RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Tuesday
Mar 31st
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Tanya jawab

Menolak Perjodohan Atau Berbakti Pada Orang Tua : Tanya Jawab Edisi 48

Assalamu’alaikum wr.wb.

Bu Nyai yang saya hormati,

Saya, Siti Zahroh, 16 tahun, siswi kelas 1 di salah satu M A swasta di Pandeglang, Banten. Saya  juga santriwati dari sebuah pesantren. Saya, sulung  dari 5 bersaudara dari keluarga kurang berada.

Beberapa waktu lalu, saat pulang ke rumah, ayah menyatakan akan menjodohkan saya dengan seorang lelaki pilihannya. Usianya 15 tahun lebih tua dari saya. Ayah mendesak saya untuk menerimanya, dengan alasan selain lelaki tersebut sudah mapan beliau khawatir kalau saya terjebak pada pergaulan bebas. Hal ini karena beliau sering mendengar berita bahwa zaman sekarang banyak anak gadis yang sudah tidak perawan.

Sebenarnya ada yang mengganjal di hati saya, Bu Nyai. Mengingat usia saya masih terlalu muda, dan punya cita-cita untuk sekolah tinggi bahkan hingga jadi sarjana. Tapi saya tidak pernah berani menyampaikan hal ini kepada orang tua, karena takut akan menambah beban pikiran mereka. Di sisi lain, saya merasa takut dengan pendapat orang-orang dulu yang mengatakan bila menolak seseorang yang hendak melamar akan menyebabkan jauh jodohnya.
Bu Nyai yang baik hati,
Apa yang harus saya lakukan? Mohon pencerahannya, dan terimakasih banyak atas nasihatnya.

Wassalam,
Siti Zahroh,
siswi salah satu MA swasta
di Pandeglang

Jawaban  :

Wa’alaikum salam wr.wb.
Adinda Zahroh yang dirahmati Allah.
Wah, saya senang sekali membaca surat Adik yang kritis ini. Saya berterimakasih atas kepercayaan Adik kepada kami untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang Adik alami.

Adinda Zahroh yang disayang Allah.
Banyak remaja yang mengalami dilema seperti yang Adik alami. Dilema antara menolak perjodohan atau menjalankan kewajiban untuk berbakti pada orang tua. Pada dasarnya dua hal tersebut bukanlah untuk dipertentangkan, oleh karena menolak perjodohan bukan berarti tidak berbakti terhadap orang tua asalkan penolakannya disampaikan dengan cara yang baik.

Usia 16 tahun memang usia yang masih terlalu  muda untuk menikah. Untuk melakukan pernikahan, kematangan fisik (biologis) dan psikologis sangatlah penting. Menurut para ahli, secara biologis perempuan yang berusia di bawah 20 tahun memiliki resiko tinggi untuk penyakit dan kematian ketika menjalankan fungsi reproduksi. Secara psikologis, usia 16 tahun ini kondisinya masih labil, sehingga belum siap jika melakukan pernikahan. Kita perlu mengingat bahwa tujuan pernikahan yaitu untuk mencapai sakinah, mawaddah, dan rahmah (QS. Ar Rum : 21). Tujuan yang mulia itu secara implisit mensyaratkan kematangan psikologis bagi siapapun yang akan melakukan pernikahan.

Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa dampak psikologis menikah di usia muda meliputi terputusnya pendidikan, kemiskinan, kehilangan kesempatan bekerja, mudah bercerai, anak yang dilahirkan akan mendapatkan kurang cukup perhatian, perkembangan yang terhambat dan mudah terpengaruh untuk melakukan perilaku menyimpang. Dengan berbagai dampak psikologis yang negatif ini, bagaimana mungkin tujuan pernikahan yang mulia dapat tercapai?

Adinda Zahroh yang birrul walidain,

Orang tua memang mempunyai kewajiban untuk menjadi wali bagi anaknya ketika anak tersebut menikah. Kewajiban menjadi wali ini tidak mengandung kewajiban untuk menjodohkan putra-puterinya, apalagi memaksakan sebuah perjodohan. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw.bersabda :
لا تنكح الأيم حتى تستأمر، ولا تنكح البكر حتى تستأذن
yang terjemahan bebasnya bahwa seorang perempuan tidak bisa dinikahkan atau dijodohkan tanpa persetujuan perempuan tersebut. Berdasarkan hadis tersebut, maka perempuan berhak menolak ketika dia tidak menyetujui perjodohan tersebut dan orang tua tidakboleh memaksakan kehendak terhadap puterinya.

Hadis di atas menegaskan hak perempuan atas dirinya. Tidak ada seorang pun -bahkan orang tuanya-, yang berhak mengatur kapan dan dengan siapa perempuan menikah kecuali perempuan itu sendiri, Kata “hatta” dalam hadis tersebut menekankan pentingnya orang tua menghargai hak anak perempuannya tersebut. Sebuah perjodohan dan pernikahan tidak akan terjadi jika perempuan yang akan dijodohkan tidak menyetujuinya.

Hadis tersebut juga menyiratkan bahwa menolak perjodohan yang ditawarkan oleh orang tua tidak diartikan sebagai perbuatan yang membangkang atau tidak berbakti kepada orang tua. Menerima atau menolak perjodohan merupalan hak bagi perempuan. Berbakti atau tidak berbakti kepada orang tua tidak diukur dari seseorang itu menerima atau menolak perjodohan, melainkan dari cara berkomunikasi anak terhadap orang tua.

Banyak ayat dalam Alquran yang menekankan bahwa yang dimaksud dengan wa bi al-walidaini ihsaanaa (berbuat baik pada orang tua) itu terletak pada cara berinteraksi dan komunikasi anak terhadap orang tua. Ketika seorang anak tidak menyetujui atau kurang bersepakat dengan pendapat orang tua, anak tersebut tidak dilarang untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap orang tuanya. Hanya saja yang terpenting adalah hal itu disampaikan dengan cara yang baik dan bahasa yang tidak menyakiti orang tua.

Adik Zahroh yang dimuliakan Allah,
Saya rasa sebaiknya Adik mengkomunikasikan ketidaksetujuan Adik atas perjodohan ini kepada orang tua Adik. Ajaklah orang tua Adik untuk mendiskusikan dampak-dampak negatif yang akan Adik alami ketika Adik menikah dini. Tunjukkan dan yakinkan orang tua Adik bahwa kekhawatiran akan terjebaknya Adik ke dalam pergaulan bebas tidak akan terjadi. Saya yakin, orang tua Adik sangat sayang pada Adik dan tidak akan rela jika Adik mengalami akibat atau menjadi korban nikah dini.

Sebagai orang pesantren, Adik pasti memahami kaidah Fiqh yang dapat menjadi bahan diskusi Adik dengan orang tua adik, yaitu :
الضرر يزال
Yang artinya : menghilangkan madharat, maka menghindari pernikahan dini termasuk menghindari berbagai madharat yang akan terjadi.
Adapun tentang pendapat masyarakat yang mengatakan bahwa menolak lamaran seorang laki-laki dapat menjauhkan perempuan dari jodohnya itu hanya mitos yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Banyak sekali perempuan yang menikah dengan laki-laki yang “ke-sekian” yang melamarnya, yang berarti perempuan tersebut telah menolak lamaran laki-laki sebelumnya. Jadi, Adik tidak usah khawatir dengan mitos tersebut.

Adinda Zahroh yang baik,
Mudah-mudahan jawaban saya ini bermanfaat dan dapat membantu mengurangi kegelisahan Adik. Semoga Adik dapat mendiskusikan permasalahan Adik dengan orang tua Adik. Sekali lagi terimakasih atas kepercayaan Adik kepada kami. Selamat beraktivitas!

Wassalamu’alaikum wr.wb.

 

Istri Gugat Cerai Suami karena Tak Dinafkahi dan Ditelantarkan : Tanya Jawab Edisi 47

Assalamu’alaikum wr.wb.
Pak Kyai yang baik, saya, Wulan,  38 tahun. Sudah menikah dengan Edi, 40 tahun. Selama 18 tahun menikah, alhamdulillah, kami dikaruniai 3 anak laki-laki.

Saat ini rumah tangga kami terancam kehancuran sejak suami menggeluti bisnis properti.  Dua tahun terakhir ini ia pulang seminggu sekali, lalu sebulan  sekali, kemudian setahun sekali, malah sekarang ia tidak pernah pulang sama sekali. Komunikasi kami hanya melalui telpon seluler. Itu pun suami hanya mau berkomunikasi dengan anak-anak. Saya, istrinya tidak dianggap sama sekali. Itu membuat perasaan saya hancur karena ia telah menelantarkan keluarga.

Nafkah sudah tidak pernah ia berikan. Malah, belakangan ini hutang-hutang suami melalui pinjaman bank dilimpahkan ke saya dan orang tua saya. Padahal saya tidak tahu dimana keberadaan suami. Saya dan orang tua menjadi terbebani dengan persoalan ini. Padahal saya harus menanggung beban kehidupan sehari-hari dan masa depan ketiga anak-anak kami.

Pak Kyai, yang ingin saya tanyakan, benarkah dalam Islam jika seorang suami meninggalkan istrinya selama 6 bulan berturut turut, dan tidak menafkahinya maka otomatis jatuh talak? Apakah istri mesti terlebih dahulu mengajukan gugatan cerai; dan bagaimana pandangan Pak Kyai kalau saya menggugat cerai suami dengan berbagai alasan ini? Apakah dalam agama tindakan saya bisa dibenarkan? Bisakah suami saya juga dijerat hukuman karena ulahnya ini? Saya sangat berharap solusi,  mendapatkan pencerahan terhadap kasus yang saya hadapi.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Wulan-
Kompleks Radar
Cijantung-Jakarta Timur.

Jawaban SR
Saudari Wulan yang kami banggakan.
Pertama-tama secara pribadi kami ikut bersimpati pada cobaan hidup yang saudari hadapi. Semoga Allah swt. memberikan saudari ketabahan, kesabaran serta balasan pahala yang berlipat ganda. Kami yakin pasti ada skenario besar yang dipersiapkan Allah swt. untuk saudari sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan matang serta memiliki ketakwaan yang tinggi kepada Allah swt.. Amin...

Saudari Wulan yang kami banggakan.
Sehubungan dengan pertanyaan yang saudari ajukan, pertama yang ingin kami sampaikan bahwa hukum Islam telah  menetapkan adanya kewajiban utama untuk memberikan nafkah keluarga terletak di pundak suami. Hal ini telah tersimbolisasi sejak awal pernikahan yakni dengan adanya kewajiban suami membayar mas kawin kepada istrinya. Di dalam Alquran telah ditegaskan tentang kewajiban ini:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (البقرة، 233)
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf.

Menafsirkan ayat ini Ibn Katsir mengatakan bahwa seorang ayah wajib ntuk memberikan nafkah kepada istri dan anaknya. Bahkan ketika telah terjadi perceraian dan istri masih memerlukan biaya untuk membesarkan anaknya, misalnya ketika itu istri masih menyusui si anak, maka ayah tetap wajib menafkahi mantan istri tersebut. (Tafsir Ibn Katsir, Juz I hal 479)

Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal  80 ayat 4, sebagai peraturan yang  berlaku di Indonesia, disebutkan juga tentang kewajiban suami untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya berupa tempat tinggal, pakaian, biaya rumah tangga, pengobatan hingga biaya pendidikan.
Oleh karena itu, ketika suami tidak memberikan nafkah kepada istrinya, maka hal itu termasuk pelanggaran. Suami berdosa karena tidak memenuhi kewajibannya itu dan lari dari tanggung jawab yang telah amanahkan Allah swt. kepadanya.

Dalam UUPKDRT (Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga) perbuatan tersebut sudah tergolong penelantaran rumah tangga yang termasuk bagian dari kekerasan dalam rumah tangga. Pasal 9 ayat 1 UU PKDRT  menyebutkan bahwa ‘Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku  baginya atau karena persetujuan atau perjanjian  ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan.’

Saudari Wulan yang kami banggakan
Dengan alasan inilah, maka tidak ada larangan bagi saudari menggugat cerai suami anda sehingga proses perceraian bisa dilegalkan secara hukum. Hukum Islam mengatur bahwa perempuan boleh mengajukan gugatan perceraian kepada hakim dengan alasan tidak mendapatkan nafkah dari suaminya, baik nafkah lahir ataupun nafkah batin. Namun proses ini harus diajukan ke pengadilan karena menurut para ahli hukum Islam dengan tidak adanya nafkah dari suami tidak otomatis terjadi perceraian. Selama suami diyakini masih hidup walaupun tidak pernah memberikan nafkah maka pernikahan tetap dihukumi masih terjadi. (Al Aziz Syarh Al Wajiz, juz 9 hal 484-485)

Selanjutnya, apakah dalam kondisi ini suami bisa dijerat hukum? Jika merujuk pada UU PKDRT tentang kekerasan khususnya dalam hal penelantaran keluarga, maka persoalan yang Saudari hadapi ini sudah bisa dibawa ke ranah hukum. Suami biasa dianggap telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga karena tidak memberikan nafkah serta membebankan hutang yang seharusnya dia tanggung kepada saudari. Namun untuk menempuh jalur ini butuh persiapan yang sangat matang sehingga dapat benar-benar terbukti secara pasti. Jika tidak, bisa jadi tuntutan saudari bisa berbalik merugikan saudari sendiri.

Saudari Wulan yang kami banggakan
Mungkin hanya itu yang dapat kami bagi kepada saudari. Namun satu hal tetap harus saudari yakini bahwa pemberi solusi yang sesungguhnya adalah Allah swt. yang Maha Mengetahui yang terbaik buat makhluk-Nya. Oleh karena itu, perbanyaklah beribadah dan meminta petunjuk dan perlindungan-Nya  agar selalu diberikan jalan yang terbaik dari persoalan yang saudari hadapi. []

Istri Tertekan karena Suami Selalu Bela Ibunya : Tanya Jawab Edisi 46

Assalamu 'alaikum Wr Wb.
Bu Nyai,
Melalui perkenalan yang singkat, dua tahun lalu keponakan saya, Yani, menikah dengan Jati, anak tunggal. Yani kemudian diboyong tinggal dengan orang tua Jati di Klaten. Tetapi ternyata Jati sangat tergantung dan tunduk pada ibunya. Sehingga rumah tangga Yani dan Jati kemudian diatur oleh Ibu Jati. Yani kerap mengalami kekerasan dari mertua, karena dianggap tidak cakap mengelola rumah tangga termasuk uang belanja, dan mengurus suami.

Setahun kemudian Yani melahirkan seorang anak perempuan. Anak itu lalu diambil oleh ibu Jati dan diasuhnya. Yani tak boleh sekalipun menyentuh anaknya. Ia hanya boleh memandang dari jauh. Jika Yani protes ke suaminya, Jati hanya mengatakan Ibu lebih berpengalaman mendidik anak. Tanpa sekalipun Jati membela istrinya.

Mendapat tekanan dan kekerasan terus menerus membuat Yani akhirnya stres. Ini semakin menguatkan ibu mertuanya untuk tidak menyerahkan cucunya kepada Yani dengan alasan "kurang waras". Mengetahui istrinya stres, Jati yang adalah pegawai bank tidak melakukan upaya apapun. Ia malah mengunci istrinya di kamar. Hanya ketika pagi sebelum kerja Jati menengok istrinya  sambil mengulurkan makanan.
Orang tua Yani prihatin sekali atas kondisi ini. Tetapi bingung untuk mengambil sebuah tindakan. Kami minta saran kepada ibu Nyai, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua Yani agar tidak melanggar aturan agama. Demikian, terima kasih.

Wassalam,
Dewi Nurdin
081218521xxx
Cijantung

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.,

Ibu Dewi yang dirahmati Allah,
Terima kasih atas pertanyaan Ibu. Kami sangat salut dan mengapresiasi kepedulian Ibu terhadap kondisi rumah tangga keponakan Ibu. Sikap dan tindakan Ibu yang berpihak pada perempuan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KdRT). Semoga langkah yang diambil Ibu Dewi ini dapat menginspirasi masyarakat untuk aktif berperan dalam menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Ibu Dewi yang berhati mulia,

Seorang laki-laki dan perempuan yang telah mengikatkan dirinya dalam sebuah pernikahan menunjukkan bahwa mereka berkomitmen untuk terikat pada suatu akad yang kuat atau yang disebut dengan mitsaqan ghalizhan. Suami dan isteri yang menyadari adanya ikatan atau akad yang kuat di antara mereka ini akan selalu saling menghormati dan saling menjaga di antara keduanya serta tidak akan membiarkan apapun atau siapapun dapat memisahkan mereka. Hal ini selaras dengan tujuan pernikahan sebagaimana dalam QS ar-Rum: 21, adalah memberikan ketenangan dan senantiasa mewujudkan mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang) di antara suami dan isteri. Untuk mewujudkan tujuan pernikahan yang mulia tersebut, suami dan isteri harus saling memahami, saling perhatian serta saling melengkapi satu sama lain, sebagaimana firman Alllah, ”Hunna libaasun lakum wa antum libaasun lahunna”, yang artinya ”..... mereka (para isteri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka......” (QS. 2: 187).

Maksud dari ayat tersebut adalah suami dan isteri seharusnya saling melindungi, saling melengkapi dan saling mencintai. Secara lebih khusus, Allah juga memerintahkan para suami untuk memperlakukan isterinya dengan ma'ruf. Ma'ruf yang dimaksud adalah perbuatan yang sudah dikenal sebagai perbuatan baik. (QS. 4: 19). Dalam kasus keponakan Ibu Dewi tersebut, apakah perbuatan Jati terhadap Yani, isterinya, adalah perbuatan yang ma'ruf?

Ibu Dewi yang peduli sesama,
Kalau kita pelajari kasus Jati tersebut, Jati berada dalam posisi di antara dua perempuan yang dicintainya; Jati mencintai ibunya sebagai orang tua yang melahirkan dan membesarkannya, tetapi Jati juga mencintai isterinya sebagai pendamping hidupnya. Semestinya Jati dapat memperlakukan ibu dan isterinya dengan sama baiknya serta adil bahkan tidak seharusnya mempertentangkan antara ibu dan isterinya. Apa yang telah dilakukan Jati justeru malah mengorbankan isterinya. Dalam hal ini Jati telah melakukan perbuatan yang dapat dikategorikan dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Menurut Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (pasal 1 ayat 1 UU PKDRT).

Berdasarkan definisi tersebut terlihat bahwa Jati telah melakukan perbuatan yang menimbulkan penderitaan psikis terhadap isterinya. Stress yang dialami oleh Yani tersebut akibat dari tekanan batin mendalam yang ditimbulkan dari kekerasan psikis yang dilakukan oleh suaminya. Kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam UU PKDRT pasal 7 adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Upaya memisahkan Yani dari anaknya dan bahkan pengisolasian terhadap Yani dari kehidupan sosial dengan mengurungnya di dalam kamar merupakan bentuk kekerasan psikis yang tentunya perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Ibu Dewi yang disayangi Allah,
Menyikapi kondisi Yani yang telah menjadi korban KDRT tersebut, sudah seharusnya keluarga dan masyarakat turun tangan menyelamatkan korban. Menurut saya, orang tua Yani berhak meminta pertanggung jawaban Jati yang memperlakukan Yani secara sewenang-wenang tersebut. Kekerasan psikis yang telah dilakukan Jati terhadap Yani tersebut adalah perbuatan dhalim dan munkar yang menurut ajaran Islam sudah seharusnya dihentikan.
Dalam kasus Yani tersebut, tentunya kita masih ingat kasus Khaulah binti Tsa’labah yang mendapatkan kekerasan psikis dari suaminya, yaitu suaminya melakukan zhihar terhadap isterinya. Menyikapi hal tersebut, Allah dengan tegas membela Khaulah dan tidak membenarkan perbuatan suami Khaulah tersebut. Allah juga memberikan sanksi terhadap suami Khaulah khususnya dan pada umumnya suami-suami yang melakukan zhihar kepada isterinya (untuk kisah selengkapnya, silakan baca QS. Mujadilah ayat 1-4) . Mengambil hikmah dari kisah Khaulah tersebut, dalam kasus keponakan ibu Dewi ini, orang tua Yani sebaiknya segera menyelamatkan Yani dari tindak kekerasan yang telah dilakukan oleh suaminya agar Yani tidak menjadi semakin terpuruk.

Ibu Dewi yang dimuliakan Allah,
Demikian sedikit jawaban dan solusi yang dapat saya tawarkan, semoga bermanfaat terutama bagi kepentingan terbaik keponakan Ibu. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a’lam bi as-shawab.
Wasslamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Soal Melakukan Kekerasan atas Nama Agama dan Menuduh Kafir Sesama Muslim : Tanya Jawab Edisi 45

Assalamu’alaikum, Pak Kyai.
Saya Humairoh, mahasiswi dan santri  di Yogyakarta.

Dalam pandangan saya, akhir-akhir ini banyak sekali kekerasan yang mengatasnamakan agama  yang menggunakan dalih “amar ma’ruf nahi munkar”. Di internet, sempat heboh hukum cambuk kepada seorang perempuan di Aceh yang menjadi korban perkosaan massal. Alasannya, dia dianggap sebagai pemicu terjadinya tindak kekerasan seksual. Lalu berita kekerasan massa yang menggunakan alasan agama untuk menyerang jema’at Ahmadiyah maupun kelompok Syi’ah di Sampang Anehnya bila ada seorang muslim melakukan pembelaan atas korban kekerasan itu, dia akan dihakimi sebagai “kafir” .

Bagaimana sebenarnya pandangan Islam atas tindak kekerasan yang  mengatasnamakan agama itu? Apa hukum “mengkafirkan sesama muslim”? Mohon pencerahan dari Kyai.
Wassalam.

Humairoh,
Sleman, Yogyakarta

Jawaban:
Saudari Humairoh yang kami banggakan….
Pertanyaan saudari mewakili kegelisahan saya serta sebagian besar umat Islam, tentang beberapa kekerasan yang mengatasnamakan agama yang akhir-akhir ini kembali marak terjadi. Satu hal yang disepakati oleh para pakar dari sekian banyak kasus kekerasan tersebut, bahwa faktor agama tidak menjadi satu-satunya penyulut terjadinya tindakan anarkis itu. Ada motif ekonomi, politik kekuasaan, sosial dan budaya yang kemudian mendompleng pada isu-isu agama, sehingga kesan yang muncul di permukaan adalah tindakan tersebut adalah atas nama agama.

Saudari Humairoh yang budiman,
Saya kira semua umat Islam, dari manapun golongan dan apapun keyakinannya, sepakat bahwa Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta (QS. Al Anbiya’ 107). Sebagai rahmat sudah tentu agama yang beliau bawa adalah  ajaran kedamaian, kesejahteraan dan cinta kasih kepada seluruh alam semesta. Bukan ajaran yang membawa kecemasan, teror  apalagi kebinasaan dan kehancuran.

Di dalam banyak ayat Alquran dan Hadis ditemukan anjuran untuk menyebarkan kebaikan dan kedamaian kepada semua umat manusia. Ketika Nabi saw. pertama kali menginjakkan kaki di kota Madinah dengan tegas beliau menyatakan bahwa agama Islam yang dibawa adalah ajaran yang damai dan humanis. Diceritakan dalam hadis:

عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ عَلَيْهِ فَكُنْتُ فِيمَنْ انْجَفَلَ فَلَمَّا تَبَيَّنْتُ وَجْهَهُ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ فَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ يَقُولُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ (رواه أحمد)

Artinya :
Dari Zurarah dari Abdullah bin Salam ia berkata, “Ketika Nabi saw. tiba di Madinah, manusia berkerumun menyambut Nabi saw. dan aku adalah termasuk orang yang ikut berkerumun. Maka ketika aku dapat melihat dengan jelas wajah Nabi saw., aku mengetahui bahwa wajah beliau itu sama sekali bukan wajah pendusta. Maka perkataan pertama yang aku dengar dari ucapan beliau adalah, “Sebarkan kedamaian, berikanlah bahan makanan, sambunglah tali silaturrahim, dan shalatlah (malam hari) pada saat manusia semua tidur, maka kalian akan masuk surga dengan penuh kedamaian” (HR. Ahmad)

Sebaliknya, terdapat sekian banyak larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi, baik kerusakan akibat ucapan ataupun perbuatan. Pertama-tama Umat Islam diperintahkan untuk menjaga ucapannya agar tidak mengeluarkan sesuatu yang tidak menyenangkan pada orang yang mendengarkannya. Nabi saw. bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيْسَ بِاللَّعَّانِ، وَلَا الطَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ (رواه أحمد)
Artinya :
Dari Abdullah ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin bukanlah seorang yang suka melaknat,  berkata kasar, kotor dan cabul.” (HR. Ahmad)

Termasuk dalam larangan ini adalah ucapan yang menyudutkan, menjelekkan, apalagi menuduh kafir kepada sesama umat Islam.
عَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَمِينَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ، وَمَنْ لَعَنَ مُسْلِمًا كَانَ كَقَتْلِهِ، وَمَنْ سَمَّى مُسْلِمًا كَافِرًا فَقَدْ كَفَرَ (رواه الطبراني)

Artinya :
Dari Tsabit bin Dhahhak ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada sumpah dalam kemaksiatan kepada Allah swt., serta pada sesuatu yang tidak mampu dilaksanakan oleh anak Adam. Siapa saja yang melaknat orang mukmin lainnya, maka sama seperti membunuhnya, dan barang siapa yang menyebut orang mukmin sebagai orang kafir, maka sungguh dia  telah kafir. (HR. Thabrani)
Setelah melarang umat Islam mengucapkan yang tidak pantas, Rasul saw. melarang  untuk melakukan tindakan yang membuat saudara muslim lain merasa terganggu, atau tidak tenang hidupnya. Tidak boleh telakukan teror baik dalam bentuk ucapan dan perbuatan. 

Disebutkan dalam Hadis:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا» (رواه أبي داود)
Dari Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim, menakut-nakuti (meneror)muslim lainnya.” (HR. Abi Dawud)

Terkait dengan adanya praktik hukum cambuk terhadap perempuan yang menjadi korban perkosaan massa sebagaimana yang terjadi di Aceh tersebut, hal ini juga merupakan salah satu bentuk teror pada pihak yang telah dua kali menjadi korban. Yakni, memposisikan diri si perempuan korban sebagai pelaku perzinahan. Padahal kenyataannya dia telah sangat menderita karena kehormatannya telah direnggut secara paksa, apalagi hal itu dilakukan secara brutal oleh sekelompok massa. Dengan demikian, sebenarnya tidak tepat menerapkan hukum cambuk pada seseorang yang sejatinya adalah korban perkosaan.

Saudari Humairoh  yang baik,
Saya kira, dalil-dalil yang telah disebutkan sudah cukup mewakili jawaban dari pertanyaan saudari, bahwa semua bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama itu sebenarnya telah jauh dari esensi ajaran agama. Memang ada yang berlindung di balik amar ma’ruf nahi munkar untuk membenarkan tindakannya. Namun ada satu prinsip dasar tidak boleh dilupakan bahwa “Tujuan tidak dapat membenarkan cara”.  Dengan kata lain bahwa tujuan yang baik tidak serta  merta dapat membenarkan semua cara untuk mendapatkannya. Dan tujuan yang baik harus dilaksanakan dengan cara yang baik pula.  Inilah makna dari hadits Nabi saw. :

عَنْ عَمْرٍو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :  مَنْ أَمَرَ بِمَعْرُوْفٍ فَلْيَكُنْ أَمْرُهُ بِمَعْرُوْفٍ (رواه البيهقي)

Artinya :
Dari Amr bin Syuab dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memerintahkan kebaikan maka hendaklah perintah itu dilaksanakan dengan cara yang baik” (HR. Al Baihaqi)

Saudari Humairoh yang dirahmati oleh Allah swt.,
Saya kira inilah jawaban yang dapat diberikan. Harapan kita semua semoga kita dapat terus memegang teguh sekaligus memperjuangkan Islam rahmatan lil alamin sehingga kemaslahatan, kedamaian serta  kesejahteraan hidup dapat kita rasakan bersama. Amin….

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 18 Juli 2014 06:51 )

Bagaimana Menyikapi Suami yang Tega Menelantarkan Istri? : Tanya Jawab Edisi 44

Assalamu’alaikum wr.wb.
Ibu Nyai yang saya hormati,  nama saya Aminah, usia 55 tahun, seorang ibu yang berasal dari keturunan Betawi. Saya menikah dengan seorang laki-laki dari suku Jawa, sebut saja Hardjo. Dari pernikahan kami, kami dikaruniai 7 orang anak yang  kesemuanya berjenis kelamin laki-laki..

Suami jarang memberi nafkah bagi kami anak istrinya. Parahnya lagi, dia tega bermain mata dengan perempuan lain di belakang saya bahkan menelantarkan saya. Rumah yang kami tinggali sebenarnya adalah warisan dari orang tuanya. Namun, tanpa sepengetahuan saya suami saya tega menggadaikan rumah tersebut untuk membayar hutang-hutangnya,  selain untuk menikah lagi. Setelah itu, saya dan anak-anak ditinggalkan begitu saja sehingga terpaksa hidup di rumah kontrakan, selain harus menjadi pencari nafkah tunggal bagi anak-anak kami. Sementara dari pernikahan kedua suami saya, ia memiliki 3 anak (2 perempuan dan 1 laki-laki). Salah satu anak perempuannya tersebut dititipkan kepada saya untuk dirawat dan diasuh semenjak dia masih bayi.

Sekarang, setelah hampir 20 tahun berlalu semenjak peristiwa itu, dan istri kedua telah meningga dunia, suami berniat balik lagi kepada saya. Bagaimana saya harus bersikap, apakah kehadirannya masih harus saya terima mengingat perlakuannya yang sewenag-wenang menelantarkan kami sekeluarga? Bagaimana status pernikahan kami, apakah kami masih bisa disebut suami istri mengingat begitu lamanya dia meninggalkan saya. Padahal, sepengetahuan saya, perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya selama 2 tahun berturut-turut tanpa kabar, otomatis dianggap telah bercerai. Benarkah pemahaman saya?

Terimakasih atas jawaban Bu Nyai. Mudah-mudahan, bisa segera menenangkan kegalauan saya.
Wassalam    

Aminah
Ciracas, Jakarta Timur


_____________________

Jawaban  :

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ibu Aminah yang dirahmati Allah,
Terima kasih atas kepercayaan Ibu terhadap kami. Sungguh luar biasa sekali Ibu Aminah ini, kami salut sekali dengan perjuangan ibu sebagai single parent untuk 7 putera Ibu selama lebih dari 20 tahun ini. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga Ibu. Aamiieen!

Ibu Aminah yang hebat,
Tujuan pernikahan sebagaimana tersirat dalam QS.ar-Rum: 21 adalah untuk mencapai ketenangan dan ketenteraman jiwa. Seorang istri akan merasa tenang dan tenteram jika suami selalu menemaninya dan menjadi partner di dalam mengarungi kehidupan rumah tangga teermasuk di dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Istri akan merasa nyaman di dalam rumah tangga ketika suami bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya.
Tanggung jawab suami terhadap istri dan anak-anak adalah memenuhi kebutuhan hidupnya, sebagaimana tercantum dalam Alquran:
وعلى المولود له رزقهن وكسوتهن بالمعروف

Artinya:
“ .....dan kewajiban bapak memberi makan dan pakaian terhadap istri dengan cara yang  makruf....”
( QS. al-Baqarah: 233)

Ketika suami ibu Aminah meninggalkan dan tidak menafkahi ibu dan 7 anak selama lebih dari 20 tahun, maka dapat dikatakan suami Ibu telah melakukan penelantaran terhadap isteri dan anak-anak. Tindakan yang dilakukan oleh suami ibu tersebut selain tidak selaras dengan Alquran, juga tidak sesuai dengan Undang-Undang No. 23 tahun 2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) terkait larangan menelantarkan orang-orang dalam lingkup rumah tangga. Ibu sebagai pihak yang ditelantarkan mempunyai hak untuk menuntut terhadap suami Ibu atas perlakuan yang tidak "ma’ruf" tersebut.

Tindakan penelantaran yang dilakukan oleh suami Ibu juga dapat dijadikan alasan bagi Ibu untuk mengajukan perceraian di Pengadilan Agama jika Ibu menghendaki. Ketika suami Ibu meninggalkan Ibu dalam waktu 20 tahun tersebut tidak secara otomatis perceraian terjadi kecuali jika sudah dilakukan atau diputuskan oleh hakim di Pengadilan Agama. Hal ini dikarenakan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama (pasal 115). Pencatatan perceraian di Pengadilan Agama ini juga dimaksudkan untuk melindungi perempuan agar suami tidak mudah menceraikan istrinya.

Kembali pada pertanyaan Ibu tentang bagaimana sikap Ibu terhadap suami Ibu yang menghendaki untuk hidup bersama kembali dengan Ibu, maka saran kami adalah Ibu sebaiknya mempertimbangkan positif dan negatifnya dari sikap yang akan Ibu ambil. Apakah Ibu Aminah yakin bahwa kembalinya suami Ibu akan dapat memberikan ketenangan dan ketentraman bagi keluarga Ibu ataukah sebaliknya? Apakah Ibu juga yakin bahwa suami Ibu akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab ketika kembali hidup bersama dengan Ibu? Kami berharap dan yakin bahwa Ibu Aminah dapat mengambil sikap yang bijak dan maslahah bagi Ibu dan 7 putera Ibu.

Ibu Aminah yang disayangi Allah,
Demikian sedikit penjelasan yang dapat kami berikan, semoga dapat menjadikan pertimbangan dan bermanfaat. Wallahu a'lamu bisshawab



JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

3-5 Maret 2015 Workshop PKRS di Kediri

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini16
mod_vvisit_counterKemarin1010
mod_vvisit_counterMinggu ini1026
mod_vvisit_counterBulan Ini36324
mod_vvisit_counterSemua1447563

Yang Online

Kami memiliki 12 Tamu online