RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Wednesday
Oct 22nd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Tafsir Pendidikan Perempuan : Tafsir Edisi 39

Pendidikan Perempuan : Tafsir Edisi 39

E-mail Cetak PDF

Pendahuluan
Pendidikan merupakan suatu proses yang disengaja yang dilakukan orang yang sudah dewasa yang berperan sebagai pendidik kepada peserta didik, baik anak-anak, remaja ataupun dewasa agar bisa menjadi insan kamil, yaitu manusia yang dapat menjalankan perannya sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi. Tentu saja yang dimaksud dengan manusia di sini adalah laki-laki dan perempuan, bukan hanya laki-laki saja.

Tentang fungsi manusia sebagai khalifah di bumi di antaranya dinyatakan dalam Alquran Surat (QS) 2: 30:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Ayat lain tentang fungsi manusia sebagai khalifah diterangkan pula dalam QS Al-An`am (6): 165:

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat-ayat di atas tidak menspesifikasi bahwa yang menjadi khalifah itu harus berjenis kelamin laki-laki. Artinya, baik perempuan maupun laki-laki sama-sama berfungsi sebagai khalifah di bumi. Yaitu sebagai pengelola alam semesta agar kehidupan di bumi ini aman, sentosa, sejahtera dan berkelanjutan.

Inklusivitas Alquran atas jenis kelamin laki-laki dan perempuan telah dipaparkan oleh Amina Wadud dalam bukunya Qur'an and Woman, yang pernah saya sampaikan di Swara Rahima no 34 Th. XI Maret 2011. Yaitu bahwa dalam bahasa Arab, jamak mudzakkar atau plural laki-laki termasuk di dalamnya adalah perempuan kecuali ada petunjuk bahwa bentuk plural tersebut hanya untuk laki-laki. Misalnya, kata  mu’minuun artinya adalah orang-orang yang beriman baik laki-laki ataupun perempuan, kecuali ada petunjuk lain yang menunjukkan bahwa maksud kata tersebut memang hanya merujuk pada laki-laki saja, misalnya dengan disebutkannya kata mu’minat setelahnya seperti dalam ayat wal-mu’minuuna wal-mu`minaat. Jadi, kata khalifah mencakup baik laki-laki ataupun perempuan, kecuali jika ada petunjuk lain bahwa kata tersebut hanya khusus untuk laki-laki. Dalam kedua ayat di atas, seperti halnya kebanyakan ayat-ayat Alquran lainnya, tidak disebutkan secara spesifik bahwa kata tersebut hanya untuk laki-laki, sehingga berlaku baik untuk laki-laki ataupun perempuan. Penyebutan khusus perempuan setelah laki-laki lebih sering sebagai penegasan bahwa perempuan termasuk di dalamnya. Penegasan ini penting karena berbeda dengan budaya patriarkis yang menganggap bahwa hanya laki-lakilah yang lebih utama, sementara Islam membawa pesan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Perlu pula ditegaskan di sini bahwa, meskipun Alquran menggunakan bahasa Arab, yang kental dengan budaya patriarkisnya, ini tidak berarti bahwa nilai-nilai yang dibawa Alquran bersifat patriarkis. Bahasa Arab hanyalah alat atau sarana yang digunakan Allah dalam mengkomunikasikan pesannya melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, yang kebetulan berbahasa Arab. Menurut Asma Barlas, dalam bukunya “Believing Women” in Islam. Unreading Patriarchal Interpretations of the Qur’an (Austin: University of Texas Press, 2002), Islam justru merupakan agama yang anti budaya patriarkis. Hal ini, misalnya tergambar dalam kisah Ibrahim, yang demi ketaatannya kepada Allah, ia memilih meninggalkan ayahnya yang bekerja sebagai pembuat berhala dan menyembah berhala-berhala tersebut. Ayah, dalam budaya patriarkis merupakan figur utama (central figure), sementara figur lain selain ayah, misalnya istri dan anak-anak, dianggap sekunder yang keberadaannya hanya didedikasikan untuk kepentingan the patriarch, the father, yang menjadi figur utama dalam budaya patriarkis. Misalnya, dalam budaya patriarkis, istri diposisikan sebagai pelayan, penghibur dan pendukung suami, sementara anak adalah penghibur dan generasi penerus the patriarch. Dalam budaya patriarki, keberadaan anak dan perempuan bukan sebagai independent being, namun sebagai pelengkap dan pelayan kebutuhan the patriarch.

Budaya patriarki ini kemudian direvolusi oleh Islam, terutama dengan konsep tawhidnya. Dengan konsep tawhid, yaitu mengesakan dan memposisikan Allah di atas segala-galanya, menjadikan semua manusia setara di hadapan Allah.  Revolusi dan penentangan Islam terhadap budaya patriarki yang merendahkan perempuan dapat dilihat pula, misalnya, dalam ayat-ayat yang menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara. Yaitu di antaranya QS 4: 1 yang menjelaskan bahwa manusia itu tercipta dari satu bahan yang sama (nafsin waahidatin), sehingga tidak ada dasar untuk mengklaim bahwa laki-laki lebih unggul dari perempuan. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ditegaskan pula dalam QS 4: 124 dan QS 16: 97 yang menyatakan bahwa siapa pun yang berbuat baik, baik berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan, sedang ia beriman, maka mereka akan masuk surga dan tidak akan didzalimi sedikit pun. Allah akan memberi ganjaran sebaik-baiknya kepada mereka yang beramal shalih dan beriman, baik berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Kesetaraan/kemitraan antara laki-laki dan perempuan juga tergambar dalam QS 9: 71 dan QS 2: 187, yaitu bahwa orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan merupakan pelindung/partner satu sama lain dalam memerintahkan kebajikan, melarang kemungkaran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mentaati Allah dan Rasulnya. Kemitraan antara laki-laki dan perempuan digambarkan Al-Qur’an dengan perumpamaan pakaian, kaum laki-laki merupakan pakaian bagi kaum perempuan dan kaum perempuan merupakan pakaian bagi kaum laki-laki. Pakaian itu sendiri berfungsi memberikan kenyamanan, perlindungan dan penutup aib, demikian pula yang diharapkan laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya. Pesan keadilan antara laki-laki dan perempuan dapat lebih terlihat dalam QS 49: 13 yang menyatakan bahwa yang termulia di mata Allah hanyalah mereka yang bertakwa, bukan yang berwarna kulit tertentu (putih, misalnya), atau berbangsa tertentu (misalnya Anglo Saxon) atau berjenis kelamin laki-laki. Ini menunjukkan bahwa Allah yang Maha Adil lebih mempertimbangkan aspek usaha karena untuk menjadi orang yang bertakwa perlu diusahakan (achieved), bukan aspek kodrati (given) seperti warna kulit, kebangsaan atau jenis kelamin. Sejalan dengan semua ayat-ayat yang telah disebutkan di atas tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, QS Al-Mujaadilah (58): 11 menegaskan bahwa tingginya derajat seseorang bukan ditentukan oleh jenis kelaminnya,   melainkan berdasarkan keimanan dan ilmu seseorang.

Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat di atas di antaranya membawa pesan inklusivitas. Walaupun menurut At-Tabary, yang dimaksud dengan majlis dalam ayat tersebut adalah majlis Nabi, namun seperti yang diungkapkan oleh Al-Qurthubi, bisa terjadi pada majlis-majlis tempat belajar lainnya. Yaitu bahwa ketika kita sudah berada dalam suatu majlis dan ada orang lain yang datang kemudian memerlukan tempat duduk, hendaknya kita bergeser memberi ruang kepada mereka yang baru datang sebagai tanda sikap kita yang membuka diri terhadap kehadiran orang tersebut, yang sama-sama berniat untuk mencari ilmu. Karena dengan keimanan dan ilmu, manusia ditinggikan derajatnya.

Dari semua penjelasan di atas dapat difahami bahwa Islam merupakan agama yang inklusif dan menekankan pentingnya keadilan dan kesetaraan derajat manusia. Keunggulan atau tingginya posisi manusia di atas manusia lainnya, juga di hadapan Allah bukanlah berdasar pada jenis kelamin (sesuatu yang kodrati) melainkan berdasar pada keimanan, ketakwaan dan kepemilikan ilmu pengetahuan (sesuatu yang diusahakan). Ini artinya, Islam telah membuka jalan yang lebar bagi laki-laki dan perempuan untuk berpendidikan, sehingga perempuan dapat menjalankan perannya sebagai khalifatullah fil ardhi, saling bahu membahu dengan kaum laki-laki. Pandangan bahwa hanya laki-laki saja yang bisa berperan sebagai khalifatullah fil ardhi adalah sama dengan menafikan sekitar 50 % manusia di bumi yang tidak sedikit dari mereka memiliki kemampuan yang lebih tinggi ketimbang yang berjenis kelamin laki-laki namun tidak berilmu.                                                    

Islam adalah Agama yang Mengutamakan Pendidikan (bagi laki-laki dan perempuan)
Islam merupakan agama yang mengutamakan pendidikan. Ini terlihat misalnya dalam QS 58: 11 di atas yang mendudukan orang yang berilmu atau berpendidikan pada derajat yang tinggi. Agar menjadi manusia yang terdidik, umat Islam dianjurkan untuk mencari ilmu. Dalam tradisi Islam, mencari ilmu tidaklah dibatasi dari segi usia, melainkan dapat dilaksanakan sejak kita di masa buaian ibu sampai ke liang lahat. Atau dengan kata lain, bahwa kita disarankan mencari ilmu selama kita hidup (long life education). Hal ini dinyatakan dalam sebuah hadis yaitu: uthlubil `ilma minal mahdi ilal lahdi yang artinya “Carilah ilmu sejak masa buaian ibu sampai ke liang lahat”. Bukan hanya tanpa batas waktu, Islam pun menganjurkan ilmu ke mana pun, tanpa batas jarak, sekalipun ke negeri Cina, seperti sabda Rasul: uthlubil `ilma walaw kaana bis-siin yang artinya “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”. Dan yang terpenting adalah bahwa mencari ilmu diwajibkan bagi setiap Muslim tanpa memandang jenis kelamin, seperti yang dinyatakan dalam hadis: thalabul ìlmi fariidhatun àla kulli muslimin wa muslimatin, yang artinya “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim (laki-laki dan perempuan)”.

Disadari atau tidak, telah terjadi perubahan positif di Indonesia dalam bidang pendidikan yang sejalan dengan ketiga konsep Islami di atas (long life education, belajar tanpa batas jarak dan wajib belajar bagi siapa saja tanpa memandang jenis kelamin), yang menguntungkan laki-laki dan terutama perempuan. Misalnya, kebijakan negara tentang wajib belajar yang meningkat dan terus meningkat dari 6 tahun, ke 9 tahun dan segera akan bergerak ke 12 tahun; kebijakan peningkatan kualifikasi guru yang belum sarjana, yaitu pemberian bantuan financial dari pemerintah bagi para guru agar mereka berkualifikasi minimal sarjana S1, sementara mayoritas guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah adalah perempuan, sehingga program ini menambah jumlah perempuan terdidik; dan program pemberian beasiswa pascasarjana ke luar negeri, misalnya Australian Development Scholarship memberikan beasiswa untuk 500 orang setiap tahun dan mensyaratkan bahwa setengah dari penerima beasiswa tersebut adalah perempuan sebagai affirmative action.

Affirmative action atau positive discrimination adalah suatu tindakan khusus untuk mengimbangi suatu keadaan yang tidak seimbang dengan melakukan diskriminasi secara positif, yaitu dengan mengutamakan pihak yang selama ini tertinggal atau terdiskriminasi secara budaya. Misalnya, dalam budaya patriarki, laki-laki sering kali diutamakan dalam mendapatkan pendidikan sehingga terjadi ketimpangan yaitu tingginya kaum terdidik laki-laki dan rendahnya kaum terdidik perempuan. Untuk mencapai keseimbangan dilakukan tindakan affirmative action, mengutamakan perempuan untuk meraih kesempatan berpendidikan. Di Indonesia, affirmative action bukan hanya telah dilakukan di bidang pendidikan saja, melainkan juga di bidang politik, misalnya dengan menentukan kuota minimal 30 % partisipasi perempuan di perlemen. Affirmative action biasanya bersifat sementara, yaitu hanya sampai tercapainya keseimbangan keadaan yang diinginkan. Ketika jumlah perempuan yang terdidik seimbang dengan jumlah laki-laki terdidik atau ketika partisipasi perempuan di parlemen sudah berimbang jumlahnya antara laki-laki dan perempuan, untuk tercapainya keadilan, maka affirmative action baik di bidang pendidikan ataupun politik tidak diperlukan lagi, dan dikembalikan pada mekanisme seleksi tanpa memandang jenis kelamin.

Dalam tradisi Islam, affirmative action pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dalam meresponi permohonan para sahabat perempuan agar Rasulullah menyediakan waktu khusus bagi mereka sehingga para sahabat perempuan lebih leluasa dalam bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Rasul pun kemudian dengan senang hati menyediakan satu hari khusus untuk mengakomodasi keinginan kaum perempuan untuk belajar (lihat Sahih Bukhari, kitab (96), bab (9), no. 7310). Selain itu, Nabi saw juga meminta para laki-laki untuk tidak menghalangi perempuan yang ingin pergi ke masjid beribadah dan menuntut ilmu [bersama-sama dengan para laki-laki] (lihat Sahih Bukhari, kitab (42), bab (2), no. 2354).

Merujuk pada tradisi saat Rasulullah masih hidup, idealnya para perempuan masa kini mencontoh semangat para sahabat perempuan yang hidup di masa Rasul, yang memiliki semangat belajar yang tinggi, tidak hanya cukup belajar bersama-sama kaum pria saja, melainkan ingin menambah waktu secara khusus agar mereka tercerahkan dalam masalah khusus keperempuanan, seperti tentang cara mengetahui masa suci setelah haid atau masalah istihadhah. Masalah reproduksi ini, yang tidak dialami pria, mungkin tidak dipelajari saat belajar bersama-sama sahabat pria, karena mungkin para sahabat perempuan merasa sungkan bertanya hal tersebut di hadapan sahabat laki-laki.

Bukan hanya semangat para sahabat perempuan yang perlu dicontoh oleh kaum muslimat saat ini, melainkan juga misalnya sikap kritis Khaulah yang tidak menerima begitu saja perlakuan suaminya yang mendzihar dirinya sehingga menyebabkan turunnya surat Al-Mujadilah yang menghukum para suami yang mendzihar istrinya sebelum ia bisa kembali menyetubuhi istrinya. Memiliki pengetahuan atau berpendidikan memungkinkan kaum perempuan bukan hanya dapat bersikap kritis, melainkan juga dapat mengetahui hak-hak dan kewajibannya sehingga mereka bisa menjalankan kewajibannya baik kepada Allah atau orang yang ada di sekitarnya dengan sebaik mungkin. Pengetahuan tentang hak juga penting sehingga dengan pengetahuan tersebut, perempuan bisa menuntut haknya dengan penuh percaya diri, tidak dibodohi atau diambil manfaat oleh orang lain.

Dari sejarah Islam masa awal, kita juga mengetahui dan bisa berusaha mencontoh, misalnya Siti Aisyah yang cerdas dan banyak meriwayatkan hadis. Kepandaian Aisyah di bidang ilmu agama dibanggakan oleh Rasul, sampai-sampai beliau bersabda: “Khudz nishfa diinakum min haadzihi al-humairah” yang artinya “Ambillah separuh agamamu dari sang Humairah ini”. Selain itu, cicit Rasulullah yang bernama Sukaynah binti Husein juga terkenal akan kecerdasan dan kekritisannya karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Salah satu guru Imam Syafi`i, yang madzhabnya banyak diikuti oleh umat Islam Indonesia, yaitu Sayyidah Nafisa juga seorang perempuan saleh yang berpengetahuan luas. Masih banyak lagi model-model perempuan yang berilmu pada masyarakat Muslim di masa awal Islam, yang idealnya kita contoh karena dengan berpendidikan perempuan bisa bersikap kritis dan tidak menerima begitu saja perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya. Atau dengan kata lain, dengan berpendidikan, perempuan dapat membantu mewujudkan keadilan antara laki-laki dan perempuan.

Realitas dan Rintangan Perempuan dalam Mendapatkan Pendidikan
Meskipun Alquran dan hadis-hadis di atas sangat mendukung baik laki-laki ataupun perempuan untuk mencari ilmu tanpa batas usia dan tempat, namun dalam realitasnya banyak kendala yang dihadapi perempuan dalam menempuh dan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Pada realitasnya, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sedikit jumlah perempuan. Ini terlihat dalam realitas yang saya hadapi. Misalnya, mahasiswi S1 di Jurusan Pendidikan Agama Islam yang saya ajar jumlahnya satu kelas rata-rata sekitar 80 per sen. Jumlah ini mengurang drastis pada jenjang S2 dan S3 yang terkadang tidak ada mahasiswinya sama sekali atau hanya 5-7 per sen saja dari jumlah mahasiswa. Ini menunjukkan adanya kendala bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Kendala tersebut di antaranya, pertama, adalah faktor budaya. Misalnya, terdapat pepatah yang menyatakan bahwa “setinggi-tingginya [pendidikan perempuan], ia akan kembali ke dapur juga”. Ini artinya, secara budaya, ada harapan bahwa perempuan tetap berada dan kembali ke dapur: menjadi istri yang mengabdi dan melayani suami dan menjadi pengasuh bagi anak-anaknya. Keberadaan perempuan di dapur dan perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga bahkan sering kali dianggap sebagai kodrat, padahal hanyalah konstruksi budaya yang bisa diubah.

Sebetulnya tidak masalah jika perempuan memilih menjadi istri atau ibu rumah tangga, selama tidak terjadi ketidak adilan dan kesewenang-wenangan dari pihak suami serta perempuan tersebut menikmati perannya. Yang menjadi masalah adalah ketika ia dipatok hanya boleh menjadi ibu rumah tangga dan tidak dibolehkan memilih peran lainnya hanya karena ia seorang perempuan. Padahal bisa saja perempuan tersebut memiliki potensi untuk berkarier atau melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi.

Sekalipun perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga sebetulnya bukan berarti ia tidak memerlukan pendidikan. Pendidikan berperan sangat penting dalam menjalankan peran apa pun. Dengan bekal pendidikan, seorang istri atau ibu bisa mengetahui cara menjaga kesehatan anggota keluarganya, menyediakan makanan bergizi, mengatur jarak kelahiran, menjadi tauladan dalam beribadah kepada Allah dan mendidik anak-anaknya dengan baik sehingga dapat menjadi generasi bangsa menjadi kuat.

Pematokan peran perempuan sebagai istri dan ibu rumah tangga (dengan beban kerjanya yang berat) bisa menjadi kendala bagi perempuan untuk meraih prestasi dengan maksimal. Bagaimana perempuan dapat meraih prestasi di sekolah secara maksimal jika mereka secara fisik dibebani oleh banyak pekerjaan rumah yang menguras energy dan waktu mereka, seperti mengurus anak, mencuci, menyetrika, memasak dan melayani semua kebutuhan suami? Perempuan yang sudah menikah seringkali memiliki banyak beban, bukan hanya beban ganda, serta hanya dibolehkan keluar rumah setelah semua urusan rumah tangga di dalam rumah diselesaikan. Ini merupakan ketidak adilan. Ketika seorang perempuan memiliki beban lain di luar rumah seperti bekerja di luar rumah atau melanjutkan sekolah, dibutuhkan dukungan yang kuat dari orang-orang terdekat terutama suami. Dukungan ini bisa berupa penyediaan asisten rumah tangga atau suami sendiri yang ikut terjun mengambil alih pekerjaan domestik yang selama ini diharapkan untuk dilakukan oleh istri.

Kedua,  pernikahan seringkali dianggap sebagai akhir perjalanan hidup perempuan. Bahkan terkadang sekolah dan bekerja bagi sebagian perempuan dianggap sebagai sarana mendapatkan pendamping hidup, yang kemudian mereka lepaskan setelah mereka menikah. Ini mereka lakukan dengan imaginasi bahwa setelah menikah, hidup mereka akan bahagia dan tercukupi oleh nafkah suami. Sebagian mereka memang dapat berbahagia jika mendapatkan suami yang menafkahi, menghargai dan mencintainya. Namun tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban tindak kekerasan suami mengingat ketergantungan atau ketidak berdayaan mereka secara ekonomi kepada suaminya; atau bahkan ada yang berakhir tragis dengan ditelantarkan suaminya, baik secara ekonomi (tidak dinafkahi) ataupun emosi (ditinggal selingkuh atau menikah lagi).

Ketiga, kemiskinan seringkali menjadi kendala bagi perempuan [juga laki-laki] dalam melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kemiskinan dan kebodohan seringkali menjadi lingkaran setan yang tiada akhirnya. Hanya sedikit yang bisa keluar dari lingkaran tersebut. Kisah Nuryati Solapari yang rela menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab guna mendapatkan dana untuk melanjutkan kuliahnya bisa dijadikan sebagai tauladan, bagaimana ia bisa memutus lingkaran kebodohan dan kemiskinan dengan melalui pendidikan. Berkat ketekunan dan kegigihannya, sepulang dari Arab ia bisa melanjutkan studi S1, kemudian S2 sehingga ia bisa menjadi dosen dan sekarang ia sedang menjalani studi S3 di Universitas Padjadjaran (lihat Femina no 28/XL, 14-20 Juli 2012, hal, 86-88).

Pokok Materi Pendidikan (bagi laki-laki dan perempuan)
Selain sebagai khalifah di bumi, tujuan manusia diciptakan adalah agar manusia beribadah kepada Allah, sebagaimana yang disampaikan dalam QS Al-Dzariyat (51): 56:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Untuk dapat menjalankan perannya sebagai hamba Allah dengan baik, maka pokok materi pendidikan dalam Islam yaitu meliputi aqidah, akhlak dan syari`ah, yang di antaranya dijabarkan dalam ayat-ayat Alquran Surat Luqman sebagai berikut:

  1. Tidak menyekutukan Allah (tawhid: mengesakan Allah) seperti yang dinyatakan dalam QS Luqman (31): 13;
  2. Perintah mensyukuri, tidak kufur/mengingkari, nikmat Allah, seperti yang diterangkan dalam QS Luqman (31): 12;
  3. Selain bersyukur kepada Allah, manusia juga hendaknya bersyukur kepada kedua orang tuanya, terutama ibunya yang telah mengandungnya secara susah payah dan menyapihnya saat berusia dua tahun, seperti yang diterangkan dalam QS Luqman (31): 14;
  4. Aturan pergaulan dengan orang tua yang berlainan agama, yaitu bahwa jika kedua orang tua berupaya untuk membuat anak menyekutukan Allah, maka anak hendaknya tidak mematuhi ajakan orang tuanya. Namun anak hendaknya tetap memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik dalam urusan duniawi, namun tetap mengikuti petunjuk orang-orang yang taat kepada Allah, seperti yang diterangkan dalam QS Luqman (31): 15;
  5. Perintah mendidik anak untuk mendirikan shalat, memerintahkan kebajikan dan melarang kemungkaran serta sabar dalam menghadapi perkara, seperti yang diterangkan dalam QS Luqman (31): 17;
  6. Selain melaksanakan syari`at seperti shalat, Alquran Surat Luqman (31): 18-19 menerangkan cara berakhlak kepada sesama manusia. Yaitu bahwa hendaknya kita tidak memalingkan muka terhadap orang lain, seperti tidak ingin melihat atau pura-pura tidak kenal atau menunjukkan raut muka yang menunjukkan ketidak sukaan kita terhadap orang tersebut, atau berjalan dengan langkah penuh kesombongan. Yang diperintahkan adalah bersikap sederhana ketika berjalan dan merendahkan volume suara.

Serta masih banyak lagi ayat lainnya yang berisi materi pokok pendidikan bagi laki-laki dan perempuan.

Perlu pula ditekankan di sini bahwa mendidik anak bukanlah tugas istri/ibu semata, melainkan merupakan tanggung jawab kedua orang tua. Metode pembiasaan dan keteladanan orang tua sangat penting, misalnya dalam mendidik anak untuk dapat melaksanakan shalat. Anak bisa dilibatkan dalam mengikuti shalat berjamaah sejak mereka berusia dini. Sejak anak berusia 2 tahun pun mereka sudah memiliki kemampuan untuk mengikuti gerakan-gerakan shalat orang tuanya. Ketika mereka berusia 7-8 tahun, saat menginjak kelas 1-2 sekolah dasar, anak-anak di sekolah sudah diajari tata cara shalat dan menghafal bacaan shalat sehingga kebanyakan mereka sudah dapat melakukan gerakan shalat dengan baik diikuti dengan hafalan bacaan shalatnya. Dengan proses pembiasaan dan keteladanan, insya’ Allah anak sudah dapat membiasakan diri mengerjakan shalat dengan baik dan benar pada usia 10 tahun, atau sebelum mereka mencapai usia baligh. Dengan demikian maka kita bisa menghindari menggunakan metode memukul anak jika mereka tidak melaksanakan shalat pada usia 10 tahun. Memukul bukanlah metode yang baik dalam mendidik anak. Anjuran memukul anak jika mereka tidak shalat ketika sudah berusia 10 tahun  hendaknya tidak difahami secara literal sebagai metode ampuh untuk membuat anak shalat, melainkan hendaknya difahami bahwa begitu pentingnya kita mendidik anak untuk shalat dengan segala cara, yaitu misalnya dengan metode pembiasaan dan keteladanan. Metode memukul, tanpa melukai, sebaiknya hanya digunakan dalam keadaan sangat terpaksa jika metode lain tidak berhasil atau sebaiknya tidak perlu digunakan sama sekali jika upaya kita membuat anak menjalankan shalat sudah berhasil. Quran Surat An-Nahl (16): 125 menegaskan bahwa metode terbaik untuk mengajak ke jalan Allah, termasuk mengajar shalat, adalah dengan hikmah, nasihat yang baik dan berdiskusi secara santun, bukan dengan memukul.

Penutup
Pendidikan merupakan hal yang penting baik bagi laki-laki ataupun perempuan agar mereka dapat menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi dan sebagai hamba Allah yang senantiasa beriman, bertaqwa dan beribadah. Agar dapat menjalankan peran tersebut, manusia, laki-laki dan perempuan, perlu berpendidikan, yaitu dengan menuntut ilmu di bidang aqidah, syari`ah dan akhlak. Alquran sebagai firman Allah, meskipun menggunakan bahasa Arab yang digunakan dalam masyarakat patriarkis, bukanlah pendukung budaya patriarkis. Di antara ayat-ayat Alquran, misalnya tentang kisah Nabi Ibrahim, justru menunjukkan penentangannya terhadap budaya patriarkis serta menekankan keataatan kepada Allah di atas segala-galanya, sekalipun harus menentang atau berbeda pendapat dengan orang tua yang sebenanya dianjurkan untuk dihormati dan dipergauli dengan baik.

Islam adalah agama yang ramah terhadap perempuan. Islam mengangkat derajat perempuan kepada posisi yang setara dengan laki-laki serta memberi kesempatan bahkan mewajibkan perempuan untuk mencari ilmu sebagaimana halnya laki-laki, dari sejak masa buaian ibu sampai ke liang lahat, atau tanpa mengenal batas usia, bahkan jarak. Telah banyak teladan perempuan berilmu sejak masa Rasul, maka perempuan saat ini idealnya lebih bisa menggunakan kesempatan yang ada untuk terus maju, meningkatkan pendidikannya sehingga menjadi manusia yang posisinya ditinggikan sesuai janji Allah dalam QS Al-Mujadilah (58): 11. Yaitu bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu, bukan yang berjenis kelamin tertentu karena berjenis kelamin tertentu tidak memerlukan usaha, melainkan dianugrahkan begitu saja oleh Allah (kodrati), sedangkan untuk beriman dan berilmu diperlukan usaha. Wallahu a`lamu bish-shawab.[]

__________________

*Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung





Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 17 Januari 2013 07:22 )  

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

28-31 Agustus 2014 Tadarus 7 Pengkaderan Ulama Perempuan di Klaten - Jawa Tengah

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini45
mod_vvisit_counterKemarin1131
mod_vvisit_counterMinggu ini2151
mod_vvisit_counterBulan Ini23362
mod_vvisit_counterSemua1244721

Yang Online

Kami memiliki 10 Tamu online

Flag Contries

free counters