RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Monday
Feb 08th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Opini Opini Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi bagi Remaja

Opini Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi bagi Remaja

E-mail Cetak PDF
Indeks Artikel
Opini Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi bagi Remaja
Mukhotib MD
Semua Halaman

Dokter Ramona Sari, lahir di Jakarta, pada 18 Mei 1956. Ia adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) pada 1982. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Divisi Kesehatan Reproduksi dan HIV/AIDS, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat. Kiprahnya terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja dan perempuan tak diragukan lagi. Sejak dekade ’80-an ia telah aktif mengikuti berbagai pelatihan dan forum-forum seputar kesehatan reproduksi, baik nasional maupun internasional. Misalnya saja, dirinya pernah mengikuti workshop tentang AIDS yang diselenggarakan IPPF (International Planned Parenthood Federation) di Manila dan London, Inggris. Belakang ia juga masih aktif mengikuti workshop seperti Regional Workshop on Quality of Abortion Care, di Phnom Pen pada 2005; dan juga TOT on Safe Abortion, yang juga diselenggarakan IPPF di Hanoi pada 2008 lalu. Di tengah kesibukan, istri dari S. Djatmiko ini, masih pula menyempatkan diri mengabdi dengan membuka layanan medis bagi masyarakat umum. Layanan medis ini telah diberikannya sejak menjadi dokter umum yang mengelola klinik kesehatan reproduksi di Wisma Panca Warga (Klinik IPPA) setelah usai kuliah dulu. Dirinya juga pernah menjadi Kepala Puskesmas Wilayah Jakarta Timur, pada ’84 hingga 2001. Selain kegiatan rutinnya itu, dokter Ramona juga aktif menjadi narasumber di berbagai seminar dan diskusi seputar seksualitas dan kesehatan reproduksi. Ibu dari drg. Anggia Ratri Renjani ini tercatat pernah menjadi Trainer untuk Kesehatan Reproduksi dan HIV-AIDS pada ’94-’99 di P3M, dan di Ford Foundation sejak ’99 sampai sekarang. Beliau yang ternyata memiliki hobi memasak ini juga merupakan inspirasi bagi putri semata wayangnya sehingga mengikuti jejaknya menjadi seorang dokter yang lulus cumlaude dari Universitas Indonesia. Kini, pada Swara Rahima edisi ke-30, ia akan memberikan pandangan-pandangannya seputar isu yang digelutinya selama ini, yang tentunya sarat dengan perspektif medis. Untuk lebih jelasnya, berikut hasil wawancara lengkapnya.

Dr. Ramona Sari

“Hak Kespro Remaja Harus Jadi Perhatian Pemerintah dan Masyarakat Luas”



Menurut Anda, siapa remaja dalam pandangan medis itu?
Secara medis, remaja adalah seseorang yang berusia antara 10 sampai 14 tahun, di mana pada dirinya terjadi pengembangan alat dan fungsi reproduksinya. Selain itu, pada diri remaja terjadi pula pengembangan fisik dari bentuk anak-anak menjadi bentuk dewasa secara berangsur-angsur dan terjadi proses pendewasaan mental (psikis).

Terkait tumbuh kembang dan fungsi reproduksi, sesungguhnya apa kesehatan reproduksi atau Kespro itu?
Kesehatan Reproduksi atau Kespro adalah keadaan seseorang ditinjau dari organ dan fungsi reproduksi yang dapat, ada, atau menggambarkan apakah pada dirinya tidak ada kelainan atau kelemahan.

Kaitannya dengan remaja, apa yang dimaksud

Kesehatan Reproduksi Remaja menurut Anda? Kespro pada remaja adalah keadaan remaja ditinjau dari sudut perkembangan kematangan alat reproduksinya termasuk fungsinya secara berangsur. Secara nyata, pada remaja laki-laki proses tersebut ditandai dengan perubahan fisik seperti badannya menjadi lebih berotot, lebih tinggi, terjadi perubahan suara, berjerawat, tumbuh kumis dan bulu ketiak. Selain itu, penisnya menjadi lebih besar serta mengalami mimpi basah. Pada remaja perempuan ditandai dengan berkembangnya payudara, pinggul membesar, tumbuh bulu ketiak dan mengalami menstruasi.


Lalu apa saja organ reproduksi remaja itu dalam pandangan medis?
Organ reproduksi remaja sama dengan organ reproduksi orang dewasa. Yaitu, laki-laki mempunyai organ reproduksi eksternal berupa penis dan 2 buah testis yang terbungkus di dalam skrotum. Sedangkan organ reproduksi internal yaitu kelenjar seminalis, kelenjar prostat dan salurannya. Sedang pada perempuan mempunyai organ reproduksi eksternal yaitu vagina sebelah luar yang dilengkapi dengan bibir kemaluan dan klitoris. Sementara bagian internal organ reproduksinya adalah rahim, saluran telur, dan indung telur.

***

Menurut Anda, terkait fungsinya, problem apa saja yang biasa muncul pada kesehatan reproduksi bagi remaja ini? Lalu biasanya bagaimana penanganannya?

Perubahan alat dan fungsi reproduksi pada remaja dari masa anak-anak menjadi dewasa, merupakan problem itu sendiri bagi remaja. Perubahan fisik bagi remaja membuat sebagian remaja menjadi tidak nyaman, terutama bagi mereka yang tidak pernah mendapat informasi tentang hal ini. Cara penanganannya adalah orang tua harus bisa menjadi sumber informasi utama. Selain itu, juga dibutuhkan adanya profesional atau lembaga yang dapat memberikan informasi dan layanan bagi remaja dengan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan dan selera remaja.

Lalu menurut pandangan Anda, risiko-risiko apa saja yang bisa muncul pada problem kesehatan reproduksi pada remaja ini?
Karena perubahan pada remaja juga membawa perubahan pada naluri atau dorongan seksual, maka risiko yang muncul adalah remaja bisa terjebak dalam perilaku seksual sebelum waktunya. Beberapa risiko serius adalah terjadinya penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan kehamilan pada usia dini, pelecehan, atau perkosaan.

Bagaimana dengan risiko jerat narkoba atau narkotika, obat-obatan, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) bagi remaja?
Risiko remaja terhadap narkoba atau Napza, sama seperti risiko reproduksi. Informasi dan pengawasan dari orang tua dan pembimbing, yaitu guru dan masyarakat, yang tidak memadai, membuat mereka akan dua kali lebih besar mengalami kerugian.

Sebetulnya bahaya seperti apa yang bisa ditimbulkan narkoba bagi kesehatan reproduksi pada diri remaja ini?
Beberapa narkoba atau napza yang digunakan berlebihan dan terus-menerus dalam jangka waktu lama dapat membuat pembentukan sperma dan sel telur mengalami hambatan. Selain itu secara medis juga akan terjadi penurunan fungsi reproduksi. Akibat napza pula, remaja bisa kehilangan kontrol berpikir sehingga mereka menjadi lebih mudah terjerumus dalam perilaku seksual yang tidak aman.

Bagaimana dengan hak-hak Kespro bagi remaja, apa saja sesungguhnya?
Hal itu bisa dilihat dari hak seksual dan reproduksi IPPF (International Planned Parenthood Federation), yang intinya remaja dan orang dewasa mempunyai hak kesehatan reproduksi yang sama terutama hak atas informasi dan pelayanan. Seseorang yang bisa menghargai hak dan kewajibannya adalah mereka yang sudah mendapat informasi penuh tentang pengetahuan kesehatan seksual dan reproduksinya.

Lalu bagaimana menurut Anda pendidikan Kespro bagi remaja yang baik itu?
Pendidikan kesehatan reproduksi yang baik bagi remaja adalah pendidikan yang diberikan dengan lengkap, sesuai dengan kebutuhannya atau tahapan umur remaja. Dan sebaiknya hal ini diberikan oleh orang yang sudah terlatih.

Menurut Anda, kapan waktu yang tepat memberikan pendidikan Kespro itu pada remaja?
Kapan saja sesuai dengan kebutuhan atau yang ditanyakan oleh remaja.

Terkait kesehatan reproduksinya ini, komunikasi seperti apa yang harus dibangun dengan remaja?

Tentu saja komunikasi dua arah dengan tujuan membangun hubungan yang baik dan terbuka, serta terjamin kerahasiaannya. Selain itu, komunikasi ini juga harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh remaja itu sendiri.

Bagaimana dengan peran orang tua dan lingkungan dalam Kespro remaja?

Orang tua seharusnya menjadi sumber utama dan terpercaya dalam pemberian informasi maupun perlindungan bagi Kespro remaja. Sementara lingkungan seharusnya bisa menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi tumbuh kembang remaja.

***

Terkait pergaulan di antara sesama remaja, dalam pandangan medis, adakah konsep pacaran yang sehat bagi remaja? Jika ada, seperti apa?
Konsep pacaran remaja adalah remaja bisa menghindarkan pikiran dan perbuatan yang bisa membawa risiko reproduksi yang buruk, dan mampu mempertanggung jawabkannya.

Bagaimana dengan remaja perempuan korban perkosaan, atau kasus ingkar janji, apabila menderita Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)? Langkah kesehatan seperti apa yang bisa diambil untuk menangani problem utamanya?
Sebelum remaja perempuan mengalami hal perkosaan, atau kasus ingkar janji dalam pacaran, mereka harus sepenuhnya memahami mengenai risiko reproduksi. Mereka harus mengetahui bahwa kerugian tersebut akan sepenuhnya menjadi beban perempuan. Jika pada akhirnya mereka dihadapkan dengan pilihan yang seharusnya mereka sudah memahami lebih dulu risikonya. Termasuk jika mereka mengalami KTD, seharusnya mereka mampu memutuskan apakah mereka akan mempertahankan atau menghentikan kehamilannya, walaupun pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Kecuali korban perkosaan, remaja perempuan harus dididik dan dilatih untuk mampu berkata “tidak” terhadap ajakan seksual di luar pernikahan. Bagaimana  dengan upaya aborsi aman bagi mereka yang mengalami situasi seperti di atas? Aborsi aman pada remaja sama dengan pelayanan terhadap perempuan dewasa yang mengalami KTD sebab kondisi diri atau janinnya yang tidak sehat, atau sebab-sebab kondisi lain, seperti anak yang sudah banyak dan sebagainya.  Pelayanan itu harusnya legal sehingga pemberian pelayanan bisa semaksimal mungkin sesuai dengn standar WHO (badan kesehatan dunia), yaitu dilakukan oleh tim kesehatan yang terlatih, fasilitas yang sesuai dengan standar, dilakukan di bawah 10 minggu usia janin, dan dilakukan sesuai dengan standar medis.

Menurut Anda, bagaimana pandangan agama terhadap masalah Aborsi tersebut?
Saya tidak terlalu yakin, namun ada beberapa mazhab yang masih bisa memperbolehkan aborsi dilakukan, bila manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya.

Selama ini, menurut Anda bagaimana upaya yang telah diambil negara dan masyarakat luas terkait kesehatan reproduksi remaja ini?
Upaya ini masih sebatas aturan dan wacana. Dalam praktiknya, aturan dan wacana itu masih lebih banyak merugikan remaja.

Bagaimana dengan peran PKBI sendiri terkait Kespro Remaja ini, apa saja yang sudah dilakukan?
PKBI mempunyai program untuk remaja terkait dengan kesehatan seksual dan reproduksi dan berbasis kesetaraan dan keadilan gender. Program ini dilakukan melalui pembentukkan youth center di 24 propinsi. Sebab, PKBI sendiri telah berada di 26 propinsi. Sedangkan PKBI Kepulauan Riau dan Papua Barat masih baru jadi belum ada Youth Center-nya. Selain itu PKBI juga bekerja sama dengan sekolah (SLTP dan SLTA) dengan memfasilitasi pembentukan sanggar sekolah yang memberikan akses untuk pelajar di sekolah tersebut agar mendapatkan konsultasi, konseling dan rujukan pelayanan yang terkait dengan isu kesehatan seksual dan reproduksi remaja.

Apakah PKBI juga melakukan pemberdayaan bagi komunitas-komunitas remaja di pesantren tentang masalah kespro ini?
Beberapa tahun lalu sekitar tahun 2003-2005, PKBI mendapat dana dari donor GTZ (donor dari Jerman) melalui IPPF untuk melaksanakan program kespro di pesantren. Saat itu untuk cakupan wilayahnya berlokasi di Lampung da