RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan


Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/templates/ja_teline_ii/index.php on line 113
Friday
Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/templates/ja_teline_ii/index.php on line 114

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/templates/ja_teline_ii/index.php on line 114

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/templates/ja_teline_ii/index.php on line 114
Aug 01st
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Tafsir Pernikahan Dini : Tafsir Edisi 38

Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198

Pernikahan Dini : Tafsir Edisi 38

E-mail Cetak PDF

Menikahkan anak dalam usia dini, berarti juga mengondisikan mereka untuk melakukan atau diperlakukan sebagai orang dewasa.  Melakukan hubungan seksual adalah salah satu konsekuensinya. Dengan demikian, seorang anak (terutama anak perempuan) yang dinikahkan secara dini tidak saja akan berhubungan seksual sebelum waktunya, melainkan juga hamil, melahirkan, dan menyusui yang seharusnya hanya dilakukan orang dewasa.

Alat reproduksi perempuan dalam usia anak belum semuanya matang sehingga belum sepenuhnya siap untuk difungsikan. Ketika dipaksakan, maka anak perempuan dapat mengalami gangguan berupa rasa sakit yang sangat ketika berhubungan seksual, gangguan kehamilan dan melahirkan karena pinggul yang sempit, bahkan munculnya penyakit yang mematikan. Secara mental, mereka juga belum siap untuk melaksanakan peran dan tugas baru baik sebagai isteri maupun ibu ibu. Pernikahan dini memaksa seorang anak melakukan tindakan yang semestinya hanya dilakukan oleh orang dewasa. Mestinya, anak-anak harus lebih banyak bermain dan belajar mengenai kehidupan tanpa dibebani apapun.

Pernikahan Dini dalam Wacana Fiqh

Masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia mempunyai tradisi untuk menikahkan anak di usia dini. Beberapa masyarakat di Indonesia mempunyai tradisi menjodohkan anak sejak bayi meski mereka belum mempunyai kesadaran hidup sebagai manusia. Memang menurut aturannya, begitu masuk usia baligh mereka mempunyai hak pilih untuk menerima atau menolak pernikahan tersebut. Namun relasi kuasa yang tidak seimbang, baik antara anak yang baru masuk usia baligh dengan orangtua mereka maupun relasi kuasa antar calon besan, menyebabkan pendapat anak kerap dipandang tidak penting. Sementara itu, anak-anak sendiri sejatinya juga belum mengerti makna pernikahan dengan  konsekuensi hak dan kewajiban sebagai suami isteri.

Praktek pernikahan anak di usia dini yang marak terjadi di kalangan masyarakat Muslim merupakan konsekuensi pandangan dalam Fiqh yang pada umumnya menganggap sah. Di dalam literatur Islam klasik, sebenarnya tidak disebutkan berapa batas usia dalam sebuah pernikahan. Mushtafa Al-Siba’i dalam  Al-Mar’ah Baina al-Fiqh wa al-Qanun menyebutkan tiga pendapat ulama tentang pernikahan anak.

Pendapat pertama membolehkan secara mutlak pernikahan dini baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Dasarnya adalah QS. al-Thalaq/65;4 sebagai berikut:

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِن نِّسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ

Alasan lainnya adalah riwayat tentang pernikahan Rasulullah saw. dengan Aisyah ra. yang ketika itu berusia 9 tahun, dan praktik-praktik pernikahan anak yang dilakukan oleh para sahabat Nabi.

Pendapat kedua membedakan antara pernikahan dini bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Ibn Hazm Al-Zhahiri misalnya hanya membolehkan pernikahan dini pada anak perempuan karena dalil-dalil yang ada menurutnya hanya tentang anak perempuan, sedangkan analogi anak laki-laki kecil dengan anak perempuan kecil menurutnya tidak boleh.

Pendapat ketiga melarang pernikahan dini secara mutlak baik bagi anak laki-laki maupun bagi anak perempuan. Seorang wali tidak boleh menikahkan anak kecil, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Pernikahan pada usia dini ini batal dan tidak memiliki pengaruh hukum sama sekali. Ini adalah pendapat Ibn Syubrumah, Abu Bakar al-Asham dan Utsman Al-Batty.  Alasan mereka adalah QS. al-Nisa/4:6 sebagai berikut :

وَابْتَلُواْ الْيَتَامَى حَتَّىَ إِذَا بَلَغُواْ النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْداً فَادْفَعُواْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ

Ayat ini menjelaskan bahwa usia pernikahan adalah berakhirnya masa kecil. Hal ini berarti bahwa sebelum sampai pada usia baligh, tidak boleh ada pernikahan. Jika tidak, maka makna pembatasan di sini menjadi tidak ada. Di samping itu, perwalian atas anak kecil mempunyai tujuan untuk menjamin dan mewujudkan kemaslahatan sehingga tidak diperbolehkan ada perwalian atas anak kecil pada hal-hal yang tidak mengandung maslahat bagi mereka, apalagi padahal yang memberikan mudharat pada mereka. Perwalian pada anak kecil dalam pernikahan tidak memberi manfaat pada mereka karena terpenuhinya kebutuhan seksual dan memperbanyak keturunan yang dipandang sebagai maksud pernikahan belum dimiliki dan belum bisa dirasakan oleh anak kecil.

Riwayat tentang pernikahan Rasulullah saw. dengan Aisyah ra. adalah bagian dari hal yang hanya dikhususkan untuk Rasulullah saw. Di samping itu, pernikahan tersebut dan juga pernikahan serupa yang dilakukan oleh para sahabat beliau terjadi sebelum ada perintah meminta izin dari anak gadis atau meminta persetujuan secara jelas kepada seorang janda ketika mereka akan dinikahkan.  Menurut Musthafa As-Siba’i tidak diragukan lagi bahwa hikmah disyariatkannya pernikahan menguatkan pendapat ini dan tidak ada maslahat yang bisa diambil dalam menikahkan anak yang masih kecil, bahkan sebaliknya hanya akan melahirkan madharat.  

Usia menikah dalam wacana tafsir
Alquran tidak menyebutkan secara spesifik pada usia berapa seseorang sebaiknya menikah. Namun ada dua ayat yang kerap dikaitkan dengan usia pernikahan sebagaimana terlihat dalam wacana Fiqh di atas. Pertama adalah surat ath-Thalaq/65:4 sebagai berikut:

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Ayat di atas turun terkait dengan pertanyaan para sahabat tentang iddahnya perempuan yang tidak haid karena ayat yang turun sebelumnya yaitu al-Baqarah/2:228 hanya menjelaskan mereka yang haid. Para mufasir berbeda pendapat dalam menjelaskan kata وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ yang menjadi kata kunci terkait dengan pernikahan dini ini. Ath-Thabari (224-310 H) dalam kitab tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an mengartikan kata ini dengan perempuan yang belum haid karena masih kecil.  Penjelasan senada disampaikan pula oleh Jalaluddin al-Mahalli dan as-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain, Ibnu Katsir (700-774 H) dalam Tafsir al-Qur’an al-Adhim, dan Al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani.

Penjelasan yang sedikit berbeda antara lain disampaikan oleh Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith yang memaknai وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ dengan perempuan yang belum haid karena masih kecil dan perempuan yang tidak haid sama sekali meskipun sudah dewasa.  Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Abdurahman bin Nashir bin as-Sa’di dalam Taisiru al-Karim ar-Rahman fi Tafsir al-Kalam al-Manan, Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir, Abu Bakar Al-Jazairi dalam Aysaru at-Tafasir.

Para mufasir pada umumnya tidak mengaitkan penjelasan makna kata kunci ini dengan boleh tidaknya menikahkan seorang anak. Sebaliknya dalam Fiqh, pemaknaan atas kata kunci ini cukup menentukan. Ketika kata ini diartikan perempuan kecil yang belum haid, maka dipahami sebagai pembolehan pernikahan anak di usia dini dengan alasan jika iddahnya anak kecil yang belum haid saja diatur dalam Alquran, maka hal ini berarti bahwa menikahkan anak kecil adalah boleh. Sebaliknya jika kata ini diartikan dengan perempuan dewasa yang tidak mengalami haid sama sekali (البالغات اللاتي لم يأتهن حيض بالكلية), maka pemaknaan ini tidak dapat dijadikan dasar pembolehan pernikahan anak perempuan di usia dini atau usia sebelum haid. Sayangnya pendapat kedua ini kurang populer dibandingkan pendapat yang pertama.

Ayat kedua yang dipandang terkait dengan usia pernikahan adalah an-Nisa/4:6 sebagai berikut:

وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آَنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا 

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

Ayat di atas menyebutkan tentang kapan seorang wali agar bersiap-siap memberikan wewenang kepada anak yatim untuk mengurus sendiri hartanya, yaitu ketika mereka sudah mencapai  usia untuk menikah (حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاح). Para mufasir berbeda pendapat dalam mengartikan kata ini. Menurut ath-Thabari kata ini bermakna mimpi basah.  Jalaluddin as-Mahalli dan as-Suyuthi mengartikan sudah mimpi basah atau sudah genap berusia 15 tahun sebagaimana pendapat Imam Syafi’i.   Ibnu Katsir mempunyai pendapat yang sama yaitu mimpi basah atau genap berusia 15 tahun.  Al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani lebih mengutamakan pendapat yang mengatakan bahwa usia menikah bagi anak merdeka adalah 18 tahun sedangkan bagi budak adalah 17 tahun.  Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf dalam Tafsiru al-Bahr al-Muhith menyebutkan pendapat an-Nakhoi dan Abu Hanifah yang mengatakan bahwa anak yatim tersebut harus ditunggu hingga berusia 25 tahun.

Pendapat para mufasir di atas menarik untuk dicermati karena menyebutkan usia minimal seseorang anak yatim baik laki-laki atau perempuan dipandang telah mampu mengelola sendiri hartanya. Alquran  menyebut agar mereka diuji apakah bisa melakukannya atau tidak pada saat mereka telah sampai di usia menikah (حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ) dan para mufasir menyebutkan usia 15, 17, 18, hingga 25 tahun. Sayangnya pendapat ini tidak dijadikan dasar bagi pentingnya usia minimal pernikahan di dalam fiqh padahal mengelola rumah tangga baik pengaturan nafkah, jumlah dan jarak anak dalam keluarga agar bisa membesarkan mereka secara berkualitas, dan pemenuhan segala kebutuhan anggota keluarga baik fisik, mental, dan spiritual agar bisa mereka dapat merasakan sakinah, mawaddah, wa rahmah dalam keluarga sepanjang usia perkawinan yang tentunya jauh lebih penting daripada sekedar mengelola harta warisan yang dimiliki anak yatim.

Menegaskan Larangan Pernikahan Dini

Salah satu argumentasi yang disampaikan oleh para ulama tentang bolehnya pernikahan dini adalah adanya pengaturan Alquran tentang iddahnya perempuan yang belum haid. Logika ini menarik untuk direnungkan karena ayat-ayat Alquran tidak hanya mengandung pesan ideal atau sesuatu yang dimaksudkan agar terjadi di sepanjang masa. Melainkan juga mengandung pesan kontekstual yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk praktis atas problem kongkrit yang ada saat itu.

Pertanyaannya adalah apakah pengaturan Alquran tentang iddah perempuan yang belum haid menunjukkan bahwa Alquran mengidealkan kondisi dimana perempuan diperbolehkan menikah sebelum haid; ataukah memberikan petunjuk praktis atas kondisi riil saat itu ? Dimana saat itu ada banyak anak perempuan dinikahkan, disetubuhi, kemudian diceraikan pada saat mereka belum haid, tanpa dimaksudkan agar selamanya pernikahan semacam ini ada? Pertanyaan serupa dapat diajukan atas fakta bahwa ada banyak sekali ayat Alquran yang mengatur perbudakan. Apakah Alquran mengidealkan sebuah komunitas dimana perbudakan diperbolehkan yang oleh karena itu mesti diatur? Ataukah pengaturan perbudakan hanyalah petunjuk praktis untuk mengatasi perbudakan yang nyata-nyata ada pada masa itu tanpa dimaksudkan agar selamanya ada?

Banyaknya ayat tentang pengaturan perbudakan di mana tidak ada satu pun yang tegas melarangnya tentu tidak bisa dipahami sebagai pembolehan adanya perbudakan apalagi bahwa kondisi ideal masyarakat Muslim adalah mempunyai sistem perbudakan. Pengaturan budak oleh Alquran hanya menunjukkan bahwa perbudakan adalah persoalan riil yang memerlukan petunjuk kongkrit untuk mengatasinya tanpa dimaksudkan pembolehan memperbudak sesama manusia. Demikian halnya dengan pengaturan iddah anak perempuan yang belum haid. Jika pun وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ diartikan perempuan kecil yang belum haid, maka hal hanya menunjukkan bahwa ketika itu anak perempuan kerap dinikahkan, disetubuhi, kemudian dicerai pada masa mereka belum mengalami haild sehingga semestinya tidak dipahami sebagai pembolehan untuk melakukannya.

Alquran dalam QS. an-Nisa/4:21 mengisyaratkan bahwa pernikahan adalah sebuah komitmen yang harus dijaga dengan baik dan tidak boleh dipermainkan dengan menyebutnya sebagai janji yang kokoh (mitsaaqan ghalidha). Allah menyebut kata ini hanya dalam tiga konteks. Dua lainnya adalah janji Allah swt. dengan para Rasul as. (Qs. al-Ahzab/33:7) dan janji Rasul Musa as. dengan umatnya (QS al-Nisa/4:154). Untuk mempunyai komitmen sekuat ini, tentu diperlukan kesiapan fisik dan mental calon mempelai yang ditandai oleh umur yang cukup.

Dalam Fiqh, kedewasaan anak dijelaskan melalui konsep baligh. Baligh anak perempuan ditandai dengan menstruasi (haidl), sedangkan laki-laki ditandai dengan mimpi basah (ihtilam). Seorang anak yang sudah baligh dipandang telah dewasa sehingga bisa dibebani kewajiban agama (mukallaf). Menstruasi dan mimpi basah mungkin cukup untuk dijadikan indikator kedewasaan fisik dalam kaitannya dengan shalat, zakat, puasa, dan haji karena apa yang harus dilakukan dalam kewajiban agama tersebut tidak memerlukan kematangan fisik secara sempurna bahkan anak yang belum menstruasi dan mimpi basah pun banyak yang bisa melakukannya. Namun demikian, mentruasi dan mimpi basah tidaklah cukup sebagai tanda kedewasaan seorang anak untuk menjalankan kehidupan pernikahan.

Laki-laki dan perempuan juga sama-sama perlu kedewasaan (baligh) secara mental dan sosial untuk menikah. Pernikahan tidaklah hanya terkait dengan hubungan seksual, melainkan juga lahirnya anak-anak dengan berbagai implikasi hak dan kewajiban yang juga perlu dipersiapkan secara matang oleh orangtua. Pernikahan anak harus dicegah tidak hanya karena dapat melahirkan mudharat bagi anak, terutama anak perempuan baik secara fisik maupun psikis, tetapi juga mudharat bagi masyarakat karena lahirnya generasi tidak tumbuh dalam lingkungan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah yang mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan fisik dan psikis dengan baik.[]

Terakhir Diperbaharui (
Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 117

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 245

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 249

Warning: strftime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 250
Senin, 11 Juni 2012 09:30 )
 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 26 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung


Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/modules/mod_vvisit_counter/helper.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/modules/mod_vvisit_counter/helper.php on line 57

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/modules/mod_vvisit_counter/helper.php on line 58

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/modules/mod_vvisit_counter/helper.php on line 59

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/modules/mod_vvisit_counter/helper.php on line 60

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/rahimaor/public_html/modules/mod_vvisit_counter/helper.php on line 63
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini165
mod_vvisit_counterKemarin1041
mod_vvisit_counterMinggu ini4269
mod_vvisit_counterBulan Ini165
mod_vvisit_counterSemua1153448

Yang Online

Kami memiliki 29 Tamu online

Flag Contries

free counters