RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Friday
Apr 18th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Teropong Dunia Teropong Edisi 31 : Penggorganisasian ala Kaum Janda (Ibu Tunggal) Malaysia

Teropong Edisi 31 : Penggorganisasian ala Kaum Janda (Ibu Tunggal) Malaysia

E-mail Cetak PDF

Dalam suatu perjalanan saya ke Madura, Jawa Timur saya sempat tercengang dengan salah satu istilah yang saya dapatkan dari rekan-rekan di sana. Di Pulau Garam itu terdapat istilah Jamal yang merupakan singkatan dari  “Janda Malaysia”; untuk menyebut perempuan-perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya  merantau dan bekerja di negeri jiran Malaysia. Terkadang mereka terpaksa menjadi “janda” karena suami tak lagi kembali ke pangkuan mereka,  entah karena meninggal atau karena ditinggalkan begitu saja.

Namun, kali ini saya justru ingin melihat kondisi kaum janda di negeri jiran kita, Malaysia. Mengingat pemerintah Kerajaan Malaysia cukup lama memperhatikan kondisi mereka yang acapkali disebut dengan “ibu tunggal'. Pada tahun 2002-2003 semasa pemerintahan PM Dato Seri Dr.Mahathir Mohammad, kerajaan telah memberikan prioritas kepada ibu-ibu tunggal yang memiliki pendapatan kurang dari RM 600, untuk dapat memiliki rumah dengan biaya rendah secara berkelompok. Hal tersebut diungkapkan dalam Majlis Bicara Minda (forum dialog) antara Kementerian Pembangunan Wanita dan Keluarga dengan Majlis Pertubuhan Ibu Tunggal yang merupakan salah satu dari program  menyambut Hari Perempuan tahun 2002. Kurang lebih 1.300 orang ibu tunggal hadir dalam forum dialog ini.

Kaum perempuan kepala keluarga di Malaysia ini juga telah mengembangkan pemaknaan atas “ibu tunggal”. Definisi “ibu tunggal” tidak terbatas pada seorang perempuan yang telah menikah namun telah ditinggal mati atau bercerai dari suaminya saja. Namun terdapat pula beragam kondisi lingkungan yang menyebabkan seorang perempuan menjadi “ibu tunggal” yang perlu mendapatkan perhatian dari kementrian Perempuan, Keluarga, dan Pembangunan Masyarakat. Banyak tantangan yang dihadapi oleh kaum ibu tunggal ini ketika berperan sebagai kepala keluarga. Di antaranya  adalah bagaimana agar standar kehidupan mereka dapat lebih meningkat.

Beberapa ikhtiar yang dilakukan oleh ibu tunggal ini diantaranya adalah memperjuangkan agar mereka dapat menjadi pengelola rumah tangga paruh waktu dimana mereka juga tetap dapat menjaga anak-anaknya serta dengan mengembangkan ketrampilan seperti menjahit atau membuat kue, dan lain sebagainya. Selain itu mereka harus berjuang keras agar tetap dapat menghidupi keluarga mereka; mengingat terbatasnya kondisi ekonomi telah memaksa mereka untuk mengirim salah seorang diantara anak-anak mereka ke rumah yatim piatu (panti asuhan).

Terdapat cukup banyak organisasi perempuan yang beranggotakan ibu tunggal di Malaysia. Beberapa di antaranya adalah Islam Single Mothers Association Kuala Lumpur (Persatuan Ibu Tunggal Islam Kuala Lumpur) di Kuala Lumpur, Single Mothers Council Of Malaysia (Majlis Pertubuhan Ibu Tunggal Malaysia) di Selangor, Islam Women's Action Body (PERTIWI - Pertubuhan Tindakan Wanita Islam) di Selangor, Melati Putih Single Mothers Association (Persatuan Ibu Tunggal Melati Putih) di Kuala Lumpur, Single Mothers Club (Kelab Ibu Tunggal) di Kuala Lumpur, dan Single Mothers Association of  Federal Territory and Selangor (Persatuan Ibu Tunggal W/P dan Selangor). Secara rutin, organisai kaum ibu tunggal ini mengadakan pertemuan untuk saling  bertukar pikiran dan pengalaman serta belajar satu sama lain untuk tetap survive di dalam kehidupan.

Salah satu organisasi yang cukup vokal adalah  Federal Territories Muslim Single Mothers' Association. Dalam sebuah kesempata, ketuanya yaitu Haziah Haniza Abdul Wahab menyatakan seruannya kepada Kementerian Perempuan, Keluarga, dan Pembangunan Masyarakat agar menolong  organisasi persatuan ibu tunggal ini dengan  membentuk agen pengelola rumah tangga."Salah satu cara untuk mendukung peningkatan kehidupan anggota adalah dengan mendorong mereka menjadi pengelola rumah tangga paruh waktu. Agen-agen tersebut dapat mempekerjakan anggotanya dengan pengaturan waktu yang layak bagi para ibu tunggal.”

Selain itu dengan tawaran kementrian untuk memberikan pelatihan bagi para ibu tunggal ini untuk menjadi pengelola rumah tangga, agen-agen ini dapat menawarkan bantuan  mengenai urusan domestik yang tepat.” kata Haziah yang organisasinya memiliki 1.600-an anggota.

Haziah juga menyatakan bahwa ibu tunggal yang tidak memiliki pendidikan yang layak acapkali harus mencari beberapa pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Beberapa di antaranya menjadi karyawan kontrak sebagai pembersih toilet dan staf pengelola gedung dengan gaji yang amat kecil. "Sangat menakjubkan apabila kaum perempuan ini diberikan pilihan untuk mendapatkan pekerjaan yang tetap dan mendapatkan upah yang layak sebagai pengelola rumah tangga di dekat lingkungan tempat tinggal mereka”, tambahnya. Dia juga menyatakan bahwa kementrian juga dapat membantu para ibu tunggal ini dengan membangun  tempat penitipan anak. Hal ini dikarenakan organisasi ini  belum mampu membangunnya sendiri dan mereka sulit menjangkau tempat layanan serupa yang tempatnya berada di tengah kota.

Organisasi ibu tunggal ini juga merupakan bagian aktif dari gerakan perempuan di Malaysia. Bersama beberapa organisasi lain seperti Sisters in Islam, Women's Aid Organisation (WAO), All Women's Action Society dan lain-lain , kaum ibu tunggal yang tergabung dalam  Majlis Pertubuhan Ibu-ibu Tunggal Malaysia ini memprotes berbagai ketidakadilan dan kekerasan berbasis gender yang berlangsung di negerinya.

Salah satunya adalah melalui protes mereka atas adanya rancangan pemberlakuan hukum Hudud si Trengganu, salah satu Negara bagian Malaysia. Rancangan hukum Hudud ini telah mendiskualifikasi keberadaan perempuan dalam berbagai kasus tentang hudud dan qishas (hukuman pidana atas perbuatan yang sama; misalnya orang yang membunuh harus dibunuh pula). Padahal, ada kasus diterimanya kesaksian perempuan yang telah dirampok dan secara brutal dilecehkan (dituturkan dalam Muslim, Jamaul Fawaid Hadith No. 5231, 5233 and 5234) dan dalam kasus seorang perempuan yang diperkosa oleh orang yang tak dikenal dalam perjalanannya menuju ke masjid untuk menunaikan shalat jama'ah (diriwayatkan oleh Abu Daud and Tirmidhi).

Atas dasar-dasar pandangan itulah mereka menghimbau agar pemerintah negara bagian Trengganu untuk mengakhiri tindakan yang misoginis tersebut dan meyakini keabsahan hukum-hukum yuridis formal yang telah berlaku di Malaysia. Selain itu mereka mengharapkan agar praktik-praktik yang dilakukan tersebut dapat dipertanggungjawabkan melalui sebuah debat publik yang terbuka, untuk mengetahui apakah tujuan hukum Islam dapat dicapai dengan cara-cara yang demikian atau tidak.

Kembali ke negeri kita, …. barangkali juga telah banyak kaum janda, ibu tunggal, dan para perempuan kepala keluarga yang telah berjuang untuk meningkatkan kehidupan mereka.dan mereka telah membuktikan, bahwa mereka tidak semata butuh untuk “disantuni”,  namun juga diakui hak-haknya seperti warga negara yang lainnya. Dan mereka telah membuktikan bahwa kaum janda adalah manusia yang memiliki harkat dan martabat yang setara dengan manusia lainnya. Apa pun jenis kelamin maupun status perkawinan mereka. (AD. Kusumaningtyas)

Sumber Tulisan ;

  • http://www.dailyexpress.com.my/news.cfm?NewsID=71136
  • http://www.ehomemakers.net/en/article.php?id=800
  • http://www.asiaone.com/News/AsiaOne%2BNews/Malaysia/Story A1Story20090922-169109.html
  • http://poobalan.com/blog/borninmalaysia/2008/07/08/single-mothers-forced-to-put-children-in-orphanages/
  • http://www.johordt.gov.my/pmbj/v2/index2.php?option=com_content&task=view&id=603&pop=1&page=0&Itemid=29
  • http://www.wao.org.my/news/20020601jpshudud.htm










Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 03 September 2010 16:20 )  

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 19 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini76
mod_vvisit_counterKemarin906
mod_vvisit_counterMinggu ini3421
mod_vvisit_counterBulan Ini14895
mod_vvisit_counterSemua1052474

Yang Online

Kami memiliki 15 Tamu online

Flag Contries

free counters