RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Sunday
Dec 21st
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Tanya jawab

Istri Tertekan karena Suami Selalu Bela Ibunya : Tanya Jawab Edisi 46

Assalamu 'alaikum Wr Wb.
Bu Nyai,
Melalui perkenalan yang singkat, dua tahun lalu keponakan saya, Yani, menikah dengan Jati, anak tunggal. Yani kemudian diboyong tinggal dengan orang tua Jati di Klaten. Tetapi ternyata Jati sangat tergantung dan tunduk pada ibunya. Sehingga rumah tangga Yani dan Jati kemudian diatur oleh Ibu Jati. Yani kerap mengalami kekerasan dari mertua, karena dianggap tidak cakap mengelola rumah tangga termasuk uang belanja, dan mengurus suami.

Setahun kemudian Yani melahirkan seorang anak perempuan. Anak itu lalu diambil oleh ibu Jati dan diasuhnya. Yani tak boleh sekalipun menyentuh anaknya. Ia hanya boleh memandang dari jauh. Jika Yani protes ke suaminya, Jati hanya mengatakan Ibu lebih berpengalaman mendidik anak. Tanpa sekalipun Jati membela istrinya.

Mendapat tekanan dan kekerasan terus menerus membuat Yani akhirnya stres. Ini semakin menguatkan ibu mertuanya untuk tidak menyerahkan cucunya kepada Yani dengan alasan "kurang waras". Mengetahui istrinya stres, Jati yang adalah pegawai bank tidak melakukan upaya apapun. Ia malah mengunci istrinya di kamar. Hanya ketika pagi sebelum kerja Jati menengok istrinya  sambil mengulurkan makanan.
Orang tua Yani prihatin sekali atas kondisi ini. Tetapi bingung untuk mengambil sebuah tindakan. Kami minta saran kepada ibu Nyai, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua Yani agar tidak melanggar aturan agama. Demikian, terima kasih.

Wassalam,
Dewi Nurdin
081218521xxx
Cijantung

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.,

Ibu Dewi yang dirahmati Allah,
Terima kasih atas pertanyaan Ibu. Kami sangat salut dan mengapresiasi kepedulian Ibu terhadap kondisi rumah tangga keponakan Ibu. Sikap dan tindakan Ibu yang berpihak pada perempuan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KdRT). Semoga langkah yang diambil Ibu Dewi ini dapat menginspirasi masyarakat untuk aktif berperan dalam menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Ibu Dewi yang berhati mulia,

Seorang laki-laki dan perempuan yang telah mengikatkan dirinya dalam sebuah pernikahan menunjukkan bahwa mereka berkomitmen untuk terikat pada suatu akad yang kuat atau yang disebut dengan mitsaqan ghalizhan. Suami dan isteri yang menyadari adanya ikatan atau akad yang kuat di antara mereka ini akan selalu saling menghormati dan saling menjaga di antara keduanya serta tidak akan membiarkan apapun atau siapapun dapat memisahkan mereka. Hal ini selaras dengan tujuan pernikahan sebagaimana dalam QS ar-Rum: 21, adalah memberikan ketenangan dan senantiasa mewujudkan mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang) di antara suami dan isteri. Untuk mewujudkan tujuan pernikahan yang mulia tersebut, suami dan isteri harus saling memahami, saling perhatian serta saling melengkapi satu sama lain, sebagaimana firman Alllah, ”Hunna libaasun lakum wa antum libaasun lahunna”, yang artinya ”..... mereka (para isteri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka......” (QS. 2: 187).

Maksud dari ayat tersebut adalah suami dan isteri seharusnya saling melindungi, saling melengkapi dan saling mencintai. Secara lebih khusus, Allah juga memerintahkan para suami untuk memperlakukan isterinya dengan ma'ruf. Ma'ruf yang dimaksud adalah perbuatan yang sudah dikenal sebagai perbuatan baik. (QS. 4: 19). Dalam kasus keponakan Ibu Dewi tersebut, apakah perbuatan Jati terhadap Yani, isterinya, adalah perbuatan yang ma'ruf?

Ibu Dewi yang peduli sesama,
Kalau kita pelajari kasus Jati tersebut, Jati berada dalam posisi di antara dua perempuan yang dicintainya; Jati mencintai ibunya sebagai orang tua yang melahirkan dan membesarkannya, tetapi Jati juga mencintai isterinya sebagai pendamping hidupnya. Semestinya Jati dapat memperlakukan ibu dan isterinya dengan sama baiknya serta adil bahkan tidak seharusnya mempertentangkan antara ibu dan isterinya. Apa yang telah dilakukan Jati justeru malah mengorbankan isterinya. Dalam hal ini Jati telah melakukan perbuatan yang dapat dikategorikan dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Menurut Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (pasal 1 ayat 1 UU PKDRT).

Berdasarkan definisi tersebut terlihat bahwa Jati telah melakukan perbuatan yang menimbulkan penderitaan psikis terhadap isterinya. Stress yang dialami oleh Yani tersebut akibat dari tekanan batin mendalam yang ditimbulkan dari kekerasan psikis yang dilakukan oleh suaminya. Kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam UU PKDRT pasal 7 adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Upaya memisahkan Yani dari anaknya dan bahkan pengisolasian terhadap Yani dari kehidupan sosial dengan mengurungnya di dalam kamar merupakan bentuk kekerasan psikis yang tentunya perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Ibu Dewi yang disayangi Allah,
Menyikapi kondisi Yani yang telah menjadi korban KDRT tersebut, sudah seharusnya keluarga dan masyarakat turun tangan menyelamatkan korban. Menurut saya, orang tua Yani berhak meminta pertanggung jawaban Jati yang memperlakukan Yani secara sewenang-wenang tersebut. Kekerasan psikis yang telah dilakukan Jati terhadap Yani tersebut adalah perbuatan dhalim dan munkar yang menurut ajaran Islam sudah seharusnya dihentikan.
Dalam kasus Yani tersebut, tentunya kita masih ingat kasus Khaulah binti Tsa’labah yang mendapatkan kekerasan psikis dari suaminya, yaitu suaminya melakukan zhihar terhadap isterinya. Menyikapi hal tersebut, Allah dengan tegas membela Khaulah dan tidak membenarkan perbuatan suami Khaulah tersebut. Allah juga memberikan sanksi terhadap suami Khaulah khususnya dan pada umumnya suami-suami yang melakukan zhihar kepada isterinya (untuk kisah selengkapnya, silakan baca QS. Mujadilah ayat 1-4) . Mengambil hikmah dari kisah Khaulah tersebut, dalam kasus keponakan ibu Dewi ini, orang tua Yani sebaiknya segera menyelamatkan Yani dari tindak kekerasan yang telah dilakukan oleh suaminya agar Yani tidak menjadi semakin terpuruk.

Ibu Dewi yang dimuliakan Allah,
Demikian sedikit jawaban dan solusi yang dapat saya tawarkan, semoga bermanfaat terutama bagi kepentingan terbaik keponakan Ibu. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a’lam bi as-shawab.
Wasslamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Soal Melakukan Kekerasan atas Nama Agama dan Menuduh Kafir Sesama Muslim : Tanya Jawab Edisi 45

Assalamu’alaikum, Pak Kyai.
Saya Humairoh, mahasiswi dan santri  di Yogyakarta.

Dalam pandangan saya, akhir-akhir ini banyak sekali kekerasan yang mengatasnamakan agama  yang menggunakan dalih “amar ma’ruf nahi munkar”. Di internet, sempat heboh hukum cambuk kepada seorang perempuan di Aceh yang menjadi korban perkosaan massal. Alasannya, dia dianggap sebagai pemicu terjadinya tindak kekerasan seksual. Lalu berita kekerasan massa yang menggunakan alasan agama untuk menyerang jema’at Ahmadiyah maupun kelompok Syi’ah di Sampang Anehnya bila ada seorang muslim melakukan pembelaan atas korban kekerasan itu, dia akan dihakimi sebagai “kafir” .

Bagaimana sebenarnya pandangan Islam atas tindak kekerasan yang  mengatasnamakan agama itu? Apa hukum “mengkafirkan sesama muslim”? Mohon pencerahan dari Kyai.
Wassalam.

Humairoh,
Sleman, Yogyakarta

Jawaban:
Saudari Humairoh yang kami banggakan….
Pertanyaan saudari mewakili kegelisahan saya serta sebagian besar umat Islam, tentang beberapa kekerasan yang mengatasnamakan agama yang akhir-akhir ini kembali marak terjadi. Satu hal yang disepakati oleh para pakar dari sekian banyak kasus kekerasan tersebut, bahwa faktor agama tidak menjadi satu-satunya penyulut terjadinya tindakan anarkis itu. Ada motif ekonomi, politik kekuasaan, sosial dan budaya yang kemudian mendompleng pada isu-isu agama, sehingga kesan yang muncul di permukaan adalah tindakan tersebut adalah atas nama agama.

Saudari Humairoh yang budiman,
Saya kira semua umat Islam, dari manapun golongan dan apapun keyakinannya, sepakat bahwa Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta (QS. Al Anbiya’ 107). Sebagai rahmat sudah tentu agama yang beliau bawa adalah  ajaran kedamaian, kesejahteraan dan cinta kasih kepada seluruh alam semesta. Bukan ajaran yang membawa kecemasan, teror  apalagi kebinasaan dan kehancuran.

Di dalam banyak ayat Alquran dan Hadis ditemukan anjuran untuk menyebarkan kebaikan dan kedamaian kepada semua umat manusia. Ketika Nabi saw. pertama kali menginjakkan kaki di kota Madinah dengan tegas beliau menyatakan bahwa agama Islam yang dibawa adalah ajaran yang damai dan humanis. Diceritakan dalam hadis:

عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ عَلَيْهِ فَكُنْتُ فِيمَنْ انْجَفَلَ فَلَمَّا تَبَيَّنْتُ وَجْهَهُ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ فَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ يَقُولُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ (رواه أحمد)

Artinya :
Dari Zurarah dari Abdullah bin Salam ia berkata, “Ketika Nabi saw. tiba di Madinah, manusia berkerumun menyambut Nabi saw. dan aku adalah termasuk orang yang ikut berkerumun. Maka ketika aku dapat melihat dengan jelas wajah Nabi saw., aku mengetahui bahwa wajah beliau itu sama sekali bukan wajah pendusta. Maka perkataan pertama yang aku dengar dari ucapan beliau adalah, “Sebarkan kedamaian, berikanlah bahan makanan, sambunglah tali silaturrahim, dan shalatlah (malam hari) pada saat manusia semua tidur, maka kalian akan masuk surga dengan penuh kedamaian” (HR. Ahmad)

Sebaliknya, terdapat sekian banyak larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi, baik kerusakan akibat ucapan ataupun perbuatan. Pertama-tama Umat Islam diperintahkan untuk menjaga ucapannya agar tidak mengeluarkan sesuatu yang tidak menyenangkan pada orang yang mendengarkannya. Nabi saw. bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيْسَ بِاللَّعَّانِ، وَلَا الطَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ (رواه أحمد)
Artinya :
Dari Abdullah ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin bukanlah seorang yang suka melaknat,  berkata kasar, kotor dan cabul.” (HR. Ahmad)

Termasuk dalam larangan ini adalah ucapan yang menyudutkan, menjelekkan, apalagi menuduh kafir kepada sesama umat Islam.
عَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَمِينَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ، وَمَنْ لَعَنَ مُسْلِمًا كَانَ كَقَتْلِهِ، وَمَنْ سَمَّى مُسْلِمًا كَافِرًا فَقَدْ كَفَرَ (رواه الطبراني)

Artinya :
Dari Tsabit bin Dhahhak ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada sumpah dalam kemaksiatan kepada Allah swt., serta pada sesuatu yang tidak mampu dilaksanakan oleh anak Adam. Siapa saja yang melaknat orang mukmin lainnya, maka sama seperti membunuhnya, dan barang siapa yang menyebut orang mukmin sebagai orang kafir, maka sungguh dia  telah kafir. (HR. Thabrani)
Setelah melarang umat Islam mengucapkan yang tidak pantas, Rasul saw. melarang  untuk melakukan tindakan yang membuat saudara muslim lain merasa terganggu, atau tidak tenang hidupnya. Tidak boleh telakukan teror baik dalam bentuk ucapan dan perbuatan. 

Disebutkan dalam Hadis:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا» (رواه أبي داود)
Dari Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim, menakut-nakuti (meneror)muslim lainnya.” (HR. Abi Dawud)

Terkait dengan adanya praktik hukum cambuk terhadap perempuan yang menjadi korban perkosaan massa sebagaimana yang terjadi di Aceh tersebut, hal ini juga merupakan salah satu bentuk teror pada pihak yang telah dua kali menjadi korban. Yakni, memposisikan diri si perempuan korban sebagai pelaku perzinahan. Padahal kenyataannya dia telah sangat menderita karena kehormatannya telah direnggut secara paksa, apalagi hal itu dilakukan secara brutal oleh sekelompok massa. Dengan demikian, sebenarnya tidak tepat menerapkan hukum cambuk pada seseorang yang sejatinya adalah korban perkosaan.

Saudari Humairoh  yang baik,
Saya kira, dalil-dalil yang telah disebutkan sudah cukup mewakili jawaban dari pertanyaan saudari, bahwa semua bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama itu sebenarnya telah jauh dari esensi ajaran agama. Memang ada yang berlindung di balik amar ma’ruf nahi munkar untuk membenarkan tindakannya. Namun ada satu prinsip dasar tidak boleh dilupakan bahwa “Tujuan tidak dapat membenarkan cara”.  Dengan kata lain bahwa tujuan yang baik tidak serta  merta dapat membenarkan semua cara untuk mendapatkannya. Dan tujuan yang baik harus dilaksanakan dengan cara yang baik pula.  Inilah makna dari hadits Nabi saw. :

عَنْ عَمْرٍو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :  مَنْ أَمَرَ بِمَعْرُوْفٍ فَلْيَكُنْ أَمْرُهُ بِمَعْرُوْفٍ (رواه البيهقي)

Artinya :
Dari Amr bin Syuab dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memerintahkan kebaikan maka hendaklah perintah itu dilaksanakan dengan cara yang baik” (HR. Al Baihaqi)

Saudari Humairoh yang dirahmati oleh Allah swt.,
Saya kira inilah jawaban yang dapat diberikan. Harapan kita semua semoga kita dapat terus memegang teguh sekaligus memperjuangkan Islam rahmatan lil alamin sehingga kemaslahatan, kedamaian serta  kesejahteraan hidup dapat kita rasakan bersama. Amin….

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 18 Juli 2014 06:51 )

Bagaimana Menyikapi Suami yang Tega Menelantarkan Istri? : Tanya Jawab Edisi 44

Assalamu’alaikum wr.wb.
Ibu Nyai yang saya hormati,  nama saya Aminah, usia 55 tahun, seorang ibu yang berasal dari keturunan Betawi. Saya menikah dengan seorang laki-laki dari suku Jawa, sebut saja Hardjo. Dari pernikahan kami, kami dikaruniai 7 orang anak yang  kesemuanya berjenis kelamin laki-laki..

Suami jarang memberi nafkah bagi kami anak istrinya. Parahnya lagi, dia tega bermain mata dengan perempuan lain di belakang saya bahkan menelantarkan saya. Rumah yang kami tinggali sebenarnya adalah warisan dari orang tuanya. Namun, tanpa sepengetahuan saya suami saya tega menggadaikan rumah tersebut untuk membayar hutang-hutangnya,  selain untuk menikah lagi. Setelah itu, saya dan anak-anak ditinggalkan begitu saja sehingga terpaksa hidup di rumah kontrakan, selain harus menjadi pencari nafkah tunggal bagi anak-anak kami. Sementara dari pernikahan kedua suami saya, ia memiliki 3 anak (2 perempuan dan 1 laki-laki). Salah satu anak perempuannya tersebut dititipkan kepada saya untuk dirawat dan diasuh semenjak dia masih bayi.

Sekarang, setelah hampir 20 tahun berlalu semenjak peristiwa itu, dan istri kedua telah meningga dunia, suami berniat balik lagi kepada saya. Bagaimana saya harus bersikap, apakah kehadirannya masih harus saya terima mengingat perlakuannya yang sewenag-wenang menelantarkan kami sekeluarga? Bagaimana status pernikahan kami, apakah kami masih bisa disebut suami istri mengingat begitu lamanya dia meninggalkan saya. Padahal, sepengetahuan saya, perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya selama 2 tahun berturut-turut tanpa kabar, otomatis dianggap telah bercerai. Benarkah pemahaman saya?

Terimakasih atas jawaban Bu Nyai. Mudah-mudahan, bisa segera menenangkan kegalauan saya.
Wassalam    

Aminah
Ciracas, Jakarta Timur


_____________________

Jawaban  :

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ibu Aminah yang dirahmati Allah,
Terima kasih atas kepercayaan Ibu terhadap kami. Sungguh luar biasa sekali Ibu Aminah ini, kami salut sekali dengan perjuangan ibu sebagai single parent untuk 7 putera Ibu selama lebih dari 20 tahun ini. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga Ibu. Aamiieen!

Ibu Aminah yang hebat,
Tujuan pernikahan sebagaimana tersirat dalam QS.ar-Rum: 21 adalah untuk mencapai ketenangan dan ketenteraman jiwa. Seorang istri akan merasa tenang dan tenteram jika suami selalu menemaninya dan menjadi partner di dalam mengarungi kehidupan rumah tangga teermasuk di dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Istri akan merasa nyaman di dalam rumah tangga ketika suami bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya.
Tanggung jawab suami terhadap istri dan anak-anak adalah memenuhi kebutuhan hidupnya, sebagaimana tercantum dalam Alquran:
وعلى المولود له رزقهن وكسوتهن بالمعروف

Artinya:
“ .....dan kewajiban bapak memberi makan dan pakaian terhadap istri dengan cara yang  makruf....”
( QS. al-Baqarah: 233)

Ketika suami ibu Aminah meninggalkan dan tidak menafkahi ibu dan 7 anak selama lebih dari 20 tahun, maka dapat dikatakan suami Ibu telah melakukan penelantaran terhadap isteri dan anak-anak. Tindakan yang dilakukan oleh suami ibu tersebut selain tidak selaras dengan Alquran, juga tidak sesuai dengan Undang-Undang No. 23 tahun 2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) terkait larangan menelantarkan orang-orang dalam lingkup rumah tangga. Ibu sebagai pihak yang ditelantarkan mempunyai hak untuk menuntut terhadap suami Ibu atas perlakuan yang tidak "ma’ruf" tersebut.

Tindakan penelantaran yang dilakukan oleh suami Ibu juga dapat dijadikan alasan bagi Ibu untuk mengajukan perceraian di Pengadilan Agama jika Ibu menghendaki. Ketika suami Ibu meninggalkan Ibu dalam waktu 20 tahun tersebut tidak secara otomatis perceraian terjadi kecuali jika sudah dilakukan atau diputuskan oleh hakim di Pengadilan Agama. Hal ini dikarenakan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama (pasal 115). Pencatatan perceraian di Pengadilan Agama ini juga dimaksudkan untuk melindungi perempuan agar suami tidak mudah menceraikan istrinya.

Kembali pada pertanyaan Ibu tentang bagaimana sikap Ibu terhadap suami Ibu yang menghendaki untuk hidup bersama kembali dengan Ibu, maka saran kami adalah Ibu sebaiknya mempertimbangkan positif dan negatifnya dari sikap yang akan Ibu ambil. Apakah Ibu Aminah yakin bahwa kembalinya suami Ibu akan dapat memberikan ketenangan dan ketentraman bagi keluarga Ibu ataukah sebaliknya? Apakah Ibu juga yakin bahwa suami Ibu akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab ketika kembali hidup bersama dengan Ibu? Kami berharap dan yakin bahwa Ibu Aminah dapat mengambil sikap yang bijak dan maslahah bagi Ibu dan 7 putera Ibu.

Ibu Aminah yang disayangi Allah,
Demikian sedikit penjelasan yang dapat kami berikan, semoga dapat menjadikan pertimbangan dan bermanfaat. Wallahu a'lamu bisshawab



Prihatin atas Nasib Hubungan Perkawinan Saudara : Tanya Jawab Edisi 43

Assalaamualaikum Pak Kyai,
Terima kasih telah menyajikan rubrik konsultasi seputar berbagai persoalan yang menyangkut agama Islam ini. Perkenalkan, nama saya: Muhammad Toat. Domisili di  Malang, Jawa Timur. Saya  mau menceritakan sekaligus mencari solusi yang terbaik dari Ustadzah.

Begini Pak Kyai, saya adalah anak terakhir (ke-6) dari keluarga saya. Bapak saya sudah almarhum, namun alhamdulillah Ibu saya sehat.  Saya mempunyai 2 kakak perempuan (yaitu  anak ke 2 dan anak ke 3).

Anak ke 3, janda mempunyai anak 1. Sy sebut: "Mbak Janda". Kami tinggal serumah bersama saya dan ibu. Sedangkan anak ke 2, mempunyai keluarga dan usaha di rumah induk (rumah kami), sehingga hanya waktu malam pun mereka pulang. Saya sebut: "Mbak Sa".
Mbak Sa, sehari hari mengasuh anak mbak saya yang janda itu. Mbak Janda  bekerja di kantor swasta di daerah sini. Mbak Sa, sudah beberapa hari ini curiga suaminya sering keluyuran, telpon-telponan  dengan Mbak Janda. Bahkan ia  mengaku pernah jalan  pergi berdua  saja,  tanpa sepengetahuan keluarga.

Waktu terus berlalu, Mbak Sa sering menelpon Mbak Janda, dan suaminya untuk meng-cross-check apa yang terjadi.  Dan pernah suatu waktu di latar belakang  suara telepon terdengar bunyi rintik hujan pada waktu yang sama,  yang sama. Dan kebetulan  saat itu keduanya  sedang tidak ada di rumah.

Kemarin, Mbak Sa muntab (emosi yang tak terbendung)  sehingga akhirnya ia  mengumpulkan ibu, suaminya dan Mbak Janda. Dengan bantuan kakak ipar Mbak Sa, suaminya mengaku pernah jalan berdua, jemput waktu pulang kerja, dll. (Saya belum tahu pastinya mereka berzinah atau tidak, Naudzubillah).

Dengan ini, mohon solusi dari Pak Kyai untuk memberikan jalan keluar yang baik? Terus terang hati Mbak Sa begitu hancur, dia dikhianati seperti itu. Padahal selama ini dia yang mengasuh anaknya mbak Janda,  yang  kemudian justru keluar pergi berdua dengan suaminya. Suaminya memang sedikit (buaya) dan mbak Janda imannya tidak kuat. Apalagi dia telah menjanda selama 4 tahun.
Mohon agar Pak Kyai berkenan untuk membantu saya. Terima Kasih.

Wassalaamualaikum wr.wb.
Muh. Toat (27 thn)


Jawaban KH. Muhyiddin Abdusshomad :
Saudara Muh Toat yang kami banggakan. Memang sudah kewajiban setiap umat Islam untuk peduli dan memperhatikan diri dan keluarganya.  Menjaganya agar tidak terjerumus pada perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan  di dunia ataupun di akhirat. Di dalam Alquran Allah swt. sudah menegaskan agar menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka (QS. Al Tahrim, 6), karena bagaimanapun keadaannya, baik atau buruk, mereka tetaplah orang-orang terdekat yang memiliki hubungan darah dengan kita. Sebagaimana Rasulullah saw. tetap menghormati paman beliau Abu Thalib, sekalipun tidak mau memeluk agama Islam.

Ketika mereka melakukan suatu kesalahan atau menyimpang dari norma sosial dan agama, tugas kita adalah mengingatkan mereka dengan agar kembali ke jalan yang benar. Tentu tetap harus dipikirkan cara terbaik agar tujuan tersebut dapat tercapai secara maksimal. Jangan sampai tujuan baik itu, justru makin menjauhkan mereka dari ajaran agama hanya karena kita salah dalam menggunakan metode untuk menegur mereka.  Dalam al Qur’an Allah swt. :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (125) Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al Nahl, 126)

Saudara Toat yang baik,
Berangkat dari paradigma inilah, kami akan mencoba untuk urun rembug atas persoalan yang saudara hadapi. Pertama, apa yang terjadi antara kakak ipar dan Mbak saudara itu memang merupakan hal yang menyimpang dari ajaran agama. Berselingkuh itu memang perbuatan yang dilarang dalam agama.  Apalagi itu dilakukan kepada pasangan dari saudara kita. Dengan tegas Alquran melarang mengumpulkan atau berpoligami dengan dua saudara kandung sekaligus. Apalagi sekedar “main-main” dalam hubungan  yang tidak direstui agama. Di dalam QS. Al Nisa’ 23 Allah swt. berfirman : 


(ambil hanya yang bagian “wa an tajma’uu baina al-ukhtaini illa ma qad salaf”)
Artinya :
“dan (dilarang) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Nisa’ 23)

Saudara Toat yang dirahmati Allah swt.,
Kedua, Menyikapi pelangggaran tersebut, penghormatan tetap harus diberikan kepada mereka sebagai saudara yang lebih  tua, kemudian berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan nasehat dan pengertian kepada mbak janda ataupun kakak ipar saudara. Sudah tentu, nasehat yang diberikan dengan cara yang santun bukan dengan mempermalukan. Misalnya menunggu momen yang pas kemdian memberikan analogi-analogi, seandainya bagaimana jika suami  atau istrinya yang berselingkuh, atau contoh-contoh dari kejadian sehari-hari dari sekitar saudara atau dari media massa tentang akibat dari perselingkuhan.

Yang ketiga, memberikan motivasi kepada Mbak Sa agar kuat menghadapi masalah tersebut, tidak terbawa emosi secara berlebihan. Sembari terus berdoa  kepada Allah swt. agar diberikan jalan terbaik dari persoalan yang dihadapi. Apalagi jika doa itu dilakukan tengah malam ketika shalat tahajjud, tentu akan sangat efektif.

Selanjutnya, ikhtiar manusiawi perlu dilakukan. Misalnya mengingatkan Mbak agar berusaha menghangatkan hubungan dan komunikasi dengan suaminya, merawat dirinya agar terlihat lebih cantik dan lain sebagainya.

Saudara Toat  yang budiman,
Saya kira hal inilah langkah-langkah awal yang bisa dilakukan. Memang terkesan sangat sederhana, tetapi  mudah-mudahan yang sederhana ini masalah tersebut bisa berakhir dengan baik. Bisa saja mengambil jalan pintas misalnya perceraian (naudzubillah) atau lainnya, namun hal itu juga tidak sepenuhnya akan menyelesaikan masalah. Malah dapat akan menimbulkan masalah baru yang terkadang jauh lebih rumit dari akar masalahnya.  {}


Perlukah Anak Perempuan Saya Dikhitan? : Tanya Jawab Edisi 42

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Bu Nyai yang saya hormati, saya Khusnul Khotimah (39 tahun), seorang karyawati tinggal di Kramat Jati, Jakarta Timur. Saya telah menikah dengan suami selama 9 tahun, dan alhamdulillah kurang lebih setengah tahun yang lalu keluarga kami mendapatkan kabar gembira. Oleh dokter saya dinyatakan positif hamil. Saat ini kandungan saya memasuki bulan keenam, dan kami tengah bersemangat untuk menanti kelahiran si buah hati. Didorong oleh rasa penasaran tentang jenis kelamin buah hati, beberapa hari lalu ketika ke dokter kandungan suami meminta agar saya di-USG. Insyaallah, anak kami bakal lahir perempuan.

Sebenarnya, bagi saya tidak masalah memiliki anak lelaki maupun perempuan, mengingat anak adalah titipan Tuhan. Kami sudah sangat bersyukur karena Allah swt. akhirnya mempercayakan amanahnya kepada kami berdua. Namun, yang membuat saya masygul, beberapa tetangga dan keluarga besar mulai menanyakan banyak hal kepada saya. Termasuk, apakah anak perempuan saya nanti akan segera dikhitan atau menunggu agak besar, mengingat khitan perempuan banyak dilakukan dalam budaya kami. Saya sendiri tidak tahu pasti apakah dulu saya dikhitan atau tidak.

Pertanyaan saya kepada Bu Nyai, apakah khitan untuk anak perempuan itu memang diperlukan? Mengingat saya pernah membaca bahwa sebenarnya khitan perempuan tidak memiliki manfaat apapun bahkan dapat menyebabkan komplikasi dalam pusat syaraf organ seksualnya. Benarkah bahwa bila tidak dikhitan, anak saya tidak sempurna keislamannya? Mohon jawaban dan pencerahannya.

Wassalam

Khusnul Khotimah,
Karyawati dan Ibu Rumah Tangga
Kramat Jati, Jakarta Timur


Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ibu Khusnul Khotimah yang dirahmati Allah,

Terima kasih atas surat Ibu yang sangat berkesan ini. Saya mengucapkan selamat atas kehamilan Ibu. Semoga dalam menjalani masa-masa kehamilan sampai proses melahirkan Ibu Khusnul Khotimah senantiasa dikaruniai kesehatan dan kekuatan. Amin

Ibu Khusnul yang baik,

Masalah khitan perempuan memang masih terus menjadi pembahasan yang hangat di masyarakat di berbagai belahan dunia. Khitan perempuan yang dipraktikkan di masyarakat biasanya dengan cara menghilangkan atau memotong atau membuat luka kecil di sebagian alat kelamin perempuan (bagian klitoris atau labia minora). Di Indonesia, praktek khitan perempuan beragam, bahkan banyak yang hanya memprktekkan khitan secara formalitas saja, yaitu dengan menggoreskan ujung jarum di klitoris atau hanya dengan meneteskan cairan anti septik berwarna merah. Semua praktek khitan itu dilakukan karena masyarakat masih meyakini kewajiban khitan bagi perempuan.

Ibu benar bahwa secara medis, pemotongan ataupun perlukaan di sekitar klitoris itu tidak ada manfaatnya, bahkan justru dapat merugikan perempuan. Pemotongan klitoris dapat mengganggu fungsi seksual perempuan, di mana perempuan tidak dapat menikmati hubungan seksual padahal Nabi memerintahkan agar hubungan seksual yang dilakukan oleh suami istri harus dapat dinikmati oleh kedua belah pihak.

Ibu Khusnul yang dikasihi Allah,

Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang berbicara tentang khitan pada perempuan. Meskipun ada beberapa hadis yang membahas khitan perempuan, namun validitas hadis meragukan atau hadisnya dhaif (kualitas hadis lemah sehingga tidak dapat dijadikan dasar hukum). Misalnya hadis yang berbunyi:

الختان سنة للرجال مكرمة للنساء

Artinya: khitan adalah sunnah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan

Juga hadis bahwa ada seorang perempuan tukang khitan di Madinah, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ

“Jangan (potong) berlebihan karena itu lebih baik / menyenangkan bagi perempuan dan lebih disukai laki-laki (suami)”

Kedua hadis tersebut bernilai dhaif sehingga seharusnya tidak dijadikan hujjah (dasar hukum).

Dalam menyikapi khitan perempuan, para ulama berbeda pendapat, ada yang mewajibkan, ada yang menghukumi sunnah dan ada yang hanya menganggapnya sebagai kehormatan saja. Bahkan seorang mufti Mesir yang bernama Syekh Ali Gom’ah pernah memfatwakan haramnya khitan perempuan karena ada kasus meninggalnya seorang perempuan akibat dikhitan. Pendapat mufti Mesir ini menunjukkan bahwa pertimbangan mafsadah (manfaat) dan madharat (dampak negatif) harus menjadi dasar penetapan hukum khitan perempuan.

Ibu Khusnul Khotimah yang dirahmati Allah,

Lalu, mengapa sebagian masyarakat kita masih keukeuh mempraktekkan khitan perempuan padahal secara medis meragukan dan dari sisi agama, tidak ada dalil yang bernilai valid? Pada dasarnya masalah khitan berkaitan dengan stereotype perempuan yang “harus” pasif ketika melakukan hubungan seksual. Seorang istri dianggap tabu ketika menunjukkan gairah seksualnya terhadap suaminya. Untuk “mengebiri” hasrat seksual itulah masyarakat menganggap bahwa khitan dapat “mengendalikan” seksualitas perempuan.

Stereotype ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad saw. karena Nabi justru menyemangati perempuan untuk menunjukkan gairah seksual terhadap suami. Nabi juga memerintahkan suami agar mampu membuat istrinya dapat menikmati hubungan seksual.

Jadi menurut saya, tidak ada dasar Alquran maupun Hadis yang kuat dapat dijadikan dasar untuk syari’at khitan perempuan, bahkan cenderung merugikan kesehatan perempuan. Tradisi khitan perempuan yang hanya berdasarkan stereotype yang tidak benar, tidak perlu dilanjutkan.

Ibu Khusnul yang baik,

Demikian jawaban yang dapat saya berikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshowab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 08 Oktober 2013 09:19 )

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

13-14 Desember 2014. Monitoring PUP IV di PP Mambaul Huda, Salaman Magelang

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini984
mod_vvisit_counterKemarin984
mod_vvisit_counterMinggu ini9558
mod_vvisit_counterBulan Ini29051
mod_vvisit_counterSemua1324582

Yang Online

Kami memiliki 37 Tamu online