RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Thursday
Apr 24th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Jaringan Pesantren AL-Ihya Ulumaddin Cilacap Hadir untuk Mencetak Ulama Perempuan : Jaringan Edisi 37

Pesantren AL-Ihya Ulumaddin Cilacap Hadir untuk Mencetak Ulama Perempuan : Jaringan Edisi 37

E-mail Cetak PDF

Sekilas Tentang Pesantren
Pesantren Al-Ihya Ulumaddin berdiri sejak 24 November 1925/1344 H oleh KH. Badawi Hanafi putra dari KH. Fadhil seorang tokoh agama di desa Kesugihan. Pesantren ini merupakan pesantren tertua di Cilacap Jawa Tengah. Pada mulanya, KH. Badawi mengajar ngaji di mushalla peninggalan ayahnya yang dikenal dengan mushalla ‘langgar dhuwur’. Kemudian, lama kelamaan, langgar tersebut didatangi banyak anak-anak, orang tua, dan masyarakat yang ingin menimba ilmu, kemudian dibangunlah pondok pesantren yang dikenal saat itu dengan nama ‘pesantren Kesugihan’.

Kegiatan pesantren ini makin berkembang seiring dengan banyaknya santri yang berdatangan dari berbagai daerah termasuk luar Jawa seperti Lampung, Kalimantan, Palembang, Aceh dan Medan. Pada tahun 1961, pesantren ini berubah nama menjadi Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam ( PPAI). Dan pada tahun 1983, kembali berubah nama menjadi Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin oleh KH Mustholih Badawi, putra dari KH. Badawi Hanafi. Perubahan itu dilakukan untuk mengenang KH. Badawi Hanafi yang sangat mengagumi pemikiran Al-Ghazali tentang pembaruan Islam.

Setelah KH. Badawi Hanafi wafat, kepemimpinan pesantren ini kemudian dilanjutkan oleh KH Ahmad Mustholih Badawi dan KH Chasbulloh Badawi, putra KH. Badawi. Dalam asuhan kedua kiai ini, pesantren mengalami perkembangan pesat sehingga lahir pula lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal. Setelah dibentuk yayasan tahun 1971 saat ini pesantren Al-Ihya membawahi 40 unsur lembaga pendidikan formal dari mulai TK (Tamana Kana-Kanak) sampai PT (Perguruan Tinggi). sedangkan pendidikan non formal juga dikembangkan yaitu: Madrasah Diniyah, dan majlis taklim. Ada tiga bentuk pengajian yang dikembangkan dalam pesantren ini yaitu: majlis taklim kliwonan (lima hari sekali), majlis taklim selasanan (satu minggu sekali), dan pengajian jum’at kliwonan (satu bulan sekali).

Sebagaimana umumya pondok pesantren salaf, pondok pesantren Al-Ihya Ulumaddin juga memiliki ciri khas sebagai pesantren salafiyah yaitu dengan menggunakan metode bandongan dan sorogan untuk mempelajari kitab-kitab kuning. Namun pesantren ini juga tergolong pesantren moderen dengan menyelenggarakan pendidikan formal baik yang mengacu pada kurikulum Kementrian Agama maupun Departemen Pendidikan Nasional. Karenanya, model pendidikan pesantren ini merupakan perpaduan antara pendidikan salafi dan modern. Saat ini setelah KH. Ahmad Mustholih wafat pada 1998, kepemimpinan pondok pesantren dipegang adiknya, KH Chasbulloh Badawi.

Peduli pada Kaderisasi Ulama Perempuan
Dalam sebuah acara di Pesantren Al-Ihya Ulumaddin Cilacap, KH. Chasbullah Badawi selaku pimpinan pesantren menyampaikan ungkapannya terkait dengan keberadaan ulama perempuan. Salah satu ungkapannya ”Kemarin-kemarin saya tidak sempat melihat, berpikir pun tidak pernah tentang ulama perempuan. Dan setelah kegiatan ini mudah-mudahan bisa dikembangkan istilah ulama perempuan tersebut. Karena hakikatnya dalam agama kesetaraan itu jelas dalam doktrinnya sumber yang paling asli.

Hanya saja dalam perjalanannya ada perbedaan-perbedaannya dalam hal budaya, dalam mendudukan laki-laki dan perempuan. Dasarnya jelas hadis Tholabul ilmi faridhatun ala-kulli muslimin wal muslimatin. Kalau yang mencari ilmunya laki-laki dan perempuan mestinya yang mengajarkannya juga ada yang kiai laki-laki dan kiai perempuan. Alhamdulillah dalam pengelolaannya pesantren ini tidak hanya ada dewan kiai tapi juga ada dewan nyai sebagai bentuk kesetaraan. Sebetulnya banyak perempuan-perempuan yang ahli tafsir, ahli hadis, ahli kalam, dan sebagainya. Mudah-mudahan di kemudian hari dengan banyaknya kajian seperti ini betul-betul akan lebih berkembang. Selama ini, dimana-mana pengajian yang banyak itu adalah perempuan, dan sebaiknya yang menyampaikan pengajiannya itu perempuan juga yang lebih faham model-model perempuan. Dan kita harus mulai hal yang seperti itu dikaji atau di tadarus-kan kepada santri-santri”.

Nampaknya, ungkapan KH. Chasbullah di atas tidak hanya sebagai ucapan atau motivasi saja bagi para peserta ulama perempuan yang hadir, dalam prakteknya pesantren Al-Ihya Ulumaddin telah melakukan upaya untuk mendorong para santri atau ibu Nyai untuk berkiprah bagi masyarakatnya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh ibu Nyai Hanifah Muyasaroh, istri dari KH. Suhud Muchson, Lc, yang merupakan ketua Yayasan dan keluarga besar pesantren Al-Ihya Ulumaddin. Dalam wawancara, penulis dapatkan bahwa Pondok pesantren Al-Ihya Ulumaddin saat ini telah mengakomodir perempuan untuk juga terlibat dan aktif di kepengurusan lembaga yang ada di bawah naungan pondok pesantren. Beberapa jabatan setrategis diemban oleh perempuan yang memang dianggap mempunyai keahlian di bidang tersebut. Misalnya, ada salah satu dekan perguruan tinggi Al-Ihya Ulumaddin yang dipegang oleh perempuan, kepala perpustakaan yang membawahi perpustakaan putra dan putri juga saat ini dikepalai oleh seorang perempuan, dan beberapa perempuan lain yang juga mempunyai kesempatan duduk di kepengurusan baik di lembaga pendidikan maupun ekonomi pesantren. Hal yang mengagumkan, pesantren Al-Ihya Ulumaddin ini sudah bisa menerima penceramah perempuan untuk mengisi acara besar pesantren yang diikuti oleh laki-laki dan perempuan baik dari kalangan pesantren maupun masyarakat sekitar. Hal ini seperti yang dilakukan pada saat acara peringatan tahun baru hijriyah 1433 kemarin di Aula Pondok Pesantren.

Saat ini pesantren Al-Ihya memiliki jumlah santri putra sekitar 800 orang dan jumlah santri putri sekitar 300 orang yang diasramakan. Secara fisik kedua asrama ini dibangun secara terpisah. Kendati demikian, secara kurikulum keduanya baik santri laki-laki dan perempuan mempunyai kurikulum yang sama. Misalnya untuk ilmu alat: kelas 1 kitab alatnya menggunakan Kitab Jurumiyah, untuk kelas 2 kitab alatnya imriti, dan kelas 3-nya kitab alatnya alfiyah. Kitab lain yang juga diberikan kepada semua santri putra dan putri adalah kitab Al-Ihya Ulumuddin karya monumentalnya Imam Al-Ghazali, juga berbagai kitab tafsir lainnya, sebagai bekal para santri kelak di masyarakat. Sebagai pesanten salaf yang masih mempertahankan tradisi kitab kuning, peantren ini menjadi pesantren yang keberadaannya sangat diperhitungkan khusunya di kalangan Nahdlatul Ulama. Salah satu buknya adalah pada tahun 1987, pesantren ini pernah menjadi tuan rumahnya Musyawarah Nasional (MUNAS) Alim Ulama NU.

Di pesantren, meski tidak menggunakan istilah ‘gender’ secara langsung, namun masing-masing santri putra dan putri ada kajian yang salah satu isinya adalah masalah kesetaraan. Isi kitab yang menjadi bahan kajian misalnya kitab Uqud al-Lujjayn karangan Imam Nawawi Banten. Sebagai perbandingan dari isi kitab tersebut, para santri diajak membaca buku lain yang ada di perpusatakaan seperti buku karya: Asghar Ali Engineer, KH Husein Muhammad, Mansour Faqih,dll yang membahas isu yang sama seperti yang tertuang dalam isi kitab karya Imam Nawawi Banten. Dengan menggunakan metode diskusi, tak jarang para santri putri seakan mempunyai spirit untuk bangkit dan membuktikan kemampuannya.

Dengan bekal pendidikan dan keterampilan yang hanya didapat di pesantren, tidak sedikit santri putri menorehkan prestasi yang mengharumkan nama pesantren. Misalnya ketika ada promosi beasiswa untuk perguruan tinggi, santri putri lebih banyak mendapatkan beasiswa tersebut daripada santri putranya. Pada tahun 2009 santri putri mendapatkan beasiswa kedokteran di UIN Jakarta, kemudian pada tahun yang sama ada 2 santri putri yang mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Al-Azhar.

Pesantren Al-Ihya ini tidak hanya mempunyai perhatian terhadap masalah kesetaraan, pesantren ini pun mempunya kepedulian dengan masalah kesehatan. Bekerjasama dengan produk pesantren kesugihan mendirikan “Pusat Informasi Keluarga Maslahah“ dengan aktifitasnya antara lain: pelayanan kesehatan reproduksi, pelayanan informasi untuk gizi anak, dan layanan konsultasi keluarga maslahah. Selain itu, masih banyak inisiatif-inisiatif yang sudah dilakukan.

Semoga ikhtiar yang dilakukan oleh pesantren Al-Ihya Ulumaddin inimembuahkan hasil mencetak generasi dan bangsa yang cerdas dan senantiasa menjunjung tinggi martabat perempuan dan kemanusiaan. [Vera Sopariyanti]



Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 27 September 2012 08:55 )  

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 19 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini203
mod_vvisit_counterKemarin776
mod_vvisit_counterMinggu ini2544
mod_vvisit_counterBulan Ini19718
mod_vvisit_counterSemua1057298

Yang Online

Kami memiliki 28 Tamu online

Flag Contries

free counters