RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Tuesday
Jul 29th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home News Belajar Terbuka (Pengalaman Aida Fitria Wafa Mengikuti Training Reproduksi dan Advokasi Remaja)

Belajar Terbuka (Pengalaman Aida Fitria Wafa Mengikuti Training Reproduksi dan Advokasi Remaja)

E-mail Cetak PDF

Saya Aida Fitria Wafa sekarang umur 21 tahun. Saya mengikuti  training Hak-Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi serta Advokasi yang diadakan oleh  Aliansi Satu Visi (ASV) bertempat di Resort Cico, Bogor.  Saya menjadi peserta dalam training ini atas nama Rahima, dan saya mewakiliki dari mitra Rahima yang ada di Pondok Pesantren Darussalam, Banyuwangi.

Training ini adalah pertama kali buat saya. Tentunya saya sangat bersemangat walaupun sangat takut dan khawatir.  Kesan  pertama saat bertemu  peserta yang lain di bandara, saya canggung sekali, karena tidak tau apa yang akan saya lakukan dan tema apa yang akan saya obrolkan.  Saya belum kenal dengan mereka, dan semua  berbagi ceritanya tentang organisasi, sedangkan saya yang anak bawang tidak memiliki bahan untuk saya sharingkan.

Setelah semua peserta kumpul di Bandara, saya dan  peserta yang lain menuju bis untuk perjalanan selanjutnya menuju hotel Cico, Bogor.  Saya tinggal sekamar dengan Sarah dari PKBI Jambi. Sarah adalah seorang nasrani. Jadi ini juga pengalaman pertama saya untuk belajar tentang toleransi beragama.

Banyak materi yang saya terima selama training ini. Pada hari pertama saya belajar tentang situasi general SRHR remaja di Indonesia.  Saya juga menikmati cerita dan pengalaman dari Mr. Jo yang berasal dari Belanda. Dia bercerita tentang perjalanannya berdiskusi tentang seksualitas dan spiritualitasnya. Yang tidak kalah penting, saya juga mendapatkan materi tentang yaitu HAM terkait SRHR Remaja/anak muda.

Pada hari kedua, peserta melakukan permainan, yakni mata kita di tutup dan dan di beri tali, semua harus memegang dan di suruh membentuk persegi, dan  diberi  waktu kurang lebih 15 menit. Dari permainan ini saya belajar tentang kepemimpinan dan manajemen. Di hari kedua ini juga disampaikan materi tentang Organ reproduksi eksternal maupun internal, penyakit menular seksual, tentang keperawanan dan lain-lain. Materi tentang seksualitas dan agama juga membuka wacana dan menjawab pertanyaanku tentang KB coitus intruptus (Senggama terputus), bahwasannya KB jenis ini boleh di lakukan asal ada persetujuan dari kedua belah pihak.

Saya juga belajar untuk bisa mengekspresikan diri dan melakukan presentasi. Saat itu saya satu kelompok dengan orang-orang yang luar biasa, ada kak Lasmi yang dokter umum, kak Ayu dan kak Arif yang cerdas, tapi aku yang dipilih untuk melakukan presentasi dengan tema tentang pelayanan kesehatan untuk remaja dan di beri nama kelompoknya “Healty inside fress out side.” Ini pengalaman yang amazing bagi saya, antara deg-degan, tidak confident, dan glagapan, Alhamdulillah akhirnya saya bisa melewatinya.

Ada permainan menarik pada hari ketiga. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat menara dari Koran setinggi-tingginya dan setelah selesai memasangkan bendera pada bendera tersebut tertera tulisan “Anda memasuki Zona anti Diskriminasi". Dan Alhamdulillah kelompok saya menjadi winner (pemenang). Kelompok saya paling kompak, kami membuat pondasi menara dengan kuat jadi tidak roboh,  sedangkan kelompok lain lebih focus pada tingginya menara sehingga pondasinya rapuh. Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bila untuk menghilangkan diskriminasi pondasi pemahaman di masyarakat harus kuat.

Materi yang tidak kalah menarik disampaikan oleh Ibu Musda Mulia. Beliau bercerita tentang latar belakang keluarganya yang memiliki pondasi kuat dalam agama Islam. Ibu Musda menjelaskan bahwa Alloh  bersabda manusia itu adalah pemimpin di bumi (kholifah fi al-ardh),tidak di bedakan antara perempuan dan laki-laki, sehingga siapapun bisa menjadi pemimpin. Banyak hal yang selama ini saya tanyakan tentang perempuan , gender dan Islam mendapatkan jawaban yang sangat gamblang dari Ibu Musda. Saya  juga belajar tentang advokasi, ini sesuatu yang benar-benar baru bagi saya.   Kami diajari untuk merencanakan advokasi dan mengembangkan objektif yang SMART. Saya dan Istiqonita dari pesantren Garut merencanakan advokasi yang berbasis pesantren dengan tentunya melibatkan Rahima sebagai supporting kami. Istiqonita  merencanakan akan melakukan advokasi di 10 sekolah yang ada di Garut. Saya berencana melakukan advokasi di internal pondok pesantren, namun ternyata setelah kami diskusikan masih banyak pertanyaan yang belum kita ketahui, karena kami masih baru dalam gerakan ini, tapi Alhamdulillah sudah dibantu oleh Rahima melalui leaflet, buku-buku Rahima  dan pengarahan langsung via phone dari Ibu Dani selaku direktur Rahima.

Pada dasarnya ada beberapa hal saya dapatkan dari training ini. Pertama, manfaat yang saya dapatkan setelah mengikuti training ASV ini adalah saya mendapatkan banyak teman dari berbagai provinsi di Indonesia, mereka sangat berbeda-beda karakter, ras, budaya, agama dan juga orientasi seksualnya, tapi kami kompak dan tidak membedakan satu sama lain. Mereka pun juga tetap saja enjoy walaupun saya dari pondok pesantren mereka tidak pernah memperlakukan saya berbeda. Kekompakan kami terus terjalin hingga sekarang melalui social media. Kedua, pemahaman saya  bertambah, sebelumnya saya tidak tahu apa itu SRHR. SRHR adalah hak kesehatan seksual dan reproduksi, ternyata setiap individu  mempunyai hak asasi masing-masing dalam menentukan tentang seksuliatas dirinya.

Ketiga, pandangan saya terhadap teman peserta yang Homo berubah.  Awalnya saya kaget dan dalam hati saya terus bertanya “Ya Alloh mengapa mereka menyalahi kodrat mereka untuk hidup berpasang-pasangan dengan lawan jenisnya, kenapa mereka malah menyukai sesama, padahal saya pernah mendengar dalam suatu kitab bahwa ”Ada empat golongan yang di pagi hari mereka berada dalam kemarahan Allah Subhaanahu wa ta’ala dan di sore hari mereka berada dalam kemurkaan-Nya.” Abu Hurairah berkata: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau ` menjawab: “Para lelaki yang menyerupai wanita, para wanita yang menyerupai lelaki, orang yang menyetubuhi binatang, dan lelaki yang menyetubuhi lelaki.” Saya berdoa kepada Allah agar  teman-teman mendapatkan petunjuk. Tapi Setelah Mengikuti pelatihan ini saya dapat mengetahui mengapa mereka suka sesama jenis, karena memang mereka sudah suka sejenis mulai dari lahir dan tidak bisa dipaksa menjadi suka dengan lawan jenis, padahal mereka tidak menginginkan seperti itu tapi ya bagaimana lagi?. Bahkan ada seorang Gay berkata saya lebih baik mati dari pada harus suka lawan jenis, kerena memang mereka suka dengan sejenis dan menemukan kepuasan seksualitas dengan sejenis,  mereka sampai  memutuskan untuk transgender/transseksual, mereka memperjuangkan hak nya dengan mengikuti program LGBTIQ. Kemudian saya berfikir itu semuanya memang Hak  Assasi Manusia dalam kespro dan seksualitas, karena semua itu adalah suatu pilihan dari masing-masing individu.

Yang akan saya lakukan segera setelah mengikuti training ini adalah mengubah diri sendiri menjadi lebih baik dari sebelumnya (better than before), dan membagikan ilmu kepada para remaja khususnya santri yang ada di lingkungan saya  dan mereka dapat mengetahui secara lebih dalam tentang Hak Kesehatan Seksualitas dan Reproduksi dan juga orang lain seperi teman kampus dan saudara-saudara. Saya ingin belajar menjadi youth advocate dan mengajak para remaja memperjuangkan hak-haknya.

Saya juga akan mencoba mencopy tentang bagaimana saya  bisa memberikan training dengan metode yang menyenangkan dan memberikan game yang edukatif seperti pada training kemarin.

Terimakasih Rahima dan Mbak Nihayatul Wafiroh yang telah membawa saya untuk mendapatkan pengalaman yang luar biasa ini.

Salam

Aida  Fitria Wafa



Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 27 September 2012 07:06 )  

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 26 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini695
mod_vvisit_counterKemarin1158
mod_vvisit_counterMinggu ini1853
mod_vvisit_counterBulan Ini29412
mod_vvisit_counterSemua1150744

Yang Online

Kami memiliki 22 Tamu online

Flag Contries

free counters