RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Saturday
Feb 13th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Category Table Fokus Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ; Perhatian Besar bagi Islam

Fokus Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ; Perhatian Besar bagi Islam

E-mail Cetak PDF

Zahra sedang duduk menyendiri dan terlihat berkaca-kaca. Tiba-tiba temannya, Fatimah menyapa,
“Aku perhatikan dari tadi kau tampak melamun saja. Ada apa, sih? cerita dong,” pinta Fatimah kepada Zahra.

“Iya, Fat. Aku sedang sedih sekali. Masak oleh Ria dan teman-teman di pesantren ini, aku digunjingi dan dibilang sudah tidak ‘gadis’ lagi. Katanya, ia yakin tentang hal itu dengan melihat cara berjalanku,” terang Zahra.



Situasi  yang  kurang  lebih  sama  dalam penggalan dialog tersebut, mungkin saja pernah terjadi pada teman di sekitar kita; pada putra-putri kita; atau bahkan pada diri kita sendiri saat masih remaja dulu. Mitos dan informasi yang kurang tepat mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi, acapkali terjadi karena ketidaktahuan mereka  tentang masalah-masalah tersebut.

Jika saja para remaja mendapatkan pengetahuan yang cukup sejak dini, tentang seksualitas dan sekaligus Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), tentu mereka tidak akan salah pengertian terhadap hal-hal tersebut. Sebab, sesungguhnya masalah ‘masih gadis’ atau ‘sudah tidak gadis’ bukanlah hal yang bisa dilihat dari bentuk pinggul atau cara berjalan seseorang. Hal ini hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan khusus (medis) yang memungkinkan diketahuinya selaput dara (pada remaja perempuan) telah mengalami robek atau tidak, serta berbagai kemungkinan penyebabnya. Selain itu, dengan mengetahui informasi yang benar seputar kesehatan reproduksi, diharapkan setiap remaja dapat berperilaku secara lebih sehat dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Problem-problem seputar seksualitas dan KRR ini bukan semata-mata masalah individu saja. Persoalan seputar seksualitas dan KRR ini, bisa dialami siapa saja, baik remaja terpelajar; yang memiliki dasar pengetahuan agama yang kuat; maupun remaja awam yang hidup “di tengah jalanan” di kota-kota besar. Lalu apa sesungguhnya KRR itu? Bagaimana membicarakannya secara terbuka? Dan bagaimana pula agama memandangnya?

Remaja, di Persimpangan Jalan

Remaja biasa didefinisikan sebagai masa peralihan dari kanan-kanak menuju masa dewasa. Remaja adalah fase persimpangan hidup seseorang atau individu yang tidak lagi kanak-kanak, namun juga belum bisa disebut dewasa. Prof. Dr. Zakiah Daradjat pernah berpendapat, masa remaja adalah masa peralihan di antara masa anak-anak dan masa dewasa; di mana masa anak-anak ini mengalami pertumbuhan cepat di segala bidang. Baik bentuk badan, sikap, cara berpikir dan bertindak. Tetapi remaja juga bukan orang dewasa yang telah matang.1

Remaja adalah sosok yang berada dalam fase perkembangan dimana emosi  mereka belum stabil. Mereka adalah satu kesatuan antara fisik dan psikis atau kesatuan antara jasmani dengan rohani yang sedang mengalami perkembangan dan perubahan menuju tahap kematangan diri. Dalam bahasa aslinya, Latin, remaja ini disebut dengan istilah adolescence. Artinya “tumbuh atau tumbuh mencapai kematangan”. Remaja masih masuk dalam kategori anak, yang Dalam Undang-undang Perlindungan Anak  disebutkan  adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun.

Orang-orang zaman dahulu, memandang masa remaja ini tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa bila sudah mampu mengadakan reproduksi. Di negara maju seperti Amerika sekalipun, masih menganggap seorang individu sudah dewasa apabila telah berumur 18 tahun.

Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi, batasan usia remaja adalah 10-21 tahun.2 Lain halnya dalam pandangan Mappiare, rentang usia remaja ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama, usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah masa remaja awal. Kedua, usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun, yaitu masa remaja akhir.

Baik remaja awal maupun remaja akhir di setiap belahan dunia selalu ada dalam situasi penuh godaan dan ujian. Apalagi perkembangan teknologi dan komunikasi telah memberi berbagai informasi, hiburan, dan budaya yang beraneka ragam. Kondisi ini tidak mungkin dibendung hanya dengan mengurung remaja di dalam rumah; atau memberikan mereka segudang kesibukan seperti kursus dan les tambahan. Selain itu, menjejali mereka dengan mitos-mitos seputar tumbuh- kembang remaja yang cenderung membuat mereka terkekang dan salah informasi. Salah-salah, mereka akan lebih suka mencuri-curi kesempatan untuk mencoba hal-hal  baru yang justru rentan merusak kehidupan mereka. Seperti mencoba mengkonsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang; atau malah mencoba melakukan hal-hal yang beresiko lainnya, yang selain berpotensi merusak kesehatan reproduksi mereka juga kesehatan mental dan spiritual mereka.

***
Ada beragam definisi tentang remaja, namun sulit untuk menemukan definisi yang seragam dan berlaku secara nasional karena kompleksitas persoalan sosial dan kultural. Meski demikian, umumnya yang digunakan sebagai batasan bagi usia remaja adalah antara 11-24 tahun, dan belum menikah. Alasannya adalah:

  1. Usia 11 tahun adalah usia dimana umumnya tanda-tanda seksual sekunder bagi seorang individu sudah mulai nampak (kriteria fisik);
  2. Usia 11 tahun juga sudah dianggap aqil baligh, baik menurut adat maupun agama sehingga masyarakat tidak lagi “memerlukan” mereka sebagai anak-anak (kriteria sosial);
  3. Usia 11-24 tahun telah mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identititas diri; tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual; serta tercapainya puncak perkembangan moral (kriteria psikologistik);
  4. Usia 24 tahun dianggap sebagai batasan maksimal untuk memberi peluang bagi individu yang masih menggantungkan diri pada orang tua (secara adat atau tradisi);
  5. Status perkawinan; bagi masyarakat Indonesia status perkawinan sangat menentukan, sebab seseorang yang sudah menikah pada usia berapapun akan dianggap dan “diperlakukan” sebagai orang dewasa secara penuh, baik secara hukum maupun kehidupan sosial dan keluarga.3

Remaja sesungguhnya cenderung tidak punya tempat yang jelas; apakah masih sebagai anak- anak, atau sudah masuk ke dalam golongan dewasa? Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase mencari jati diri.

Masalahnya sekarang, kita tidak bisa berhenti hanya dengan definisi-definisi tersebut. Sebab kebutuhan riil tentang kesehatan reproduksi dan masalah-masalah yang menyangkut remaja kian hari kian bertambah. Berbagai media, mulai dari diskusi- diskusi kecil di ruang-ruang kelas sekolah; di kelompok-kelompok karang taruna remaja; sampai seminar-seminar umum; atau bahkan ceramah- ceramah keagamaan di lingkungan pesantren dibutuhkan untuk memberikan informasi yang tepat seputar Kesehatan Reproduksi bagi remaja.

Kebutuhan Riil Remaja
Pada paruh akhir dasawarsa ’90-an, sesungguhnya isu kesehatan reproduksi bagi remaja di Indonesia telah dipandang sebagai salah satu masalah yang butuh ditangani secara serius. Terlebih, selama ini remaja cenderung dianggap sebagai kelompok yang “tidak bermasalah” sehingga mereka cenderung diabaikan dan kurang dipahami kebutuhannya; terutama terkait dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas mereka.

Padahal menurut WHO, remaja (usia 10-19 tahun) ini dalam struktur kependudukan menempati jumlah yang signifikan, yaitu sekitar 44 juta atau 21 persen dari populasi di Indonesia pada 1998-2000.4 Data juga menunjukkan populasi remaja (usia 10-24 tahun) mencapai jumlah 64 juta atau 31 persen.5

Sementara, dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia pada 1997, remaja dengan kategori usia10-24 tahun mencapai angka 29 persen dari populasi; dan 32 persennya bertempat tinggal di perkotaan. Tetapi dengan melihat angka-angka tersebut, remaja tidak kunjung menjadi kelompok sasaran program-program pembangunan khususnya di bidang kesehatan. Mereka hanya menjadi kelompok sasaran program pendidikan, sehingga mereka bak “masyarakat terasing” yang hampir tidak tersentuh sama-sekali oleh program-program kesehatan reproduksi, yang sesungguhnya sangat mereka butuhkan.6

Kesehatan Reproduksi atau Kespro secara definitif adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh, dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi- fungsi reproduksi, serta proses-prosesnya. Definisi ini sesuai dengan pengertian Kespro menurut WHO.

“Reproductive health is a state of complete physical, mental, and social welling and not merely the absence of disease or infirmity, in all matters relating to reproductive system and to its functions processes”. Dalam definisi ini, tampaknya hampir seluruh aspek kehidupan telah tercakup dalam rangka membangun kesehatan reproduksi; termasuk di dalamnya adalah bagi setiap individu memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap pelayanan-pelayanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan reproduksi. Baik itu melalui pencegahan maupun penyelesaian masalah-masalah kesehatan reproduksi bagi setiap individu, laki-laki dan perempuan, serta remaja.

Berbagai kajian telah menunjukkan, bahwa remaja sangat butuh akan informasi mengenai seksualitas dan reproduksi. Misalnya, sebuah penelitian yang digelar di Yogyakarta pada 1995, telah mengungkapkan bahwa 94 persen remaja menyatakan butuh nasehat mengenai seks dan kesehatan reproduksi.8 Sebelum penelitian ini, di tahun 1993 kebutuhan yang sama bagi remaja juga telah terungkap dalam survei di 13 Propinsi lainnya di Indonesia. Sayangnya, remaja sering mendapatkan informasi yang tidak akurat tentang seks, ataupun seksualitas.

Pengetahuan tentang proses reproduksi yang didapat dari sekolah misalnya dari pelajaran biologi, juga kurang komprehensif atau sepotong-sepotong saja, bahkan campur aduk dengan pengetahuan popular atau mitos-mitos yang diperolehnya dari teman-teman sebaya, sumber-sumber lain seperti media massa; buku pornografis; atau bahkan blue movies. Padahal, secara mendasar misalnya, seks dan seksualitas sangat berbeda. Seks sendiri adalah alat kelamin; seksual adalah sesuatu yang berhubungan atau berkaitan dengan seks atau keterkaitan dengan seks; sedang seksualitas adalah hal-hal yang berkaitan dengan seks dan menyangkut berbagai dimensi yang luas seperti biologis, psikologis, sosial, perilaku dan kultural.

Kebutuhan riil remaja terkait hak mendapatkan informasi akurat tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi ini kadang juga dibedakan berdasarkan variasi kelompok. Misalnya, kebutuhan remaja desa berbeda dengan remaja kota. Kerentanan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) antara ’remaja jalanan’ (anak jalanan) dan remaja sekolah juga berbeda. Remaja yang bekerja sebagai buruh pabrik juga mempunyai karakteristik dan masalah-masalah yang berbeda dengan remaja yang bekerja di sektor informal, dan sebagainya. Sehingga, pemenuhan kebutuhan ini butuh disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya yang dihadapi masing-masing remaja. Namun demikian, secara umum kebutuhan riil menyangkut hak dasar remaja akan informasi terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi itu, antara lain sebagai berikut:

  1. Penyediaan layanan yang ramah dan mudah diakses bagi remaja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, status pernikahan, dan situasi keuangan mereka;
  2. Adanya dukungan terpenuhinya hak setiap remaja untuk menikmati seks dan ekspresi seksualitas mereka dalam cara-cara yang mereka pilih sendiri;
  3. Penyediaan informasi dan pemberian hak mendapatkan pendidikan mengenai reproduksi dan seksualitas. Informasi dan pendidikan yang diberikan ini harus mendorong terjadinya independensi dan keyakinan diri remaja, dan memberikan pengetahuan agar mereka bisa membuat keputusan sendiri terkait reproduksi dan seksual mereka;
  4. Adanya jaminan kerahasiaan dalam relasi sosial dan seluruh aspek dari seksualitas mereka;
  5. Penyediaan informasi yang bisa diakses sesuai dengan perkembangan remaja;
  6. Setiap remaja yang aktif secara seksual atau tidak; dan yang memiliki keragaman orientasi seksual bisa mendapatkan informasi agar mereka merasa nyaman dengan tubuh dan seksualitas mereka sendiri;
  7. Setiap remaja mendapatkan persiapan untuk memiliki ketrampilan melakukan negosiasi dalam relasi sosialnya, termasuk dalam masa pacaran dan dalam melakukan tindakan seks yang lebih aman (bagi yang seksual aktif).9

Selain kebutuhan-kebutuhan tersebut, remaja juga memiliki hak-hak mendasar terkait kesehatan reproduksinya. Hak-hak itu juga harus terpenuhi sebagai kebutuhan dasar mereka. Hak-hak itu adalah:10

  1. Hak hidup. Ini adalah hak dasar setiap individu tidak terkecuali remaja, untuk terbebas dari resiko kematian karena kehamilan, khususnya bagi remaja perempuan;
  2. Hak atas pelayanan dan perlindungan kesehatan. Termasuk dalam hal ini adalah perlindungan privasi, martabat, kenyamanan, dan kesinambungan;
  3. Hak atas kerahasiaan pribadi. Artinya, pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja dan setiap individu h