RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Friday
May 24th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Refleksi Refleksi Edisi 35 : Rabi’ah dan Laila (Mengubah Dunia dengan Damai )

Refleksi Edisi 35 : Rabi’ah dan Laila (Mengubah Dunia dengan Damai )

E-mail Cetak PDF

Masih ingatkah lagu Perdamaian yang dinyanyikan Grup Qasidah Nasyida Ria belasan tahun yang lalu? “Perdamaian …perdamaian …banyak yang cinta damai …tapi perang main ramai….bingung-bingung aku melihatnya”

Saat ini “perang”, kekerasan, dan konflik menjadi sesuatu yang jamak, baik di wilayah publik, domestik maupun kehidupan pribadi. Meski ada banyak usaha untuk mengakhiri berbagai kelaliman tetapi kekuatan-kekuatan kultural maupun struktural baik berwajah ekonomi, politik dan budaya masih mencengkram.  Siapa korbannya? Kita semua tentunya, tetapi akhir-akhir ini  semakin banyak orang mengakui perempuan dan anak-anak adalah korban yang paling menderita.

Sebagai orang beragama pertanyaan yang penting diajukan adalah bagiaman peran agama dalam  konteks  ini? Sayang seribu kali sayang, jawabannya tidak terlalu menggembirakan.  Agama yang diharapkan sebagai suluh perdamaian ternyata masih didominasi atau lebih tepatnya cenderung ditafsirkan dan juga dipraktekkan dalam langgam yang pekat dengan kekerasan. Mengapa demikian? Mungkin salah satu jawabannya  karena agama terlampau  dimaskulinkan, dihitam-putihkan dan diorientasikan secara hukum semata.

Ditengah situasi ini, saya diingatkan kepada dua orang perempuan inspiratif.  Yang pertama adalah Laila Ahmad, professor studi perempuan pertama di  Harvard Divinity School,USA dan  yang kedua, seorang ulama Sufi luar biasa, Rabi’atul Adawiyah. Dua orang tersebut  berjuang menciptakan perdamaian dan keadilan, terutama keadilan bagi perempuan dengan cara damai dan dalam situasi yang tidak mudah. Mereka perlu diteladani.

Dalam memoarnya, Laila  bercerita tentang bagaimana Islam diperkenalkan oleh  sang nenek selama masa kecilnya. Ia  membedakannya dari "Islam resmi”  seperti yang dipraktekkan  dan disiarkan oleh elit agama yang sebagian besar laki-laki dan sangar. Laila juga  mengungkap perjalanan hidupnya yang penuh tantangan di Eropa dan Amerika Serikat. Ia mencoba untuk mendamaikan  identitas dirinya sebagai Muslim Mesir dengan nilai-nilai Barat. Ketika ia dihadapkan dengan rasisme dan prasangka anti-Muslim yang akut, Laila juga menghadapi masalah internal yaitu tradisi yang patriarkhis dan feodalistis berbungkus agama.

Diantara lembar-lembar bukunya,  Laila mengisahkan dan menafsirkan peran perempuan istimewa di khasanah sejarah Islam, perempuan sufi bernama Rabiatul Adawiyah. Dengan jalan “mistik ’ Rabi’ah menciptakan perdamaian. Kisah hidup Rabi'ah juga menegaskan bagaimana tasawuf memberikan perempuan Muslim  kesempatan yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam wacana Islam.

Adalah sebuah contoh yang menarik dalam hidupnya. Rabi’ah dilamar beberapa orang ulama  penting di zamannya, tetapi ia menolaknya. Rabi’ah memilih tidak menikah dan melakukannya dengan penuh keyakinan bahwa itu tetap “islami”. Meski ada  hadits Nabi yang menyatakan  bahwa jika seseorang tidak menikah berarti tidak mengikuti sunnah Nabi. Dan  barang siapa yang tidak mengikuti sunnah Nabi bukan termasuk golongannya (baca : tergolong sesat). Rabi’ah percaya ia tidak berdosa jika memutuskan tidak menikah karena hatinya hanya untuk Allah. Ia melakukan perubahan besar tanpa kekerasan.

Rabiah al adawiyah dan Laila Ahmad adalah  peace makers. Diantara pelajaran dari dua perempuan inspiratif diatas adalah perdamaian mensyaratkan sebuah jalan damai pula. Perdamaian itu bukan hanya tujuan tetapi juga cara atau proses bagaimana untuk mencapai tujuan.  Syukran katsiran  Rabiah dan Laila.[] (Farha Ciciek)

 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

5-6 April 2013 Workshop Bedah Modul Pengkaderan Ulama Perempuan di Yogyakarta

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini68
mod_vvisit_counterKemarin857
mod_vvisit_counterMinggu ini3252
mod_vvisit_counterBulan Ini21704
mod_vvisit_counterSemua776225

Yang Online

Kami memiliki 49 Tamu online

Flag Contries

free counters