RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Friday
Apr 25th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Tanya jawab

Prihatin atas Nasib Hubungan Perkawinan Saudara : Tanya Jawab Edisi 43

Assalaamualaikum Pak Kyai,
Terima kasih telah menyajikan rubrik konsultasi seputar berbagai persoalan yang menyangkut agama Islam ini. Perkenalkan, nama saya: Muhammad Toat. Domisili di  Malang, Jawa Timur. Saya  mau menceritakan sekaligus mencari solusi yang terbaik dari Ustadzah.

Begini Pak Kyai, saya adalah anak terakhir (ke-6) dari keluarga saya. Bapak saya sudah almarhum, namun alhamdulillah Ibu saya sehat.  Saya mempunyai 2 kakak perempuan (yaitu  anak ke 2 dan anak ke 3).

Anak ke 3, janda mempunyai anak 1. Sy sebut: "Mbak Janda". Kami tinggal serumah bersama saya dan ibu. Sedangkan anak ke 2, mempunyai keluarga dan usaha di rumah induk (rumah kami), sehingga hanya waktu malam pun mereka pulang. Saya sebut: "Mbak Sa".
Mbak Sa, sehari hari mengasuh anak mbak saya yang janda itu. Mbak Janda  bekerja di kantor swasta di daerah sini. Mbak Sa, sudah beberapa hari ini curiga suaminya sering keluyuran, telpon-telponan  dengan Mbak Janda. Bahkan ia  mengaku pernah jalan  pergi berdua  saja,  tanpa sepengetahuan keluarga.

Waktu terus berlalu, Mbak Sa sering menelpon Mbak Janda, dan suaminya untuk meng-cross-check apa yang terjadi.  Dan pernah suatu waktu di latar belakang  suara telepon terdengar bunyi rintik hujan pada waktu yang sama,  yang sama. Dan kebetulan  saat itu keduanya  sedang tidak ada di rumah.

Kemarin, Mbak Sa muntab (emosi yang tak terbendung)  sehingga akhirnya ia  mengumpulkan ibu, suaminya dan Mbak Janda. Dengan bantuan kakak ipar Mbak Sa, suaminya mengaku pernah jalan berdua, jemput waktu pulang kerja, dll. (Saya belum tahu pastinya mereka berzinah atau tidak, Naudzubillah).

Dengan ini, mohon solusi dari Pak Kyai untuk memberikan jalan keluar yang baik? Terus terang hati Mbak Sa begitu hancur, dia dikhianati seperti itu. Padahal selama ini dia yang mengasuh anaknya mbak Janda,  yang  kemudian justru keluar pergi berdua dengan suaminya. Suaminya memang sedikit (buaya) dan mbak Janda imannya tidak kuat. Apalagi dia telah menjanda selama 4 tahun.
Mohon agar Pak Kyai berkenan untuk membantu saya. Terima Kasih.

Wassalaamualaikum wr.wb.
Muh. Toat (27 thn)


Jawaban KH. Muhyiddin Abdusshomad :
Saudara Muh Toat yang kami banggakan. Memang sudah kewajiban setiap umat Islam untuk peduli dan memperhatikan diri dan keluarganya.  Menjaganya agar tidak terjerumus pada perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan  di dunia ataupun di akhirat. Di dalam Alquran Allah swt. sudah menegaskan agar menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka (QS. Al Tahrim, 6), karena bagaimanapun keadaannya, baik atau buruk, mereka tetaplah orang-orang terdekat yang memiliki hubungan darah dengan kita. Sebagaimana Rasulullah saw. tetap menghormati paman beliau Abu Thalib, sekalipun tidak mau memeluk agama Islam.

Ketika mereka melakukan suatu kesalahan atau menyimpang dari norma sosial dan agama, tugas kita adalah mengingatkan mereka dengan agar kembali ke jalan yang benar. Tentu tetap harus dipikirkan cara terbaik agar tujuan tersebut dapat tercapai secara maksimal. Jangan sampai tujuan baik itu, justru makin menjauhkan mereka dari ajaran agama hanya karena kita salah dalam menggunakan metode untuk menegur mereka.  Dalam al Qur’an Allah swt. :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (125) Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al Nahl, 126)

Saudara Toat yang baik,
Berangkat dari paradigma inilah, kami akan mencoba untuk urun rembug atas persoalan yang saudara hadapi. Pertama, apa yang terjadi antara kakak ipar dan Mbak saudara itu memang merupakan hal yang menyimpang dari ajaran agama. Berselingkuh itu memang perbuatan yang dilarang dalam agama.  Apalagi itu dilakukan kepada pasangan dari saudara kita. Dengan tegas Alquran melarang mengumpulkan atau berpoligami dengan dua saudara kandung sekaligus. Apalagi sekedar “main-main” dalam hubungan  yang tidak direstui agama. Di dalam QS. Al Nisa’ 23 Allah swt. berfirman : 


(ambil hanya yang bagian “wa an tajma’uu baina al-ukhtaini illa ma qad salaf”)
Artinya :
“dan (dilarang) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Nisa’ 23)

Saudara Toat yang dirahmati Allah swt.,
Kedua, Menyikapi pelangggaran tersebut, penghormatan tetap harus diberikan kepada mereka sebagai saudara yang lebih  tua, kemudian berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan nasehat dan pengertian kepada mbak janda ataupun kakak ipar saudara. Sudah tentu, nasehat yang diberikan dengan cara yang santun bukan dengan mempermalukan. Misalnya menunggu momen yang pas kemdian memberikan analogi-analogi, seandainya bagaimana jika suami  atau istrinya yang berselingkuh, atau contoh-contoh dari kejadian sehari-hari dari sekitar saudara atau dari media massa tentang akibat dari perselingkuhan.

Yang ketiga, memberikan motivasi kepada Mbak Sa agar kuat menghadapi masalah tersebut, tidak terbawa emosi secara berlebihan. Sembari terus berdoa  kepada Allah swt. agar diberikan jalan terbaik dari persoalan yang dihadapi. Apalagi jika doa itu dilakukan tengah malam ketika shalat tahajjud, tentu akan sangat efektif.

Selanjutnya, ikhtiar manusiawi perlu dilakukan. Misalnya mengingatkan Mbak agar berusaha menghangatkan hubungan dan komunikasi dengan suaminya, merawat dirinya agar terlihat lebih cantik dan lain sebagainya.

Saudara Toat  yang budiman,
Saya kira hal inilah langkah-langkah awal yang bisa dilakukan. Memang terkesan sangat sederhana, tetapi  mudah-mudahan yang sederhana ini masalah tersebut bisa berakhir dengan baik. Bisa saja mengambil jalan pintas misalnya perceraian (naudzubillah) atau lainnya, namun hal itu juga tidak sepenuhnya akan menyelesaikan masalah. Malah dapat akan menimbulkan masalah baru yang terkadang jauh lebih rumit dari akar masalahnya.  {}


 

Perlukah Anak Perempuan Saya Dikhitan? : Tanya Jawab Edisi 42

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Bu Nyai yang saya hormati, saya Khusnul Khotimah (39 tahun), seorang karyawati tinggal di Kramat Jati, Jakarta Timur. Saya telah menikah dengan suami selama 9 tahun, dan alhamdulillah kurang lebih setengah tahun yang lalu keluarga kami mendapatkan kabar gembira. Oleh dokter saya dinyatakan positif hamil. Saat ini kandungan saya memasuki bulan keenam, dan kami tengah bersemangat untuk menanti kelahiran si buah hati. Didorong oleh rasa penasaran tentang jenis kelamin buah hati, beberapa hari lalu ketika ke dokter kandungan suami meminta agar saya di-USG. Insyaallah, anak kami bakal lahir perempuan.

Sebenarnya, bagi saya tidak masalah memiliki anak lelaki maupun perempuan, mengingat anak adalah titipan Tuhan. Kami sudah sangat bersyukur karena Allah swt. akhirnya mempercayakan amanahnya kepada kami berdua. Namun, yang membuat saya masygul, beberapa tetangga dan keluarga besar mulai menanyakan banyak hal kepada saya. Termasuk, apakah anak perempuan saya nanti akan segera dikhitan atau menunggu agak besar, mengingat khitan perempuan banyak dilakukan dalam budaya kami. Saya sendiri tidak tahu pasti apakah dulu saya dikhitan atau tidak.

Pertanyaan saya kepada Bu Nyai, apakah khitan untuk anak perempuan itu memang diperlukan? Mengingat saya pernah membaca bahwa sebenarnya khitan perempuan tidak memiliki manfaat apapun bahkan dapat menyebabkan komplikasi dalam pusat syaraf organ seksualnya. Benarkah bahwa bila tidak dikhitan, anak saya tidak sempurna keislamannya? Mohon jawaban dan pencerahannya.

Wassalam

Khusnul Khotimah,
Karyawati dan Ibu Rumah Tangga
Kramat Jati, Jakarta Timur


Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ibu Khusnul Khotimah yang dirahmati Allah,

Terima kasih atas surat Ibu yang sangat berkesan ini. Saya mengucapkan selamat atas kehamilan Ibu. Semoga dalam menjalani masa-masa kehamilan sampai proses melahirkan Ibu Khusnul Khotimah senantiasa dikaruniai kesehatan dan kekuatan. Amin

Ibu Khusnul yang baik,

Masalah khitan perempuan memang masih terus menjadi pembahasan yang hangat di masyarakat di berbagai belahan dunia. Khitan perempuan yang dipraktikkan di masyarakat biasanya dengan cara menghilangkan atau memotong atau membuat luka kecil di sebagian alat kelamin perempuan (bagian klitoris atau labia minora). Di Indonesia, praktek khitan perempuan beragam, bahkan banyak yang hanya memprktekkan khitan secara formalitas saja, yaitu dengan menggoreskan ujung jarum di klitoris atau hanya dengan meneteskan cairan anti septik berwarna merah. Semua praktek khitan itu dilakukan karena masyarakat masih meyakini kewajiban khitan bagi perempuan.

Ibu benar bahwa secara medis, pemotongan ataupun perlukaan di sekitar klitoris itu tidak ada manfaatnya, bahkan justru dapat merugikan perempuan. Pemotongan klitoris dapat mengganggu fungsi seksual perempuan, di mana perempuan tidak dapat menikmati hubungan seksual padahal Nabi memerintahkan agar hubungan seksual yang dilakukan oleh suami istri harus dapat dinikmati oleh kedua belah pihak.

Ibu Khusnul yang dikasihi Allah,

Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang berbicara tentang khitan pada perempuan. Meskipun ada beberapa hadis yang membahas khitan perempuan, namun validitas hadis meragukan atau hadisnya dhaif (kualitas hadis lemah sehingga tidak dapat dijadikan dasar hukum). Misalnya hadis yang berbunyi:

الختان سنة للرجال مكرمة للنساء

Artinya: khitan adalah sunnah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan

Juga hadis bahwa ada seorang perempuan tukang khitan di Madinah, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ

“Jangan (potong) berlebihan karena itu lebih baik / menyenangkan bagi perempuan dan lebih disukai laki-laki (suami)”

Kedua hadis tersebut bernilai dhaif sehingga seharusnya tidak dijadikan hujjah (dasar hukum).

Dalam menyikapi khitan perempuan, para ulama berbeda pendapat, ada yang mewajibkan, ada yang menghukumi sunnah dan ada yang hanya menganggapnya sebagai kehormatan saja. Bahkan seorang mufti Mesir yang bernama Syekh Ali Gom’ah pernah memfatwakan haramnya khitan perempuan karena ada kasus meninggalnya seorang perempuan akibat dikhitan. Pendapat mufti Mesir ini menunjukkan bahwa pertimbangan mafsadah (manfaat) dan madharat (dampak negatif) harus menjadi dasar penetapan hukum khitan perempuan.

Ibu Khusnul Khotimah yang dirahmati Allah,

Lalu, mengapa sebagian masyarakat kita masih keukeuh mempraktekkan khitan perempuan padahal secara medis meragukan dan dari sisi agama, tidak ada dalil yang bernilai valid? Pada dasarnya masalah khitan berkaitan dengan stereotype perempuan yang “harus” pasif ketika melakukan hubungan seksual. Seorang istri dianggap tabu ketika menunjukkan gairah seksualnya terhadap suaminya. Untuk “mengebiri” hasrat seksual itulah masyarakat menganggap bahwa khitan dapat “mengendalikan” seksualitas perempuan.

Stereotype ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad saw. karena Nabi justru menyemangati perempuan untuk menunjukkan gairah seksual terhadap suami. Nabi juga memerintahkan suami agar mampu membuat istrinya dapat menikmati hubungan seksual.

Jadi menurut saya, tidak ada dasar Alquran maupun Hadis yang kuat dapat dijadikan dasar untuk syari’at khitan perempuan, bahkan cenderung merugikan kesehatan perempuan. Tradisi khitan perempuan yang hanya berdasarkan stereotype yang tidak benar, tidak perlu dilanjutkan.

Ibu Khusnul yang baik,

Demikian jawaban yang dapat saya berikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshowab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 08 Oktober 2013 09:19 )

Bagaimana Caranya Menasihati Teman Yang Jadi Korban Kekerasan oleh Pacar ? : Tanya Jawab Edisi 41

Assalamu’alaikum wr.wb.

Pak Kyai, saya mahasiswi yang indekos di dekat kampus. Saya memiliki tetangga kos yang sering bertengkar dengan pacarnya. Sekali waktu mereka bertengkar hebat sampai teman kos saya pingsan.
Saya sudah mencoba menasihati teman saya untuk mengakhiri hubungannya karena hubungan itu tidak sehat, tapi teman saya bilang bahwa dia tidak bisa putus dengan pacarnya. Dan kejadian bertengkar disertai dengan penganiyaan itu seringkali terjadi lagi. Apa yang harus saya lakukan, Pak Kyai ?

Wassalamu’alaikum Wr.wb.

Yani, Depok

__________________
Jawaban KH. Muhyiddin Abdusshomad

Wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh.
Saudari Yani yang saya hormati,
Sebelum menjawab pertanyaan saudari, perlu diketahui bahwa dalam Islam suatu ikatan antara laki-laki dan perempuan haruslah dibangun dengan ikatan yang kokoh (mitsaqan ghalizha) yang meniscayakan adanya tanggung jawab dan penjagaan antara satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya Islam tidak mengenal istilah pacaran, karena ikatan yang terbangun sangat lemah. Banyak resiko yang mengintai, dan akan sangat mudah masuk ke jurang dosa.

Islam hanya mengenal khitbah sebagai gerbang menuju pernikahan. Khitbah adalah komitmen dari seorang laki-laki dan perempuan untuk membangun hubungan yang serius menuju jenjang pernikahan dan melibatkan keluarga ke dua belah pihak. Dikarenakan adanya dua unsur ini, maka ikatan dalam khitbah menjadi kuat.

Saudari Yani yang saya hormati,
Walaupun hubungan yang dibangun oleh teman Saudari itu tidak diajarkan dalam agama, namun kekerasan yang terjadi adalah hal berbeda dan merupakan hal yang juga tidak dapat dibenarkan. Dengan alasan dan dalam bentuk apapun, kekerasan adalah perbuatan yang melanggar norma agama. Apa yang dialami oleh teman saudara dalam kajian hukum dalam upaya penghapusan kekerasan pada perempuan disebut ”kekerasan pada masa pacaran”. Perlakuan tersebut selain salah dalam pandangan agama juga salah secara hukum positif di negara Indonesia.

Terkait dengan pertanyaan yang saudari ajukan, dalam pandangan agama, posisi saudari adalah berada pada cakupan perintah amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran). Perintah ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam agama Islam. Bentuk kepedulian seorang muslim akan nasib dan apa yang menimpa saudaranya seagama.  Sebagaimana Firman Allah swt. : 

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah, 71)

Saudari  Yani yang dirahmati Allah swt.
Apa yang saudara hadapi saat ini, dalam konteks perintah tersebut masuk pada kategori kedua, yakni nahi munkar atau menghilangkan dan menghentikan kemunkaran. Dalam hal ini agama memberikan tiga tuntunan ketika melihat kemungkaran melalui sabda Rasulullah  saw. bersabda :

Artinya :
“Dari Abu Said Al-Khudri ra. beliau bersabda Saya mendenagr rasulullah saw  bersabda: “Barang siapa diantara kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, apabila tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, apabila tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR Muslim)

Menjelaskan hadis ini Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan hadis bahwa Orang-orang yang mengingkari perbuatan (munkar) itu ada tiga tingkatan. Pertama, pengingkaran dengan tangan (kekuasaan), ini adalah tugas pemerintah. Kedua, ingkar dengan lisan (nasihat). Ini adalah tugas para ulama. Ketiga, ingkar dengan  hati. Yang ini merupakan bagian orang mukmin secara keseluruhan.” (Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haq, juz I, hal 51)

Dari penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Abdulqodir al Jailani menunjukkan bahwa tiga macam cara pengingkaran itu ada bagiannya sendiri-sendiri. Pencegahan kemungkaran dengan tangan merupakan wewenang pemerintah. Rakyat tidak berhak melakukannya. Yang dapat dilakukan oleh rakyat apabila melihat kemungkaran adalah dengan memberi peringatan, kalau mereka tergolong orang yang mampu atau orang yang memiliki pengetahuan yang cukup. Sedangkan bila ia termasuk orang awam, maka bentuk pengingkarannya adalah dengan hati, yakni tidak senang, tidak setuju, tidak mendukung perbuatan tersebut, serta melaporkannya kepada yang  berwajib.

Saudara Yani yang baik,
Apa yang saudari lakukan dengan memberikan peringatan atau penyadaran pada teman saudara itu sudah tepat. Apakah saran tersebut akan diterima atau ditolak, itu sudah di luar kemampuan saudari sebagai manusia biasa. Itu sudah wilayah ”hidayah” dan kekuasaan Allah swt. sebagai Dzat yang menggerakkan hati manusia.

Jika perlu, orang lain juga harus dilibatkan untuk memberikan nasehat dan masukan, misalnya keluarga atau orang yang disegani. Masukan itu seharusnya bukan hanya kepada teman saudara tetapi juga kepada pacar yang suka melakukan kekerasan tersebut. Sudah seharusnya dipilih kata-kata yang tidak vulgar tetapi menyentuh. Bagaikan orang yang memancing, ikan didapat dan airnya tidak keruh.

Langkah terakhir yang dapat ditempuh adalah dengan melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwenang. Namun langkah ini perlu pertimbangan yang matang dengan berkonsultasi kepada berbagai pihak terutama korban, kemudian mengumpulkan berbagai bukti dan saksi. Jangan sampai niat baik saudari untuk membantu teman malah berakibat membahayakan saudari sendiri.

Mungkin hanya ini jawaban yang dapat kami berikan. Kami salut pada kepedulian dan simpati saudari akan nasib buruk yang dialami oleh orang lain. Mudah-mudahan Allah swt. membalas dengan balasan yang berlimpah. Amin.

Pilih Ibu atau Suami ? : Tanya Jawab Edisi 40

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Bu Nyai yang terhormat, Saya, Maisaroh berumur 40 tahun, ibu rumah tangga dan punya 4 anak (1 kuliah, 2 SMA, 1 TK). Suami saya bekerja sebagai pegawai kontraktor. Keluarga kami tinggal mengontrak di daerah Jakarta Timur. Sebelum bulan Ramadhan lalu, saya meminta suami untuk membiayai operasi varises kaki saya, tetapi ketika itu suami belum mengabulkan dengan alasan belum ada dana. Mengetahui hal tersebut Ibu saya menjadi tersinggung. Beliau lalu datang ke Jakarta dan membiayai operasi saya. Tetapi setelah itu, saya dipaksa untuk ikut Ibu pulang ke kampung halaman dengan membawa serta anak bungsu saya.Di kampung, Ibu ternyata telah menyiapkan sekolah untuk anak saya, dan saya sendiri diberi kegiatan untuk bekerja di sebuah Koperasi.

Sabtu pagi kemarin, tiba-tiba suami saya datang bersama 3 kawannya. Menurut suami, ia datang untuk menjemput saya dan si bungsu. Ibu saya yang sudah menjanda sejak saya dan adik-adik masih kecil, pingsan mengetahui kedatangan suami. Ibu sangat berkeberatan bila saya kembali kepada suami. Ia meminta saya untuk bercerai dari suami. Suami saya memang bukan suami yang sempurna. Kadang kala ia membentak-bentak saya jika sedang menganggur. Ibu mengetahui hal tersebut.

Ibu Nyai, Kepada siapa saya harus menurut? Kepada suamikah atau kepada Ibu saya? Terima kasih.

Maisaroh,
Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat 

Jawaban :

Wa’alaikum salam Wr.Wb.

Ibu Maisaroh yang dikasihi Allah,
Terima kasih atas pertanyaan dan kepercayaan Ibu kepada kami. Salam silaturrahim dari kami, semoga ukhuwwah (persaudaraan) di antara kita senantiasa terjalin sampai hari akhir. Amiin

Ibu Maisaroh yang dirahmati Allah,
Allah berfirman:

Artinya: dan di antara tanda-tanda kekuasaaan-Nya (Allah) adalah Dia ciptakan  pasangan hidup dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenang dan  Dia menjadikan rasa cinta dan kasih sayang di antara kalian. Sesungguhnya yang demikian ini merupakan tanda bagi kaum yang (mau) berpikir (QS. Ar-Rum: 21).

Tujuan utama pernikahan sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas adalah untuk mencapai ketenangan jiwa (لتسكنوا إليها) dan menjadikan cinta (مودة) dan kasih sayang (رحمة) di antara pasangan  (istri dan suami). Ketenangan jiwa berarti juga rasa nyaman dengan pasangan kita. Rasa nyaman, tenang ini muncul dari hati dan tidak dapat dipaksakan. Begitu juga rasa cinta dan kasih sayang di antara istri dan suami. Dalam hal ini, kedua belah pihak, baik istri dan suami saling cinta dan saling mengasihi. Allah tidak menghendaki rasa cinta yang “bertepuk sebelah tangan”, misalnya dalam berbagai kasus rumah tangga, ternyata hanya istri yang mencintai suaminya sementara suami tidak. Cinta yang bertepuk sebelah tangan ini tentu saja tidak akan dapat menimbulkan ketenangan jiwa.

Berkaitan dengan tujuan pernikahan itu, selama Ibu Maisaroh hidup berumah tangga dengan suami, apakah Ibu merasa tenang dan nyaman? Apakah relasi (hubungan) yang terjalin antara Ibu Maisaroh dan suami sudah setara, saling pengertian dan tidak ada kekerasan? Apakah suami juga selama ini memahami kebutuhan Ibu, misalnya kebutuhan untuk bersosialisasi, beraktualisasi, seperti yang telah dilakukan ibu dari Ibu Maisaroh?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut perlu Ibu renungkan untuk menjawab permasalahan rumah tangga Ibu. Ketika suami membentak Ibu (sebagaimana yang Ibu rasakan), bagaimana perasaan Ibu? Apakah rasa cinta dan kasih sayang itu harus berwujud bentakan? Ibu juga perlu mempertimbangkan bagaimana kondisi psikologis anak-anak Ibu terutama yang masih kecil ketika sering menyaksikan ibunya dibentak-bentak oleh ayahnya. Begitu juga ketika suami mengabaikan kondisi kesehatan Ibu dengan menolak untuk membiayai operasi varises Ibu. Apakah Ibu merasa tenang dan nyaman dengan kondisi kesehatan yang terganggu? Apalagi varises itu berkaitan dengan kesehatan reproduksi kita, di mana kesehatan reproduksi merupakan sesuatu yang sangat vital.

Ibu Maisaroh yang dimuliakan Allah,
Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh ibu dari Ibu Maisaroh sudah tepat. Beliau memahami kebutuhan Ibu Maisaroh untuk beraktualisasi dan mandiri secara ekonomi. Ibu yang seperti itu sangat patut ditaati, sebagaimana sabda Nabi:

Artinya :
Dari Abu Zar’ah dari Abu Hurairah, dia berkata : berkata: Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu.“ (Shahih Muslim No.4621)

Hadis di atas menegaskan betapa seorang ibu sangat berhak untuk ‘ditaati’ dan diperhatikan. Perjuangan seorang ibu ketika mengandung dan melahirkan anak-anaknya menempatkan seorang ibu menjadi sosok yang mulia.

Saya sangat memahami mengapa ibu sampai pingsan ketika melihat suami Ibu Maisaroh datang. Bagaimana tidak, suami Ibu baru datang ketika kondisi ibu sudah tenang dengan aktivitas di koperasi dan anak ibu juga sudah mendapatkan pendidikan yang layak. Sementara ketika Ibu membutuhkan dukungan suami untuk menjalani operasi varises, suami Ibu kurang mempedulikan. Artinya masa-masa sulit Ibu justru tidak dilalui dan didampingi oleh suami, melainkan oleh orang tua (ibu) Ibu Maisaroh. Namun, ketika Ibu sudah berhasil melewati masa sulit dan menjalani kehidupan yang (mungkin) bahagia, tiba-tiba suami Ibu hadir.

Oleh karena itu, saya kira Ibu Maisaroh perlu berpikir jernih dan realistis tentang rumah tangga yang selama ini Ibu jalani. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa Ibu Maisaroh sangat penting dan menjadi bahan pertimbangan yang utama untuk memutuskan apakah Ibu Maisaroh akan berpisah atau hidup berumah tangga kembali dengan suami. Wallahu a’lam bis shawab.



Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 11 Januari 2013 09:14 )

Nafkah Pasca Cerai : Tanya Jawab edisi 39

Pak Kyai,
Ketika kami menikah, kami berdua bekerja sebagai karyawan swasta. Karier saya kebetulan lumayan bagus jadi pendapatan saya lebih tinggi dari pendapatan suami. Ketika anak kedua kami lahir, suami meminta saya untuk berhenti bekerja agar bisa lebih berkonsentrasi dalam urusan rumah tangga. Saya keberatan dengan alasan selama kami menikah kontribusi kepada kebutuhan rumah tangga lebih besar berasal dari penghasilan saya, bagaimana nantinya jika saya tidak bekerja?  Sejak itu, suami yang kebetulan bertugas di kota lain mulai jarang pulang, komunikasi kami yang sudah buruk menjadi semakin memburuk, hingga akhirnya tidak ada komunikasi sama sekali. Hal itu berlangsung bertahun-tahun, hingga akhirnya kami sepakat untuk bercerai pada akhir 2011 lalu.

Pengadilan Agama memutuskan pemeliharaan dan pembiayaan anak-anak dalam tanggung jawab berdua (karena anak-anak masih dibawah umur maka mereka tinggal bersama saya). Tetapi pada praktiknya sayalah yang membiayai seluruh kebutuhan anak-anak. Sesekali mantan suami memang memberi mereka uang saku yang tak seberapa, padahal saya tahu penghasilannya termasuk besar.
Pertanyaan saya, bagaimana pendapat hukum Islam tentang masalah saya ini? Kemudian apakah Pengadilan Agama memiliki kewenangan untuk memaksa agar mantan suami memberikan nafkah kepada anak-anaknya?

Demikian Pak Kyai, terimakasih

Indira Rahmawati
Depok

Jawaban Swara Rahima

Saudari Indira Rahmawati yang dimuliakan Allah…
Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci Allah SWT. Dibenci karena perceraian tidak dapat menyelesaikan masalah secara total, tetapi akan memunculkan masalah baru yang dapat merugikan pihak-pihak yang terkait di dalamnya di kemudian hari.

Umumnya yang menjadi korban dari perceraian itu adalah perempuan dan anak. Termasuk apa yang saudari alami saat ini, adalah salah satu di antara sekian banyak masalah baru pasca perceraian. Tidak hanya saudari yang mengalaminya, banyak ibu-ibu lain yang juga mengalami penderiataan yang sama, bahkan jauh lebih parah dari yang saudari alami. Menjadi kepala rumah tangga dan menjadi pengasuh tunggal bagi anak-anak mereka.

Sifat keibuan dan kasih sayang yang sangat besar kepada anak-anaknya membuat mereka rela berkorban untuk menghidupi diri dan anak-anaknya seorang diri. Sangat berbeda dengan  ayah yang terkadang kurang peduli, atau bahkan tidak mau tau terhadap nasib darah dagingnya itu. Itulah sebabnya mengapa kemudian Allah SWT membebankan kewajiban nafkah anak kepada ayah. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. (QS. Al Baqarah, 233)

Allah SWT hanya mewajibkan nafkah anak kepada ayah dengan maksud agar tumbuh rasa tanggung jawab dan kasih sayang dari ayah. Sementara ibu  tidak dikenai kewajiban tersebut, karena pada umumnya sifat-sifat tersebut sudah tumbuh dengan sendirinya pada saat perjuangan mereka yang luar bisa selama proses kehamilan, melahirkan dan menyusui.

Saudari Indira Rahmawati yang sangat kami banggakan…
Kewajiban nafkah bagi suami ini kemudian dilegalkan di dalam hukum positif kita. yakni melalui undang-undang perkawinan No 1 tahun 1974 yang kemudian dikuatkan dengan kompilasi hukum Islam. Terlebih-lebih dengan keluarnya undang-undang N0 23 tahun 2002   tentang perlindungan anak.
Di dalamnya UU No 1 1974 diatur tentang kawajiban bagi ayah  untuk memberikan nafkah kepada anaknya, bahkan setelah terjadi perceraian. Begitu pula di dalam UU NO 23 2002 ada satu pasal tentang penelantaran anak, termasuk di dalamnya penelantaran dalam masalah ekonomi.

Jadi, dengan dikeluarkannya serangkaian peraturan tersebut, semakin kuat tentang adanya kewajiban orang tua, khususnya seorang ayah untuk memberikan nafkah kepada anaknya. Secara teologis berlandaskan Alquran yang dikuatkan dengan undang-undang sebagai landasan kehidupan bernegara. Oleh karena itu, ketika seorang ayah  tidak memberikan nafkah kepada anak-anaknya dapat dituntut di pengadilan kemudian pengadilan memaksa untuk memberikan nafkah tersebut.

Secara formal, hitam di atas putih, langkah hukum bisa saja dilakukan ketika ayah dari anak saudari tidak memenuhi kewajibanya memberikan nafkah. Namun hemat kami, bisa jadi langkah tersebut bukan pilihan yang bijak. Karena hal tersebut tidak serta merta akan menyelesaikan masalah, bahkan akan muncul masalah baru, terutama pada kondisi psikologis anak-anak saudari. Misalnya bagaimana hancurnya perasaan mereka ketika  mengetahui  kedua orang tuanya terus berseteru, apalagi misalnya sampai masuk ke meja hijau.

Oleh karena itu, harus  ada pemikiran yang sangat matang terlebih dahulu sebelum menempuh jalur hukum. Mengalah bukan berarti kalah dan adakalanya diam itu emas. Dengan bekal kemampuan ekonomi yang cukup, kami yakin rizki itu bisa untuk memberikan nafkah kepada anak-anak saudari. Allah SWT pasti akan menggantinya dengan jumlah yang jauh lebih besar asalkan itu dilakukan secara ikhlas. Allah SWT berjanji.

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (Saba’ 39)

Langkah ini insya allah lebih selamat dari pada ribut-ribut menghabiskan energi untuk masalah yang sebenarnya saudari sudah mempunyai kemampuan lebih. Ada baiknya energi itu dialihkan untuk yang lain, misalnya fokus untuk mendidik, mencurahkan kasih sayang dan menjaga anak-anak saudari, agar dampak psikologis  yang mereka alami akibat perceraian kedua orang tuanya dapat diminimalisir.

Anak adalah asset yang sangat berharga yang dimiliki orang tua. Mereka tumpuan masa depan ketika kita memasuki masa senja atau ketika menghadap Yang Maha Kuasa. Secara alamiyah, mereka akan melihat dan menilai orang tuanya. Siapakah yang paling peduli dan banyak berjasa untuk kehidupan mereka. Atas pengorbanan yang telah diberikan itu, mereka akan membalas jasa tersebut baik secara langsung atau tidak, dalam bentuk prestasi dan doa. Inilah yang paling membahagiakan kita sebagai orang tua.[] 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 19 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini86
mod_vvisit_counterKemarin682
mod_vvisit_counterMinggu ini3109
mod_vvisit_counterBulan Ini20283
mod_vvisit_counterSemua1057863

Yang Online

Kami memiliki 14 Tamu online