RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Friday
Dec 19th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Opini Opini Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi bagi Remaja

Opini Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi bagi Remaja

E-mail Cetak PDF
Indeks Artikel
Opini Edisi 30 : Kesehatan Reproduksi bagi Remaja
Mukhotib MD
Semua Halaman

Dokter Ramona Sari, lahir di Jakarta, pada 18 Mei 1956. Ia adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) pada 1982. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Divisi Kesehatan Reproduksi dan HIV/AIDS, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat. Kiprahnya terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja dan perempuan tak diragukan lagi. Sejak dekade ’80-an ia telah aktif mengikuti berbagai pelatihan dan forum-forum seputar kesehatan reproduksi, baik nasional maupun internasional. Misalnya saja, dirinya pernah mengikuti workshop tentang AIDS yang diselenggarakan IPPF (International Planned Parenthood Federation) di Manila dan London, Inggris. Belakang ia juga masih aktif mengikuti workshop seperti Regional Workshop on Quality of Abortion Care, di Phnom Pen pada 2005; dan juga TOT on Safe Abortion, yang juga diselenggarakan IPPF di Hanoi pada 2008 lalu. Di tengah kesibukan, istri dari S. Djatmiko ini, masih pula menyempatkan diri mengabdi dengan membuka layanan medis bagi masyarakat umum. Layanan medis ini telah diberikannya sejak menjadi dokter umum yang mengelola klinik kesehatan reproduksi di Wisma Panca Warga (Klinik IPPA) setelah usai kuliah dulu. Dirinya juga pernah menjadi Kepala Puskesmas Wilayah Jakarta Timur, pada ’84 hingga 2001. Selain kegiatan rutinnya itu, dokter Ramona juga aktif menjadi narasumber di berbagai seminar dan diskusi seputar seksualitas dan kesehatan reproduksi. Ibu dari drg. Anggia Ratri Renjani ini tercatat pernah menjadi Trainer untuk Kesehatan Reproduksi dan HIV-AIDS pada ’94-’99 di P3M, dan di Ford Foundation sejak ’99 sampai sekarang. Beliau yang ternyata memiliki hobi memasak ini juga merupakan inspirasi bagi putri semata wayangnya sehingga mengikuti jejaknya menjadi seorang dokter yang lulus cumlaude dari Universitas Indonesia. Kini, pada Swara Rahima edisi ke-30, ia akan memberikan pandangan-pandangannya seputar isu yang digelutinya selama ini, yang tentunya sarat dengan perspektif medis. Untuk lebih jelasnya, berikut hasil wawancara lengkapnya.

Dr. Ramona Sari

“Hak Kespro Remaja Harus Jadi Perhatian Pemerintah dan Masyarakat Luas”



Menurut Anda, siapa remaja dalam pandangan medis itu?
Secara medis, remaja adalah seseorang yang berusia antara 10 sampai 14 tahun, di mana pada dirinya terjadi pengembangan alat dan fungsi reproduksinya. Selain itu, pada diri remaja terjadi pula pengembangan fisik dari bentuk anak-anak menjadi bentuk dewasa secara berangsur-angsur dan terjadi proses pendewasaan mental (psikis).

Terkait tumbuh kembang dan fungsi reproduksi, sesungguhnya apa kesehatan reproduksi atau Kespro itu?
Kesehatan Reproduksi atau Kespro adalah keadaan seseorang ditinjau dari organ dan fungsi reproduksi yang dapat, ada, atau menggambarkan apakah pada dirinya tidak ada kelainan atau kelemahan.

Kaitannya dengan remaja, apa yang dimaksud

Kesehatan Reproduksi Remaja menurut Anda? Kespro pada remaja adalah keadaan remaja ditinjau dari sudut perkembangan kematangan alat reproduksinya termasuk fungsinya secara berangsur. Secara nyata, pada remaja laki-laki proses tersebut ditandai dengan perubahan fisik seperti badannya menjadi lebih berotot, lebih tinggi, terjadi perubahan suara, berjerawat, tumbuh kumis dan bulu ketiak. Selain itu, penisnya menjadi lebih besar serta mengalami mimpi basah. Pada remaja perempuan ditandai dengan berkembangnya payudara, pinggul membesar, tumbuh bulu ketiak dan mengalami menstruasi.


Lalu apa saja organ reproduksi remaja itu dalam pandangan medis?
Organ reproduksi remaja sama dengan organ reproduksi orang dewasa. Yaitu, laki-laki mempunyai organ reproduksi eksternal berupa penis dan 2 buah testis yang terbungkus di dalam skrotum. Sedangkan organ reproduksi internal yaitu kelenjar seminalis, kelenjar prostat dan salurannya. Sedang pada perempuan mempunyai organ reproduksi eksternal yaitu vagina sebelah luar yang dilengkapi dengan bibir kemaluan dan klitoris. Sementara bagian internal organ reproduksinya adalah rahim, saluran telur, dan indung telur.

***

Menurut Anda, terkait fungsinya, problem apa saja yang biasa muncul pada kesehatan reproduksi bagi remaja ini? Lalu biasanya bagaimana penanganannya?

Perubahan alat dan fungsi reproduksi pada remaja dari masa anak-anak menjadi dewasa, merupakan problem itu sendiri bagi remaja. Perubahan fisik bagi remaja membuat sebagian remaja menjadi tidak nyaman, terutama bagi mereka yang tidak pernah mendapat informasi tentang hal ini. Cara penanganannya adalah orang tua harus bisa menjadi sumber informasi utama. Selain itu, juga dibutuhkan adanya profesional atau lembaga yang dapat memberikan informasi dan layanan bagi remaja dengan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan dan selera remaja.

Lalu menurut pandangan Anda, risiko-risiko apa saja yang bisa muncul pada problem kesehatan reproduksi pada remaja ini?
Karena perubahan pada remaja juga membawa perubahan pada naluri atau dorongan seksual, maka risiko yang muncul adalah remaja bisa terjebak dalam perilaku seksual sebelum waktunya. Beberapa risiko serius adalah terjadinya penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan kehamilan pada usia dini, pelecehan, atau perkosaan.

Bagaimana dengan risiko jerat narkoba atau narkotika, obat-obatan, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) bagi remaja?
Risiko remaja terhadap narkoba atau Napza, sama seperti risiko reproduksi. Informasi dan pengawasan dari orang tua dan pembimbing, yaitu guru dan masyarakat, yang tidak memadai, membuat mereka akan dua kali lebih besar mengalami kerugian.

Sebetulnya bahaya seperti apa yang bisa ditimbulkan narkoba bagi kesehatan reproduksi pada diri remaja ini?
Beberapa narkoba atau napza yang digunakan berlebihan dan terus-menerus dalam jangka waktu lama dapat membuat pembentukan sperma dan sel telur mengalami hambatan. Selain itu secara medis juga akan terjadi penurunan fungsi reproduksi. Akibat napza pula, remaja bisa kehilangan kontrol berpikir sehingga mereka menjadi lebih mudah terjerumus dalam perilaku seksual yang tidak aman.

Bagaimana dengan hak-hak Kespro bagi remaja, apa saja sesungguhnya?
Hal itu bisa dilihat dari hak seksual dan reproduksi IPPF (International Planned Parenthood Federation), yang intinya remaja dan orang dewasa mempunyai hak kesehatan reproduksi yang sama terutama hak atas informasi dan pelayanan. Seseorang yang bisa menghargai hak dan kewajibannya adalah mereka yang sudah mendapat informasi penuh tentang pengetahuan kesehatan seksual dan reproduksinya.

Lalu bagaimana menurut Anda pendidikan Kespro bagi remaja yang baik itu?
Pendidikan kesehatan reproduksi yang baik bagi remaja adalah pendidikan yang diberikan dengan lengkap, sesuai dengan kebutuhannya atau tahapan umur remaja. Dan sebaiknya hal ini diberikan oleh orang yang sudah terlatih.

Menurut Anda, kapan waktu yang tepat memberikan pendidikan Kespro itu pada remaja?
Kapan saja sesuai dengan kebutuhan atau yang ditanyakan oleh remaja.

Terkait kesehatan reproduksinya ini, komunikasi seperti apa yang harus dibangun dengan remaja?

Tentu saja komunikasi dua arah dengan tujuan membangun hubungan yang baik dan terbuka, serta terjamin kerahasiaannya. Selain itu, komunikasi ini juga harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh remaja itu sendiri.

Bagaimana dengan peran orang tua dan lingkungan dalam Kespro remaja?

Orang tua seharusnya menjadi sumber utama dan terpercaya dalam pemberian informasi maupun perlindungan bagi Kespro remaja. Sementara lingkungan seharusnya bisa menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi tumbuh kembang remaja.

***

Terkait pergaulan di antara sesama remaja, dalam pandangan medis, adakah konsep pacaran yang sehat bagi remaja? Jika ada, seperti apa?
Konsep pacaran remaja adalah remaja bisa menghindarkan pikiran dan perbuatan yang bisa membawa risiko reproduksi yang buruk, dan mampu mempertanggung jawabkannya.

Bagaimana dengan remaja perempuan korban perkosaan, atau kasus ingkar janji, apabila menderita Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)? Langkah kesehatan seperti apa yang bisa diambil untuk menangani problem utamanya?
Sebelum remaja perempuan mengalami hal perkosaan, atau kasus ingkar janji dalam pacaran, mereka harus sepenuhnya memahami mengenai risiko reproduksi. Mereka harus mengetahui bahwa kerugian tersebut akan sepenuhnya menjadi beban perempuan. Jika pada akhirnya mereka dihadapkan dengan pilihan yang seharusnya mereka sudah memahami lebih dulu risikonya. Termasuk jika mereka mengalami KTD, seharusnya mereka mampu memutuskan apakah mereka akan mempertahankan atau menghentikan kehamilannya, walaupun pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Kecuali korban perkosaan, remaja perempuan harus dididik dan dilatih untuk mampu berkata “tidak” terhadap ajakan seksual di luar pernikahan. Bagaimana  dengan upaya aborsi aman bagi mereka yang mengalami situasi seperti di atas? Aborsi aman pada remaja sama dengan pelayanan terhadap perempuan dewasa yang mengalami KTD sebab kondisi diri atau janinnya yang tidak sehat, atau sebab-sebab kondisi lain, seperti anak yang sudah banyak dan sebagainya.  Pelayanan itu harusnya legal sehingga pemberian pelayanan bisa semaksimal mungkin sesuai dengn standar WHO (badan kesehatan dunia), yaitu dilakukan oleh tim kesehatan yang terlatih, fasilitas yang sesuai dengan standar, dilakukan di bawah 10 minggu usia janin, dan dilakukan sesuai dengan standar medis.

Menurut Anda, bagaimana pandangan agama terhadap masalah Aborsi tersebut?
Saya tidak terlalu yakin, namun ada beberapa mazhab yang masih bisa memperbolehkan aborsi dilakukan, bila manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya.

Selama ini, menurut Anda bagaimana upaya yang telah diambil negara dan masyarakat luas terkait kesehatan reproduksi remaja ini?
Upaya ini masih sebatas aturan dan wacana. Dalam praktiknya, aturan dan wacana itu masih lebih banyak merugikan remaja.

Bagaimana dengan peran PKBI sendiri terkait Kespro Remaja ini, apa saja yang sudah dilakukan?
PKBI mempunyai program untuk remaja terkait dengan kesehatan seksual dan reproduksi dan berbasis kesetaraan dan keadilan gender. Program ini dilakukan melalui pembentukkan youth center di 24 propinsi. Sebab, PKBI sendiri telah berada di 26 propinsi. Sedangkan PKBI Kepulauan Riau dan Papua Barat masih baru jadi belum ada Youth Center-nya. Selain itu PKBI juga bekerja sama dengan sekolah (SLTP dan SLTA) dengan memfasilitasi pembentukan sanggar sekolah yang memberikan akses untuk pelajar di sekolah tersebut agar mendapatkan konsultasi, konseling dan rujukan pelayanan yang terkait dengan isu kesehatan seksual dan reproduksi remaja.

Apakah PKBI juga melakukan pemberdayaan bagi komunitas-komunitas remaja di pesantren tentang masalah kespro ini?
Beberapa tahun lalu sekitar tahun 2003-2005, PKBI mendapat dana dari donor GTZ (donor dari Jerman) melalui IPPF untuk melaksanakan program kespro di pesantren. Saat itu untuk cakupan wilayahnya berlokasi di Lampung dan Banjarmasin.

Berbicara komunitas pesantren ini, bagaimana pandangan dokter Ramona sendiri terkait masalah kespro di lingkungan pesantren selama ini?
Persoalan Kespro remaja baik di lingkungan pesantren atau non pesantren sebetulnya sama saja, karena perkembangan mereka secara fisik dan psikis memang sama. Yang berbeda adalah bagaimana penyelesaian atau faktor lingkungan yang mempengaruhi penyelesaian masalah tersebut. Kalau remaja non pesantren, penyelesaian melalui pendekatan medis atau psikologis modern yang lebih dominan. Sedangkan di pesantren penyelesaian lebih ditekankan melalui pendekatan agamis atau mengacu pada kitab-kitab kuning yang berlaku.

Lalu apa saja persoalan yang biasanya muncul dalam kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren ini?
Secara prinsipil, masalah remaja di pesantren sama dengan masalah yang muncul di lingkungan non pesantren. Termasuk masalah haid, keputihan, mimpi basah, dorongan seksual, bahkan bila ada kecenderungan orientasi seksual seperti homoseks dan lesbian.

Bagaimana menurut Anda idealnya kiprah para ‘stake holders’ di lingkungan pesantren atau komunitas agama dalam pemberdayaan kesehatan reproduksi bagi remaja ini?
Selain mengacu kepada kitab yang menjadi pegangan bagi pendidikan pesantren, menurut saya sebaiknya para stake holder atau pengelola pesantren juga mengerti mengenai perkembangan ilmu kesehatan reproduksi dan perkembangan remaja. Semua yang dianggap tabu harus bisa didiskusikan dengan terbuka dan fair.

Terakhir apa harapan Anda di masa mendatang, terkait kesehatan reproduksi remaja di Indonesia?
Semoga suara remaja yang tidak terdengar, yaitu kebutuhan-kebutuhan remaja dalam hak kespro, bisa menjadi perhatian dan pekerjaan utama pemerintah dan masyarakat luas. Disarikan dari hasil wawancara oleh Hafidzoh Almawaliy.

 


Mukhotib MD, lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 10 Maret 1967. Ia memulai pendidikan formalnya dari SD-SMU di PP. Daarul  Ma’arif, Lampung. Kemudian dirinya melanjutkan studi di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, lulus pada 1997; sekaligus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta, namun  dropout pada 2001. Menikah dengan isteri tercintanya
NF.Halimawati, kini mereka dikaruniai 2 orang putra  yaitu Gana Gana Farel Malawits dan Hibba Muhammad Alhann . Kiprahnya telah dimulai sebagai fasilitator di berbagai pelatihan, seminar dan  workshop seputar Gender, Kesehatan Reproduksi dan HIV/ AIDS, HAM (Hak Asasi Manusia), dan juga Jurnalistik.
Narasumber kita yang terkesan nyentrik ini,  sudah aktif menulis semenjak masih belajar di pesantren dan ketika mengelola pers mahasiswa. Tulisan-tulisannya yang tidak hanya artikel, namun juga cerpen, puisi, dan esai, telah banyak dipublikasikan di berbagai media massa lokal maupun nasional. Selain itu, dirinya juga aktif mengedit buku, seperti buku Menggagas Jurnalisme Perspektif Jender; buku serial Islam dan Kesehatan Reproduksi, yang terdiri dari tujuh buku; lalu Panduan Pendidikan Fiqh di Pesantren, Kiai, Nyai dan Pesantren; serta Katalog 50 Buku Hak Kesehatan Reproduksi.
Ia juga tercatat pernah menjadi produser pelaksana sandiwara radio Kampanye Hak Kesehatan Reproduksi, sebanyak empat serial. Selain itu, ia tercatat pula sebagai tim penulis dan editor buku Panduan Pelatihan Islam dan Gerakan Perempuan.
Mukhotib aktif pula di organisasi non pemerintah (ORNOP) sejak 1986. Pernah bekerja di Ikatan Jaringan Kerja Pesantren se-Propinsi Lampung;  kemudian di  Yayasan Studi dan Pengembangan Sosial-Keagamaan, Magelang; Institut Pendidikan dan Demokrasi (INDIKASI), Yogyakarta; serta Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LKPSM) NU, dan sebagainya.
Mukhotib MD, lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 10 Maret 1967. Ia memulai pendidikan formalnya dari SD-SMU di PP. Daarul Ma’arif, Lampung. KemudianSaat ini ia juga aktif  di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS); Dewan Pengurus Forum LSM DIY; serta Pengurus Harian Daerah PKBI DIY.
Dalam kesempatan ini, lelaki yang lebih suka menyebut dirinya sebagai pekerja sosial dan jurnalis independen ini, akan menguraikan pandangannya seputar Islam dan kesehatan reproduksi bagi remaja. Bagaimana pendapatnya terkait persoalan tersebut? Berikut wawancara selengkapnya.

**********

Mukhotib MD. :

“Persoalan Kespro Remaja, Sudah Diajarkan Islam”




Bagaimana konsep Islam mengenai remaja?
Islam tidak memiliki konsep remaja secara langsung eksplisit, ya. Islam hanya memiliki definisi mengenai perkembangan manusia yang mendasarkan diri pada kapan dimulainya manusia dianggap sebagai subyek hukum. Misalnya, kalau ngaji di pesantren dulu, dikenalkan pada terma tamyiz dan akil baligh.

Bagaimana keterkaitan konsep tersebut dengan kesehatan reproduksi?
Nah, kalau kita menggunakan tahapan subyek hukum tersebut, kesehatan reproduksi penting diberikan pada saat memasuki akil baligh. Tanda- tanda fikihnya, kan, yang laki-laki itu mimpi basah dan yang perempuan itu menstruasi pertama. Di sinilah usia menjadi susah ditetapkan, yang ada kan hanya kisaran usia.


Meliputi apa sajakah konsep Kesehatan Reproduksi Remaja menurut Anda?

Secara umum, mencakup hak hidup, hak atas informasi, hak pelayanan, hak partisipasi dan hak terbebas dari kekerasan. Kelima hak ini sangat prinsip dan dibutuhkan oleh remaja sejak awal. Mengacu pada pemenuhan hak ini, kesehatan reproduksi remaja seharusnya berada dalam konteks penyelamatan mereka dari berbagai persoalan kesehatan reproduksi dan seksual; Misalnya, kekerasan seksual, diskriminasi dalam layanan kesehatan, dan lainnya.

Bagaimana dengan konsep Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Islam? Apakah Islam mengatur hal ini?
Sebenarnya beberapa content dari sebagian persoalan kesehatan reproduksi itu sudah diajarkan juga dalam pendidikan Islam. Masalahnya, penyampaiannya yang harus dievaluasi, sehingga remaja tidak menjadi obyek, melainkan menjadi subyek dalam pembahasan kesehatan reproduksi. Bisa dikatakan, secara spesifik, Islam sama sekali tidak mengatur soal informasi kesehatan reproduksi remaja. Yang ada hanya larangan-larangan yang berkaitan dengan seksualitas mereka. Ini nalarnya pendisplinan tubuh remaja dalam konteks seksualitas.

Apa saja hak-hak Kespro Remaja ini dalam pandangan Islam?
Berkaitan dengan Islam, yang paling penting, menurut saya, soal hak memilih pasangan, soal perwalian bagi perempuan. Soal usia menikah, yang dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) masih ada dalam usia yang sangat muda. Sementara hak yang lain, bersinggungan secara langsung dengan soal- soal lain, seperti layanan yang ramah terhadap remaja.

Bagaimana menurut Islam pendidikan Kespro remaja yang baik? Sejak kapan pendidikan itu harus diberikan?
Saya tidak tahu, ini menurut Islam atau menurut saya yang menganut Islam, ya.. (sembari tertawa-red). Mungkin yang benar bagaimana menurut saya, Islam mesti memberikan informasi dan layanan kesehatan   reproduksi  dan  seksual kepada remaja. Dalam konteks pesantren bagaimana kita melakukan upaya-upaya agar meteri-materi dalam kitab-kitab kecil, seperti Safinatun Najah itu, Uqudullujayn, dan yang lain diberikan dengan semangat pembebasan. Jadi ada ruang diskusi yang terbuka. Kalau sejak kapan mesti mulai diberikan, menurut saya sejak usia dini sudah harus diberikan. PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) sudah  merumuskan  tahapan materi dan bagaimana memberikan informasi kesehatan reproduksi kepada anak usia dini. Ini sudah ada paket pendidikannya.

Siapa yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan dan informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja ini?
Negara, pasti, negara itu. Karena kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dari Hak Asasi Manusia (HAM).

Bagaimana peran orang tua dan lingkungan dalam memberikan pendidikan dan informasi Kespro bagi remaja ini?
Secara umum berbicara peran orang tua dan lingkungan agak sulit, ya. Soalnya, mereka sendiri dalam kungkungan dan pemahaman kesehatan reproduksi yang belum tepat benar. Misalnya, masih ada anggapan soal-soal organ, fungsi dan sistem reproduksi itu tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Sehingga kalau menilik kitab-kitab kuning (Islam klasik) yang diberikan awal di pesantren kan dilakukan spesifikasi, ini kitab yang diberikan khusus untuk perempuan, laki-laki tidak boleh tahu. Akibatnya, laki-laki merasa tidak bertanggung jawab atas persoalan kesehatan reproduksi.

Bagaimana mestinya peran tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam kesehatan reproduksi remaja?
Mereka harus memfasilitasi dan memediasikan ke negara, sehingga hak kesehatan reproduksi dan seksual itu menjadi terpenuhi. Persoalannya, sekarang ini ada gejala penyempitan pemahaman, kesehatan reproduksi seakan-akan hanya soal
‘seks’. Wah, kalau ini tetap bercokol di nalar mereka, tidak selesai masalah ini.

Menurut Anda, adakah persoalan spesifik yang dihadapi remaja di kalangan komunitas muslim terkait dengan kesehatan reproduksi ini?
Banyak, ya. Kita ambil contoh, kasus Syekh Puji itu. Bagaimana yang namanya Ulfa itu sama sekali tidak didengarkan pandangannya. Dari pemahaman kesehatan reproduksi, Ulfa mengalami pelanggaran hak dari berbagai dimensi. Murokkab (berlipat-lipat) lah, gitu. Misalnya, sebagai individu, sesungguhnya ia bisa memilih untuk menerima atau tidak perkawinan itu. Tetapi ia terlibat berbagai cara pandang. Dalam kultur Jawa, perempuan di satu sisi tetap dianggap beban ekonomi bagi orang tuanya, karena itu kalau segera dinikahkan, akan mengurangi beban itu, karena akan menjadi tanggung jawab suaminya. Di sisi lain, perempuan itu mendapatkan beban untuk mengangkat derajat keluarga besarnya dari proses perkawinannya dengan laki-laki yang mungkin saja karena status sosialnya.Dari sisi kesehatan reproduksinya, Ulfa sangat terancam masa depannya dengan kemungkinan terkena kanker mulut rahim; terjadinya keguguran ketika mengalami kehamilan; dan memungkinkan juga berujung pada kematian.

Bagaimana cara mengatasi persoalan tersebut?Ini bukan soal sederhana. Harus dilakukan perubahan secara menyeluruh, karena kita menyentuh pada wilayah pemikiran atau cara pandang kita terhadap persoalan kesehatahn reproduksi remaja. Tidak saja pada soal kebijakan, misalnya, perubahan UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, tetapi juga soal tradisi yang hidup di masyarakat. Masalahnya, untuk menyentuh problem ini kita kan membutuhkan kajian-kajian ilmiah soal seksualitas. Sayangnya, para peneliti kita masih berkutat pada kajian mengenai gender, ya. Padahal, seksualitas itu merupakan inti persoalan yang dihadapi perempuan. Kalau menggunakan nalar Foucalt, salah satu ruang pendisiplinan itu, ya, seksualitas.

Terkait isu relasi dengan lawan jenis bagi remaja, adakah konsep pacaran dalam Islam ? Jika ada, konsep “pacaran sehat” menurut Islam itu seperti apa?
Wah, nggak ada tuh, pacaran sehat dalam Islam.

Lalu bagaimana menurut Anda memperkenalkan secara tepat isu kesehatan reproduksi remaja di kalangan pesantren?
Tahun ’90-an akhir, waktu itu bersama dengan Masruchah dan yang lainnya, kami mencoba melakukan kajian-kajian dengan 25 pesantren se- Jateng dan DIY. Menarik sebetulnya, kalau model itu diteruskan. Karena waktu itu sudah masuk juga perumusan mengenai materi-materi yang harus diajarkan bagi santri di pesantren. Terakhir ini, LKiS juga memiliki program yang sama untuk pesantren.
Kalau tidak salah, mereka juga masuk ke masyarakat di sekitar pesantren. Nah, yang perlu dikembangkan adalah metode pembelajaran kitab kuning itu. Misalnya, pada saat membahas fasal haidl (masalah menstruasi), setelah diajarkan pendekatan fikih, tafsir dan hadis, kita padukan dengan riset aksi. Jadi para santri kita kirim ke lapangan, menemui perempuan yang mengalami menstruasi, menemui laki-laki dan juga melakukan wawancara dengan tenaga medis mengenai menstruasi itu.
Penugasan selanjutnya, santri diminta melakukan analisis atas hasil riset aksinya, memadukan dengan wacana kitab kuning dan menemukan rumusan orisinal dari santri. Lalu mereka mempresentasikan hasilnya di kalangan santri dan ustadz. Kalau sempat, ya, kiainya diundang juga. Proses semacam ini, jauh lebih elegan, karena kita tidak sedang meragukan pesantren tidak memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi, tetapi menambahi tahapan pembelajarannya. Hasilnya, santri juga akan menjadi seorang analis sosial yang handal. Ini penting, ketika mereka kelak menjadi pemimpin, saat harus mengambil keputusan, maraji’-nya (referensi) menjadi lengkap.

Di kalangan remaja, seringkali muncul kasus “dating rape” atau perkosaan dalam masa pacaran, MBA (married by accident), perempuan korban perkosaan, incest, atau kasus ingkar janji. Bagaimana bila mereka menderita KTD atau kehamilan tidak diinginkan?
Ini harus kita runut dari awal konsepnya. Maksudnya, kita harus pertanyakan dulu, apakah hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual sudah dipenuhi oleh negara? Misalnya, hak informasi dan hak layanan yang ramah remaja. Jika belum terpenuhi, terjadinya KTD di kalangan remaja, merupakan bagian dari kesalahan negara. Sehingga negara harus menyediakan exit strategy atau jalan keluar yang strategis dari persoalan ini.

Langkah kesehatan seperti apa yang bisa diambil untuk menangani problem tersebut?
Setelah melalui proses konseling, kita harus tanyakan kepada remaja itu sendiri, apakah yang hendak mereka pilih. Dan negara harus menyediakan layanannya.

Bagaimana menurut Anda, Islam memandang permasalahan tersebut?
Sebagaimana nalar yang ada, seluruh persoalan seksualitas bagi remaja adalah berbentuk larangan- larangan, maka Islam akan memandang persoalan itu sebagai kesalahan remaja sendiri. Ini yang harus dipersoalkan, dengan mengenalkan cara pandang yang berbeda.

Bagaimana dengan upaya aborsi aman bagi mereka? Apa pandangan Islam?
Kalau pemenuhan kesehatan reproduksi dan seksual belum diberikan secara benar dan menyeluruh, negara mestinya melayani upaya tidak melanjutkan Kehamilan yang Tidak Diinginkan atau KTD itu. Kalau itu sudah menjadi kebijakan negara, karena kita menerima kehadiran negara, seluruh elemen masyarakat harus menerimanya.

Selama ini, menurut Anda bagaimana upaya yang telah diambil negara dan masyarakat luas terkait kesehatan reproduksi remaja ini?
Ya, negara masih bicara soal kesehatan reproduksi dan seksual dalam konteks pasangan suami-istri saja. Jadi belum secara tegas mengatur pemenuhan hak kesehatan reproduksi dan seksual bagi remaja. Seakan problem dorongan seksual hanya monopoli pasangan suami-istri. Negara tidak menyediakan jalan keluar bagi remaja dalam persoalan ini. Yang ada hanya normatif, melakukan kegiatan positif, olah raga, misalnya, dan lainnya.

Adakah kritik membangun menurut Anda, yang harus disampaikan pada negara, orang tua, masyarakat maupun komunitas agama, terkait isu kesehatan reproduksi remaja ini?
Yang paling utama, akuilah remaja itu sebagai entitas sosial, yang memiliki kepentingan sendiri sesuai dengan perkembangan fase hidupnya. Dengan demikian, tradisi bertanya kepada remaja bisa menjadi hidup, karena mereka bukan hanya obyek bagi orang dewasa.

Terakhir apa harapan Anda ke depan, terkait isu kesehatan reproduksi remaja di Indonesia?
Sudah saatnya negara secara formal memiliki agenda yang jelas berkaitan dengan pemenuhan hak kesehatan reproduksi dan sosial bagi remaja. Misalnya, mengambil kebijakan Kesehatan Reproduksi dan Seksual menjadi kurikulum dalam sekolah di semua jenjang pendidikan. Disarikan dari hasil wawancara, Hafidzoh Almawaliy



Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 03 September 2010 15:12 )  

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

13-14 Desember 2014. Monitoring PUP IV di PP Mambaul Huda, Salaman Magelang

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini116
mod_vvisit_counterKemarin1212
mod_vvisit_counterMinggu ini5196
mod_vvisit_counterBulan Ini26137
mod_vvisit_counterSemua1321668

Yang Online

Kami memiliki 19 Tamu online

Flag Contries

free counters