RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Saturday
May 25th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Cerpen Cerpen Edisi 35 : Antara Aku dan Tragedi Farah

Cerpen Edisi 35 : Antara Aku dan Tragedi Farah

E-mail Cetak PDF

Hari masih gelap ketika aku melipat mukena usai shalat shubuh. Jam dinding di kamar kosku masih menunjukkan pukul lima. Suara gemerincing air kran dari tempat wudlu maupun nada malas-malasan anak-anak kos yang lain terdengar juga terdengar jelas.  Pasti mereka sedang  antri kamar mandi dan air wudlu.
Mataku terasa berat. Pasti karena kelelahan setelah semalam memelototi layar laptop hingga jam dua pagi untuk menyelesaikan makalah Tafsir Ahkam yang harus aku bagikan pada seluruh teman kelas siang nanti sebagai bahan diskusi Senin depan. Jadwal kuliah hari ini jam sepuluh pagi. Masih ada waktu untuk kembali tidur sejenak serta mampir ke rental untuk nge-print dan meng-copy makalahku sebelum nanti  berangkat ke kampus.
Belum lagi aku berhasil menenggelamkan diri ke alam bawah sadar, tiba-tiba aku dengar suara berisik dari luar. Tak lama kemudian ada suara ketukan pelan di pintu kamarku. Ketika aku buka, kulihat Ema dan Ratna berdiri dengan wajah sedikit gugup.
"Maaf Kak, ganggu. Itu Kak, di kamar mandi..." kata Ema lirih sambil menunjuk ke arah kiri, diikuti anggukan Ratna.
"Ada apa di kamar mandi?" tanyaku penasaran. Aku berpikir ada anak yang terpeleset di kamar mandi, tapi aku tidak mau menebak. Biar mereka saja yang menjelaskan.
"Ada darah hitam kayak hati," kata Ratna.
"Darah hitam? Hati?"
Pikiranku sudah 'ngeres' saja bahwa telah terjadi pembunuhan di kosan ini, atau mungkin pembunuhannya dilakukan di luar sana, lalu badan korban dibedah dan hatinya dibuang di kamar mandi kosan ini. Waduh, sudah tidak aman kosan ini.
"Nggak tahu, Kak. Sepertinya bukan hati, tapi darah yang menggumpal. Besarnya seukuran hati ayam, tapi bentuknya nggak gitu," jelas Ratna.
Aku makin penasaran, lalu langsung menuju ke arah kamar mandi. Aku ingin melihat sendiri apa yang mereka ceritakan. Ema dan Ratna mengikutiku dari belakang dan menunjukkan di kamar mandi mana darah hitam itu berada. Tapi ketika aku sampai di kamar mandi yang dimaksud, darah itu sudah tidak ada.
"Udah Tika siram, Kak. Abisnya Tika jijik, terus udah kebelet pipis lagi," kata Tika yang baru keluar dari kamar mandi yang ditunjuk Ema dan Ratna.
"Gimana sih kok disiram? Kan kita mau tunjukin ke Kak Salma dulu," kata Ema jengkel.
"Sudah, nggak pa pa. Insyaallah Kakak faham kok, yang kalian ceritakan tadi," kataku melerai.
Aku kembali ke kamar dan memutar otak. Sepertinya ada salah satu warga kos ini yang baru saja mengalami keguguran. Tapi siapa yang hamil? Rata-rata anak kos ini masih S1 semester satu dan tiga. Mereka juga anak-anak yang baik dan taat beribadah, jadi rasanya tidak mungkin ada yang hamil di luar nikah. Ada beberapa sih yang S2, tapi rata-rata juga belum menikah, termasuk aku. Atau... Farah?
Farah adalah adik tingkatku, tapi usianya beberapa tahun di atasku. Posturnya yang mungil dengan warna kulit yang putih bersih membuatnya tampak lebih muda dibanding usianya. Ditambah lagi sikapnya yang sering kekanak-kanakan dan manja pada orang-orang tertentu, termasuk aku. Karena itu dia tidak mau aku panggil 'mbak' atau 'kak'. Sudah tujuh tahun dia menikah, tapi belum juga dikaruniai keturunan.
Tapi mana mungkin Farah hamil? Kemarin saja waktu aku ajak shalat berjama'ah tidak mau karena katanya dia lagi 'dapet'.
Lalu siapa dong? Mbak Risma? Mahasiswi S3 itu kan sudah menikah dan punya dua anak di Gorontalo sana. Tapi ya masa dia seceroboh itu sih? Lagian, kan dia sekarang lagi mengadakan penelitian di Bandung, jadi mana mungkin dia orangnya? Aah...aku bingung. Lebih baik aku mengamati keadaan secara diam-diam saja. Pelan-pelan, nanti akan terjawab juga teka-teki ini.

********

Waktu sudah menunjukkan beberapa menit sebelum adzan ashar ketika aku sampai di kamar kosku. Karena masih kelelahan akibat kurang tidur semalam,  dengan keadaan masih mengantuk aku paksakan diri untuk menuju kamar mandi.  Saat melewati kamar Farah yang berada tepat di samping kamarku,  kudengar suara isak tangis menerobos celah pintu yang tidak tertutup rapat. Meski penasaran, aku merasa tidak berhak untuk mencari tahu. Barangkali itu urusan pribadi.
”Salma, tolong ke kamarku dong...”
Farah memintaku lewat sms. Maka ketika 'ritual' Asharku selesai, aku segera menuju kamarnya.
Bau amis tercium kuat ketika aku memasuki kamar berukuran 2,5x3 meter yang dihuni Farah dan Sita ini. Ini pasti bau darah menstruasi Farah. Huh, dasar Farah. Mentang-mentang teman sekamarnya sedang pulang kampung, dia jadi santai saja dengan kejorokannya.
"Salma..."
Farah memelukku erat begitu aku sampai di dekatnya. Tangisnya tumpah ruah di pundakku, membuatku iba sekaligus bingung.
"Ada apa, Farah?" tanyaku ketika tangisnya sudah mulai reda.
"Aku keguguran," jawab Farah sambil melepaskan pelukannya.
Deg!!! Jadi Farah yang keguguran? Aku bahkan tidak tahu kalau dia sedang hamil. Ya, akhir-akhir ini aku memang jarang berinteraksi dengan teman-teman kos, termasuk Farah. Ketenggelamanku di perpustakaan berbagai kampus maupun perpustakaan umum untuk mencari bahan-bahan thesis telah membentangkan jarak antara aku dan teman-teman kosku, bahkan dengan kamar kesayanganku.
Kasihan sekali Farah. Sudah lima tahun dia dan suaminya mendambakan hadirnya momongan, namun ketika Allah memberikannya, diambil-Nya kembali sebelum sempat lahir ke dunia. Aku ingin menguatkannya, tapi aku tidak akan mengucapkan kata 'sabar' untuknya. Aku tahu kata itu terdengar klise saat kondisi seperti ini. Lebih baik aku berempati dengan cara yang lain.
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Kapan kejadiannya?"
"Pendarahannya sih sudah sejak beberapa hari yang lalu. Awalnya cuma bercak-bercak darah, lalu lama-lama darahnya keluar banyak. Tadi malam pendarahannya hebat, lalu tadi pagi keluar gumpalan. Yang diributkan anak-anak di kamar mandi tadi pagi itu darahku. Maaf..."
"Nggak pa pa, Farah. Terus, sudah periksa ke dokter?"
Farah menggeleng.
"Aku ada kenalan bidan dekat sini, bidan Dwiyani namanya. Dia teman kakakku waktu kuliah. Insyaallah nanti aku antar ke sana ya? Nanti kalau perlu pemeriksaan lebih lanjut kan bidan Dwiyani merujuk ke dokter"
Farah diam. Direbahkannya tubuh lemasnya di atas kasur.
"Orang keguguran itu harus diperiksa. Bagaimanapun, ada luka di dalam rahim Farah. Selain itu, pemeriksaan itu berguna untuk melihat apakah janin Farah masih ada di sana atau tidak. Kalau masih ada dan masih hidup, kan jadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya," kataku meyakinkan.
Farah masih diam. Sesaat kemudian tangisnya pecah lagi. Aku berusaha menenangkannya dengan mengelus pundaknya yang terguncang.
"Kenapa? O, ya, suami Farah sudah tahu tentang hal ini?" tanyaku.
"Sudah. Mas Jamal marah besar ketika aku ceritakan hal ini. Katanya aku tidak bisa menjaga diri. Bahkan dia sempat mengucapkan kata kasar. Dia bilang aku bodoh."
Astaghfirullaahal 'adhiim. Tega-teganya laki-laki yang bernama Jamal ini. Bukannya berempati istrinya mendapat musibah, malah marah dan berkata kasar. Itu kan membuat penderitaan Farah semakin bertambah. Memangnya dia tidak mengerti kalau Farah pun merasakan kesedihan yang sama? Bahkan mungkin Farah lebih terpukul. Lagi pula, dia mengatakan Farah bodoh? Yang benar saja!!! Farah selalu juara kelas sejak SD, dan kini dia kuliah S2 dengan beasiswa. Katanya dia itu laki-laki pintar agama, lulusan pesantren. Kok dia tidak tahu bagaimana memperlakukan istri sesuai ajaran Islam sih? Kan Alqur'an sudah berpesan "wa 'aasyiruuhunna bil ma'ruuf" (dan pergaulilah mereka/istri-istrimu dengan baik). Huh, aku jadi ingin marah saja. Tapi semoga saja kemarahan suami Farah itu hanya emosi sesaat karena syok kehilangan anak yang telah lama diidamkannya. Setelah dia melihat istrinya nanti, semoga emosinya akan hilang. Itulah harapanku.
"Kapan dia datang ke sini?"
"Hari ini dia harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor, lalu nanti malam insyaallah berangkat dari Semarang agar besok pagi bisa sampe sini. Tapi Salma, aku takut.  Aku tahu bagaimana dia kalau sudah marah,"
Melihat ekspresi Farah, aku bisa membayangkan bahwa suaminya adalah orang yang berkepala batu dan maunya menang sendiri. Huh, aku jadi geram. Duh Farah, kenapa hidupmu tak sebahagia namamu?
"Nggak pa pa, insyaallah nanti aku bantu ngasih penjelasan ke dia. Sekarang kita ke bidan ya? Farah siap-siap, aku juga mau ganti baju dulu,"
Farah mengangguk.

****************

Benar dugaanku, setelah bidan Dwiyani memeriksa Farah, beliau merujuk Farah ke rumah sakit untuk diperiksa dokter kandungan. Rumah sakit "Ananda" ini cukup besar dan ramai. Tapi, entah karena kondisi Farah tampak kritis atau karena Farah adalah rujukan bidan Dwiyani, dokter Sinta yang belakangan aku ketahui sebagai saudara sepupu bidan Dwiyani itu mendahulukan Farah untuk diperiksa. Dari layar USG  yang diposisikan agak tinggi aku bisa melihat keadaan rahim Sarah.
"Janinnya masih ada di dalam, tapi tidak ada kromosomnya," jelas dokter Sinta. Menurut dokter, secara medis kejadian itu disebut  Blighted Ovum (BO) alias kehamilan kosong.
"Lalu bagaimana selanjutnya, Dok?"  tanyaku sambil meminta saran.
”Janin itu harus dikeluarkan. Karena kalau dipertahankan pun percuma, dia tidak akan menjadi manusia."
"Kuret?"
"Ya"
"Ada cara lain selain kuret, dok?"
"Bisa sih dirangsang dengan obat agar keluar sendiri. Nanti kita lihat hasilnya. Kalau berhasil ya alhamdulillah. Kalau tidak, ya kita lakukan operasi kuretase."
"Berapa persen potensi keberhasilannya kalau dengan obat?"
"Sekitar dua puluh lima persen."
Dua puluh lima persen? Wah, kecil sekali. Padahal Farah kan harus segera sembuh agar dapat mengikuti ujian akhir semester dua minggu lagi.
"Gimana, dicoba pakai obat apa langsung operasi aja?" tanya dokter Sinta setelah melihatku agak lama terdiam.
Aku memberikan isyarat kepada Farah yang terbaring lemah di kasur pemeriksaan untuk meminta pendapatnya. Dengan lemah Farah menggeleng, tidak punya jawaban. Mungkin dia pasrah, atau mungkin tidak terlalu paham dengan apa yang aku bicarakan dengan dokter Sinta, karena back groundnya sejak kecil adalah pendidikan agama dan dia kurang tertarik dengan ilmu pengetahuan umum.
"Maaf Dok, suaminya sedang di luar kota, mungkin besok baru datang. Jadi, bagaimana kalau keputusannya ditunda dulu, biar kami berunding dulu dengan suaminya?"
"Baiklah. Tapi sebaiknya jangan lama-lama, segera ambil keputusan ya. Kasihan pasien."
"Ya, dok"
Aku tahu posisiku yang hanya teman bagi Farah. Tapi sejak mendaftar di klinik bidan Dwiyani tadi aku mengaku sebagai kakak Farah. Ini hanya untuk memudahkan urusan, biar terlihat pantas bahwa Farah datang ditemani kakaknya, ketika tidak ada suaminya. Aku lihat Farah pun nyaman-nyaman saja dengan pengakuanku itu. Dan saat ini akulah yang bertanggung jawab atas dirinya. Aku harus mengambil keputusan terbaik buat Farah. Maka, malam ini aku putuskan untuk membawa Farah kembali dan menginap di klinik bidan Dwiyani, karena suasananya lebih tenang. Kuambil tindakan ini untuk memulihkan kesehatan Farah dan mengembalikan kondisi bahannya yang membutuhkan asupan nutrisi yang bisa dia dapatkan melalui cairan infus. Aku hanya berharap agar suami Farah tidak menyalahkan tindakanku ini.

***********************

"Kan sudah dipesenin jangan terlalu cape. Hati-hati, jaga kesehatan kandungan. Sudah lama kita ingin punya anak. Sekarang setelah Allah memberikannya, malah disia-siakan begitu saja. Percuma dong siang malam berdoa dan berusaha ke sana ke mari. Makanya, keluar sajalah dari kuliah, biar nggak kecapean. Perempuan saja kok kuliah tinggi-tinggi. S1 itu sudah lebih dari cukup. Di dapur kan ilmu itu nggak kepake juga. Awas ya, kalo nanti jadi nggak hormat sama suami!!" kata suami Farah dengan nada jengkel dan marah bercampur jadi satu, begitu sampai di klinik.
Aku heran, kok ada ya suami macam dia. Jelas-jelas dia melihat istrinya sakit dan kondisinya lemah dengan jarum infus tertancap di tangannya. Ini bukannya menghibur dan memberi dukungan moril, tapi malah menyalahkan, pakai mengancam segala.
"Maaf, Mas. Saya nggak sengaja," kata Farah dengan nada bersalah.
"Mudah sekali bilang maaf. Memangnya dengan kata maaf bayi kita bisa hidup lagi?" nada suami Farah masih tinggi.
Duh Gusti… Manusia macam apa di depanku ini? Apakah dia sudah kehilangan hati nurani? Benar kata Farah, suaminya sangat keras dan emosional. Jarak Semarang-Jakarta tidak cukup memberinya kesempatan untuk berpikir positif dan menanam empati. Karena itu, aku menambahkan satu karakter padanya, yaitu egois.
Hhh… seperti inilah yang membuat aku takut berumah tangga. Aku takut salah pilih. Kalau orang sudah masuk ke gerbang pernikahan, pasti tidak bisa kembali lagi. Kalau kembali lagi, status jadi berubah. Janda. Dalam budaya yang masih sangat patriarkhis ini, predikat janda membuat seorang perempuan dianggap rendah.  Sementara duda tidak perlu dipusingkan dengan penilaian masyarakat akan predikat itu. Ah, betapa tidak adilnya budaya ini.
Tapi kalau sampai aku bernasib seperti Farah, bertahan dalam 'ketertidasan' yang dilakukan suami sendiri, pasti aku tidak akan kuat. Namanya orang menikah pasti mendambakan keluarga yang sakinah, penuh cinta dan kasih sayang. Dan itu hanya akan terwujud jika dalam keluarga itu tidak ada 'penindasan' oleh yang satu atas yang lain. Masing-masing anggota keluarga saling mengerti, memahami dan menyadari posisi, hak dan tanggung jawab masing-masing. Semua saling menghargai. Begitulah setahuku, kehidupan rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah.
"Maaf, boleh saya ikut bicara?" tanyaku pada suami Farah setelah emosinya terlihat reda. Mungkin itu karena berpuluh kata maaf yang diucapkan Farah.
"Saya tahu kondisi Farah yang sebenarnya. Kehamilannya bisa dikatakan tidak normal, Blighted Ovum atau kehamilan kosong. Janin yang tumbuh tidak memiliki kromosom, hanya terdiri atas placenta dan air ketuban, jadi tidak akan menjadi manusia. Kalaupun Farah tidak mengalami keguguran, janin itu tetap tidak dapat dipertahankan. Ini bukan salah Farah atau siapa-siapa, jadi kita semua harus memaklumi," kataku berhati-hati.
"Dari mana Mbak tahu?" tanya suami Farah dengan nada tidak suka. Mungkin di matanya aku terlihat sebagai orang bodoh yang sok pintar.
"Dokter yang memeriksa Farah yang mengatakannya. Kalau Mas tidak percaya, atau ingin tahu lebih jelas, nanti Mas bisa menanyakannya langsung ke dokter itu. Saya sendiri juga tahu sedikit tentang hal seperti ini. Kakak saya seorang bidan dan saya cukup interest terhadap masalah reproduksi perempuan. Jadi saya banyak belajar, baik dari kakak saya maupun dari buku."
Raut muka suami Farah tampak berubah setelah mendengar penjelasanku. Mungkin aku sudah kelihatan sedikit pintar di matanya, sehingga dia tidak berani bersikap semena-mena terhadapku (ehm). Hmm... Inilah saatnya aku berunding dengannya tentang langkah yang akan diambil selanjutnya, apakah Farah menjalani operasi kuretase, atau mencoba obat dulu. Aku memberikan beberapa keterangan untuk dijadikannya bahan pertimbangan. Ternyata suami Farah memilih untuk langsung operasi kuret saja, toh itu bukan operasi besar.
Sejak saat itu hingga operasi selesai, kulihat sikap suami Farah berangsur membaik. Dia tidak lagi kasar terhadap Farah, bahkan terlihat sayang. Aku tidak tahu apakah sikapnya itu tulus atau sekedar sandiwara di depanku dan segenap penghuni rumah sakit ini. Aku berharap bukan hanya kali ini dia bersikap sebaik itu, tapi di seluruh kehidupan pernikahan mereka selanjutnya nanti. Namun begitu, dari sorot mata dan sikap 'rikuh' Farah, aku masih belum melihat keindahan dalam keluarga yang dibentuk perempuan cantik nan pintar ini. Ironisnya, hal ini menambah daftar potret buram bahtera rumah tangga yang membuatku semakin sulit mengatasi ketakutanku untuk  memasukinya. Ah, apa yang terjadi pada diriku??[]

 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

5-6 April 2013 Workshop Bedah Modul Pengkaderan Ulama Perempuan di Yogyakarta

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini456
mod_vvisit_counterKemarin789
mod_vvisit_counterMinggu ini4429
mod_vvisit_counterBulan Ini22881
mod_vvisit_counterSemua777402

Yang Online

Kami memiliki 18 Tamu online

Flag Contries

free counters