janganlah kita mengikutinya dengan menyakiti di belakang hari; agar kita menjadi orang-orang yang sukses.  Wallahu’- alam. H.M. Ali Said - dari berbagai sumber

Referensi :
1 Baca: Adab Al-Mufrad
2 dr. Wijaryanto Tanaka, Psikolog Anak, Universitas Indonesia (UI).

 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 19 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini756
mod_vvisit_counterKemarin856
mod_vvisit_counterMinggu ini3195
mod_vvisit_counterBulan Ini14669
mod_vvisit_counterSemua1052248

Yang Online

Kami memiliki 25 Tamu online

Flag Contries

free counters