Masih ingatkah lagu Perdamaian yang dinyanyikan Grup Qasidah Nasyida Ria belasan tahun yang lalu? “Perdamaian …perdamaian …banyak yang cinta damai …tapi perang main ramai….bingung-bingung aku melihatnya”
Saat ini “perang”, kekerasan, dan konflik menjadi sesuatu yang jamak, baik di wilayah publik, domestik maupun kehidupan pribadi. Meski ada banyak usaha untuk mengakhiri berbagai kelaliman tetapi kekuatan-kekuatan kultural maupun struktural baik berwajah ekonomi, politik dan budaya masih mencengkram. Siapa korbannya? Kita semua tentunya, tetapi akhir-akhir ini semakin banyak orang mengakui perempuan dan anak-anak adalah korban yang paling menderita.
Sebagai orang beragama pertanyaan yang penting diajukan adalah bagiaman peran agama dalam konteks ini? Sayang seribu kali sayang, jawabannya tidak terlalu menggembirakan. Agama yang diharapkan sebagai suluh perdamaian ternyata masih didominasi atau lebih tepatnya cenderung ditafsirkan dan juga dipraktekkan dalam langgam yang pekat dengan kekerasan. Mengapa demikian? Mungkin salah satu jawabannya karena agama terlampau dimaskulinkan, dihitam-putihkan dan diorientasikan secara hukum semata.
Ditengah situasi ini, saya diingatkan kepada dua orang perempuan inspiratif. Yang pertama adalah Laila Ahmad, professor studi perempuan pertama di Harvard Divinity School,USA dan yang kedua, seorang ulama Sufi luar biasa, Rabi’atul Adawiyah. Dua orang tersebut berjuang menciptakan perdamaian dan keadilan, terutama keadilan bagi perempuan dengan cara damai dan dalam situasi yang tidak mudah. Mereka perlu diteladani.
Dalam memoarnya, Laila bercerita tentang bagaimana Islam diperkenalkan oleh sang nenek selama masa kecilnya. Ia membedakannya dari "Islam resmi” seperti yang dipraktekkan dan disiarkan oleh elit agama yang sebagian besar laki-laki dan sangar. Laila juga mengungkap perjalanan hidupnya yang penuh tantangan di Eropa dan Amerika Serikat. Ia mencoba untuk mendamaikan identitas dirinya sebagai Muslim Mesir dengan nilai-nilai Barat. Ketika ia dihadapkan dengan rasisme dan prasangka anti-Muslim yang akut, Laila juga menghadapi masalah internal yaitu tradisi yang patriarkhis dan feodalistis berbungkus agama.
Diantara lembar-lembar bukunya, Laila mengisahkan dan menafsirkan peran perempuan istimewa di khasanah sejarah Islam, perempuan sufi bernama Rabiatul Adawiyah. Dengan jalan “mistik ’ Rabi’ah menciptakan perdamaian. Kisah hidup Rabi'ah juga menegaskan bagaimana tasawuf memberikan perempuan Muslim kesempatan yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam wacana Islam.
Adalah sebuah contoh yang menarik dalam hidupnya. Rabi’ah dilamar beberapa orang ulama penting di zamannya, tetapi ia menolaknya. Rabi’ah memilih tidak menikah dan melakukannya dengan penuh keyakinan bahwa itu tetap “islami”. Meski ada hadits Nabi yang menyatakan bahwa jika seseorang tidak menikah berarti tidak mengikuti sunnah Nabi. Dan barang siapa yang tidak mengikuti sunnah Nabi bukan termasuk golongannya (baca : tergolong sesat). Rabi’ah percaya ia tidak berdosa jika memutuskan tidak menikah karena hatinya hanya untuk Allah. Ia melakukan perubahan besar tanpa kekerasan.
Rabiah al adawiyah dan Laila Ahmad adalah peace makers. Diantara pelajaran dari dua perempuan inspiratif diatas adalah perdamaian mensyaratkan sebuah jalan damai pula. Perdamaian itu bukan hanya tujuan tetapi juga cara atau proses bagaimana untuk mencapai tujuan. Syukran katsiran Rabiah dan Laila.[] (Farha Ciciek)


















