RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Thursday
Oct 02nd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Category Table Fokus Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ; Perhatian Besar bagi Islam

Fokus Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ; Perhatian Besar bagi Islam

E-mail Cetak PDF

Zahra sedang duduk menyendiri dan terlihat berkaca-kaca. Tiba-tiba temannya, Fatimah menyapa,
“Aku perhatikan dari tadi kau tampak melamun saja. Ada apa, sih? cerita dong,” pinta Fatimah kepada Zahra.

“Iya, Fat. Aku sedang sedih sekali. Masak oleh Ria dan teman-teman di pesantren ini, aku digunjingi dan dibilang sudah tidak ‘gadis’ lagi. Katanya, ia yakin tentang hal itu dengan melihat cara berjalanku,” terang Zahra.



Situasi  yang  kurang  lebih  sama  dalam penggalan dialog tersebut, mungkin saja pernah terjadi pada teman di sekitar kita; pada putra-putri kita; atau bahkan pada diri kita sendiri saat masih remaja dulu. Mitos dan informasi yang kurang tepat mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi, acapkali terjadi karena ketidaktahuan mereka  tentang masalah-masalah tersebut.

Jika saja para remaja mendapatkan pengetahuan yang cukup sejak dini, tentang seksualitas dan sekaligus Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), tentu mereka tidak akan salah pengertian terhadap hal-hal tersebut. Sebab, sesungguhnya masalah ‘masih gadis’ atau ‘sudah tidak gadis’ bukanlah hal yang bisa dilihat dari bentuk pinggul atau cara berjalan seseorang. Hal ini hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan khusus (medis) yang memungkinkan diketahuinya selaput dara (pada remaja perempuan) telah mengalami robek atau tidak, serta berbagai kemungkinan penyebabnya. Selain itu, dengan mengetahui informasi yang benar seputar kesehatan reproduksi, diharapkan setiap remaja dapat berperilaku secara lebih sehat dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Problem-problem seputar seksualitas dan KRR ini bukan semata-mata masalah individu saja. Persoalan seputar seksualitas dan KRR ini, bisa dialami siapa saja, baik remaja terpelajar; yang memiliki dasar pengetahuan agama yang kuat; maupun remaja awam yang hidup “di tengah jalanan” di kota-kota besar. Lalu apa sesungguhnya KRR itu? Bagaimana membicarakannya secara terbuka? Dan bagaimana pula agama memandangnya?

Remaja, di Persimpangan Jalan

Remaja biasa didefinisikan sebagai masa peralihan dari kanan-kanak menuju masa dewasa. Remaja adalah fase persimpangan hidup seseorang atau individu yang tidak lagi kanak-kanak, namun juga belum bisa disebut dewasa. Prof. Dr. Zakiah Daradjat pernah berpendapat, masa remaja adalah masa peralihan di antara masa anak-anak dan masa dewasa; di mana masa anak-anak ini mengalami pertumbuhan cepat di segala bidang. Baik bentuk badan, sikap, cara berpikir dan bertindak. Tetapi remaja juga bukan orang dewasa yang telah matang.1

Remaja adalah sosok yang berada dalam fase perkembangan dimana emosi  mereka belum stabil. Mereka adalah satu kesatuan antara fisik dan psikis atau kesatuan antara jasmani dengan rohani yang sedang mengalami perkembangan dan perubahan menuju tahap kematangan diri. Dalam bahasa aslinya, Latin, remaja ini disebut dengan istilah adolescence. Artinya “tumbuh atau tumbuh mencapai kematangan”. Remaja masih masuk dalam kategori anak, yang Dalam Undang-undang Perlindungan Anak  disebutkan  adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun.

Orang-orang zaman dahulu, memandang masa remaja ini tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa bila sudah mampu mengadakan reproduksi. Di negara maju seperti Amerika sekalipun, masih menganggap seorang individu sudah dewasa apabila telah berumur 18 tahun.

Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi, batasan usia remaja adalah 10-21 tahun.2 Lain halnya dalam pandangan Mappiare, rentang usia remaja ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama, usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah masa remaja awal. Kedua, usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun, yaitu masa remaja akhir.

Baik remaja awal maupun remaja akhir di setiap belahan dunia selalu ada dalam situasi penuh godaan dan ujian. Apalagi perkembangan teknologi dan komunikasi telah memberi berbagai informasi, hiburan, dan budaya yang beraneka ragam. Kondisi ini tidak mungkin dibendung hanya dengan mengurung remaja di dalam rumah; atau memberikan mereka segudang kesibukan seperti kursus dan les tambahan. Selain itu, menjejali mereka dengan mitos-mitos seputar tumbuh- kembang remaja yang cenderung membuat mereka terkekang dan salah informasi. Salah-salah, mereka akan lebih suka mencuri-curi kesempatan untuk mencoba hal-hal  baru yang justru rentan merusak kehidupan mereka. Seperti mencoba mengkonsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang; atau malah mencoba melakukan hal-hal yang beresiko lainnya, yang selain berpotensi merusak kesehatan reproduksi mereka juga kesehatan mental dan spiritual mereka.

***
Ada beragam definisi tentang remaja, namun sulit untuk menemukan definisi yang seragam dan berlaku secara nasional karena kompleksitas persoalan sosial dan kultural. Meski demikian, umumnya yang digunakan sebagai batasan bagi usia remaja adalah antara 11-24 tahun, dan belum menikah. Alasannya adalah:

  1. Usia 11 tahun adalah usia dimana umumnya tanda-tanda seksual sekunder bagi seorang individu sudah mulai nampak (kriteria fisik);
  2. Usia 11 tahun juga sudah dianggap aqil baligh, baik menurut adat maupun agama sehingga masyarakat tidak lagi “memerlukan” mereka sebagai anak-anak (kriteria sosial);
  3. Usia 11-24 tahun telah mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identititas diri; tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual; serta tercapainya puncak perkembangan moral (kriteria psikologistik);
  4. Usia 24 tahun dianggap sebagai batasan maksimal untuk memberi peluang bagi individu yang masih menggantungkan diri pada orang tua (secara adat atau tradisi);
  5. Status perkawinan; bagi masyarakat Indonesia status perkawinan sangat menentukan, sebab seseorang yang sudah menikah pada usia berapapun akan dianggap dan “diperlakukan” sebagai orang dewasa secara penuh, baik secara hukum maupun kehidupan sosial dan keluarga.3

Remaja sesungguhnya cenderung tidak punya tempat yang jelas; apakah masih sebagai anak- anak, atau sudah masuk ke dalam golongan dewasa? Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase mencari jati diri.

Masalahnya sekarang, kita tidak bisa berhenti hanya dengan definisi-definisi tersebut. Sebab kebutuhan riil tentang kesehatan reproduksi dan masalah-masalah yang menyangkut remaja kian hari kian bertambah. Berbagai media, mulai dari diskusi- diskusi kecil di ruang-ruang kelas sekolah; di kelompok-kelompok karang taruna remaja; sampai seminar-seminar umum; atau bahkan ceramah- ceramah keagamaan di lingkungan pesantren dibutuhkan untuk memberikan informasi yang tepat seputar Kesehatan Reproduksi bagi remaja.

Kebutuhan Riil Remaja
Pada paruh akhir dasawarsa ’90-an, sesungguhnya isu kesehatan reproduksi bagi remaja di Indonesia telah dipandang sebagai salah satu masalah yang butuh ditangani secara serius. Terlebih, selama ini remaja cenderung dianggap sebagai kelompok yang “tidak bermasalah” sehingga mereka cenderung diabaikan dan kurang dipahami kebutuhannya; terutama terkait dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas mereka.

Padahal menurut WHO, remaja (usia 10-19 tahun) ini dalam struktur kependudukan menempati jumlah yang signifikan, yaitu sekitar 44 juta atau 21 persen dari populasi di Indonesia pada 1998-2000.4 Data juga menunjukkan populasi remaja (usia 10-24 tahun) mencapai jumlah 64 juta atau 31 persen.5

Sementara, dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia pada 1997, remaja dengan kategori usia10-24 tahun mencapai angka 29 persen dari populasi; dan 32 persennya bertempat tinggal di perkotaan. Tetapi dengan melihat angka-angka tersebut, remaja tidak kunjung menjadi kelompok sasaran program-program pembangunan khususnya di bidang kesehatan. Mereka hanya menjadi kelompok sasaran program pendidikan, sehingga mereka bak “masyarakat terasing” yang hampir tidak tersentuh sama-sekali oleh program-program kesehatan reproduksi, yang sesungguhnya sangat mereka butuhkan.6

Kesehatan Reproduksi atau Kespro secara definitif adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh, dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi- fungsi reproduksi, serta proses-prosesnya. Definisi ini sesuai dengan pengertian Kespro menurut WHO.

“Reproductive health is a state of complete physical, mental, and social welling and not merely the absence of disease or infirmity, in all matters relating to reproductive system and to its functions processes”. Dalam definisi ini, tampaknya hampir seluruh aspek kehidupan telah tercakup dalam rangka membangun kesehatan reproduksi; termasuk di dalamnya adalah bagi setiap individu memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap pelayanan-pelayanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan reproduksi. Baik itu melalui pencegahan maupun penyelesaian masalah-masalah kesehatan reproduksi bagi setiap individu, laki-laki dan perempuan, serta remaja.

Berbagai kajian telah menunjukkan, bahwa remaja sangat butuh akan informasi mengenai seksualitas dan reproduksi. Misalnya, sebuah penelitian yang digelar di Yogyakarta pada 1995, telah mengungkapkan bahwa 94 persen remaja menyatakan butuh nasehat mengenai seks dan kesehatan reproduksi.8 Sebelum penelitian ini, di tahun 1993 kebutuhan yang sama bagi remaja juga telah terungkap dalam survei di 13 Propinsi lainnya di Indonesia. Sayangnya, remaja sering mendapatkan informasi yang tidak akurat tentang seks, ataupun seksualitas.

Pengetahuan tentang proses reproduksi yang didapat dari sekolah misalnya dari pelajaran biologi, juga kurang komprehensif atau sepotong-sepotong saja, bahkan campur aduk dengan pengetahuan popular atau mitos-mitos yang diperolehnya dari teman-teman sebaya, sumber-sumber lain seperti media massa; buku pornografis; atau bahkan blue movies. Padahal, secara mendasar misalnya, seks dan seksualitas sangat berbeda. Seks sendiri adalah alat kelamin; seksual adalah sesuatu yang berhubungan atau berkaitan dengan seks atau keterkaitan dengan seks; sedang seksualitas adalah hal-hal yang berkaitan dengan seks dan menyangkut berbagai dimensi yang luas seperti biologis, psikologis, sosial, perilaku dan kultural.

Kebutuhan riil remaja terkait hak mendapatkan informasi akurat tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi ini kadang juga dibedakan berdasarkan variasi kelompok. Misalnya, kebutuhan remaja desa berbeda dengan remaja kota. Kerentanan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) antara ’remaja jalanan’ (anak jalanan) dan remaja sekolah juga berbeda. Remaja yang bekerja sebagai buruh pabrik juga mempunyai karakteristik dan masalah-masalah yang berbeda dengan remaja yang bekerja di sektor informal, dan sebagainya. Sehingga, pemenuhan kebutuhan ini butuh disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya yang dihadapi masing-masing remaja. Namun demikian, secara umum kebutuhan riil menyangkut hak dasar remaja akan informasi terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi itu, antara lain sebagai berikut:

  1. Penyediaan layanan yang ramah dan mudah diakses bagi remaja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, status pernikahan, dan situasi keuangan mereka;
  2. Adanya dukungan terpenuhinya hak setiap remaja untuk menikmati seks dan ekspresi seksualitas mereka dalam cara-cara yang mereka pilih sendiri;
  3. Penyediaan informasi dan pemberian hak mendapatkan pendidikan mengenai reproduksi dan seksualitas. Informasi dan pendidikan yang diberikan ini harus mendorong terjadinya independensi dan keyakinan diri remaja, dan memberikan pengetahuan agar mereka bisa membuat keputusan sendiri terkait reproduksi dan seksual mereka;
  4. Adanya jaminan kerahasiaan dalam relasi sosial dan seluruh aspek dari seksualitas mereka;
  5. Penyediaan informasi yang bisa diakses sesuai dengan perkembangan remaja;
  6. Setiap remaja yang aktif secara seksual atau tidak; dan yang memiliki keragaman orientasi seksual bisa mendapatkan informasi agar mereka merasa nyaman dengan tubuh dan seksualitas mereka sendiri;
  7. Setiap remaja mendapatkan persiapan untuk memiliki ketrampilan melakukan negosiasi dalam relasi sosialnya, termasuk dalam masa pacaran dan dalam melakukan tindakan seks yang lebih aman (bagi yang seksual aktif).9

Selain kebutuhan-kebutuhan tersebut, remaja juga memiliki hak-hak mendasar terkait kesehatan reproduksinya. Hak-hak itu juga harus terpenuhi sebagai kebutuhan dasar mereka. Hak-hak itu adalah:10

  1. Hak hidup. Ini adalah hak dasar setiap individu tidak terkecuali remaja, untuk terbebas dari resiko kematian karena kehamilan, khususnya bagi remaja perempuan;
  2. Hak atas pelayanan dan perlindungan kesehatan. Termasuk dalam hal ini adalah perlindungan privasi, martabat, kenyamanan, dan kesinambungan;
  3. Hak atas kerahasiaan pribadi. Artinya, pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja dan setiap individu harus menjaga kerahasiaan atas pilihan-pilihan mereka;
  4. Hak atas informasi dan pendidikan. Ini termasuk jaminan kesehatan dan kesejahteraan perorangan maupun keluarga dengan adanya informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi yang memadai tersebut;
  5. Hak atas kebebasan berpikir. Ini termasuk hak kebebasan berpendapat, terbebas dari penafsiran ajaran yang sempit, kepercayaan, tradisi, mitos-mitos, dan filosofi yang dapat membatasi kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual;
  6. Hak berkumpul dan berpartisipasi dalam politik. Hal ini termasuk mendesak pemerintah dan parlemen agar menempatkan masalah kesehatan reproduksi menjadi prioritas kebijakan negara;
  7. Hak terbebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk. Hal ini terutama bagi anak-anak dan remaja untuk mendapatkan perlindungan dari eksploitasi, pelecehan, perkosaan, penyiksaan, dan kekerasan, seksual;
  8. Hak mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan terbaru. Yaitu hak mendapatkan pelayan kesehatan reproduksi yang terbaru, aman, dan dapat diterima;
  9. Hak memutuskan kapan punya anak, dan punya anak atau tidak;
  10. Hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi. Ini berarti setiap individu dan juga remaja berhak bebas dari segala bentuk diskriminasi termasuk kehidupan keluarga, reproduksi, dan seksual;
  11. Hak untuk memilih bentuk keluarga. Artinya, mereka berhak merencanakan, membangun, dan memilih bentuk keluarga (hak untuk menikah atau tidak menikah);
  12. Hak atas kebebasan dan keamanan. Remaja berhak mengatur kehidupan seksual dan reproduksinya, sehingga tidak seorang pun dapat memaksanya untuk hamil, aborsi, ber-KB dan sterilisasi.


Masalah Riil KRR
Keterbatasan akses dan informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja di Indonesia ’bisa dipahami’ karena masyarakat umumnya masih menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang tabu dan tidak untuk dibicarakan secara terbuka. Orang tua biasanya enggan untuk memberikan penjelasan masalah-masalah seksualitas dan reproduksi kepada remajanya, dan anak pun cenderung malu bertanya secara terbuka kepada orang tuanya.11 Kalaupun ada orang tua atau guru di sekolah yang ingin memberi penjelasan kepada anaknya, mereka seringkali kebingungan bagaimana caranya dan apa saja yang harus dijelaskan.

Kuatnya norma sosial yang menganggap seksualitas adalah tabu akan berdampak pada kuatnya penolakan terhadap usulan agar pendidikan seksualitas terintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan. Sekalipun sejak reformasi bergulir hal ini telah diupayakan oleh sejumlah pihak seperti organisasi-organisasi non pemerintah (NGO), dan juga pemerintah sendiri (khususnya Departemen Pendidikan Nasional), untuk memasukkan seksualitas dalam mata pelajaran ’Pendidikan Reproduksi Remaja’; namun hal ini belum sepenuhnya mampu mengatasi problem riil yang dihadapi remaja.12

Faktanya, masalah terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi masih banyak dihadapi oleh remaja. Masalah-masalah tersebut antara lain:
Pertama, perkosaan. Kejahatan perkosaan ini biasanya banyak sekali modusnya. Dan korbannya tidak hanya remaja perempuan, tetapi juga laki-laki (sodomi). Modus perkosaan ini biasanya korban akan diberi obat bius agar tidak sadarkan diri. Selain itu, korban biasanya juga diancam agar tidak berdaya; dianiaya terlebih dulu; dihipnotis agar mau melakukan apa yang diinginkan pemerkosa; dan atau diberi obat perangsang atau minuman keras agar korban menjadi birahi. Remaja perempuan rentan mengalami perkosaan oleh sang pacar, karena dibujuk dengan alasan untuk menunjukkan bukti cinta.

Kedua, free sex. Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-ganti. Seks bebas pada remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis selain dapat memperbesar kemungkinan terkena infeksi menular seksual dan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), juga dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja perempuan. Sebab, pada remaja perempuan usia 12-17 tahun mengalami perubahan aktif pada sel dalam mulut rahimnya.13 Selain itu, seks bebas biasanya juga dibarengi dengan penggunaan obat-obatan terlarang di kalangan remaja. Sehingga hal ini akan semakin memperparah persoalan yang dihadapi remaja terkait kesehatan reproduksi ini.

Ketiga, Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Hubungan seks pranikah di kalangan remaja didasari pula oleh mitos-mitos seputar masalah seksualitas. Misalnya saja, mitos berhubungan seksual dengan pacar merupakan bukti cinta. Atau, mitos bahwa berhubungan seksual hanya sekali tidak akan menyebabkan kehamilan. Padahal hubungan seks sekalipun hanya sekali juga dapat menyebabkan kehamilan selama si remaja perempuan dalam masa subur.14

Keempat, Aborsi. Aborsi merupakan keluarnya embrio atau janin dalam kandungan sebelum waktunya. Aborsi pada remaja terkait KTD biasanya tergolong dalam kategori aborsi provokatus, atau pengguguran kandungan yang sengaja dilakukan. Namun begitu, ada juga yang keguguran terjadi secara alamiah atau aborsi spontan. Hal ini terjadi karena berbagai hal antara lain karena kondisi si remaja perempuan yang mengalami KTD umumnya tertekan secara psikologis, karena secara psikososial ia belum siap menjalani kehamilan. Kondisi psikologis yang tidak sehat ini akan berdampak pula pada kesehatan fisik yang tidak menunjang untuk melangsungkan kehamilan.15

Kelima, Perkawinan dan kehamilan dini. Nikah dini ini, khususnya terjadi di pedesaan. Di beberapa daerah, dominasi orang tua biasanya masih kuat dalam menentukan perkawinan anak dalam hal ini remaja perempuan. Sebagai contoh, kasus pernikahan di bawah umur atau pernikahan dini di Purwokerto, Jawa Tengah mengalami peningkatan mencolok. Data yang ada di Pengadilan Agama Purwokerto menunjukkan, jumlah pengantin dini antara Januari 2008 hingga Januari 2009 tercatat sebanyak 26 pasangan. Menurut  Ketua Pengadilan Agama Puwokerto Muniroh, pasangan pernikahan dini rata-rata baru berusia 14-15 tahun untuk wanita dan 16-17 untuk laki-laki. Alasan terjadinya pernikahan dini adalah pergaulan bebas seperti hamil di luar pernikahan dan alasan ekonomi. 16 Remaja yang menikah dini, baik secara fisik maupun biologis belum cukup matang untuk memiliki anak sehingga rentan menyebabkan kematian anak dan ibu  pada saat melahirkan. Perempuan dengan usia kurang dari 20 tahun yang menjalani kehamilan sering mengalami kekurangan gizi dan anemia. Gejala ini berkaitan dengan distribusi makanan yang tidak merata, antara janin dan ibu yang masih dalam tahap proses pertumbuhan.

Keenam, IMS (Infeksi Menular Seksual) atau PMS (Penyakit Menular Seksual), dan HIV/AIDS. IMS ini sering disebut juga penyakit kelamin atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Sebab IMS dan HIV sebagian besar menular melalui hubungan seksual baik melalui vagina, mulut, maupun dubur. Untuk HIV sendiri bisa menular dengan transfusi darah dan dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Dampak yang ditimbulkannya juga sangat besar sekali, mulai dari gangguan organ reproduksi, keguguran, kemandulan, kanker leher rahim, hingga cacat pada bayi dan kematian.17

Selain itu, bagi penderita HIV/AIDS juga akan menerima perlakuan diskriminasi dari lingkungan sosialnya, berupa dijauhi, dicela dan dikucilkan. Beragam mitos tentang seksualitas juga menjadi masalah tersendiri bagi remaja. Seperti misalnya tadi, berhubungan seksual dengan pacar merupakan bukti cinta. Padahal itu bukan bukti kasih sayang, melainkan dorongan seksual yang tidak terkontrol dan keinginan mencoba-coba pada remaja. Mitos lain yang kerap dipercaya remaja kita adalah mitos melakukan hubungan seksual dengan senggama terputus berarti aman dari kehamilan. Padahal, dengan  masuknya beberapa sel sperma saja telah memungkinkan terjadi pembuahan. Beberapa mitos lain seperti loncat-loncat; minum air lada; atau makan nanas muda aman untuk menggugurkan kandungan; berenang di pemandian umum akan menyebabkan kehamilan, dan sebagainya adalah contoh bahwa pemahaman yang keliru seperti ini akan semakin  menyesatkan. Artinya, informasi yang keliru menyebabkan mereka tidak memiliki  pengetahuan seputar seksualitas dan kesehatan reproduksi yang benar.

Problem KRR di Sekolah dan Komunitas Pesantren, Bagaimana Solusinya?
Belakangan telah banyak ditemukan problem seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja di lingkungan pesantren. Hal ini disebabkan oleh mitos-mitos yang berkembang pada lingkungan masyarakat atau remaja yang kurang mendapat informasi yang benar seputar seksualitas atau KRR. Celakanya, selama ini seseorang yang terkena mitos, merasakan hal itu sebagai keburukan yang terkadang dikait-kaitkan dengan dosa dan kesalahan perilakunya terhadap Tuhan dan alam semesta. Padahal dengan pandangan demikian, akan semakin membuat remaja kita dan masyarakat menutup diri dari informasi yang akurat, dan lebih menganggap penjelasan dari tokoh agama atau spiritual itulah yang paling benar.18 Hal ini akan merugikan remaja itu sendiri, karena mitos tidak selamanya menguntungkan atau mendukung perkembangan positif dari tumbuh kembang seorang remaja. Karenanya, mitos-mitos tersebut akan membawa dampak negatif terhadap kehidupan seksual mereka kelak.

Selain masalah mitos, sebagaimana yang ditemukan Rahima di Bondowoso, Jawa Timur, misalnya, terdapat kasus dimana pelajar dari kalangan pelajar SMP atau Sekolah Menengah Pertama (setingkat dengan Madrasah Tsanawiyah) telah tertular Infeksi Menular Seksual (IMS). Selain itu, persoalan kebersihan umum seperti kamar mandi di lingkungan sekolah yang memang diperuntukkan bagi umum;  atau karena kurangnya kebersihan diri, seperti mengganti pakaian dalam minimal dua kali sehari turut menyumbang persoalan kesehatan reproduksi di kalangan santri.19 Memang tampaknya, masalah kebersihan di lingkungan sekolah dan komunitas pesantren ini butuh perhatian khusus dari semua komunitas tersebut. Semestinya, “an-nadhafatu minal iman” tidak sekedar jadi slogan.

Selain IMS, masalah lain terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja yang juga ditemukan di Bondowoso adalah pergaulan bebas; mairil, pernikahan dini, dan kesehatan reproduksi itu sendiri pada remaja. Sebab, kenyataan di lapangan, pemahaman dasar atas seksualitas dan kesehatan reproduksi ini masih sangat kurang bagi mereka.

Oleh karenanya, dari sini mutlak dibutuhkan informasi yang benar dan perilaku yang lebih bertanggung jawab dari para remaja. Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai seksualitas dan KRR, komunitas remaja di kalangan pesantren di Bondowoso sendiri telah berkomitmen untuk melakukan beberapa hal. Pertama, memberikan pengetahuan masalah kesehatan reproduksi untuk remaja SMP dan SMA, serta para santri. Kedua, mereka juga berkomitmen menyediakan narasumber KRR bila dibutuhkan. Ketiga, mengadakan kegiatan bersama secara kontinyu, dalam bentuk seminar, workshop, maupun diskusi komunitas. Keempat, sosialisasi dan pelayanan terkait kesehatan reproduksi bagi remaja yang nyaman.

Sementara, komunitas pesantren dan majelis taklim di Bondowoso juga berkomitmen untuk menjawab setiap problem seksualitas dan kesehatan reproduksi ini melalui berbagai inisiatif.20
Antara lain:

  1. Membangun pembelajaran kesehatan reproduksi dimulai dari lingkungan keluarga, serta menjadikan anak sebagai teman diskusi bersama;
  2. Sosialisasi nilai-nilai kesetaraan dan partisipasi di antara lelaki dan perempuan;
  3. Bersinergi dengan seluruh simpul masyarakat dan pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi;
  4. Penghayatan agama secara proporsional terkait kesehatan reproduksi;
  5. Internalisasi pengetahuan kesehatan reproduksi dalam kurikulum sekolah;
  6. Integrasi kurikulum kesehatan reproduksi dalam kajian fiqh dan pendidikan agama di majlis taklim dan pesantren;
  7. Meningkatkan peran serta ulama dan tokoh agama dalam menyampaikan  nash seputar seksualitas dan kesehatan reproduksi.


Perspektif Agama tentang KRR
Dalam tradisi agama dan fiqh, perkembangan seseorang dari anak-anak menjadi  dewasa (‘aqil- baligh) menjadi isu tersendiri. Masa remaja yang bagi anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah, dan bagi anak perempuan ditandai dengan menstruasi atau haidh, memberikan pandangan yang berbeda- beda bagi sebagian kalangan. Sebagian ulama menyatakan bahwa peristiwa haidh terkadang dipandang sebagai “kekurangan” perempuan. Bahkan dalam pandangan konservatif (Yahudi, dan sebagian muslim), perempuan yang sedang haidh terkadang harus dikucilkan karena dinilai bisa mendatangkan bencana; tidak boleh menginjakkan kaki di masjid atau di surau-surau, karena darah yang keluar dari rahimnya dianggap kotor.

Menarik pandangan Badriyah Fayumi tentang haidh dalam Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan, Bunga Rampai Pemikiran Ulama Muda. Menurutnya, menstruasi atau yang dalam bahasa agama Islam disebut haidh merupakan siklus reproduksi yang menandai keadaan sehat dan berfungsinya organ-organ reproduksi remaja perempuan. Haidh dalam pandangannya juga menandakan ‘kematangan’ seksual remaja perempuan dalam arti bahwa ia memiliki ovum yang dapat dibuahi, bisa hamil, dan melahirkan anak, sebagaimana fungsi-fungsi reproduksinya. Karenanya, hak-hak reproduksi remaja yang salah satunya mendapatkan informasi yang benar tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi juga harus segera dipenuhi dan diperhatikan.

Lebih jauh Badriyah juga menyampaikan, memang dalam Alquran persoalan haidh, ataupun nifas (darah yang keluar dari rahim perempuan karena proses melahirkan) dan juga istihadhah (darah yang keluar dari rahim perempuan di luar haidh dan nifas) tidak dibahas secara mendalam. Namun sesungguhnya hal-hal terkait reproduksi telah menjadi perhatian besar bagi Islam. Sebab, persoalan reproduksi bagi remaja dan atau perempuan ini akan berimplikasi pada ketentuan- ketentuan agama, baik dalam aspek ibadah, mu’amalah, maupun  munakahat.21

Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. pernah mengecam dan menolak keras tradisi yang mengisolasi remaja maupun perempuan yang sedang haidh atau menjalani fungsi dan proses reproduksinya. Ini terjadi karena ada seorang sahabat yang mengadu kepada Nabi tentang kaum Yahudi dan sebagian muslimin yang selalu memandang buruk, bahkan tidak mau makan bersama anak perempuan atau istrinya yang sedang haidh. Karenanya, turunlah QS. Al-Baqarah: 222. Dan Nabi saw. juga bersabda, “Berbuat apa sajalah (terhadap istri yang sedang haidh) kecuali berhubungan seks.”

***
Selanjutnya, kaum muslimin sesungguhnya juga meyakini ajaran Islam adalah ajaran yang mengatur seluruh dimensi kemanusiaan. Tidak ada satupun persoalan kemanusiaan yang tidak tersentuh oleh pesan ajaran Islam. Jargon  “al-Islam shalihun likulli zamanin wa makanin” sangat mengukuhkan universalitas Islam. Dengan misi “rahmatan lil alamin” Islam diyakini pula mengemban misi perlindungan terhadap hak kesehatan reproduksi bagi setiap umat, lelaki dan perempuan; anak-anak, dewasa, maupun remaja. Sebab itulah seluruh ulama sepakat, bahkan semua agama-agama, bahwa misi utama agama adalah
mewujudkan kemaslahatan seluruh umat manusia.22

Kemaslahatan manusia dunia akhirat akan tercapai manakala kebutuhan  dharuri mereka terpenuhi. Kebutuhan  dharuri  sebagaimana dirumuskan Al-Ghazali adalah mencakup hifdzu ad- din, hifdzu an-nafsi, hifdzu al-nasl, hifdzu al-’irdhi, hifdzu al-’aql, dan hifdzu al-mal. Tak syak lagi bahwa hifdzu al-nafs, hifdzu an-nasl, dan hifdzu al-’irdhi merupakan bagian dari maqashid asy-syari’ah yang berkaitan erat dengan upaya pemeliharaan kesehatan reproduksi.

Demi melindungi an-nafs, Islam melarang segala bentuk tindakan yang dapat membahayakan atau menghilangkan hak hidup seseorang sebagai hak dasar dalam kesehatan reproduksi bagi setiap individu. Ketentuan-ketentuan hukum fiqh juga sepenuhnya melindungi hak hidup semua orang dari perlakuan sewenang-wenang. Apalagi Alquran juga mengatur setiap proses reproduksi dengan baik, salah satunya melalui sebuah pernikahan (QS. An-Nisa’: 1; An-Nahl: 72). Islam juga menganjurkan setiap orang melakukan amal-amal sosial yang dapat mempermudah mereka untuk menjalankan fungsi hidupnya, termasuk fungsi reproduksinya.

Dalam konteks hifdzu al-nasl, Alquran juga menganjurkan agar setiap orang menjalankan dan menggunakan fungsi reproduksinya pada saat yang tepat. Misalnya, hanya mengandung dan melahirkan keturunan yang berkualitas pada waktunya (tidak di usia remaja); dan sebisa mungkin menghindari melahirkan keturunan yang lemah  (dzurriyatan dhi’afa) yang dapat menjadi beban orang lain. Karenanya, remaja yang masih dalam masa tumbuh kembang diharapkan untuk tidak melahirkan yang dapat menurunkan rendahnya kualitas keturunan. Bukankah Nabi saw. pernah menyatakan mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah, yang hanya akan menjadi tanggungan bagi orang lain?

Demikian pula, proses penciptaan manusia yang diceritakan dalam Alquran juga mengisyaratkan agar setiap tahapan penciptaan dan tumbuh kembang manusia mendapatkan perhatian dan perlindungan. Konsep agama seperti inilah yang sangat mendukung terciptanya kesehatan reproduksi yang baik bagi setiap umatnya.

Salah satu perhatian Islam yang lain adalah hak dalam menentukan pasangan. Oleh karenanya, Islam sebenarnya tidak menghendaki adanya kawin paksa. Oleh karena itu, selain menganjurkan adanya pernikahan bagi umatnya yang telah memiliki kesiapan fisik dan mental; hak menentukan pasangan juga telah dijamin oleh Islam. Nabi bersabda, “Seorang janda tidak boleh dikawinkan tanpa diajak dahulu bermusyawarah dan seorang gadis tidak boleh dikawinkan tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.” (HR Bukhari). Meskipun”diam”-nya seorang anak gadis bisa dianggap sebagai persetujuannya, namun yang lebih penting bukanlah memaknainya sebagai hak untuk memaksa; namun jauh lebih penting tidak mengawinkan seorang perempuan tanpa mengabaikan hak-haknya dalam memilih seseorang yang akan menjadi pasangan hidupnya.

Islam juga mengajarkan adanya kehidupan seksual yang sehat. Oleh karena itu, ia melarang berbagai upaya yang dapat mengurangi atau menyebabkan seseorang tidak dapat menikmati seksualitas dan kesehatan reproduksinya dengan baik. Nikah dini, kawin paksa atau “terpaksa kawin” yang oleh masyarakat dikenal dengan MBA (Married by Accident) merupakan contoh persoalan yang berpotensi dihadapi oleh remaja yang menyebabkan mereka tidak dapat  menjalani kehidupan seksual yang sehat. Tidak dianjurkannya sunat  bagi perempuan, juga dapat dipandang sebagai jaminan bagi perempuan untuk dapat menikmati kegiatan seksual.

Islam sesungguhnya tidak anti terhadap kegiatan seksual. Islam mengaturnya agar kesehatan reproduksi bagi setiap individu terjaga untuk meneruskan keturunan yang unggul pada saat yang tepat. Inilah pemahaman-pemahaman yang semestinya diberikan sebagai bekal bagi setiap remaja agar mereka menjadi generasi penerus yang tidak hanya sehat secara fisik, jasmani, dan rohani, namun juga sosialnya. Agar mereka juga menjadi pribadi-pribadi yang lebih bertanggungjawab terhadap fungsi reproduksi yang Tuhan berikan kepada mereka. Sebab seksualitas dan reproduksi merupakan fitrah dari Allah swt. kepada setiap individu sebagai hamba-Nya yang dikasihi. Demikian, wallahu a’lam. 

Dari berbagai sumber, Hafidzoh Almawaliy



Endnotes


1.   Arif Subhan, Prof. Dr. Zakiah Daradjat: Pendidik dan Pemikir dalam Ulama Perempuan Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2002.
2.   Definisi Remaja Menurut Depkes RI, dalam http://ceria.bkkbn.go.id/referensi/substansi/detail/19
3.   Remaja Menurut Masyarakat Indonesia dalam http://notok2000.blogspot.com/2007/08/
4.   Data Statistik dengan Menggunakan Definisi WHO tentang Remaja Tahun 1998, dalam http://www.datastatistik-indonesia.com/
5.   Data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2000, dalam AD. Eridani, Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Remaja : Sebuah Temuan, disampaikan pada Seminar Nasional Seksualitas dan Kespro Remaja di PP. Nuris, Jember-Jawa Timur, Juni 2009.
6.   Irwan M. Hidayana, Dari Menstruasi Hingga Kontrasepsi: Isu-isu Seksualitas Remaja Perempuan, dalam Benih Bertumbuh, Kelompok Perempuan Pejuang Perempuan Tertindas, Galang Press, Yogyakarta, 2000.
7.   Definisi Kesehatan Reproduksi Menurut WHO, 1975.
8.   J. Djaelani, Kebijakan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja, dalam Seminar Nasional tentang Hak dan Kesehatan Reproduksi: Implikasi Pasal 7 Rencana Tindakan Kairo bagi Indonesia, Yogyakarta, Mei 1995.
9.   Mukhatib MD, Problem Kesehatan Reproduksi Remaja: Tawaran Solusi, disampaikan pada Seminar Nasional Seksualitas dan Kespro Remaja di PP. Nuris, Jember-Jawa Timur, Juni 2009.
10. Linda Dwi Eriyani, Kesehatan Reproduksi Remaja: Menyoal Solusi, 2006, disampaikan pada Seminar Nasional Seksualitas dan Kespro Remaja di PP. Nuris, Jember-Jawa Timur, Juni 2009.
11. Atas H. Habsjah, dkk, Peranan Ayah vis-a-vis Ibu dan Pranata Sosial Lainnya dalam Pendidikan Seks Remaja, Jakarta, The Population Council and The Atma Jaya Research Centre, 1995.
12. Koran Kompas, Edisi 29 Januari 2000.
13. dr. Ancah Caesarina N.M., Kespro Remaja, disampaikan pada Seminar Nasional Seksualitas dan Kespro Remaja di PP. Nuris, Jember-Jawa Timur, Juni 2009.
14. Tim Mitra Inti, Mitos Seputar Masalah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi, Yayasan Mitra Inti, Jakarta, 2009.
15. Khisbiyah, dkk, Kehamilan tak Dikehendaki di Kalangan Remaja, Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1996.
16. http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php mib=beritadetail&id=85651, diakses pada tanggal 2 Pebruari 2010, pk.16.25 WIB.
17. Atun, dkk, IMS atau Penyakit Kelamin, dalam Kesehatan Reproduksi Remaja, Kerjasama Jaringan Kaukus Kesehatan untuk Anak Jalanan Perempuan di Yogyakarta, bersama PKBI-DIY, dll, Yogyakarta,2004.
18. dr. Kartono Mohamad, Seks dan Mitos-mitosnya, dalam Pengantarnya pada Mitos Seputar Masalah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi, Yayasan Mitra Inti, Jakarta, 2009
19. Pengantar Diskusi Publik Bondowoso dalam Diskusi Publik Menjawab Persoalan Kesehatan Reproduksi Remaja, Rahima, November 2009.
20. Solusi Bersama dalam Dialog Publik Menjawab Perma-salahan Kesehatan Reproduksi, Kerjasama Rahima dan Majlis Taklim Al- Ma’syumi, Bondowoso, November 2009.
21. Badriyah Fayumi, Haidh, Nifas dan Istihadhah, dalam Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan: Bunga Rampai Pemikiran Ulama Muda, Rahima bekerjasama dengan LkiS dan The Ford Foundation, Jakarta, 2002.
22. Imam Nakha’i, Kesehatan Reproduksi dalam Perspektif Hukum Islam
(Pengantar Dialog), disampaikan pada Seminar Nasional Seksualitas dan Kespro Remaja di PP. Nuris, Jember-Jawa Timur, Juni 2009.

 

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

28-31 Agustus 2014 Tadarus 7 Pengkaderan Ulama Perempuan di Klaten - Jawa Tengah

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini63
mod_vvisit_counterKemarin1432
mod_vvisit_counterMinggu ini4303
mod_vvisit_counterBulan Ini1495
mod_vvisit_counterSemua1222854

Yang Online

Kami memiliki 44 Tamu online

Flag Contries

free counters