Rumah tanggaku tergolong rumah tangga yang sangat harmonis. Saling pengertian dan saling mendukung satu sama lain sudah terjalin sejak kami menikah. “ Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan.” Itu adalah prinsip yang sering membuatku semangat ketika menghadapi suatu masalah.
Namun rumah tangga yang selama ini harmonis terusik. Entah datangnya dari mana, apa yang menyebabkan semua ini terjadi, aku sendiri tidak tahu jawabannya sampai sekarang. Allah memberikan satu lagi amanah pada kami. Anak kedua kami sebentar lagi akan lahir ke dunia. Tinggal menghitung hari saja.
Akhirnya hari yang di tunggupun datang, hari dimana anak ke dua kami lahir. “ Bayi laki-laki yang ganteng seperti bapaknya, “kata dokter yang menolong persalinanku.
“Allahu akbar, allahu akbar. Allahu akbar, allahu akbar…………..” Kudengar suamiku mengadzani putra kami..
*****
Hari-hari kami lalui bersama seperti biasanya. Meskipun banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan kami setelah kelahiran anak kami yang ke dua. Beban hidup jelas bertambah, pekerjaan rumah juga sangat banyak.
Dengan kondisi yang seperti ini, akhirnya aku mengurangi jam mengajarku menjadi lebih sedikit. Semua kulakukan demi anak-anak, agar aku lebih maksimal mendampingi perkembangan mereka.
Entah datang dari mana semua tragedi ini terjadi, peristiwa yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Suamiku berubah sejak anak kami yang kedua berumur lima bulan. Aku tak tahu, entah apa yang membuatnya berubah. Ketika di rumah ia sering disibukkan dengan telpon maupun SMS. Saat ber-SMS pun ia sering sembunyi-sembunyi. Semuanya di luar kebiasaan. Dan istilah “sepintar-pintarnya seseorang menyembunyikan bangkai; pasti akan tercium juga baunya” mungkin menjadi istilah yang pas untuk menggambarkan hal ini.
Pada suatu hari saat menjelang sholat Isya. Tiba-tiba terdengar suara dari HP suamiku berbunyi.
“Ning.. nong………..” aku sangat hafal bunyi SMS masuk di HP suamiku.
Tidak biasanya aku membuka SMS milik suamiku, tapi saat itu keinginan untuk membuka SMS itu begitu kuat. Tiba-tiba saja tanganku telah memencet tombol kotak masuk. Dan di situ tertulis pesan : ” Aku baik-baik saja sayang. Sakitnya juga sudah mulai berkurang……….”
Dag dig dug, jantungku berdetak kencang. Aku menahan perasaan dan berusaha agar sebisa mungkin tidak meneteskan airmata. “Siapa yang SMS ?” gumamku lirih.
“Mas, ada SMS, nih. ” Aku berusaha untuk tetap tenang dan tidak memancing emosi Mas Ari.
“Dari siapa, Mas?” aku masih mencoba untuk tenang.
“Bukan dari siapa-siapa……….” Mas Ari kelihatan gugup.
“Aku sudah membacanya tadi, kelihatannya dari seorang perempuan. ” Aku beranikan diri untuk bertanya meskipun dengan hati-hati namun mulai tidak bisa mengontrol emosi.“
“Katakan terus terang, Mas...siapa yang mengirim SMS tadi. Tidak mungkin cuma teman. Masa ada teman SMS ngomong sayang ?” Aku mulai tak terkontrol dan airmata juga mulai mengalir deras di pipiku.
“Braak....” Tiba-tiba mas Ari membanting kursi. Sesuatu yang sama sekali di luar kebiasaannya selama ini.
Bergegas aku masuk kamar menemui anak-anak, aku tidak ingin anak-anak terganggu karena keributan kami terutama anak sulung kami Fardan. Anak seumur Fardan pasti sudah bisa menangkap perkataan orangtuanya. Makanya aku urungkan untuk menyelesaikan masalah ini malam ini, mungkin besok saat Fardan sekolah.
Malam berjalan lamban sekali rasanya Aku juga tidak bisa memejamkan mata Terbayang saat mas Ari membanting kursi, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya Aku juga tidak melihat dia masuk kamar dan sepertinya dia lebih memilih tidur di kamar sebelah.
*****
Dua hari berlalu dan aku belum mendapatkan jawaban dari peristiwa malam itu. Mas Ari juga mulai menampakkan perubahannya. Biasanya setiap pagi ia makan sarapan masakanku; tetapi tidak dua hari ini. Mas Ari tidak sarapan di rumah. Bahkan sampai pada hari-hari berikutnya. Aku tidak begitu menghiraukan karena aku juga disibukkan dengan urusan anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Oleh karena di rumah tidak ada pembantu, aku harus bangun sebelum subuh agar semua pekerjaan selesai saat aku pergi bekerja. Farhan anak kedua kami juga harus ikut aku bekerja karena tidak ada yang jaga dia di rumah. Untuk membahas masalah SMS siapa waktu itu juga tidak ada waktu, karena aku juga tidak mau bertengkar di depan anak-anak.
“Mas, aku percaya padamu. Aku tahu kamu tidak mungkin mengkhianati pernikahan kita.” Aku membuka pembicaraan pada suatu sore.
“ Kalau iya, apakah kamu akan minta cerai dariku? ” jawab mas Ari.
“ Maksudmu?” mataku terbelalak tak percaya.
Kulihat Mas Ari masuk kamar dan merebahkan badannya di atas kasur. Aku mendekatinya, aku masih belum mengerti apa maksud dari semua perkataannya tadi.
“Apakah benar Mas telah mengkhianatiku?” tanyaku dengan suara sedikit meninggi.
“Maafkan aku, aku talah mengkhianatimu, Nis.” Jawab Mas Ari dengan gugup……..
“Entah kenapa dan kenapa semua ini terjadi, aku tidak tahu. Semua terjadi begitu saja. Aku salah Nis karena telah mengkhianati pernikahan ini. Tapi sungguh semua ini aku lakukan dengan terpaksa.” Mas Ari melanjutkan kata-katanya……….
“Lalu ….” Airmataku berlinang, aku tidak kuasa mendengar semua ini. Nafas seolah berhenti. Sesaat ku pandangi anak-anak. “ bagaimana nasib mereka, bisikku lirih.”
Mas Ari memelukku erat dan ku dengar dia juga menangis.
“Kami telah menikah, Nis.Kami saling menyayangi dan dia sedang mengandung anakku sekarang.”
Spontan ku lepas pelukan mas Ari. Airmataku mengalir semakin deras. Tidak ada yang bisa aku ucapkan kecuali menagis. Perasaan kecewa, marah, benci dan entah apa lagi semua bercampur jadi satu. Hancur sudah semua harapanku, rumah tanggaku.
Hari-hari berlalu aku lalui tanpa mas Ari, sejak semua terungkap dia pergi dari rumah. Entah kemana aku juga tidak tahu karena Mas Ari juga tidak memberitahuku. Saat Fardan anak sulung kami menanyakan ayahnya, aku jawab kalau ayahnya sedang keluar kota.
Sepuluh hari berlalu, aku tidak mungkin membiarkan masalah ini berlarut-larut. Semua harus diselesaikan. Akhirnya kuberanikan untuk menghubungi mas Ari.
“Tuuuuuut, tuuuut, tuuuuut……” telpon tersambung.
“Assalamu’alaikum…………………” terdengar suara dari kejauhan.
“Suara perempuan, siapa dia? Apakah dia perempuan yang saat ini menjadi istri Mas Ari?” batinku…………
“Wa’alaikum salam…….” Jawabku dengan nada gemetar dan linangan airmata…….
“Apakah saya bisa bicara dengan Mas Ari?” lanjutku memberanikan diri untuk menanyakan mas Ari. “Kenapa aku harus takut? Aku adalah istri sah Mas Ari. Hampir sepuluh tahun kami berumah tangga.” Batinku “Dari siapa, Mas Arinya masih mandi” jawab perempuan itu.
“Istrinya……”nada suaraku meninggi dan mulai emosi. Ingin aku melabrak perempuan itu, namun ku urungkan.
“Sampaikan padanya, aku tunggu malam ini di rumah!” aku langsung menutup telpon tanpa salam.
Ku rebahkan badanku di sofa, Farhan baru tidur sekitar satu jam yang lalu. Fardan sebentar lagi pulang sekolah. Sesaat terbayang saat kami membagi tugas rumah dan mengurus anak-anak. Biasanya Mas Ari yang menjemput Fardan. Tapi sudah sepuluh hari aku yang jemput Fardan.
Idza isytaddat bika al-balwa
Fafakkir fi alam nasyrah
Fa’usrun baina yusraini
Idza fakkartahu tafrah
Syair inilah yang sering kunyanyikan saat hati sedang sedih, syair yang ku dapat dari suatu pelatihan. Aku tersentak mendengar suara Farhan menangis dan tiba waktunya menjemput Fardan, batinku. Bersama anak-anak membuat aku lupa dengan masalah yang ada. Anak-anak adalah belahan jiwaku, mereka adalah nafasku, merekalah yang senantiasa membuatku lebih semangat dalam menjalani hidup.
“Apakah malam ini Mas Ari akan pulang?” Tanyaku dalam hati. Apakah pesanku disampaikan, entahlah. Gumamku lirih.
Aku merebahkan badan di samping anak-anak yang tertidur pulas………..
“ Tok, tok, tok….” Terdengar suara pintu rumah diketok orang…………….
“Apakah itu Mas Ari?” Aku bergumam sambil berjalan menuju arah pintu.
“Assalamu’alaikum, Nis…..”suara mas Ari mengagetkanku.
“Wa’alaikumsalam…..” jawabku sedikit gugup.
“Bagaimana kabar kamu dan anak-anak, Nis………..” Mas Ari memecah keheningan.
“Semua baik-baik saja tidak ada yang berubah. Hanya keberadaanmu yang tidak ada di rumah ini.” Jawabku datar.
Kulihat mas Ari membuka pintu kamar dan memandangi anak-anak lalu duduk di sofa. Aku masih terpaku memandang dan memperhatikan apa yang dilakukan mas Ari. Apa kira-kira yang akan disampaikan Mas Ari? Sudah tidak ada kabar baik lagi, semua menjadi kabar buruk setelah peristiwa itu.
“Nis, apa kau masih mau menerimaku kembali?” Mas Ari memulai pembicaraan. “ Maafkan aku jika selama ini tidak pernah menemuimu ataupun menelponmu. Bukan karena aku ingin melupakanmu dan anak-anak, tapi semua kulakukan karena aku ingin menenangkan diri. Aku telah bersalah padamu dan anak-anak. Aku minta maaf padamu dan anak-anak. Adakah pintu maaf buatku?” lanjut mas Ari.
“ Sesungguhnya apa yang Mas Ari lakukan tidak bisa aku maafkan. Semua begitu menyakitkan dan sampai saat ini hatiku masih sakit karena kau khianati.” Aku menjawab dengan nada gemetar. “ Hanya satu yang ingin ku tanyakan padamu mas, apakah kau bisa mengambil keputusan yang pasti terhadap aku dan anak-anak? Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini? Apakah kau akan tetap hidup bersama kami atau kau akan memilih hidup bersama perempuan itu? Kau tinggal memilih Mas, tetap hidup bersama kami dan kita mulai hidup baru, aku akan berusaha melupakan apa yang sudah kau lakukan atau kau akan lebih memilih perempuan itu tapi kau akan kehilangan aku dan anak-anak.” Lanjutku sambil menenangkan hati yang bergejolak.
“ Nis, pilihanmu sungguh sangat menyulitkan aku. Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan anak-anak. Dan untuk saat ini aku juga tidak bisa meninggalkan mereka.” Nis, aku mohon padamu jangan kau paksa aku untuk memberi keputusan itu sekarang. Aku akan membuat keputusan terhadap rumah tangga kita, tapi tidak sekarang. Tolong pahami posisiku, jangan kau buat aku memilih sesuatu yang berat untuk kuambil.” Mas Ari menjawab dengan linangan air mata. Belum pernah ku lihat dia menangis seperti itu.
“Bagaimana dengan posisiku? Aku juga butuh kejelasan dan kepastian darinya” jeritku dalam hati.
“Baiklah mas kalau kau masih belum bisa membuat keputusan untuk permasalahan ini, aku juga tidak akan menuntut banyak padamu. Aku hanya ingin kau ada saat anak-anak membutuhkanmu. Kau ada saat mereka bangun di waktu pagi hari dan kau juga ada pada saat menjelang mereka tidur.” Jawabku dengan sedikit bangkit dari tempat duduk.
“Sama halnya dengan yang kau sampaikan tadi. Aku juga tidak bisa memberikan kepastian apa pun padamu. Pada saatnya nanti kau akan tahu apakah cinta itu masih ada atau tidak” lanjutku.
“Apakah kau akan melupakanku, Nis?” tanya Mas Ari.
“Entahlah Mas, aku tidak tahu” jawabku singkat
“Kau sendiri tidak bisa memberikan keputusan yang pasti untuk masa depan rumah tangga kita, bagaimana aku yakin akan tetap menyayangimu suatu saat nanti?” Gumamku dalam hati.
“Kalau sudah tidak ada yang akan kau sampaikan lagi, silahkan pergi dari rumah ini karena aku juga harus istirahat besok berangkat pagi.” Nada suaraku sedikit mengusir dan aku bangkit dari tempat duduk yang sudah mulai panas.
“Malam ini aku akan bermalam disini, kau tidak keberatan kan?” Tanya mas Ari.
“Heeeeeeeeeeeeeeeeehhhhhh,” aku mendesah sambil mengernyitkan kening. ” Terserah” jawabku. ”Tapi kau tidur di kamar sebelah”, lanjutku dengan nada merintah.
“ Terima kasih, Nis” jawab Mas Ari.
Sejak malam itu, semua kehidupanku berubah. Sakit memang hati ini tidak bisa menikmati kebersamaan lagi, tapi inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Yang terpenting adalah anak-anak tidak pernah berpisah dari bapaknya. Minimal untuk saat ini, entah sampai kapan aku juga tidak tahu.
Dua bulan berlalu dengan begitu cepat, aku terus memutar otak berfikir keras agar aku bisa mandiri berdiri tegak tanpa tergantung pada siapapun, tidak pada Mas Ari ataupun yang lainnya. “Aku tidak ingin terpuruk gara-gara masalah ini.” Batinku.
*****
Gajiku yang hanya seratus lima puluh ribu rupiah tiap bulan tidak mungkin cukup untuk menghidupi kami bertiga. Ya meskipun aku juga sering dapat honor tambahan dari mengisi seminar dan pelatihan-pelatihan serta dari honor asisten dosen. Tapi semua itu tidak cukup. Mungkin sebelum masalah yang terjadi pada rumah tanggaku semua kebutuhan bisa diatasi, tidak saat ini. Anak-anak juga butuh vitamin dan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembang mereka yang memang masih dalam masa pertumbuhan.
Setelah beberapa hari merenung dan berfikir keras akhirnya aku dapat ide, “Berjualan batik dan aneka makanan khas Madura”. “Ya, dengan tabungan yang ada aku bisa memulai bisnis ini” gumamku lirih.
Hari berganti hari berlalu dengan cepat, jadwalku pun makin padat. Tidak ada waktu untuk santai. Saat ada waktu longgar di sekolah pun aku gunakan untuk order setrika, aku menyetrika baju teman-teman yang memang tidak punya pembantu.
“ Jatah dari suami kurang ya, Bu.Kok sampai kerja sambilan gitu?” tanya salah seorang temanku pada suatu saat.
“ He-eh” jawabku singkat tanpa memperhatikan ekspresinya. “Yang penting halal” lanjutku sambil berlalu.
“Besok saya ada acara bu Nisa, anak saya yang sulung akan menikah. Apakah saya bisa pesen krupuk, petis dan rengginang serta beberapa macam bahan kue?” tanya bu Endang sore itu melalui telpon.
“Oh sangat bisa sekali, Bu. Kapan diperlukan dan berapa banyak?”, jawabku dengan perasaan senang.
“50 pak rengginang dan krupuk, 5 kg petis dan 10 adonan untuk kue, semua dikirim tiga hari lagi, bisa?”
“ Insyaallah bisa, Bu……………”
“Makasih, Bu Anis. Assalamu’alaikum…”
“Sama-sama, Bu. Wa’alaikumsalam ...”
Alhamdulillah aku sudah mulai bisa mandiri dan menatap masa depan dengan pasti, bersama anak-anak tanpa tergantung pada siapapun terutama suamiku!
Dan hari-hariku selalu aku isi dengan senyuman semangat untukku dan anak-anak. “Ayo Fardan, berangkat sekolah nanti terlambat. Jangan sampai ada yang tertinggal dan jangan lupa berdo’a sebelum kita berangkat.” Aku memberi semangat pada anak sulungku, kulihat Farhan tersenyum dalam gendonganku.
Satu titik air mata menetes di kedua pipiku, ku usap segera. “Semangat, Nis. Jangan kau biarkan air matamu mematahkan semangatmu! Pekikku dalam hati.”
”Tit, tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.........”, kubunyikan klakson sepeda motorku, aku harus lebih semangat lagi dalam menjalani hidup ini. Meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi esok! Semua menjadi rahasia Tuhan! Aku hanya bisa pasrah pada-Nya.
Terima kasih Tuhan………………..terima kasih sahabat atas semua do’a dan dukungan kalian.[]


















