RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Sunday
May 01st
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Tanya jawab

KTD Haruskah dinikahkan ? : Tanya Jawab Edisi 50

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Kyai, seorang teman sekolah saya mengalami Kehamilan Tidak Di inginkan (TKD), apakah teman saya itu harus dinikahkan?

Terima kasih,

Wassalam

Adinda Aliviani

Jln. Lebak Para, Cijantung

Jakarta Timur

 

Jawaban :

Saudari Adinda Aliviani yang kami hormati,

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) itu bisa terjadi pada perempuan di dalam pernikahan yang sah akibat kegagalan alat kontrasepsi. Bisa juga terjadi di luar pernikahan yang sah, akibat pemerkosaan atau hubungan bebas pra nikah. Jadi, yang paling memungkinkan maksud dari pertanyaan saudari adalah dalam kategori kedua, yakni perempuan yang hamil di luar pernikahan yang sah.

Jika ini yang saudari maksud, mungkin pertanyaan saudari ini sangat terkait kebiasaan di masyarakat yang memaksa anaknya menikah ketika terjadi kehamilan di luar nikah. Adakalanya dinikahkan dengan orang yang telah menghamilinya atau dengan orang lain untuk menutupi aib tersebut dari masyarakat, dan agar kelak janin dalam kandungan itu lahir “mempunyai” bapak.

 

Saudari Adinda Aliviani yang kami banggakan....

Sebelum menjawab pertanyaan yang saudari ajukan, terlebih dahulu akan kami paparkan pendapat ulama tentang hukum menikahi perempaun yang hamil di luar nikah. Di dalam kitab Nihayatul Mathlab disebutkan tentang kebolehan menikahi perempuan yang hamil di luar nikah:

وَالْـحَامِلُ مِنَ الزِّنَا يَحِلُّ نِكَاحُهَا؛ فَإِنَّ الْـحَمْلِ مِنَ الزِّنَا لَا حُرْمَةَ لَهُ )نهاية المطلب في دراية المذهب، 12: 219(

Artinya :  Perempuan yang hamil akibat perzinahan boleh dinikahi, karena tidak keharaman apapun yang menjadi akibat dari perzinahan  itu. (Nihayah Al Mathlab fi Dirayah Al Madzhab, 12/219)

Lalu, siapakah yang boleh menikahi perempuan tersebut?  Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin dijelaskan:

 

(مَسْأَلَةُ ش) وَيَجُوزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا سَوَاءُ الزَّانِى وَغَيْرِهِ وَوَطْءُهَا حِيْنَئِذٍ مَع الكَرَاهَةِ  (بغية المسترشدين، 419)

Artinya :  Boleh menikahi perempuan yang hamil dari perzinaan, baik oleh laki-laki yang menzinainya atau oleh lainnya. Dan (Suami) melakukan hubungan seksual pada waktu hamil dari zina tersebut adalah makruh. (Bughyatul Mustarsyidin, 419)

 

Dari apa yang disampaikan para ulama ini mengerucut pada tiga hal berikut:

1. Perempuan hamil di luar nikah berbeda dengan perempuan hamil dalam masa iddah atau ditinggal mati suaminya. Perempuan hamil di luar nikah, tidak memiliki iddah, karena, masa iddah hanya milik mereka yang menikah.

2. Karena tidak memiliki iddah, maka perempuan itu boleh menikah atau dinikahi, baik oleh laki-laki yang menghamilinya ataupun orang lain.

3. Setelah menikah, diperbolehkan melakukan hubungan seksual.

 

Saudari Adinda Aliviani yang kami banggakan..

Dari tiga rumusan hukum ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa perzinahan tidak berkonsekwensi apapun terhadap status seorang perempuan. Dia tetap dianggap “perawan” dengan segala konsekwensi hukumnya. Tidak boleh dipaksa untuk menikah walaupun dengan tujuan tertentu. Semua harus dikembalikan kepada kerelaan dari perempuan tersebut. Sebagaimana teguran Rasulullah kepada seorang ayah yang memaksa anak perempuannya untuk menikah walaupun dengan tujuan yang baik.

Ulama hanya menegaskan perempuan itu boleh dinikahi, bukan harus dinikahi. Begitu pula dengan tidak adanya ketentuan tentang siapakah yang boleh menikahi perempuan tersebut semakin menegaskan tentang tidak bolehnya paksaan ini.

 

Saudari Adinda Aliviani yang kami banggakan..

Dengan adanya ketentuan ini bukan berarti memberikan peluang untuk perzinahan. Islam sangat keras menentang praktik seks pra nikah. Namun apa yang harus dilakukan ketika sudah terlanjur terjadi? Inilah permasalahannya. Hamil luar nikah adalah mudharat, namun jangan sampai mudharat tersebut dihilangkan dengan menimbulkan mudharat baru. Kaidah fiqh menegaskan:

 

اَلضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَرِ

Artinya  :  “Suatu mudharat tidak bisa dihilangkan dengan menimbulkan mudharat yang baru”

Ada kondisi dimana menikahkan perempuan yang mengalami KTD itu dapat mendatangkan maslahah, misalnya ketika terjadi dalam hubungan suka sama suka dan keduanya sudah cukup umur. Akan tetapi dalam kasus perkosaan yang menyebabkan kehamilan, atau salah satunya belum mencapai usia matang, tentu tidak bijak jika harus menikahkannya dalam kondisi psikologis yang rapuh, trauma atas apa yang dialaminya.

Jadi dalam hal ini, harus disediakan beberapa alternatif solusi, kemudian dipilih yang paling sedikit mafsadahnya. Sedangkan menikahkan adalah salah satu alternatif solusi yang bisa ditawarkan, bukan solusi satu-satunya.

 

Saudari Adinda Aliviani yang kami banggakan...

Mungkin hanya ini yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan berguna dan menambah  wawasan kita bersama. {}

 

 

 

Kewajiban Naskah Suami : Tanya Jawab Edisi 49

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Pak Kyai yang saya hormati,

Saya dan suami berprofesi sama, tetapi bekerja di tempat yang berbeda. Kami mempunyai 5 orang anak. Alhamdulillah suami mau terlibat dalam urusan rumah tangga, bahkan ia yang lebih telaten mengurusi anak anak. Hanya saja, selama hampir 20 tahun kami menikah, penghasilan suami selalu diserahkan kepada ibunya yang sudah janda sejak suami masih kecil.  Ibu mertua mempunyai tanggungan menantu perempuan (ipar saya) yang memiliki 3 anak (anak yatim).

Saya sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, karena dari penghasilan saya pribadi bisa membiayai rumah tangga kami dengan amat berkecukupan. Tetapi orang tua saya tidak ikhlas, menurut mereka suami saya tidak melaksanakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga.
Mohon pencerahan dari Kyai, bagaimana sebetulnya nafkah dalam keluarga menurut Islam? dan  apa yang sebaiknya saya lakukan? Terima kasih.

Wassalam,
Rida Ariesta
08128700xxx

____________________________________
Jawaban Pengasuh Rubrik Tanya-Jawab Swara-Rahima edisi 49

Saudari Rida yang kami banggakan

Sebelum menjawab pertanyaan Saudari, akan kami gambarkan terlebih dahulu tentang konsep keluarga dalam Islam khususnya dalam masalah ekonomi (nafkah).  Dimulai dari firman Allah swt.:
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (البقرة، 233)
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. “(QS. Al Baqarah, 233)

Berdasarkan ayat ini para ulama menegaskan bahwa suami yang diperintahkan untuk menafkahkan istri dan anaknya. Kewajiban ini melekat sejak seorang laki-laki mengikrarkan janji suci pernikahan dan setelah istri telah siap secara fisik dan mental untuk melayani kebutuhan biologis suaminya. (Nihayah Al Zain, 333)

Kewajiban nafkah itu meliputi sandang, pangan dan papan, seperti makanan pokok beserta lauk pauknya, tempat tinggal, perhiasan, termasuk juga pembantu. Kata Sayyid Abdurrahman Ba’lawi :
حقوق النكاح الواجبات لزوجة        على الزج بالتمكين سبع لوازم
طعام وأدم ثم سكنى وكسوة        وآلة تنظيف متاع وخادم
Artinya :

“Adapun beberapa hak-hak seorang istri sekaligus kewajiban suami kepada istrinya secara pasti itu ada tujuh : 1) memberi makan, 2) memberi lauk, 3) menyediakan tempat tinggal dan, 4) memberi pakaian, 5) alat pembersih, 6) perhiasan, 7) pembantu “(Bughyatul Mustarsyidin, hal 298)
Ketika suami tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka istri diberikan dua pilihan: Pertama, mengajukan gugatan ke Pengadilan untuk membatalkan pernikahannya. Kedua, ia bersabar menerima kenyataan itu, kemudian ia membiayai hidupnya dengan hasil keringat sendiri. Dan uang yang dibelanjakan menjadi itu menjadi hutang suami kepada istrinya. Dalam kondisi ini, istri boleh bekerja di luar rumah mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidupnya, sementara  suami tidak boleh melarang istrinya itu untuk bekerja untuk keperluan tersebut.  (Bujairimi Ala Al Khatib, juz 11 hal 417, Al Fatawa Al Fiqhiyyah al Kubra, juz 4  hal 205)

Saudari Rida yang kami banggakan
Melihat apa yang Saudari sampaikan itu, nampaknya kehidupan rumah tangga yang saudari jalankan saat ini berada dalam kategori kedua. Menurut kami, inilah pilihan terbaik bagi istri ketika suaminya tidak mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Suami memang bersalah karena tidak memberikan nafkah kepada keluarga, namun di sisi lain, saudari sudah ikhlas dengan kondisi itu. Salah satu indikasinya adalah, Saudari tidak pernah memper-masalahkan walaupun suami tidak  tidak pernah memberikan nafkah lahir kepada Saudari.
Di dalam fiqh, nafkah yang Saudari berikan itu menjadi hutang suami kepada Saudari. Pada dasarnya Saudari boleh menagih hutang itu ketika suami telah mampu, atau mengikhlaskan “hutang” itu tidak dibayar dan menjadi nafkah Saudari untuk kebaikan keluarga. Ketika uang itu diikhlaskan, mudah-mudahan uang pribadi yang Saudari gunakan untuk nafkah itu menjadi ladang ibadah yang akan mendapatkan balasan yang lebih besar dari Allah swt. Sebagaimana janji Allah swt.:

“Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. “(QS. Saba’, 39)

Apalagi sebenarnya Saudari tahu alasan suami tidak memberikan hasil keringatnya kepada Saudari. Ini artinya sudah ada keterbukaan dan saling pengertian dalam rumah tangga. Ini adalah modal yang sangat baik untuk menuju keluarga yang harmonis.

Saran kami, niatkan saja uang yang seharusnya Saudari terima itu sebagai shadaqah Saudari sebagai bakti kepada mertua serta untuk membantu anak yatim, kemudian berharap mendapatkan balasan yang besar di sisi Allah swt. Hal ini tentu lebih baik daripada mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya sudah mampu Saudari penuhi sendiri.

Saudari Rida yang kami hormati,

Melihat bangunan rumah tangga saudari saat ini, yang paling penting dan perlu saudari syukuri adalah sikap suami yang tidak melarang saudari untuk berkarir dan bekerja di luar rumah dan Saudari juga “bebas” menggunakan dan menikmati hasil jerih payah tersebut. Tidak banyak istri yang mendapatkan kesempatan seperti itu setelah mereka berumah tangga. Bahkan terkadang, para istri menjadi “sapi perah” suaminya. Mereka dipaksa bekerja keras, sementara hasilnya hanya dinikmati oleh suaminya.

Satu hal lagi perlu disyukuri adalah kepedulian suami untuk ikut mengurusi keluarga, terutama mengurus anak adalah suatu nikmat tersendiri dalam kehidupan berumah tangga. Sebagaimana Rasulullah swt. yang ikut turun tangan langsung dalam urusan rumah tangga. Bahkan ikut bermain bersenda gurau dengan anak dan cucu beliau.

Saudari Rida yang kami di rahmati Allah swt,

Jadi menurut hemat kami, bangunan rumah tangga yang saudari bangun bersama suami tengah menuju posisi yang ideal. Ada kerjasama, saling pengertian saling menghargai. Inilah yang paling penting dalam sebuah rumah tangga. Adapun berkaitan dengan orangtua Saudari, maka perlu komunikasi yang baik, sehingga beliau dapat memahami kondisi tersebut.

Mudah-mudahan keluarga Saudari terus diberikan kemudahan serta dapat perlindungan Allah swt. sehingga keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah dapat Saudari rasakan. Amin....

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 24 April 2015 06:11 )

Menolak Perjodohan Atau Berbakti Pada Orang Tua : Tanya Jawab Edisi 48

Assalamu’alaikum wr.wb.

Bu Nyai yang saya hormati,

Saya, Siti Zahroh, 16 tahun, siswi kelas 1 di salah satu M A swasta di Pandeglang, Banten. Saya  juga santriwati dari sebuah pesantren. Saya, sulung  dari 5 bersaudara dari keluarga kurang berada.

Beberapa waktu lalu, saat pulang ke rumah, ayah menyatakan akan menjodohkan saya dengan seorang lelaki pilihannya. Usianya 15 tahun lebih tua dari saya. Ayah mendesak saya untuk menerimanya, dengan alasan selain lelaki tersebut sudah mapan beliau khawatir kalau saya terjebak pada pergaulan bebas. Hal ini karena beliau sering mendengar berita bahwa zaman sekarang banyak anak gadis yang sudah tidak perawan.

Sebenarnya ada yang mengganjal di hati saya, Bu Nyai. Mengingat usia saya masih terlalu muda, dan punya cita-cita untuk sekolah tinggi bahkan hingga jadi sarjana. Tapi saya tidak pernah berani menyampaikan hal ini kepada orang tua, karena takut akan menambah beban pikiran mereka. Di sisi lain, saya merasa takut dengan pendapat orang-orang dulu yang mengatakan bila menolak seseorang yang hendak melamar akan menyebabkan jauh jodohnya.
Bu Nyai yang baik hati,
Apa yang harus saya lakukan? Mohon pencerahannya, dan terimakasih banyak atas nasihatnya.

Wassalam,
Siti Zahroh,
siswi salah satu MA swasta
di Pandeglang

Jawaban  :

Wa’alaikum salam wr.wb.
Adinda Zahroh yang dirahmati Allah.
Wah, saya senang sekali membaca surat Adik yang kritis ini. Saya berterimakasih atas kepercayaan Adik kepada kami untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang Adik alami.

Adinda Zahroh yang disayang Allah.
Banyak remaja yang mengalami dilema seperti yang Adik alami. Dilema antara menolak perjodohan atau menjalankan kewajiban untuk berbakti pada orang tua. Pada dasarnya dua hal tersebut bukanlah untuk dipertentangkan, oleh karena menolak perjodohan bukan berarti tidak berbakti terhadap orang tua asalkan penolakannya disampaikan dengan cara yang baik.

Usia 16 tahun memang usia yang masih terlalu  muda untuk menikah. Untuk melakukan pernikahan, kematangan fisik (biologis) dan psikologis sangatlah penting. Menurut para ahli, secara biologis perempuan yang berusia di bawah 20 tahun memiliki resiko tinggi untuk penyakit dan kematian ketika menjalankan fungsi reproduksi. Secara psikologis, usia 16 tahun ini kondisinya masih labil, sehingga belum siap jika melakukan pernikahan. Kita perlu mengingat bahwa tujuan pernikahan yaitu untuk mencapai sakinah, mawaddah, dan rahmah (QS. Ar Rum : 21). Tujuan yang mulia itu secara implisit mensyaratkan kematangan psikologis bagi siapapun yang akan melakukan pernikahan.

Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa dampak psikologis menikah di usia muda meliputi terputusnya pendidikan, kemiskinan, kehilangan kesempatan bekerja, mudah bercerai, anak yang dilahirkan akan mendapatkan kurang cukup perhatian, perkembangan yang terhambat dan mudah terpengaruh untuk melakukan perilaku menyimpang. Dengan berbagai dampak psikologis yang negatif ini, bagaimana mungkin tujuan pernikahan yang mulia dapat tercapai?

Adinda Zahroh yang birrul walidain,

Orang tua memang mempunyai kewajiban untuk menjadi wali bagi anaknya ketika anak tersebut menikah. Kewajiban menjadi wali ini tidak mengandung kewajiban untuk menjodohkan putra-puterinya, apalagi memaksakan sebuah perjodohan. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw.bersabda :
لا تنكح الأيم حتى تستأمر، ولا تنكح البكر حتى تستأذن
yang terjemahan bebasnya bahwa seorang perempuan tidak bisa dinikahkan atau dijodohkan tanpa persetujuan perempuan tersebut. Berdasarkan hadis tersebut, maka perempuan berhak menolak ketika dia tidak menyetujui perjodohan tersebut dan orang tua tidakboleh memaksakan kehendak terhadap puterinya.

Hadis di atas menegaskan hak perempuan atas dirinya. Tidak ada seorang pun -bahkan orang tuanya-, yang berhak mengatur kapan dan dengan siapa perempuan menikah kecuali perempuan itu sendiri, Kata “hatta” dalam hadis tersebut menekankan pentingnya orang tua menghargai hak anak perempuannya tersebut. Sebuah perjodohan dan pernikahan tidak akan terjadi jika perempuan yang akan dijodohkan tidak menyetujuinya.

Hadis tersebut juga menyiratkan bahwa menolak perjodohan yang ditawarkan oleh orang tua tidak diartikan sebagai perbuatan yang membangkang atau tidak berbakti kepada orang tua. Menerima atau menolak perjodohan merupalan hak bagi perempuan. Berbakti atau tidak berbakti kepada orang tua tidak diukur dari seseorang itu menerima atau menolak perjodohan, melainkan dari cara berkomunikasi anak terhadap orang tua.

Banyak ayat dalam Alquran yang menekankan bahwa yang dimaksud dengan wa bi al-walidaini ihsaanaa (berbuat baik pada orang tua) itu terletak pada cara berinteraksi dan komunikasi anak terhadap orang tua. Ketika seorang anak tidak menyetujui atau kurang bersepakat dengan pendapat orang tua, anak tersebut tidak dilarang untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap orang tuanya. Hanya saja yang terpenting adalah hal itu disampaikan dengan cara yang baik dan bahasa yang tidak menyakiti orang tua.

Adik Zahroh yang dimuliakan Allah,
Saya rasa sebaiknya Adik mengkomunikasikan ketidaksetujuan Adik atas perjodohan ini kepada orang tua Adik. Ajaklah orang tua Adik untuk mendiskusikan dampak-dampak negatif yang akan Adik alami ketika Adik menikah dini. Tunjukkan dan yakinkan orang tua Adik bahwa kekhawatiran akan terjebaknya Adik ke dalam pergaulan bebas tidak akan terjadi. Saya yakin, orang tua Adik sangat sayang pada Adik dan tidak akan rela jika Adik mengalami akibat atau menjadi korban nikah dini.

Sebagai orang pesantren, Adik pasti memahami kaidah Fiqh yang dapat menjadi bahan diskusi Adik dengan orang tua adik, yaitu :
الضرر يزال
Yang artinya : menghilangkan madharat, maka menghindari pernikahan dini termasuk menghindari berbagai madharat yang akan terjadi.
Adapun tentang pendapat masyarakat yang mengatakan bahwa menolak lamaran seorang laki-laki dapat menjauhkan perempuan dari jodohnya itu hanya mitos yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Banyak sekali perempuan yang menikah dengan laki-laki yang “ke-sekian” yang melamarnya, yang berarti perempuan tersebut telah menolak lamaran laki-laki sebelumnya. Jadi, Adik tidak usah khawatir dengan mitos tersebut.

Adinda Zahroh yang baik,
Mudah-mudahan jawaban saya ini bermanfaat dan dapat membantu mengurangi kegelisahan Adik. Semoga Adik dapat mendiskusikan permasalahan Adik dengan orang tua Adik. Sekali lagi terimakasih atas kepercayaan Adik kepada kami. Selamat beraktivitas!

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Istri Gugat Cerai Suami karena Tak Dinafkahi dan Ditelantarkan : Tanya Jawab Edisi 47

Assalamu’alaikum wr.wb.
Pak Kyai yang baik, saya, Wulan,  38 tahun. Sudah menikah dengan Edi, 40 tahun. Selama 18 tahun menikah, alhamdulillah, kami dikaruniai 3 anak laki-laki.

Saat ini rumah tangga kami terancam kehancuran sejak suami menggeluti bisnis properti.  Dua tahun terakhir ini ia pulang seminggu sekali, lalu sebulan  sekali, kemudian setahun sekali, malah sekarang ia tidak pernah pulang sama sekali. Komunikasi kami hanya melalui telpon seluler. Itu pun suami hanya mau berkomunikasi dengan anak-anak. Saya, istrinya tidak dianggap sama sekali. Itu membuat perasaan saya hancur karena ia telah menelantarkan keluarga.

Nafkah sudah tidak pernah ia berikan. Malah, belakangan ini hutang-hutang suami melalui pinjaman bank dilimpahkan ke saya dan orang tua saya. Padahal saya tidak tahu dimana keberadaan suami. Saya dan orang tua menjadi terbebani dengan persoalan ini. Padahal saya harus menanggung beban kehidupan sehari-hari dan masa depan ketiga anak-anak kami.

Pak Kyai, yang ingin saya tanyakan, benarkah dalam Islam jika seorang suami meninggalkan istrinya selama 6 bulan berturut turut, dan tidak menafkahinya maka otomatis jatuh talak? Apakah istri mesti terlebih dahulu mengajukan gugatan cerai; dan bagaimana pandangan Pak Kyai kalau saya menggugat cerai suami dengan berbagai alasan ini? Apakah dalam agama tindakan saya bisa dibenarkan? Bisakah suami saya juga dijerat hukuman karena ulahnya ini? Saya sangat berharap solusi,  mendapatkan pencerahan terhadap kasus yang saya hadapi.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Wulan-
Kompleks Radar
Cijantung-Jakarta Timur.

Jawaban SR
Saudari Wulan yang kami banggakan.
Pertama-tama secara pribadi kami ikut bersimpati pada cobaan hidup yang saudari hadapi. Semoga Allah swt. memberikan saudari ketabahan, kesabaran serta balasan pahala yang berlipat ganda. Kami yakin pasti ada skenario besar yang dipersiapkan Allah swt. untuk saudari sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan matang serta memiliki ketakwaan yang tinggi kepada Allah swt.. Amin...

Saudari Wulan yang kami banggakan.
Sehubungan dengan pertanyaan yang saudari ajukan, pertama yang ingin kami sampaikan bahwa hukum Islam telah  menetapkan adanya kewajiban utama untuk memberikan nafkah keluarga terletak di pundak suami. Hal ini telah tersimbolisasi sejak awal pernikahan yakni dengan adanya kewajiban suami membayar mas kawin kepada istrinya. Di dalam Alquran telah ditegaskan tentang kewajiban ini:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (البقرة، 233)
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf.

Menafsirkan ayat ini Ibn Katsir mengatakan bahwa seorang ayah wajib ntuk memberikan nafkah kepada istri dan anaknya. Bahkan ketika telah terjadi perceraian dan istri masih memerlukan biaya untuk membesarkan anaknya, misalnya ketika itu istri masih menyusui si anak, maka ayah tetap wajib menafkahi mantan istri tersebut. (Tafsir Ibn Katsir, Juz I hal 479)

Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal  80 ayat 4, sebagai peraturan yang  berlaku di Indonesia, disebutkan juga tentang kewajiban suami untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya berupa tempat tinggal, pakaian, biaya rumah tangga, pengobatan hingga biaya pendidikan.
Oleh karena itu, ketika suami tidak memberikan nafkah kepada istrinya, maka hal itu termasuk pelanggaran. Suami berdosa karena tidak memenuhi kewajibannya itu dan lari dari tanggung jawab yang telah amanahkan Allah swt. kepadanya.

Dalam UUPKDRT (Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga) perbuatan tersebut sudah tergolong penelantaran rumah tangga yang termasuk bagian dari kekerasan dalam rumah tangga. Pasal 9 ayat 1 UU PKDRT  menyebutkan bahwa ‘Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku  baginya atau karena persetujuan atau perjanjian  ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan.’

Saudari Wulan yang kami banggakan
Dengan alasan inilah, maka tidak ada larangan bagi saudari menggugat cerai suami anda sehingga proses perceraian bisa dilegalkan secara hukum. Hukum Islam mengatur bahwa perempuan boleh mengajukan gugatan perceraian kepada hakim dengan alasan tidak mendapatkan nafkah dari suaminya, baik nafkah lahir ataupun nafkah batin. Namun proses ini harus diajukan ke pengadilan karena menurut para ahli hukum Islam dengan tidak adanya nafkah dari suami tidak otomatis terjadi perceraian. Selama suami diyakini masih hidup walaupun tidak pernah memberikan nafkah maka pernikahan tetap dihukumi masih terjadi. (Al Aziz Syarh Al Wajiz, juz 9 hal 484-485)

Selanjutnya, apakah dalam kondisi ini suami bisa dijerat hukum? Jika merujuk pada UU PKDRT tentang kekerasan khususnya dalam hal penelantaran keluarga, maka persoalan yang Saudari hadapi ini sudah bisa dibawa ke ranah hukum. Suami biasa dianggap telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga karena tidak memberikan nafkah serta membebankan hutang yang seharusnya dia tanggung kepada saudari. Namun untuk menempuh jalur ini butuh persiapan yang sangat matang sehingga dapat benar-benar terbukti secara pasti. Jika tidak, bisa jadi tuntutan saudari bisa berbalik merugikan saudari sendiri.

Saudari Wulan yang kami banggakan
Mungkin hanya itu yang dapat kami bagi kepada saudari. Namun satu hal tetap harus saudari yakini bahwa pemberi solusi yang sesungguhnya adalah Allah swt. yang Maha Mengetahui yang terbaik buat makhluk-Nya. Oleh karena itu, perbanyaklah beribadah dan meminta petunjuk dan perlindungan-Nya  agar selalu diberikan jalan yang terbaik dari persoalan yang saudari hadapi. []

Istri Tertekan karena Suami Selalu Bela Ibunya : Tanya Jawab Edisi 46

Assalamu 'alaikum Wr Wb.
Bu Nyai,
Melalui perkenalan yang singkat, dua tahun lalu keponakan saya, Yani, menikah dengan Jati, anak tunggal. Yani kemudian diboyong tinggal dengan orang tua Jati di Klaten. Tetapi ternyata Jati sangat tergantung dan tunduk pada ibunya. Sehingga rumah tangga Yani dan Jati kemudian diatur oleh Ibu Jati. Yani kerap mengalami kekerasan dari mertua, karena dianggap tidak cakap mengelola rumah tangga termasuk uang belanja, dan mengurus suami.

Setahun kemudian Yani melahirkan seorang anak perempuan. Anak itu lalu diambil oleh ibu Jati dan diasuhnya. Yani tak boleh sekalipun menyentuh anaknya. Ia hanya boleh memandang dari jauh. Jika Yani protes ke suaminya, Jati hanya mengatakan Ibu lebih berpengalaman mendidik anak. Tanpa sekalipun Jati membela istrinya.

Mendapat tekanan dan kekerasan terus menerus membuat Yani akhirnya stres. Ini semakin menguatkan ibu mertuanya untuk tidak menyerahkan cucunya kepada Yani dengan alasan "kurang waras". Mengetahui istrinya stres, Jati yang adalah pegawai bank tidak melakukan upaya apapun. Ia malah mengunci istrinya di kamar. Hanya ketika pagi sebelum kerja Jati menengok istrinya  sambil mengulurkan makanan.
Orang tua Yani prihatin sekali atas kondisi ini. Tetapi bingung untuk mengambil sebuah tindakan. Kami minta saran kepada ibu Nyai, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua Yani agar tidak melanggar aturan agama. Demikian, terima kasih.

Wassalam,
Dewi Nurdin
081218521xxx
Cijantung

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.,

Ibu Dewi yang dirahmati Allah,
Terima kasih atas pertanyaan Ibu. Kami sangat salut dan mengapresiasi kepedulian Ibu terhadap kondisi rumah tangga keponakan Ibu. Sikap dan tindakan Ibu yang berpihak pada perempuan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KdRT). Semoga langkah yang diambil Ibu Dewi ini dapat menginspirasi masyarakat untuk aktif berperan dalam menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Ibu Dewi yang berhati mulia,

Seorang laki-laki dan perempuan yang telah mengikatkan dirinya dalam sebuah pernikahan menunjukkan bahwa mereka berkomitmen untuk terikat pada suatu akad yang kuat atau yang disebut dengan mitsaqan ghalizhan. Suami dan isteri yang menyadari adanya ikatan atau akad yang kuat di antara mereka ini akan selalu saling menghormati dan saling menjaga di antara keduanya serta tidak akan membiarkan apapun atau siapapun dapat memisahkan mereka. Hal ini selaras dengan tujuan pernikahan sebagaimana dalam QS ar-Rum: 21, adalah memberikan ketenangan dan senantiasa mewujudkan mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang) di antara suami dan isteri. Untuk mewujudkan tujuan pernikahan yang mulia tersebut, suami dan isteri harus saling memahami, saling perhatian serta saling melengkapi satu sama lain, sebagaimana firman Alllah, ”Hunna libaasun lakum wa antum libaasun lahunna”, yang artinya ”..... mereka (para isteri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka......” (QS. 2: 187).

Maksud dari ayat tersebut adalah suami dan isteri seharusnya saling melindungi, saling melengkapi dan saling mencintai. Secara lebih khusus, Allah juga memerintahkan para suami untuk memperlakukan isterinya dengan ma'ruf. Ma'ruf yang dimaksud adalah perbuatan yang sudah dikenal sebagai perbuatan baik. (QS. 4: 19). Dalam kasus keponakan Ibu Dewi tersebut, apakah perbuatan Jati terhadap Yani, isterinya, adalah perbuatan yang ma'ruf?

Ibu Dewi yang peduli sesama,
Kalau kita pelajari kasus Jati tersebut, Jati berada dalam posisi di antara dua perempuan yang dicintainya; Jati mencintai ibunya sebagai orang tua yang melahirkan dan membesarkannya, tetapi Jati juga mencintai isterinya sebagai pendamping hidupnya. Semestinya Jati dapat memperlakukan ibu dan isterinya dengan sama baiknya serta adil bahkan tidak seharusnya mempertentangkan antara ibu dan isterinya. Apa yang telah dilakukan Jati justeru malah mengorbankan isterinya. Dalam hal ini Jati telah melakukan perbuatan yang dapat dikategorikan dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Menurut Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (pasal 1 ayat 1 UU PKDRT).

Berdasarkan definisi tersebut terlihat bahwa Jati telah melakukan perbuatan yang menimbulkan penderitaan psikis terhadap isterinya. Stress yang dialami oleh Yani tersebut akibat dari tekanan batin mendalam yang ditimbulkan dari kekerasan psikis yang dilakukan oleh suaminya. Kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam UU PKDRT pasal 7 adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Upaya memisahkan Yani dari anaknya dan bahkan pengisolasian terhadap Yani dari kehidupan sosial dengan mengurungnya di dalam kamar merupakan bentuk kekerasan psikis yang tentunya perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Ibu Dewi yang disayangi Allah,
Menyikapi kondisi Yani yang telah menjadi korban KDRT tersebut, sudah seharusnya keluarga dan masyarakat turun tangan menyelamatkan korban. Menurut saya, orang tua Yani berhak meminta pertanggung jawaban Jati yang memperlakukan Yani secara sewenang-wenang tersebut. Kekerasan psikis yang telah dilakukan Jati terhadap Yani tersebut adalah perbuatan dhalim dan munkar yang menurut ajaran Islam sudah seharusnya dihentikan.
Dalam kasus Yani tersebut, tentunya kita masih ingat kasus Khaulah binti Tsa’labah yang mendapatkan kekerasan psikis dari suaminya, yaitu suaminya melakukan zhihar terhadap isterinya. Menyikapi hal tersebut, Allah dengan tegas membela Khaulah dan tidak membenarkan perbuatan suami Khaulah tersebut. Allah juga memberikan sanksi terhadap suami Khaulah khususnya dan pada umumnya suami-suami yang melakukan zhihar kepada isterinya (untuk kisah selengkapnya, silakan baca QS. Mujadilah ayat 1-4) . Mengambil hikmah dari kisah Khaulah tersebut, dalam kasus keponakan ibu Dewi ini, orang tua Yani sebaiknya segera menyelamatkan Yani dari tindak kekerasan yang telah dilakukan oleh suaminya agar Yani tidak menjadi semakin terpuruk.

Ibu Dewi yang dimuliakan Allah,
Demikian sedikit jawaban dan solusi yang dapat saya tawarkan, semoga bermanfaat terutama bagi kepentingan terbaik keponakan Ibu. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a’lam bi as-shawab.
Wasslamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

UTAMA TRAVEL

Pelayanan Pembayaran Satu Pintu, dengan mengedepankan Pelayanan RAMAH, CEPAT dan AMANAH

Agenda Rahima

27 - 30 Nopember 2015 Tadarus 1 Ulama Laki-Laki di Serang

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini209
mod_vvisit_counterKemarin1149
mod_vvisit_counterMinggu ini8728
mod_vvisit_counterBulan Ini209
mod_vvisit_counterSemua1862367

Yang Online

Kami memiliki 43 Tamu online