RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Tuesday
May 03rd
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Suplemen

Suplemen

Pernikahan Dini Antara Cerita dan Realita : Suplemen Edisi 40

Pembaca yang dirahmati Allah swt.,
Suplemen Swara Rahima Edisi 40 kali ini berjudul “Pernikahan Dini : Antara Cerita dan Realita”. Tulisan yang merupakan hasil perenungan Pupah Masarah, seorang peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima Angkatan I Wilayah Jawa Barat ini mengetengahkan fenomena pernikahan anak-anak di bawah umur yang ternyata masih terjadi di sekitar kita. Pernikahan dini, kenyataannya tidak sekedar peristiwa menghebohkan yang terjadi pada seorang gadis remaja Lutviana Ulfa dari Semarang beberapa tahun lalu. Namun, juga masih terjadi di sekitar kampung halaman Pupah di Garut, Jawa Barat serta di berbagai wilayah lain di Indonesaia maupun berbagai tempat di belahan dunia ini. Atas dasar keprihatinan itulah, si penulis ingin mengulasnya kembali.

Beragam alasan kenapa masih terjadi pernikahan dengan anak di bawah umur? Bagi pelaku, masih ada yang berdalih bahwa menikah dengan anak di bawah umur merupakan sunah Nabi dan ittiba’ Rasul, mengingat pernikahan Nabi dengan Aisyah dilakukan ketika Aisyah masih dalam usia anak-anak. Selain itu beragamnya pandangan fiqh mengenai pemaknaan atas istilah baligh, juga membuat aturan mengenai usia minimum perkawinan di berbagai Negara berpenduduk mayoritas muslim juga masih beragam.

Belum lagi, diskursus mengenai “wali mujbir” dan “birrul walidain”, yang mengkaitkan praktik kawin paksa sebagai manifestasi ketaatan anak terharap orang tua membuat peristiwa ini acapkali masih terjadi. Di perkotaan, pergeseran nilai-nilai dan norma masyarakat telah menyebabkan longgarnya batas pergaulan di kalangan remaja; ditambah lagi dengan minimnya pengetahuan mereka akan kesehatan reproduksi
telah menyebabkan banyaknya kasus kehamilan tak dikehendaki (KTD). Ujung-ujungnya, muncullah apa yang diistilahkan dengan Married by Accident (MBA) yang turut menyumbang masih tinginya pernikahan di usia anak ini.

Para pembaca setia Swara Rahima,
Tentu banyak sekali akibat yang ditimbulkan karena pernikahan dini ini. Pada pasangan berusia remaja, tentunya mereka akan kehilangan banyak kesempatan untuk bermain dan belajar karena “anak-anak harus mengurus anak-anak”. Ketidaksiapan mereka dalam menata mahligai rumah tangga, mengakibatkan konflik dan pertengkaran karena peran-peran baru itu tak dapat dihindari. Sementara, bagi korban pernikahan dini akibat ‘kawin paksa’ yang dilakukan dengan orang dewasa tentu juga akan mengalami
trauma psikis yang cukup panjang akibat perkosaan dalam perkawinan (marital rape). Hak-hak reproduksi dan seksual mereka rentan untuk diabaikan, dan ketidaksiapan organ reproduksi mereka yang mengalami kehamilan di usia dini mengakibatkan mereka berpotensi untuk mengalami gangguan kesehatan  reproduksi. Seperti kanker serviks atau persoalan gangguan kesehatan reproduksi yang lain, termasuk hadirnya penyakit menular seksual (PMS) maupun HIV/AIDS bila ternyata si anak dinikahkan dengan seseorang yang perilaku seksualnya suka gonta-ganti pasangan.

Hubungan antara anak dan orang tua, juga potensial mengalami ketegangan. Hal ini karena mereka merasa dirampas masa kanak-kanak atau remajanya, bahkan merasa diperjualbelikan oleh orang tua sendiri. Alih-alih si anak akan mengambil keputusan dengan sadar untuk berbakti kepada orang tua, justru yang terjadi bisa sebaliknya. Anak akan kehilangan respek dan rasa hormat pada orang tuanya yang ia pandang malah mempermainkan masa depan dan nasib kehidupannya.

Pembaca yang budiman,
Semestinya, persoalan pernikahan dini ini menjadi keprihatinan kita bersama. Pandangan masyarakat yang patriarkhis dan mengabaikan pemenuhan hak anak semestinya dikikis pelan-pelan. Aturan formal (undangundang) mengenai perkawinan yang masih belum ideal, semestinya tidak tahu untuk diperbaharui demi kebaikan generasi penerus kita mendatang.

Dengan membaca tulisan ini, kami harapkan terjadi sebuah kesadaran baru untuk kritis terhadap fenomena pernikahan dini dan tidak akan mengorbankan putraputri kita sendiri. Semestinya, para orang tua juga mulai terbuka untuk berdialog tentang persoalan seksualitas dan kesehatan reproduksi dengan putra-putrinya. Agar nantinya mereka tidak salah mengambil jalan dan selalu menjadi pribadi yang berperilaku sehat dan bertanggung jawab.

Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa anda petik dari suplemen Swara Rahima edisi 40 ini. Dan tentunya tak lupa kami ucapkan: Selamat membaca!

Muharam 1434 H/ Desember 2012 M

Redaksi

_______________________


 

Pernikahan Dini Antara Cerita dan Realita
Oleh: Pupah Masaroh, S. Ag

A. Pendahuluan
Berawal dari percakapan ringan tak sengaja dengan seorang perempuan yang ternyata usianya jauh lebih muda dari dugaan saya, terbuka fakta yang membuat saya sempat terdiam. Di zaman yang sudah serba maju dan modern saat ini terdapat realita miris yang terjadi pada perempuan-perempuan di daerah
yaitu menjadi janda di usia yang masih sangat dini.

Sebut saja Eneng, di usianya yang baru menginjak 20 tahun sudah memiliki seorang anak berusia 7 tahun dan saat ini sedang dalam proses bercerai dari suaminya yang berusia 25 tahun. Yang membuat
saya tercengang, dia tidak terbebani dengan stigma statusnya nanti menjadi janda.

Di daerah lain tepatnya di Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut, sebut saja namanya Geulis yang kini berusia 20. Ketika usianya masih 13 tahun ia sudah dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya yang berusia jauh lebih tua yaitu 40 tahun. Padahal secara ekonomi, calon suaminya terbilang kurang mapan karena sehari-hari berprofesi sebagai penarik becak. Kini, Geulis telah memiliki anak usia 6 tahun dan telah melakukan gugatan cerai kepada suaminya setelah selama 7 tahun bekerja keras menjadi pencari
nafkah utama keluarga dan tetap direndahkan.

Sebenarnya fenomena seperti ini di berbagai daerah cukup banyak terjadi dengan masa perkawinan
yang beragam. Ada yang bertahan beberapa bulan, beberapa minggu, bahkan ada yang sampai hanya
bertahan hanya 3 hari. Hal itu juga pada umumnya karena masyarakat di daerah merasa malu jika memiliki anak gadis yang belum menikah. Namun sebaliknya, mereka akan bangga dan senang jika anak gadisnya sudah ada yang melamar tanpa mempertimbangkan faktor usia atau faktor lainnya. Dalam istilah Sunda tanpa mempertimbangkan bebet, bibit dan bobot-nya.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas,2010), pernikahan pada usia 15-19 tahun mencapai 41,9 persen. Masih terdapat pula pernikahan pada usia sangat muda yakni usia 10-14 tahun sebesar
4,8 persen. Plan Indonesia, organisasi keman usiaan yang fokus pada perlindungan dan pemberdayaan anak, menyampaikan hasil temuannya mengenai pernikahan dini. Plan mencatat 33,5 persen anak usia 13-18 tahun pernah menikah, dan rata-rata menikah pada usia 15-16 tahun. Penelitian ini dilakukan di delapan kabupaten di seluruh Indonesia selama Januari-April 2011.

Wilayah penelitian mencakup Kabupaten Indramayu (Jawa Barat); Grobogan dan Rembang (Jawa Tengah); Tabanan (Bali); Dompu (NTB); serta Timor Tengah Selatan, Sikka, dan Lembata (NTT). “Walaupun tidak mewakili seluruh populasi di Indonesia, temuan ini bisa menjadi gambaran kasus pernikahan dini secara umum di Tanah Air. Apalagi data ini tak jauh berbeda dengan temuan Bappenas tahun 2008 bahwa 34,5 persen dari 2.049.000 perkawinan tahun 2008 adalah perkawinan anak,” ujar Bekti Andari Gender Spesialist Pernikahan Dini Antara Cerita dan Realita 12 Suplemen Swara Rahima Edisi 40, Desember 2012 Plan Indonesia.

Berdasarkan Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan usia di bawah 16 tahun. Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun. Di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Jawa Barat, angka kejadian pernikahan dini berturut-turut 39,4%, 35,5%, 30,6%, dan 36%. Dari banyaknya kasus di atas, timbullah pertanyaan “Mengapa masih banyak terjadi perkawinan dini dan dilegalkan?”


 

B. Memahami Beragam Perspektif tentang Pernikahan Dini dan Faktor Penyebabnya
Hakikat pernikahan atau perkawinan pada dasarnya dilakukan untuk niat yang suci demi kebaikan yaitu menciptakan keluarga yang sakinah,mawaddah warohmah. Apa pun alasan yang melatarbelakangi nya,
setiap pasangan tentu berharap dapat mewujudkannya. Hal ini karena perkawinan merupakan sunnatullah sebagaimana termaktub dalam Firman Allah swt.

Pada QS. Ar Rum : 21 sebagai berikut :
Artinya :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir
.”(QS. Ar Rum : 21)

Selain itu, dalam sebuah Hadis Nabi juga disebutkan :
Artinya :
Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kamu sudah mampu kawin, maka kawinlah. Sebab
perkawinan itu akan dapat elbih memelihara pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan
barang siapa belum mampu kawin,maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya berpuasa itu dapat mengalahkan hawa nafsu.
” (H.R. Jama’ah)

Sementara, pengertian “perkawinan” menurut Undang-Undang Perkawinan Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 Pasal 1 disebutkan :

Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal bardasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam undang-undang ini juga dijelaskan ketentuan secara spesifik mengenai batasan usia minimum untuk melangsungkan pernikahan sebagaimana termaktub pada pasal 7 ayat 1 yang isinya sebagai berikut:
“Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak
wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.“

Sebagai seorang muslim yang sekaligus merupakan warga negara Indonesia yang baik, tentunya kedua dasar hukum di atas berlaku jika seseorang ingin melangsungkan suatu ikatan perkawinan. Namun, di lapangan perkawinan masih cukup banyak terjadi perkawinan yang tidak sesuai dengan kedua dasar hukum tersebut karena berbagai faktor. Pernikahan dini merupakan salah satu bentuk praktik  perkawinan yang tidak sesuai dengan kedua dasar hukum tersebut.

Pernikahan dini secara umum berarti pernikahan yang dilakukan pada usia belia di bawah batas usia minimum melakukan perkawinan yang telah ditentukan undang-undang atau yang dalam konteks
perbincangan fiqh Islam disebut baligh. Pemaknaan arti kata baligh sendiri, sebenarnya cukup beragam.
Keragaman pemahaman itu juga sangat terkait dengan beberapa alasan. Jika menurut sudut pandang
psikologis, usia terbaik untuk menikah adalah usia antara 19 tahun sampai 25 tahun, maka bagaimana
dengan agama? Rasulullah saw.Bersabda:

Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mencapai “ba’ah” (mampu), maka kawinlah. Karena sesungguhnya kawin lebih bisa menjaga pada pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan. Bila tidak mampu melaksanakannya maka berpuasalah karena puasa baginya adalah kendali (dari gairah seksual)” (HR. Imam yang lima).

Hadits di atas dengan jelas dialamatkan kepada syabab (pemuda). Siapakah syabab itu? Mengapa kepada
syabab? Menurut mayoritas ulama, syabab adalah orang yang telah mencap aqil baligh dan usianya belum
mencapai tiga puluh tahun. Aqil baligh bisa ditandai dengan mimpi basah (ihtilam) atau menstruasi (haid)
bagi perempuan) atau telah mencapai usia lima belas tahun. Ada apa dengan syabab?

Menarik apabila penjelasan mengenai hadis di atas, juga dikaitkan dengan sabda Nabi saw. yang lain,

Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena tidak mengerjakannya setelah berusia sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidurnya” (Ahmad dan Abu Dawud).

Pokok ajaran dalam Hadis di atas selain bermakna sebagai pendidikan bagi anak agar mereka menjadi pribadi yang memiliki tanggung jawab personal juga menyimpan sebuah isyarat bahwa pada usia sepuluh tahun, seorang anak telah memiliki potensi menuju kematangan seksual. Sementara bila dikaitkan dengan Hadis sebelumnya, perilaku seksual juga mesti dilakukan secara sehat dan bertanggung jawab, dimana hal itu merupakan konsekuensi tindakan sebagai orang dewasa.

Dengan demikian, istilah “ba’ah” dapat diinterpretasikan tidak saja “baligh” atau dewasa dalam konteks fisik, namun juga secara fisik, mental, ekonomi, dan sosial. Mengingat kedewasaan dalam keseluruhan hal tersebutlah yang memungkinkan seseorang mampu melangsungkan pernikahan secara sehat dan bertanggung jawab.

Dari sudut pandang Psikologi, pernikahan dini tergolong pernikahan yang dilakukan pada usia remaja.Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut Konopka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi (a) remaja awal : 12-15 tahun; (b) remaja madya : 15-18 tahun, dan (c) remaja akhir: 19-22 tahun.

Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. Dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai masa “Strom & Stres”. Frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Lustin Pikunas, 1976).

Kondisi psikologis remaja yang labil inilah yang membuat orang tua khawatir untuk menikahkan anaknya pada usia remaja/dini. Namun, hal ini pula yang mendorong sebagian orang tua untuk  menikahkan anaknya pada usia dini dengan kekhawatiran yang berbeda. Secara psikologis, usia 19 sampai 25 tahun adalah usia terbaik untuk menikah karena sudah mencapai tingkat kematangan baik dalam psikis maupun biologis. Secara medis, perempuan sangat baik hamil pada usia 20 -30 tahun. Namun, perkawinan dan reproduksi yang dilakukan sebelum usia dewasa sebagaimana disebutkan di atas, dapat digolongkan sebagai pernikahan dini atau pernikahan pada usia anak-anak. Selain itu, masyarakat juga mengalami pergeseran nilai, sehingga di perkotaan perempuan menikah di atas usia 25-30 tahun adalah hal yang biasa.

Ada beberapa faktor yang mendorong masih banyaknya praktik pernikahan dini yang terjadi di masyarakat, khususnya di daerah-daerah, diantaranya:

1. Alasan Ekonomi
Bagi sebagian masyarakat daerah terutama yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah, anak adalah beban berat yang harus ditanggung. Oleh karena itu, mereka harus mencari solusi untuk meringankannya. Namun, solusi yang mereka ambil kemudian menjadi sebuah langkah yang tidak tepat yaitu dengan menikahkan anak perempuannya pada usia dini bahkan sangat dini. Alasan para orang tua dengan menikahkan anak perempuannya, berkurang beban mereka. Pernikahan seolah menjadi sarana pengalihan tanggung jawab dari orang tua kepada suami.

2. Pergaulan Bebas

Pengetahuan yang minim tentang agama, iman yang lemah, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sehingga terjadi dekadensi moral pada remaja sementara pergaulan tak terkontrol seringkali menyebabkan Kehamilan Tak Diinginkan (KTD) yang akhirnya mengakibatkan terjadilanya Maried By Accident (MBA) atau pernikahan karena ‘kecelakaan’. Pernikahan seperti ini sangat rentan terjadi perceraian karena ketidaksiapan kedua belah pihak untuk menikah apalagi memiliki anak.

3. Sikap Over Protektif Orang Tua
Kekhawatiran yang berlebihan pada orang tua terhadap Anaknya agar tidak terjerumus pergaulan bebas yang akan menimbulkan aib bagi keluarga, menyebabkan mereka menikahkan anaknya pada usia dini dengan dalih untuk menjaga kesucian (iffah). Pemahaman masyarakat yang berkembang terkait pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ra. sering menjadi legitimasi pernikahan ini. Hal ini juga disebabkan
rendahnya tingkat pendidikan para orang tua.

4. Pemalsuan identitas dalam Perkawinan
Selain faktor-faktor di atas, adanya oknum yang turut andil dalam proses legalisasi pernikahan dini dengan membuat surat keterangan palsu diantaranya pencantuman usia yang ditambah pada Kartu Tanda Penduduk (KTP). Seperti yang terjadi pada Eneng (diawal tulisan) ketika menikah tercantum usia
19 tahun pada KTP nya, padahal usia sebenarnya baru 13 tahun.

5. Beragamnya aturan dan pemahaman mengenai ketentuan usia minimum untuk melangsungkan perkawinan.

Batasan usia pernikahan di berbagai negara berbeda-beda juga mendorong masih banyaknya praktik pernikahan dini di berbagai negara berpenduduk mayoritas muslim. Di Indonesia, sebagaimana dalam Undang-undang Perkawinan No.1 tahun 1974 pada pasal 7 ayat 1, usia minimum perkawinan adalah 19 tahun untuk lakilaki dan 16 tahun untuk perempuan. Di Mesir, Libya, Malaysia, Pakistan, dan Yaman Selatan menetapkan usia minimum untuk melangsungkan perkawinan adalah 18 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Di Yordania (laki-laki 16 tahun,perempuan 15 tahun), Yaman Utara (15 tahun untuk laki-laki dan perempuan), dan Maroko (18 tahun laki-laki, 15 tahun perempuan).

Beragamnya aturan ini terkait dengan banyaknya rujukan yang diambil dari literatur klasik Islam mengenai interpretasi makna baligh. Dalam ketentuan Islam, seseorang diperbolehkan menikah ketika sudah baligh (dewasa) dimana dalam fiqh klasik banyak disebutkan pada saat pertama haid bagi perempuan mayoritas pada usia 12-17 tahun), dan saat pertama laki-laki keluar air mani atau ‘mimpi basah’ (mayoritas pada usia 12-15 tahun).

Namun, di beberapa negara muslim seperti Irak dan Somalia usia minimum perkawinan telah ditetapkan sesuai dengan batasan dalam Konvensi Perlindungan Anak dimana tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan, yakni minimal berusia 18 tahun. Di Aljazair dan Bangladesh juga telah sesuai Konvensi Hak Anak namun masih membedakan usia minimum perkawinan bagi laki-laki (21 tahun) dan perempuan (18 tahun).


 

C. Dampak Pernikahan Dini
Menikah di usia kurang dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia, terutama negara berkembang. Meskipun Deklarasi Hak Asasi Manusia (HAM) di tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun ironisnya, praktek pernikahan usia dini masih berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan. Implementasi Undang-Undang pun seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat tersebut.

Suatu studi literatur yang dilakukan oleh UNICEF menemukan bahwa interaksi berbagai faktor menyebabkan anak berisiko menghadapi pernikahan di usia dini. Diketahui secara luas bahwa pernikahan
anak berkaitan dengan tradisi dan budaya, sehingga sulit untuk mengubah. Alasan ekonomi, harapan mencapai keamanan sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak orangtua mendorong anaknya untuk menikah di usia muda.

Komunitas internasional menyadari pula bahwa masalah pernikahan anak merupakan masalah yang sangat serius. Implikasi secara umum bahwa kaum perempuan dan anak yang akan menanggun risiko dalam berbagai aspek, berkaitan dengan pernikahan yang tidak diinginkan, hubungan seksual yang dipaksakan, kehamilan di usia yang sangat muda, selain juga meningkatnya risiko penularan infeksi HIV, penyakit menular seksual lainnya, dan kanker leher rahim. Konsekuensi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan tentunya merupakan hambatan dalam mencapai Millennium Developmental Goals (MDGs) pada 2015.

Sesungguhnya dampak pernikahan dini yang terjadi di masyarakat sangat beragam, hal tersebut seperti termuat di bawah ini:

1. Dampak Hukum : Pelanggaran terhadap Undang-undang.
Adanya pelanggaran terhadap Undang-undang (UU) di Indonesia, antara lain: No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:

a] mengasuh,memelihara, mendidik dan melindungi anak.

b]. Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya dan;

c] mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. UU No.21 tahun 2007 tentang Penghapusan Tidak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut.

Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak, agar anak tetap memperoleh haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

2. Dampak fisik atau biologis
Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak.

3. Dampak psikologis
Secara psikis, anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.

4. Dampak sosial
Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang bias gender, yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap pelengkap seks laki-laki saja. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin). Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan terhadap perempuan.

5. Dampak perilaku seksual menyimpang
Adanya perilaku seksual yang menyimpang yaitu perilaku yang gemar berhubungan seks dengan anak-anak yang dikenal dengan istilah pedofilia. Perbuatan ini jelas merupakan tindakan ilegal (menggunakan seks anak), namun dikemas dengan perkawinan seakan-akan menjadi legal.Hal ini bertentangan dengan UU.No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak khususnya pasal 81, ancamannya pidana penjara maksimum 15 tahun, minimum 3 tahun dan pidana denda maksimum 300 juta dan minimum 60 juta rupiah.

6. Rentan KDRT,
Menurut temuan Plan, sebanyak 44 persen anak perempuan yang menikah dini mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan tingkat frekuensi tinggi. Sisanya, 56 persen anak perempuan mengalami KDRT dalam frekuensi rendah.

7. Risiko terkena penyakit dan meninggal,
Menurut medis, pada perempuan di bawah usia 18 tahun, sangat rentan terkena kanker serviks. Pada anak perempuan berusia 10-14 tahun memiliki kemungkinan meninggal lima kali lebih besar, selama kehamilan atau melahirkan, dibandingkan dengan perempuan berusia 20-25 tahun. Sedangkan, anak yang menikah pada usia 15-19 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar.

8. Terputusnya akses pendidikan
Walau berdasarkan data empiris ada pasangan yang menikah dini tetapi berhasil melanjutkan pendidikkannya dengan sukses, namun mayoritas pasangan yang menikah dini tidak mampu
melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi terutama di daerah-daerah. Hanya 5,6
persen yang masih melanjutkan.


 

D. Merefleksikan Kembali Hakikat Pernikahan
Terlepas dari apa yang melatarbelakanginya, pernikahan tentu mengandung konsekuensi bagi pelakunya dan membawa dampak baik yang positif maupun negatif. Hal ini menjadi berkah atau konsekwensi dari keputusan yang diambil. Ditinjau dari sisi agama, setidaknya ada 7 (tujuh) arti penting pernikahan yang perlu dipahami. Oleh karenanya daripada melakukan pernikahan dini, jauh lebih baik untuk terlebih dahulu mempersiapkan diri agar nantinya ketika memutuskan untuk menikah dapat menjalani kehidupan perkawinan secara sehat dan penuh rasa tanggung jawab.

1. Pernikahan memiliki arti perubahan atau komitmen untuk berubah. Perubahan apa? Perubahan kedewasaan. Jika masa anak-anak lebih mengedepankan dalam menuntut hak, maka semakin tambah usia dominan kewajiban yang harus dilakukan. Melalui pernikahan diharapkan tercipta komitmen untuk lebih dewasa dimana kewajiban lebih menonjol dibanding tuntutan hak.

2. Sebagai penyempurnaan agama. Dalam Islam, menikah adalah bagian dari agama. Islam sangat memperhatikan arti penting pernikahan, dalam Alquran banyak dibahas aturan-aturan dalam pernikahan. Pasangan yang akan menikah sebaiknya memiliki pengetahuan agama yang memadai untuk direalisasikan dalam menjalankan pernikahannya.

3. Mencari ridha Allah. Dalam pernikahan, selain mendapat kebahagian, banyak pula ujian dan godaannya. Pernikahan menjadi salah satu jalan mencapai ridha Allah menuju surga jika suami istri mampu menghadapi semuanya dengan berjalan secara sinergis sebagai satu kesatuan. Pernikahan yang kandas sering terjadi karena masing-masing mempertahankan ego dalam menghadapi masalah.

4. Mencapai keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Pernikahan yang ideal akan terwujud jika berupaya keras untuk saling memahami dan menyesuaikan diri disertai mendekatkan diri kepada Allah.

5. Menjauhkan diri dari zina. Bagi mereka yang sudah “mampu”, dalam arti dewasa secara fisik,mental, ekonomi, dan sosial, hendaklah dapat memutuskan untuk segera menikah sebagai sarana untuk menyalurkan hasrat dan kebutuhan seksualnya secara sehat dan bertanggung jawab. Seks tidak hanya dipikirkan tapi sudah halal dilakukan. Dan mengambil keputusan untuk menikah berarti seseorang dapat melakukan aktivitas seksual secara sehat, baik dalam makna prokreasi maupun rekreasi.

6. Mencegah timbulnya penyakit kelamin atau Penyakit Menular Seksual (PMS). Penyakit ini merupakan penyakit tertua di dunia dan tetap bertahan karena kelemahan dasar manusia pada kesetiaan. Dengan dilandasi kejujuran dalam sebuah pernikahan, serta pengetahuan yang baik dan cukup mengenai kesehatan seksual dan reproduksi, maka penyakit tersebut akan terhindarkan.

7. Fungsi reproduksi, dengan pernikahan, kelangsungan hidup manusia akan tetap terjaga sebagai khalifah di muka bumi. Setiap pernikahan baik yang dilakukan dalam usia matang atau pada pernikahan dini memiliki makna yang sama, yaitu prokreasi dan rekreasi. Pada pernikahan dini, kebanyakan pasangan belum siap untuk menghadapi tanggung jawab dan maupun untuk hidup secara mandiri, padahal pernikahan bukan sekedar untuk kebutuhan biologis bersama pasangan semata-mata.

Pada pernikahan yang dilakukan ketika pasangan telah dewasa, tidak saja secara fisik, namun juga secara mental, ekonomi, dan sosial, mereka telah siap menerima konsekuensi dari hubungan seksual secara sehat dan bertanggung jawab. Pasangan suami istri dapat saling menyayangi dan mendukung untuk membesarkan dan merawat anak-anak mereka serta menjalankan peran sebagai orang tua yang mempersiapkan lahirnya generasi mendatang.

Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah swt :
Artinya :
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri,
dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu
.” (QS. An Nisa : 1)


 

E. Penutup
Dari uraian tersebut jelas bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur (anak) lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Oleh karena itu patut ditentang. Orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan serta tidak menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau anak; di samping juga harus memahami peraturan perundangundangan untuk melindungi anak. Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dapat mengajukan class-action kepada pelaku, melaporkan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesai (KPAI), LSM peduli anak lainnya dan para penegak hukum harus melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk melihat adanya pelanggaran terhadap perundangan yang ada dan bertindak terhadap pelaku untuk dikenai pasal pidana dari peraturan perundangan yang ada. (UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU Perkawinan, UU Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO).

Pernikahan bukan akhir sebuah problem, namun merupakan awal dari sebuah perjalanan hidup yang penuh dengan godaan dan ujian. Banyak hal yang harus dipersiapkan oleh seseorang sebelum melangkah ke jenjang tersebut. Mental yang kuat,keilmuan tentang agama maupun tentang kesehatan
reproduksi harus dimiliki baik oleh pasangan maupun orang tuanya, sebagai bekal keterampilan dalam mengurus rumah tangga juga harus diperhatikan.

Meskipun sebagian ulama masih berpendapat bahwa pernikahan pada usia dini diperbolehkan (mubah) dalam agama, namun yang harus dipertimbangkan apakah kedua pasangan telah benar-benar siap secara
fisik maupun psikis untuk menjalankannya? Hal ini penting agar nantinya tidak terjadi pernikahan yang kandas di tengah jalan atau membahayakan bagi pasangan terutama perempuan.

Sebagaimana dinyatakan dalam salah satu kaidah ushul fiqh :
Dar’ul mafaasid muqaddamun ‘alaa jalbi almashaalih”

Artinya :
Mencegah kemudharatan harus lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan

Oleh karenanya, mengingat madharat pernikahan dini jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang didapat, maka praktik pernikahan dini harus dihindari , ditentang, dan dihapuskan. Hal ini agar pada akhirnya nanti tercipta pernikahan ideal yang mampu mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amin. {}

________________________
DA F T A R PU S T A K A
Abdullah Gymnasiar. 2005. Sakinah Manajemen Qolbu untuk Keluarga. Bandung. MQ Khas Ahnan, Maftuh Asy 1997.

Rahasia Saling Membahagiakan Suami Istri. Surabaya. Terbit Terang Hurlock, B. Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta. Erlangga
Nasihin, Abdullah Ulwan. 1990. Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam. Bandung. As-Syifa Ronosulistyo, Hanny dan Amiruddin, Aam.2007.

Seks Tak Sekedar Birahi. Bandung. Khazanah Intelektual. Seri Perundangan. 2004. Undang-undang
Perkawinan. Yogyakarta, Pustaka Widyatama
Swara Rahima. Edisi No. 38 Th XII Mei 2012. Pernikahan Usia Dini Tak dapat Dipungkiri namun Tak
layak Diamini. Jakarta
Yusuf Syamsu. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. Remaja Rosdakarya
http://famale.kompas.com/read/2011/10/06/15331434/3.dampak.buruk.pernikahan.dini

_______________________


TE N T A N G PE N U L I S
Ibu guru ini bernama Pupah Masaroh, SAg., yang terlahir di Garut, 2 September 1977. Menamatkan pendidikan terakhirnya di Fakultas Tarbiyah, Sekolah Tinggi (STAI) Al Musaddadiyah, Garut ; di samping ia mondok di PP. Al Musaddaiyah Putri (1996-2000). Sebelumnya, Pupah melalui jenjang pendidikannya mulai dari SDN Taraju dan MTs. Al Hidayah di Garut. Pendidikan menengah atasnya dia lalui di Perguruan Muallimat dimana ia juga mondok di Pondok Pesantren Muallimat, Cukir, Jombang tahun 1993-1996).

Ketika mahasiswa, Pupah aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)  dan menjadi Ketua Korp PMII Putri (KOPRI) cabang Garut (1997-1999). Namun, kiprahnya sehari-hari memang tidak bisa jauh dari dunia pendidikan. Ia pernah menjadi guru Taman Kanak-kanak pada Raudlatul Athfal (RA) Al Musaddadiyah, Garut (2002-2007),   menjadi Dosen di PGTK STAI Al Musaddadiyah, Garut (2002-2007), bahkan aktivitas berorganisasinya pun dia salurkan pada  Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA), Kabupaten Garut (2000-2006).

Menikah dengan Urwah, SHi, Msi, (2006)  pasangan ini kemudian dikaruniai 2 orang putra bernama Muhammad Dihya dan Muhammad Nadzif.

Pupah yang pernah mengikuti kegiatan Pengkaderan Ulama Perempuan  (PUP)  Angkatan I hingga tahun 2005 ini, sehari-harinya menjadi guru/staf pengajar pada Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Atikah Musaddad, Garut.





Terakhir Diperbaharui ( Senin, 14 Januari 2013 07:39 )

 

Kaum Perempuan dan Reproduksi Manusia : Suplemen Edisi 39

Pendahuluan
‘Menjadi perempuan’ adalah takdir yang sangat indah. Begitu indahnya, hingga perempuan  dikiaskan menjadi salah satu perhiasan dunia. Bahkan jika perempuan itu shalihah, ia disebut sebagai perhiasan dunia yang terindah (HR. Muslim). Dunia yang terhampar luas ini akan sepi jika tanpa perempuan, karena hanya berpenghuni satu orang saja. Satu-satunya penghuni itu adalah Adam, sang manusia pertama yang diciptakan tanpa ayah, pun tanpa ibu. Begitu kesepiannya Adam kala itu, hingga ia berdo’a kepada Allah untuk diberi teman. Kemudian Allah mengaruniainya teman berupa seorang perempuan yang kemudian menjadi belahan jiwanya, tempat berbagi rasa dalam menjalani takdirnya. Dialah Hawa, perempuan yang menjadi ibu pertama manusia di dunia ini.

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, hanya Adam dan Hawa yang tidak memiliki ayah dan ibu. Mereka hanya pernah merasakan menjadi orang tua dan tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi anak. Selebihnya mulai dari anak-anak mereka, cucu-cucu, cicit-cicit dan seterusnya, seluruh manusia di bumi yang semuanya memiliki garis keturunan yang tersambung kepada keduanya pasti mengalami menjadi anak karena lahir dari rahim seorang ibu dan memiliki seorang ayah. Hanya satu orang saja manusia yang lahir tanpa ayah, seorang lelaki pilihan Allah. Dialah Isa bin Maryam, seorang nabi yang lahir dari seorang perempuan yang suci dan selalu menjaga dirinya dari kenistaan, Maryam. Namun demikian, hingga saat ini belum ada kisah tentang lahirnya anak hanya dari seorang ayah tanpa adanya seorang ibu.

Kenyataan bahwa Isa bin Maryam lahir dari seorang ibu tanpa peran seorang ayah bisa kita jadikan gambaran betapa pentingnya peran perempuan di dunia ini. Untuk itu, adalah wajar bila perempuan dimuliakan sesuai dengan kemuliaan yang dikaruniakan Sang Pencipta padanya, hingga surga diletakkan di bawah kakinya. Tentu saja hal demikian tidak perlu dimaknai bahwa lelaki tidak layak dimuliakan.

Lelaki maupun perempuan sama-sama layak dimuliakan sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Perbedaan jenis kelamin yang telah menjadi takdir yang ditetapkan Sang Pencipta tidak layak untuk menjadi alasan terjadinya “perendahan” satu atas yang lainnya. Namun kenyataan yang terjadi, perempuan sering kali diposisikan sebagai “insan ke dua” yang menjadi “obyek” kesemena-menaan lawan jenisnya, salah satunya dalam hal reproduksi. Tidak jarang terjadi seorang istri “dipaksa” melayani suaminya berhubungan badan, tanpa memperhatikan kondisi fisik dan psikis istri saat itu. Kehamilan yang terjadi setiap tahun hingga membuat sang istri tidak sempat sehat pun tidak dilihat sebagai sesuatu yang memberatkan istri, karena semua telah diatasnamakan kodrat.

Bias Gender dalam Pemahaman Teks terkait Reproduksi
Ketidakadilan terhadap perempuan dalam hal reproduksi tidak hanya terjadi di kalangan uneducated people (kaum yang tidak terpelajar), bahkan di kalangan educated people (kaum terpelajar). Kalangan educated people, terutama kaum muslimin bukannya tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah menurut ajaran agama. Hanya saja, firman-firman Allah yang sering kali mereka pahami secara tekstual dan parsial tanpa melihat unsur kemashlahatan yang diisyaratkan Allah menjadi alasan penghalalan tindakan mereka yang tidak adil. Firman-firman Allah itu, misalnya dalam surat Al-Baqarah: 223

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu dari mana saja engkau kehendaki”

Sebagian orang memahami ayat ini tanpa melihat asbabun nuzul-nya, sehingga mereka mengambil kesimpulan bahwa memperlakukan istri dalam berhubungan badan boleh dilakukan sesuka hati suami kapan pun dan bagaimana pun. Padahal kalau dilihat dari asbabun nuzul-nya, ayat ini turun berkaitan dengan dari mana arah suami ‘mendatangi’ istrinya saat berhubungan badan, apakah dari depan atau dari belakang. Ketika itu, suku-suku di Arab mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda mengenai dari arah mana suami ‘mendatangi’ istrinya, dan hal itu sempat menjadi perselisihan di kalangan kaum muslimin yang menikah dengan perempuan atau lelaki dari suku yang berbeda. Ditambah lagi, orang Yahudi meniupkan gosip-gosip yang meresahkan kaum muslimin, bahwa jika seorang suami ‘mendatangi’ istrinya untuk berhubungan badan dari arah belakang, maka anak yang akan lahir dari hubungan itu dalam keadaan juling. Turunnya ayat ini adalah sebagai solusi atas permasalahan itu, bahwa suami boleh ‘mendatangi’ istrinya dari arah mana saja, asal yang dituju adalah farjinya dan bukan duburnya.

Ibnu Katsir, dalam tafsirnya (juz I: 323), menuliskan banyak hadits yang menguraikan sababun nuzul ayat ini, salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Anshar yang datang kepada Rasulullah saw. lalu bertanya kepada beliau (tentang arah yang benar saat menyetubuhi istri), lalu Rasulullah menjawab,

“Datangilah istrimu bagaimana pun caranya (arahnya), asal di farjinya.”

Ungkapan Allah bahwa istri adalah ladang bagi suaminya adalah ungkapan perumpamaan yang mudah dipahami. Ladang adalah tempat bercocok tanam, berarti istri adalah lahan untuk menanamkan benih suami, yaitu sperma, agar benih itu tumbuh menjadi keturunan mereka. Hanya saja, tidak sedikit orang yang memahaminya bahwa hal itu berarti suami boleh sesuka hatinya untuk mengajak istri berhubungan badan dalam rangka menanamkan ‘benih’nya, tanpa mempedulikan keadaan istri. Sang istri pun tidak diberi hak untuk menyampaikan pendapatnya untuk mengiyakan suaminya itu atau tidak.

Jika seorang suami bijak, mestinya dia memahami istilah ladang itu secara arif. Jika ia ingin ‘benih’ yang ditanamnya tumbuh dengan baik, maka ia harus menjaga dan merawat ladangnya dengan baik, memperhatikan masa tanam dan masa istirahat, juga memberikan nutrisi yang baik sebagai pupuk agar  ladangnya subur.

Perempuan medapatkan karunia indah berupa organ reproduksi yang membuatnya menjadi tempat tumbuh anaknya di awal penciptaan hingga awal kehidupannya. Hal ini bukanlah sesuatu yang ringan untuk dijalaninya. Untuk itu, mestinya ia dimengerti dan apa yang dialaminya selama perjuangannya menjaga sang buah hati dalam rahimnya agar tumbuh dengan baik itu dihargai. Dengan demikian, sang suami yang juga ayah dari si anak tidak bertindak semena-mena terhadap istrinya.

Adapun bagi sang ibu sendiri, juga sang ayah, mengetahui apa yang terjadi waktu demi waktu dalam kandungannya akan mempertajam jiwa keibuan dan kebapakannya dan memperdalam kasih sayangnya kepada si anak. Dengan demikian ia akan menghargai dirinya sendiri dan si anak, sehingga tidak mudah menghentikan kehidupan anak saat si anak belum atau sudah menghirup kehidupan di dunia. Sebaliknya, ayah dan ibu akan mempersiapkan matang-matang diri mereka saat memprogramkan kehadiran buah hati mereka.

Memahami Fase Pertumbuhan Janin di dalam Rahim
Manusia -kecuali Adam, Hawa dan Isa bin Maryam- diciptakan Allah dari dua buah sel, yaitu sel sperma yang berasal dari ayah dan sel telur (ovum) yang berasal dari dari ibu. Kedua sel itu bersatu dalam suatu proses pembuahan yang terjadi di dalam tubuh sang ibu. Dalam Surat Al Insan: 2. Allah menyatakan:

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”(Qs. A Insan : 2)

Dalam ayat ini Allah menggunakan istilah nuthfah amsyaj. Kata nuthfah yang mufrod disifati dengan amsyaj yang maknanya bercampur, menunjukkan bahwa nuthfah yang tunggal itu berasal dari dua nuthfah yang bercampur. Percampuran itu telah menjadikan kedua sel itu berbaur, saling melebur dan menyatu  membentuk satu sel baru yang dalam istilah modern disebut zygot.

Setelah menjadi zygot, Allah menempatkannya di dalam rahim untuk menjalani pertumbuhan selama masa tertentu hingga tiba saatnya untuk lahir dan meninggalkan rahim sang ibu. Pertumbuhan itu terjadi dalam beberapa fase. Dalam surat Mu’minun: 14 Allah menyebutkan urutan fase-fase pertumbuhan itu sebagai berikut:

“ Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”(Qs. Al Mukminun : 14)

Meskipun Allah menyebutkan pertumbuhan janin itu fase demi fase secara berurutan sesuai kejadiannya, namun Allah menyebutkannya secara global, tidak rinci. Dalam ayat yang lain, yaitu surat Az-Zumar: 6,  Allah mengelompokkan fase-fase itu ke dalam 3 kelompok besar dengan istilah dhulumatin tsalaats (tiga kegelapan), sebagaimana firmanNya:

"Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. "

Sebagian ulama menafsiri tiga kegelapan itu adalah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim (Alquran dan Terjemahannya). Namun sebagian lagi, terutama ulama modern, menafsiri tiga kegelapan itu sebagai 3 fase pertumbuhan janin yaitu fase pre-embrionik, fase embrionik dan fase fetus. Kedua pendapat ini sama kuat dan sama-sama bisa dipahami secara logis. Pendapat pertama memberikan pemahaman makna “fi” sebagai tempat tumbuh, sedangkan pendapat kedua memberikan pemahaman makna “fi” sebagai urutan fase demi fase dalam rangkaian proses pertumbuhan janin.

Pendapat ke dua ini, dalam sains modern, dapat dijabarkan secara rinci dan memiliki kesesuaian dengan urutan fase penciptaan yang terdapat dalam surat Az-Zumar: 14. Dalam buku “Maternal Newborn Nursing” disebutkan:

Human development follows three stages. The pre-embryonic stage consists of the first 14 days of development after the ovum is fertilized; the embryonic stage covers the period from day 15 until approximately the eighth week; and the fetal stage extends from the end of the eighth week until birth. (Perkembangan manusia mengikuti tiga fase. Fase pre-embrionik merupakan perkembangan 14 hari pertama setelah ovum dibuahi; fase embrionik meliputi periode mulai hari ke 15 hingga kira-kira minggu ke delapan; dan fase fetus berlangsung mulai minggu ke delapan hingga masa kelahiran).

a.    Fase yang pertama, yaitu fase pre-embrionik atau fase nuthfah, dimulai sejak terjadinya konsepsi atau fertilisasi, yaitu bersatunya sperma dan ovum, yang didahului oleh dua kejadian lain yaitu ovulasi (runtuhnya ovum dari folikel dalam ovarium) dan inseminasi (ekspulsi semen dari uretra lelaki ke dalam vagina perempuan). Konsepsi yang normalnya terjadi di tuba fallopii (saluran yang menghubungkan ovarium dan rahim) itu menghasilkan satu sel yaitu zygot. Beberapa jam (menurut Persis Mary Hamilton sekitar 24 jam) setelah konsepsi, zygot mengalami pembelahan, namun ukurannya tidak bertambah. Di dalam kulitnya, zygot  membelah dan membelah lagi setiap 12 sampai 15 jam mengikuti gerakan perlahan meninggalkan tuba fallopii menuju rahim. Pembelahan awal menghasilkan 2 sel, kemudian menjadi 4 sel, 8 sel, 16 sel dan seterusnya sampai bentuknya menyerupai buah murbei, yang disebut morula, dan terdiri atas 64 sel. Pembelahan terjadi dalam 3 hari pertama setelah konsepsi, sambil bergerak masuk ke dalam rahim (Derek Llewellyn-Jones: 154). Zygot memerlukan waktu 6-8 hari untuk berjalan ke dalam rahim (Hellen Farrer: 35).

Ketika morula dengan sel-sel belahannya sampai ke rahim, ia telah kehabisan bahan makanannya. Agar sel itu dapat terus tumbuh dan berkembang, ia harus mengambil semua kebutuhan makanannya dari ibu. Dari sini mulailah fase “ketergantungan” atau fase ‘alaqah (Muhammad Izzuddin Taufiq: 60). Fase ketergantungan ini dimulai dengan peristiwa nidasi atau implantasi, yaitu tertanamnya zygot dalam endometrium (dinding rahim). Pada saat ini morula telah menjadi blastula.

b.    Fase kedua yaitu fase embrionik, dimulai setelah berakhirnya minggu ke dua dan memasuki minggu ke tiga. Muhammad Izzuddin Taufiq menjelaskan bahwa setelah melalui proses yang rumit, pada sel inti muncul tiga tingkatan sel terbentuk dan disebut dengan kertas janin (embryonal plate). Kemudian kertas janin ini membentuk sel-sel bayi: pertama, lapisan luar (ectoderm) akan membentuk lapisan epidermis (lapisan kulit luar) dan jaringan syaraf. Kedua, lapisan tengah (mesodermis) akan membentuk susunan tulang, otot, saluran system kemih, dan saluran peredaran darah. Ketiga, lapisan dalam akan membentuk system pencernaan dan system suplementer-nya serta system pernapasan. Sedangkan sel-sel sekunder yang sampai ke lapisan dalam bersama dengan selaput rahim akan memberikan unsur-unsur permulaan yang nantinya akan menjadi tali pusar. Setelah terbentuknya tiga lapisan ini, mulai terlihat ciri-ciri pertama susunan saraf. Pada minggu ke empat terlihat permulaan munculnya anggota-anggota tubuh terpenting. Pembentukan anggota tubuh ini dimulai dalam bentuk gumpalan daging kecil yang merupakan awal mula anggota tubuh dalam lapisan janin. Setelah muncul gumpalan berbentuk badan, janin mulai terlihat seperti mudhgah kecil dan menyerupai sesuatu yang dikunyah yang terdapat pada bekas gigi. Fase inilah yang dalam Alquran disebut fase mudhgah, kelanjutan dari fase ‘alaqah. Ensiklopedia Americana menyebutkan bahwa pada minggu ke empat dapat disaksikan awal pembentukan telinga, mata dan susunan syaraf utama, sebagaimana pada akhir minggu tersebut dapat disaksikan permulaan pembentukan kelenjar tiroid, lidah, kerongkongan, paru-paru, saluran pernapasan, saluran pencernaan, perut, hati, kantong empedu, pancreas dan ginjal. Jantung, susunan saraf dan anggota-anggota tubuh bagian dalam telah lebih dulu muncul dan berkembang ketika anggota tubuh lainnya masih dalam bentuk gumpalan daging yang kecil sekali.

Mengenai bentuk janin dan ukurannya, Persis Mary Hamilton mengatakan bahwa pada usia 4 minggu tubuh janin berbentuk huruf C, panjang (kepala-pantat) 0,4 – 0,5 sentimeter dan beratnya kira-kira 4 gram. Yang mengagumkan adalah bahwa pada usia ini jantung yang kedua biliknya dapat terlihat telah mulai berdenyut. Muhammad Izzuddin Taufiq mengiyakan hal ini dan mengatakan bahwa jantung dapat dilihat seperti pipa sederhana yang dapat meregang dan mengkerut serta diperkuat dengan perkembangan rongga-rongga jantung yang sangat jelas. Ia katakan juga bahwa ketika itu, jantung mulai berdetak dan darah mengalir ke janin melalui urat-urat permulaan pada selaput dan kantong kuning telur. Detakan tersebut dimulai dari inisiatif jantung sendiri sebelum otak menyempurnakan kerja jantung tersebut karena otak merupakan anggota yang akan menjadi pusat perintah bagi jantung untuk berdetak lambat atau cepat.

c.    Fase ke tiga yaitu fase fetus, dimulai pada minggu ke delapan. Muhammad Izzuddin Taufiq mengatakan bahwa pada minggu ini paras muka si janin bertambah jelas meskipun beratnya belum bertambah secara signifikan. Lebih dari itu, sekarang pembentukan janin akan disesuaikan dengan waktu yang ada dalam Alquran, yaitu setiap kali anggota tubuh dan organ bagian dalam tumbuh selalu disertai dengan pertumbuhan tulang yang melindunginya, dan setiap tulang-tulang itu tumbuh selalu disertai dengan pertumbuhan otot, lalu di atasnya tumbuh kulit.

“... lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging…” (QS. Al-Mu’minun: 14).

Janin terus mengalami pertumbuhan. Pada minggu ini pula, lanjut Izzuddin Taufiq, janin tidak lagi disebut embrio, tetapi fetus (bayi) karena telah memiliki bentuk tubuh yang jelas; otak dilindungi oleh tulang, tampak dua alis, kelopak mata, dan dua mata yang ditutupi oleh kelopak yang masih lengket dan akan terbuka pada awal bulan ke delapan.

Lamanya suatu kehamilan secara pasti tidak jelas. Namun, kata Rustam Mochtar, suatu kehamilan matur (matang) biasanya akan berlangsung selama 280 hari atau 10 bulan Arab (lunar monash) atau 40 pekan (minggu) yang dihitung dari pertama mendapat haid terakhir. Apabila usia kehamilan melebihi 42 minggu, maka hal itu disebut posmaturitas.

Persis Mary Hamilton mengatakan bahwa sekitar satu dari delapan bayi tidak dilahirkan ketika ia “siap” tetapi tetap dalam rahim melebihi waktu yang normal. Secara menakjubkan, lanjutnya, bayi-bayi ini tidak lebih baik untuk tetap berada dalam penjara mereka yang berair (rahim ibunya). Mereka terlihat seperti “sampah” karena kehilangan lemak subkutan (lemak di bawah kulit). Kulit mereka kering dan seperti parenkim dan verniks kaseosa-nya (sekresi kental, putih, seperti pasta pada kulit bayi) menghilang. Kuku jari-jarinya serta rambutnya panjang, dan kulitnya mungkin dipenuhi dengan meconium (feses hijau kehitaman terdiri atas lendir, empedu dan sel-sel kulit). Bayi posmatur secara khas terlihat gelisah dan mata melotot, kegelisahan menandakan kebutuhan kronik oksigen intrauterine (oksigen dalam rahim). Mortalitas perinatal (kematian sebelum bayi lahir) lebih besar pada bayi posmatur dibanding dengan mereka yang lahir term (cukup usia). Kira-kira 75% sampai 85% mati selama persalinan. Kondisi mereka yang buruk disebabkan oleh kemajuan disfungsional plasenta yang menua.

Apabila bayi lahir sebelum matur, maka kelahiran tersebut dinamakan kelahiran premature. Sekitar 1 dalam 15 perempuan melahirkan bayinya sebelum minggu ke-37 kehamilan. Bayi berukuran kecil, karena lahir premature atau terlambat tumbuh di dalam rahim, lebih mungkin meninggal dibanding bayi lahir matang. Karena itu akan berguna jika alasan mengapa ibu melahirkan premature dapat diketahui. Namun dari 7% perempuan yang melahirkan premature, dalam hampir separuhnya tidak ditemukan penyebabnya (Derek Llewellyn-Jones: 341).

Meskipun bayi yang lahir premature lebih mungkin meninggal dibanding bayi lahir matur, namun jika mendapatkan perawatan baik, bayi prematur memiliki kemungkinan untuk bertahan hidup. Namun demikian, ada batas ke-prematur-an yang memungkinkan kebertahanan ini. Dalam buku “Ilmu Pengetahuan Populer” disebutkan:

“Pada waktu berumur 6 bulan, janin yang lahir premature mungkin dapat bertahan jika kondisinya optimum.”

Kondisi optimum bayi yang lahir premature di usia kehamilan 6 bulan mungkin bisa didapatkan dengan perawatan yang baik dan pemenuhan nutrisi yang cukup ketika bayi tumbuh dalam kandungan, namun mungkin itu tidak selalu cukup. Diperlukan perawatan khusus pascakelahiran untuk bayi tersebut. Dalam buku “Maternal Newborn Nursing” disebutkan:

” A fetus born at this time will require immediate and prolonged intensive care in order to survive and to decrease the risk of major handicap (bayi yang lahir pada usia ini yaitu 6 bulan, memerlukan perawatan intensif segera dan berkelanjutan agar dapat bertahan dan dapat meminimalisir resiko cacat yang serius.”

Derek Llewellyn-Jones mengiyakan pernyataan itu dengan pernyataannya yang menggambarkan kondisi bayi pada akhir bulan keenam usia kehamilan,
“ Panjang janin (kurang lebih) 32 cm dan beratnya (sekitar) 650 gram. Sekarang kulitnya tidak lagi terlalu merah dan diselubungi oleh lanugo (rambut yang sangat halus yang biasanya dijumpai pada bayi lahir premature) dan berkeriput karena tidak mengandung lemak. Sejak bulan ini lemak akan terkumpul di dalam kulitnya. Kelopak mata mulai terpisah, tetapi membrane yang menutupi pupil masih cukup besar. Jika janin lahir pada tahap ini, dia akan berusaha bernapas tetapi paru-paru belum berkembang sempurna, sehingga dia akan sangat kesulitan bernapas. Harapan hidup pada usia ini sangat tergantung perawatan ahli.”

Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa usia kehamilan 6 bulan merupakan batas minimal usia kehamilan atau kelahiran premature. Dengan kata lain, jika bayi lahir premature kurang dari 6 bulan usia kandungan, maka secara normal bayi itu tidak dapat bertahan hidup.

Ada rahasia besar yang menjadi kunci kemungkinan bertahannya bayi untuk hidup jika bayi lahir premature pada usia 6 bulan ini. Pembentukan organ tubuh bagian dalam telah selesai –meski sebagian belum berkembang sempurna dan belum berfungsi- pada usia 5 bulan, kecuali paru-paru. Meskipun organ tubuh bagian luar dan dalam telah lengkap terbentuk, namun jika paru-paru belum terbentuk dengan sempurna, maka paru-paru tersebut belum dapat berfungsi sebagai alat pernapasan saat bayi telah berada di luar kandungan ibunya.

Sebagaimana kita ketahui, paru-paru adalah organ dalam yang memiliki peran sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia. Paru-paru berfungsi sebagai alat pernapasan, yaitu tempat pertukaran oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2). Pada pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan externa, oksigen diambil melalui hidung dan mulut.

Pada waktu bernapas, oksigen masuk melalui trachea dan pipa bronchial ke alveoli (kantong udara dalam paru-paru). Ada satu lapis membrane, yaitu membrane alveoli-kapiler, yang memisahkan oksigen dari darah. Oksigen menembus membrane ini dan ditangkap oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung, lalu dipompa di dalam arteri ke semua bagian tubuh. Di paru-paru juga, karbon dioksida yang merupakan hasil buangan metabolisme, menembus alveolar-kapiler dari kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronchial dan trachea, dinapaskan keluar melalui hidung dan mulut. Semua proses ini diatur sedemikian sehingga darah yang meninggalkan paru-paru menerima jumlah tepat O2 dan CO2 (Evelyn C. Pearce: 219-220). Demikian pentingnya peran paru-paru dalam kehidupan manusia, sehingga jika paru-paru belum terbentuk dengan sempurna, maka manusia tidak dapat bertahan hidup di dunia.

Menurut teori sains modern, pembentukan paru-paru baru selesai saat kehamilan telah genap berusia 6 bulan. Meski belum berkembang sempurna, namun paru-paru telah mulai berfungsi dengan mulainya ada gerakan seperti pernapasan (Persis Mary Hamilton: 53). Inilah yang menyebabkan adanya batas minimal masa kehamilan, yaitu 6 bulan. Luar biasanya, teori modern yang berkembang pada abad 20 ini ternyata sesuai dengan teori yang terdapat dalam Alquran, kitab suci yang diwahyukan Allah pada 14 abad sebelum ditemukan dan berkembangnya teori modern.

Dalam surat Luqman: 14 Allah berfirman:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambahnya dan menyapihnya dalam dua tahun,…” (Qs. Luqman 14)

Dalam ayat ini Allah tidak menjelaskan berapa lama seorang ibu, tetapi menjelaskan bahwa menyapih bayi terjadi ketika bayi berusia dua tahun. Dengan demikian, bisa dipahami bahwa masa menyusui adalah dua tahun. Namun apakah durasi dua tahun ini benar-benar dua puluh empat bulan atau hanya satu tahun lebih beberapa bulan, maka Allah menjelaskan secara lebih pasti dalam ayat lain, yaitu dalam surat Al-Baqarah: 233


“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”
Kata “haulaini kamilain” atau dua tahun penuh ini memberikan pengertian bahwa masa penyusuan yang sempurna adalah dua puluh empat bulan, bukan satu tahun lebih beberapa bulan. Sampai di sini masih belum dapat diketahui berapa lama batas usia kehamilan.

Dalam surat Al-Ahqaf: 15 Allah berfirman:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapak-nya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, ….”

Jika kita perhatikan baik-baik, maka dari ketiga ayat di atas kita dapatkan hasil perhitungan masa kehamilan dan menyusui. Masa penyusuan dua tahun dalam surat Luqman: 14 dijelaskan oleh surat Al-Baqarah: 233 bahwa masa penyusuan dua tahun itu adalah dua tahun penuh yaitu 24 bulan. Kemudian dalam surat Al-Ahqaf: 15 Allah menyatakan bahwa masa mengandung hingga menyapih adalah 30 bulan.

Jika masa mengandung dan menyusui yang total durasinya 30 bulan itu kita kurangkan dengan masa menyusui sempurna selama dua tahun penuh yaitu 24 bulan, maka kita akan mendapatkan hasil 6 bulan untuk masa kehamilan. Karena penyusuan selama 24 bulan itu adalah masa penyusuan yang sempurna yang berarti batas maksimal masa menyusui, maka sesuai dengan ayat ini, kita tidak menambahkan masa menyusui lebih dari 24 bulan. Dengan demikian, masa 6 bulan menjadi batas minimal masa kehamilan.

Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas pula, para ulama sepakat menjadikan durasi 6 bulan sebagai batas minimal masa kehamilan (Ibnul Jauzi, juz I: 233).

Jalaluddin As-Suyuthi, dalam tafsirnya “Ad-Durr al-Mantsur fi at-Ta’wil bi al-Mantsur” menguraikan sebuah kisah yang disampaikan Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari Ba’jah bin Abdillah al-Juhaniy:

Seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dari Juhainah, lalu perempuan itu melahirkan pada saat usia kandungan (pernikahan) genap enam bulan. Maka pergilah suami perempuan itu menghadap Utsman bin Affan (untuk mengadukan istrinya), maka Utsman memerintahkan untuk merajam perempuan tersebut. Lalu sampailah berita itu ke telinga Ali bin Abi Thalib dan Ali pun mendatangi Utsman dan bertanya, “Apa yang dilakukan perempuan ini?” Utsman menjawab, “Dia telah melahirkan dalam usia kehamilan (pernikahan) baru genap enam bulan. Bukankah itu tidak mungkin terjadi (kecuali perempuan itu telah berzina sebelum menikah)?” Maka Ali pun berkata, “Tidakkah Anda mendengar firman Allah ‘mengandung dan menyapihnya 30 bulan’ dan firman Allah ‘dua tahun penuh’? Lalu (dari perhitungan itu) berapa sisa yang Anda dapatkan kalau bukan 6 bulan?” Lalu Utsman pun berkata, “Demi Allah, aku tidak cerdas dalam hal ini. Aku harus membebaskan perempuan ini.”

Kehamilan adalah Beban Yang Indah

Kehamilan adalah peristiwa yang secara umum hanya terjadi pada perempuan dan tidak pada lelaki. Sebagaimana Allah berikan kelebihan pada lelaki dalam hal yang berkaitan dengan takdir-kelakiannya, Allah berikan pula kelebihan kepada perempuan dalam segala hal yang berkaitan dengan takdirnya sebagai perempuan. Di antara kelebihan perempuan itu adalah dikaruniakannya organ khusus yang memungkinkannya untuk hamil sebagai amanah melanjutkan garis keturunannya.

Pada umumnya kehamilan diterima sebagai suatu karunia yang membahagiakan. Seorang perempuan akan merasa “sempurna” jika dapat mengandung dan melahirkan anak dalam keluarga yang dibangunnya. Cinta dan kasih sayang akan dicurahkan kepada sang buah hati meski belum tampak wujudnya di dunia. Beribu harapan ditanam atas diri makhluk mungil yang akan melengkapi kehidupan sang orang tua. Harapan itu tidak ditanam begitu saja. Berbagai rencana dan persiapan dilakukan untuk menyirami dan memupuknya; dana pendidikan, kesehatan dan berbagai keperluan lain. Semua itu dilakukan dengan bahagia.

Meski kehamilan adalah peristiwa yang membahagiakan, tak dapat dipungkiri bahwa mengandung anak selama kurang lebih sembilan bulan bukanlah hal yang ringan. Berbagai hal yang tidak nyaman dirasakan oleh banyak ibu sejak awal kehamilannya hingga tiba masa kelahiran sang buah hati. Di awal kehamilannya, kenyamanan ibu sering terganggu oleh morning sickness, nafsu makan berkurang, mual-mual, ngidam, sering buang air kecil karena ginjal bekerja berlebihan dan lain-lain. Setelah semua itu menghilang seiring bertambahnya usia kehamilan, “penderitaan” lain telah menanti, misalnya rasa gerah setiap hari meski suhu udara tidak terlalu panas, gerak tubuh yang tidak leluasa, bentuk tubuh yang tidak lagi indah, cepat lelah karena beban dalam kandungannya dan lain-lain.

Allah berfirman dalam surat Luqman: 14            
” Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.”

Al-Fairuz Abadi, dalam tafsirnya “Tanwirul Miqbas min Tafsiri Ibni Abbas” mengutip pernyataan Ibnu Abbas dalam memaknai kata “wahnan ‘ala wahnin” sebagai kelemahan di atas kelemahan, rasa berat di atas rasa berat dan kepayahan di atas kepayahan, setiap bertambah besar ukuran bayi di dalam perut ibunya, maka itu akan menjadi beban yang semakin berat bagi sang ibu.

Dengan lafadz yang berbeda Allah berfirman dalam surat Al Ahqaf : 15
” Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Tentang kata “kurhan” dalam klausa “hamalathu ummuhu kurhan”, Ibnul Jauzi dalam tafsirnya “Zaadul Masiir” memahaminya sebagai masyaqqah (kepayahan). Sedangkan Abu Hayyan mengatakan, “kepayahan itu tidak terdapat pada awal menempel atau bergantungnya (janin) dalam perut sang ibu saja, tetapi dalam berlangsungnya kehamilan pada fase yang lebih lanjut, di mana tidak ada pilihan/peluang bagi sang ibu untuk membawa atau meninggalkan sang bayinya. Itu berarti, sang ibu harus membawanya ke mana pun ia pergi sehingga hal itu menjadi beban baginya.”

Meskipun kehamilan adalah beban yang berat, namun para perempuan tetap saja rela menjalani takdir yang tidak bisa digantikan oleh lelaki itu. Karena itu, tidaklah berlebihan jika Allah  memerintahkan manusia untuk menghormati, menghargai dan memuliakan ibu. Bahkan ibu menjadi manusia yang paling utama untuk mendapatkan bakti dari anak-anaknya.

Dalam sebuah hadits diceritakan, Abu Hurairah berkata: Seorang laki-laki bertanya:
“ Ya Rasulullah, siapakan orang yang paling berhak untuk mendapatkan baktiku?” Rasulullah menjawab, “Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu ayahmu, lalu orang yang paling dekat denganmu, lalu orang yang paling dekat denganmu lagi.” (HR. Muslim).

Rahim Perempuan yang Kokoh
Dalam surat Al-Mu’minun: 13 Allah berfirman
"Dan Kami jadikan ia (sari pati) sebagai nuthfah di dalam tempat yang kokoh.”

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para mufassir bahwa yang dimaksud tempat yang kokoh (qarar makin) dalam ayat ini adalah rahim, karena ketika ayat ini diturunkan, masyarakat Arab telah mengetahui yang dimaksud dengan kata qarar makin. Penyebutan rahim dengan istilah qarar makin setelah penyebutan nuthfah mengindikasikan makna yang sangat dalam.

Izzuddin Taufiq menyatakan bahwa dengan perjalanan waktu hingga pada masa kita sekarang telah ditemukan penambahan makna ayat di atas. Istilah itu dapat berarti gabungan dari berbagai faktor yang saling berkaitan, baik faktor anatomi, fisiologi, fisik maupun kimia, yang semuanya terpadu sedemikian rupa hingga menjadikan rahim sebagai tempat yang kukuh.

Sebagai tempat tumbuh janin sejak awal pertumbuhannya hingga masa kelahiran, rahim memang tempat yang kokoh. Seandainya rahim bukan tempat yang kokoh, maka ia tidak akan mampu menahan beban janin yang semakin hari semakin berat. Seandainya rahim tidak elastis, maka ia akan robek ketika volume janin semakin bertambah hingga melebihi ukuran rahim seperti sebelum adanya janin. Seandainya dinding rahim tidak tebal dan tidak bertambah tebal seiring pertumbuhan janin, maka ia tidak akan bisa menjadi tempat menempel dan bergantung janin untuk kemudian menyerap nutrisi dari sang ibu dan melindungi janin selama kurang lebih sembilan bulan masa kehamilan.

Rahim yang dalam istilah kedokterannya uterus adalah suatu struktur otot yang cukup kuat, berbentuk buah pear dan berukuran hampir segenggaman (Persis Mary Hamilton: 11). Dalam keadaan tidak hamil, rahim terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan dubur (Rustam Mochtar: 8). Tulang-tulang panggul yang kuat melindungi rahim dari benturan dari luar tubuh. Karena itulah, selain kuat karena terdiri atas struktur otot yang membuatnya elastis, posisi rahim juga stabil oleh sokongan tulang-tulang panggul.

Besarnya rahim berbeda-beda, bergantung pada usia dan pernah melahirkan anak atau belum. Ukurannya kira-kira sebesar telur ayam kampung. Pada nulipara (perempuan yang belum pernah melahirkan) ukurannya 5,5 – 8 cm x 3,4 – 4 cm x 2 – 2,5 cm, sedangkan multipara (perempuan yang sudah pernah melahirkan) ukurannya 9 – 9,5 cm x 5,5 – 6 cm x 3 – 3,5 cm. Beratnya 40 – 50 gram pada nulipara dan 60 – 70 gram pada multipara (Rustam Mochtar: 9).

Itulah rahim yang oleh Allah diistilahkan qarar makin, yang hanya ada dalam rongga perut perempuan. Dengan demikian, tidak seorang pun anak cucu Adam dan Hawa di dunia ini yang hidupnya terlepas dari ketergantungan pada perempuan. Maka sungguh hal yang tidak masuk akal jika perempuan kemudian tidak dihargai dan hanya disebut sebagai “insan ke dua” bagi lelaki.

Penentuan Jenis  Kelamin
Pada jaman dahulu sebelum Islam datang, di banyak negeri, perempuan diposisikan begitu rendahnya. Bahkan di negeri Arab sendiri di masa jahiliyah, perempuan dianggap barang yang bisa diwarisi. Memiliki anak laki-laki adalah suatu keberuntungan dan kebanggaan sedangkan perempuan adalah suatu hal yang memalukan, karena itu bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup oleh ayahnya sendiri untuk menutupi aib. Maka ketika Islam datang, Islam meluruskan pemahaman yang salah itu dan mengajarkan bahwa perempuan sama berharganya dengan lelaki.

Lahir sebagai anak laki-laki atau perempuan bukanlah pilihan yang bisa dipilih oleh si anak maupun orang tua. Semua itu adalah karunia Sang Pencipta yang penciptaannya bukan tanpa maksud dan tujuan. Coba kita bayangkan jika Allah hanya menciptakan satu macam jenis kelamin saja, baik laki-laki saja atau perempuan saja pada manusia di dunia ini, pasti akan terjadi ketimpangan dan ketidakstabilan di dunia ini. Maka dengan menciptakan dua jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan spesifikasi masing-masing, Allah telah membuat keseimbangan populasi dan ekosistem di bumi ini.

Setiap sel dalam tubuh manusia memiliki 46 buah atau 23 pasang kromosom. Dari 23 pasang itu, hanya satu pasang kromosom saja yang bertanggung jawab terhadap penentuan jenis kelamin. Selebihnya memiliki tanggung jawab yang berkaitan dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Pasangan yang menentukan jenis kelamin adalah pasangan yang dua tepinya bermiripan dan dikenal dengan sebutan kromosom XX pada perempuan, sedangkan pasangan yang dua tepinya berlainan dan dikenal dengan kromosom XY pada laki-laki. Ini berlaku pada sel tubuh manusia, termasuk di dalamnya sel-sel biasa yang berada pada organ reproduksi (Izzuddin Taufiq: 50).

Jenis kelamin anak tidak dapat diterka kecuali setelah terjadi pembuahan antara sel perma ayah dan sel telur (ovum) ibu. Setiap sperma yang keluar dari organ reproduksi laki-laki mengandung kromosom X dan Y. Kromosom X yang oleh Persis Mary Hamilton disebut ginosperma menghasilkan anak perempuan, sedang kromosom Y yang disebutnya androsperma menghasilkan anak laki-laki. Sedangkan ovum mengandung satu macam kromosom saja, yaitu kromosom X. Jika saat terjadi pembuahan, kromosom X pada sperma membuahi ovum, maka pasangan yang terbentuk adalah dua kromosom X (XX) dan anak yang akan lahir adalah anak perempuan. Jika kromosom Y pada sperma yang membuahi ovum, maka pasangan yang terbentuk adalah XY dan anak yang akan lahir adalah anak laki-laki.

Dari kenyataan tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa factor dari pihak laki-laki lah yang menentukan jenis kelamin anak yang dilahirkan istrinya. Jauh sebelum sains modern berkembang, Allah telah memberikan informasi bahwa sperma laki-laki lah yang dijadikan penentu jenis kelamin anak yang dilahirkannya. Hal ini tampak dalam firmanNya di surat An-Najm: 45-46

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.”

Begitu pula firman Allah dalam surat Al-Qiyamah: 37 – 39
“Bukankah dia dulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.”

Dhamir ‘hu’ pada kata “faja’ala minhu” merujuk pada air mani (sperma). Maka sungguh tidak beralasan bila dalam sebuah keluarga, jika tidak lahir anak laki-laki atau perempuan yang diinginkan lalu pihak istri yang dipersalahkan. Apalagi, yang lebih ironis, jika hal itu dijadikan alasan suami untuk meninggalkan istrinya atau untuk berpoligami dengan alasan mendapatkan keturunan dengan jenis kelamin yang diinginkan.

Selanjutnya Mary Hamilton menyebutkan bahwa androsperma lebih tahan dalam suasana alkali dibanding suasana asam, hidup sekitar 1 hari, memiliki kepala bulat kecil dan lebih banyak dari ginosperma. Sedangkan ginosperma tahan 2 sampai 3 hari dalam keadaan asam dan lebih besar serta mempunyai bentuk lebih oval dibanding androsperma. Adapun ovum, bila tidak dibuahi dalam 24 jam, maka ovum akan mengalami kehancuran dan mengalir keluar uterus sebagai zat sampah.

Pembuahan yang terjadi antara sel sperma dan ovum terjadi di tuba fallopi, saluran yang terletak antara ovarium dan rahim. Untuk itu, setelah jutaan sel sperma yang keluar dalam satu kali ejakulasi memasuki rahim, sel-sel sperma baik androsperma maupun ginosperma itu harus menempuh perjalanan menuju tuba fallopi.

Ahmad Syauqi Al Fanjari, dalam bukunya “Alquran wa Ath-Tibbu al –Hadits” (2000: 94 – 95) mengatakan bahwa sperma laki-laki (Y, androsperma) memiliki kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada sperma perempuan (X, ginosperma). Ginosperma memiliki kecepatan 1 milimeter per detik sehingga dapat sampai di tuba falopi dalam waktu sekitar 24 jam, sedangkan androsperma memiliki kecepatan antara 3 – 4 milimeter per detik sehingga hanya memerlukan waktu 6 jam untuk mencapai tuba fallopii. Apabila saat itu ada ovum di tuba fallopii, maka yang akan membuahi adalah sperma yang paling cepat sampai yaitu androsperma. Namun jika tidak ada ovum, maka androsperma akan mati mengingat usianya yang pendek, sekitar satu hari saja. Selanjutnya ginosperma yang memiliki peluang untuk membuahi jika dalam 1 atau 2 hari berikutnya ada ovum yang datang.

Karena ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium atau indung telur) pada perempuan terjadi satu kali dalam kurang lebih sebulan (biasa disebut siklus haid) dengan siklus yang bervariasi (menurut Helen Farrer normalnya antara 21 – 35 hari sekali), maka peluang untuk terjadinya pembuahan juga sekali dalam setiap siklusnya. Jika sperma bertemu ovum dalam keadaan sama-sama hidup, maka dapat terjadi pembuahan. Namun jika keduanya bertemu dalam keadaan salah satu atau keduanya sudah mati, maka pembuahan tidak dapat terjadi.

Sebagaimana tersebut di atas, manusia normal memiliki 22 pasang otosom dan satu pasang kromosom seks. Perempuan memiliki 23 pasang kromosom yang terlihat sebagai XX dan lelaki memiliki kromosom XY. Namun demikian, kadang ditemukan abnormalitas (kelainan) kromosom yang menyebabkan penderita kelainan ini memiliki keadaan yang berbeda dari kebanyakan orang lain yang normal.

Persis Mary Hamilton memaparkan berbagai abnormalitas itu dan mengatakan bahwa Karyotyping (membuat foto nucleus dari sel-sel manusia dan memperbesar sel-sel tersebut sehingga cukup untuk memperlihatkan ke-46 kromosomnya) telah memperlihatkan bahwa beberapa kelainan lahir yang berat disebabkan oleh abnormalitas bentuk dan jumlah kromosom. Salah satu kelainan otosom atau kromosom non-seks disebut trisomy 21. Nama ini berarti bahwa tiga kromosom terjadi pada 21 tempat dan tidak di dua kromosom lain. Trisomy 21 menyebabkan suatu keadaan yang ditandai dengan retardasi mental dan penampilan wajah yang rata, disebut sindrom Down, atau mongolisme.

Adapun kelainan dari kromosom seks, lanjut Hamilton, terdapat dalam banyak macam. Satu diantaranya adalah Sindrom Turner, yaitu suatu keadaan tidak terdapatnya kromosom seks ke-dua. Penderita hanya memiliki 45 kromosom dari jumlah normal 46 kromosom. Pada penderita ini kromosom seksnya bukan XY untuk laki-laki atau XX untuk perempuan, tetapi hanya satu kromosom X. Sebagai akibatnya, penderita memiliki tubuh perempuan prepubertas sepanjang hidupnya tanpa mengalami kematangan secara seksual.

Kelainan kromosom seks lainnya yang telah diketahui dengan baik adalah sindrom Klinefelter. Pada keadaan ini mungkin terdapat bervariasi kelainan kromosom seks termasuk XYY, XXY, XXYY, XXXYY dan sebagainya. Penderita terlihat secara fisik sebagai laki-laki tetapi tidak berkembang secara normal. Banyak kelainan sistem reproduksi disebabkan oleh abnormalitas bentuk kromosom seks.

Penutup
Reproduksi sejatinya adalah urusan bersama antara lelaki dan perempuan. Untuk itu, diperlukan kerjasana yang baik antara keduanya. Tanpa kerjasama yang baik antara keduanya, maka reproduksi yang sehat sulit bisa diwujudkan. Kerjasama itu bukan hanya dibutuhkan dalam proses ‘pembuatan’, tetapi juga dalam perawatan dan penjagaan yang memuliakan.

Sekarang ini bukan jamannya mempertajam perbedaan antara takdir menjadi lelaki atau perempuan, juga siapa yang berperan memberikan keturunan laki-laki atau perempuan. Untuk itu, jika masih ada ‘penindasan’ satu atas yang lain dengan mengatasnamakan takdir dalam hal jenis kelamin, maka semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah memiliki kewajiban untuk menghapuskan penindasan itu dengan berbagai approach yang bisa dan mungkin dilakukan.

Hidup adalah hak setiap manusia. Karena itu, semua pihak harus menjaga dan menghargainya, tak terkecuali janin yang masih ada di dalam kandungan. Allah telah memberikan hak itu pada setiap hamba-Nya yang dikehendaki, sehingga tak seorang pun berhak untuk mencabut hak itu tanpa alasan yang diijinkanNya.

Wallaahu a’lam bish-shawaab…

______________________

Tentang Penulis
Agustriani  Muzayyanah, MA,  lahir di Kediri, 17 Agustus 1973. Peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan Rahima, Jawa Bagian Barat Angkatan ke-2 ini menyelesaikan jenjang S1-nya pada STAI Hasanuddin, Pare, Kedir dan kini juga telah menjadi alumnus program Pascasarjana PTIQ, Jakarta.  Ia menikah dengan Muhammad Sigit Wahyu Kurnianto dan kini menjalani kesibukan sebagai Dosen/Staf Pengajar pada  Fak. Tarbiyah dan Dakwah PTIQ,  mengajar , bimbingan privat,  serta aktif  di berbagai pengajian.
Beberapa karyanya yang pernah diterbitkan oleh Rahima di antaranya adalah Islam dan Kesalehan Sosial : Al Arham Edisi 37, cerita pendek dengan judul “Antara Aku dan Tragedi Farah”  dengan nama penanya Any S.Wahyu. Any yang bersama keluarganya yang kini berdomisili  di kawasan Legoso, Ciputat.,  kini juga dapat dihubungi melalui emailnya : andshabell@gmail.com  atau  melalui facebook-nya Any Agustri Wahyu.

Talak dan Problematikanya di Masyarakat : Suplemen Edisi 38

Mukaddimah
“Jika Tuhan menciptakan alam karena ingin melihat citra dirinya, maka perempuan adalah citra  ideal cinta Tuhan untuk kehidupan. Dan perkawinan adalah sudut  ‘ruang’ dari alam ini yang penuh dengan cinta  untuk perempuan dan laki-laki sama-sama melakukan  pendakian menuju hakekat   kehidupan.” (Penulis)
Indah, penuh suka cita, dan  harapan-harapan yang berbunga, itulah mestinya sebuah perjalanan perkawinan  oleh suami dan istri. Seperti tujuan pernikahan dalam Islam yaitu menciptakan keluargacsakinah, mawaddah, wa rahmah. Tujuan tersebut dapat diartikan sebagai sarat muatan nilai-nilai kemanusiaan, spiritual dan ketuhanan.

Kemanusiaan dalam konteks perkawinan ini bermakna bahwa perkawinan adalah  untuk melanjutkan kekhalifahan manusia di muka bumi, dengan menjamin berlangsungnya  reproduksi manusia beserta nilai-nilai kemanusiaan yang secara terus menerus dijaga dalam sebuah tatanan keluarga untuk membuat sejarah.

Secara spiritual hubungan  suami dan istri tentu saja tidak hanya dinilai secara nilai-nilai material, tetapi lebih tinggi sebagai tujuan  spiritual dalam rangka membangun keluarga dimana  rumah kemudian menjadi “surga” dalam pengertian spiritual (penuh cinta kasih, tentram, bahagia dan  penuh rasa syukur, dan sebagainya sebagai kekayaan hati).

Sedangkan nilai-nilai ketuhanan dalam institusi perkawinan bahwa perkawinan tidak hanya bersifat hubungan antara manusia dengan manusia tetapi tumbuh subur di dalamnya untuk menegakkan tauhid. Keimanan dan Ketaqwaan hadir dalam setiap ruang  “keluarga” dan  Tuhan sebagai orientasi dalam setiap sisi  kehidupan dalam perkawinan.
Namun seiring dengan perjalanan waktu, dengan seribu satu masalah keluarga, perkawinan sering berakhir dengan perceraian. Rajutan cinta kasih yang dipupuk, perlahan-lahan menjadi pudar dan terkoyak.

Fenomena Perceraian di Indonesia :  Refleksi atas  Kompleksitas Persoalan Keluarga
Terdapat sebuah hadis yang sangat popular mengenai soal talak atau perceraian ini. Hadis ini diriwayatkan Abu Dawud (2/255) dan Ibnu Majah (1/650) dari Abdullah bin ‘Umar. Hadis tersebut berbunyi  :

أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللهِ الطَّلاَقُ

“Perkara halal yang dibenci Allah adalah perceraian (thalaq).”

Namun rupanya banyak yang masih tidak menyadari pesan di balik hadis ini. Mengingat,  meskipun “dibenci” tetapi dianggap perkara halal, perceraian seringkali masih dilakukan. Badilag Mahkamah Agung mencatat bahwa selama periode 2005-2010 terjadi peningkatan angka perceraian nasional hingga 70 persen. Dari angka tersebut tiga daerah dengan angka perceraian tertinggi adalah Bandung sejumlah 84.084 perkara naik sebanyak 100 persen dari tahun sebelumnya 37.523, Surabaya sebanyak 68.092 perkara naik 9 persen dari tahun sebelumnya 63.432, dan Semarang sebanyak 54.105 perkara meningkat sebanyak 17 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 47.592 perkara.

Data Yurisdiksi Mahkamah Syar’iyyah Propinsi /Pengadilan Tinggi Agama di seluruh Indonesia pada tahun 2010 diperoleh jumlah angka perceraian sebesar 284.379 kasus.  Dari kasus ini sebanyak 94.099 (29,33%) adalah kasus cerai talak (perceraian yang dilakukan atas  inisiatif suami/laki-laki) dan 190.280 (59, 32%) merupakan kasus cerai gugat (perceraian yang dilakukan atas inisiatif istri/perempuan) .

Begitu banyaknya jumlah cerai gugat menunjukkan bahwa selain perempuan mulai melihat bahwa ranah hukum adalah cara untuk mengakhiri perkawinan; juga dapat dimaknai bahwa banyak perempuan yang selama ini hidup dalam situasi perkawinan yang tidak sehat. Meskipun perempuan harus menanggung resiko kehilangan nafkah pasca perceraian akibat konsekuensi hukum  yang berbeda atas perkara  cerai talak dan cerai gugat.

Alasan terjadinya perceraian itu juga sangat beragam. Di antara  adalah poligami  (1.389 kasus), kawin paksa (2.185 kasus), penelantaran karena alasan ekonomi (67.891 kasus), tidak ada tanggung jawab (78.407 kasus), kawin di bawah umur (550 kasus), menyakiti jasmani (2.191 kasus), menyakiti mental (560 kasus).  Berbagai alasan ini memiliki dimensi yang sangat kuat dalam konteks Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Dan kasus perceraian berdimensi KDRT ini akan menjadi lebih tinggi manakala kita memasukkan beberapa alasan lain yang tidak eksplisit seperti adanya gangguan pihak ketiga (20.199 kasus) dan tidak ada keharmonisan (91.841 kasus).   Hal ini senada dengan data Catatan Akhir Tahun 2007 Komnas Perempuan menyebutkan bahwa kasus KDRT menjadi kasus tersembunyi dalam perkara gugat cerai.

Sementara itu, Badan Penasihat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) DKI Jakarta, mencatat jumlah pasangan suami-istri bermasalah yang datang meminta nasihat ke Badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perwakinan (BP4) DKI Jakarta yang cukup tinggi. Pada tahun 2008 mencapai 2.519 pasangan, dan yang bisa didamaikan kembali 1.600 pasangan atau berkisar 64 persen. Dan sisanya sekitar 873 pasangan atau sekitar 36 persen tetap ke Pengadilan Agama untuk bercerai.

Perempuan dan anak sesungguhnya adalah korban dari situasi perceraian.  Dari 2.518 kasus perceraian yang dilaporkan kepada Komnas anak pada 2011, sebanyak 2.113 kasus perceraian berpisah dari perkawinan tercatat, 225 dari perkawinan menurut ketentuan agama, 24 dari perkawinan menurut ketentuan adat, dan sebanyak 156 kasus dari perkawinan tidak tercatat. Bahkan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat dari 3.896 anak yang terpaksa terpisah dari pengasuhan salah satu orang tuanya karena kasus perceraian, diantaranya terdapat 249 anak yang tidak diakui oleh ayahnya. Secara lebih detail diungkapkan bahwa sebanyak 159 anak bahkan tidak mendapatkan akta lahir.

A.    Latar Belakang Terjadinya Perceraian
Dalam Undang-Undang No.1 tahun 1974 pasal 1 dijelaskan “perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.Dengan ini tujuan pernikahan adalah agar membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, sehingga perceraian sebenarnya menjadi solusi yang jauh dari tujuan pernikahan tersebut.Oleh karena itu, dalam penjelasan umum pasal 4 poin a dinyatakan suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan materiil.Hal ini merupakan keharusan  fundamental karena dengan saling membantu dan melengkapi akan tercipta keluarga yang harmonis dan penuh kebersamaan, sehingga antara suami dan isteri memiliki persamaan dalam menjalankan fungsinya yang esensial dalam rumah tangga.

Setidaknya ada empat kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga, yang dapat memicu timbulnya keinginan untuk memutus perkawinan.

1.    Terjadinya nusyuz dari pihak isteri
Dalam menghadapi hal ini, maka ada beberapa petunjuk yang dilakukan

  • Suami menasehati isteri mengenai dampak positif dan negatif dari tindakanya dan jika seandainya terjadi perceraian.
  • Suami memisahkan tempat tidur dengan isteri (Wahjuruhunna fil madoji’i) akan tetapi tetap dalam satu rumah, atau dengan cara memalingkan wajah dan membelakangi mereka.Hal ini dilakukan dengan tujuan agar dalam kesendirianya itu ia memikirkan dampak dari perbuatannya.
  • Apabila kedua tahap tadi sudah dilakukan akan tetapi isteri tidak berubah untuk nusyuz, maka langkah ketiga adalah memberi pelajaran, yang dalam perintah al-qur’an adalah memukul (wadhribuuhunna) mereka, akan tetapi mufasir mentafsirkan agar tidak memukul dengan menyakitkan dan melukai.

2.    Terjadinya nusyuz dari pihak suami
Dalam Al-qur’an terdapat keterangan bahwa jalan yang ditempuh apabila suami nusyuz seperti acuh tak acuh, tidak mau menggauli dan tidak memenuhi kewajibannya,karenanya taklik talak yang sering dicatat dan dilakukan dalam setiap akad nikah merupakan perjanjian perkawinan untuk mengantisipasi sekaligus sebagai cara untuk menyelesaikan perkara yang akan terjadi kemudian apabila suami melakukan nusyuz.
Dalam hal taklik talak atau mengadakan perjanjian perkawinan ini ada beberapa pendapat, diantaranya:

  • Menurut Al-Qur’an berupa anjuran dengan kata-kata, yang dalam bahasa al-Qur’an adalah: seyogyanyalah diadakan perjanjian dan perjanjian adalah baik.
  • Menurut hukum fiqh adalah boleh, karena pada prinsipnya segala sesuatu adalah boleh (ibahah) terkecuali ada dalil yang melarangnya.
  • Di Indonesia taklik talak itu selalu dimuat dalam buku atau perjanjian nikah.

Dengan demikian, adanya taklik talak adalah dalam rangka menyelesaikan masalah apabila suami melakukan nusyuz.

3.    Terjadinya perselisihan atau percekcokan antara suami dan isteri, yang dalam al-qur’an disebut syiqaq.
Dalam hal ini penunjukan hakam dari kedua belah pihak diharapkan dapat menciptakan perdamaian dan perbaikan diantara keduanya.

4.    Terjadinya salah satu pihak melakukan perbuatan zina atau fakhisyah, yang menimbulkan saling tuduh-menuduh antara keduanya. Li’an sesungguhnya telah memasuki “gerbang” putusnya perkawinan, dan bahkan untuk selama-lamanya, karena akibat li’an adalah terjadinya talak bain kubra.

Sejarah Hukum Talak
Syari’at talak bukan hanya datang ketika masa nabi Muhammad, akan tetapi jauh sebelum itu hukum talak sudah dikenal. Hal ini berdasarkan kisah pada masa nabi Ibrahim a.s, ketika nabi Ibrahim a.s mengunjungi Nabi Ismail a.s dirumahnya (di Makkah) saat itu Isma’il kebetulan tidak ada dirumah, yang ada hanya isterinya.Isteri nabi Isma’il tampaknya tidak begitu senang dengan kedatangan ayah mertuanya (Ibrahim), hal ini di indikasikan dengan sikapnya yang tidak baik kepada nabi Ibrahim.Melihat tingkah menantunya seperti itu Nabi Ibrahim memohon kepada menantunya untuk menyampaikan pesan kepada Isma’il yaitu agar Nabi Isma’il menggantikan tiang pintu rumahnya. Nabi Isma’il yang cerdas faham akan kalimat-kalimat bersayap (majaz), sangat faham maksud dari ayahnya, yaitu agar  Isma’il menceraikan isterinya dan kemudian menikah lagi dengan perempuan lain yang lebih baik akhlaknya.  Dari kisah tersebut dapat kita simpulkan bahwa talak sudah dikenal sebelum zaman Nabi Muhammad S.A.W. sehingga talak bukanlah disyari’atkan hanya pada kerasulan  Muhammad, melainkan nabi hanya meneruskan dengan melakukan beberapa perbaikan.

Dalam hukum Romawi kuno dan agama nabi Musa dikenal juga talak, meskipun para penganut Kristen mengharamkan talak.Menurut undang-undang Romawi kuno, talak dibolehkan manakala dilakukan atas persetujuan suami istri, atau atas kemauan sepihak dari suami.Dalam agama Yahudi, suami boleh menceraikan istrinya meskipun hanya karena hal yang sepele saja. Istri yang ditalak tidak boleh kembali kepada suaminya, jika istri yang telah diceraikan itu pernah hidup bersama laki-laki lain, suaminya yang pertama tidak boleh lagi menikah dengan mantan istrinya itu meskipun sang mantan istri telah berpisah dari “suami keduanya”.

Pengertian dan Macam-Macam Talak
Talaq menurut bahasa berasal dari kata ithlaqha yang berarti : melepas dan meninggalkan. Sedangkan menurut Istilah, seperti yang diungkapkan Al-jaziri, Talak adalah melepaskan ikatan (Hall Al-Qaid) atau dapat juga disebut mengurangi pelepasan ikatan dengan menggunakan kata-kata yang telah ditentukan.

Adapun pembagian talak, ada dua bagian : Pertama, Talak Raj’i, yaitu talak yang tidak mencabut semua hukum nikah, bahkan hubungan perkawinan masih dipandang ada selama iddah belum berakhir, sehingga suami memiliki hak untuk mengembalikan isteri yang ia ceraikan ke dalam hubungan suami isteri tanpa melalui akad yang baru semasih hal itu berdasarkan kerelaan isteri tersebut. Kedua, Talak Ba’in, talak raj’i akan berbalik menjadi thalak ba’in manakala masa iddahnya sudah selesai, adapun talak  ini ada dua; thalak ba’in sughra dan thalak ba’in kubra. Talak bain sughra ialah talak yang terjadi dari thalak yang pertama, atau thalak yang kedua, yang tidak dilakukanruju’, sehingga si suami setelah talak tersebut tidak dapat mengembalikan isteri yang telah dia talak kecuali dengan akad yang baru dan mahar. Ini adalah talak yang terjadi sebelum persetubuhan, atau talak berdasarkan harta, atau talak dengan sindiran menururt mazhab hanafi.Atau talak yang dijatuhkan oleh qadhi, bukan karena suami tidak memberikan nafkah, atau karena sebab iilaa’.Sedang Talak ba’in kubra ialah talak yang terjadi sesudah talak ketiga. Dalam talak ini suami tidak boleh rujuk kembali kepada isterinya dan tidak boleh nikah kembali, kecuali setelah isteri kawin dengan laki-laki yang lain (muhallil) yang merupakan perkawinan yang sah.

Mengenai batasan talak raj’i dan talak ba’in para fuqaha memiliki pendapat yang berbeda-beda, misalnya mazhab Hanafi berpendapat setiap talak adalah talak raj’i kecuali talak yang dilakukan sebelum persetubuhan dan talak dengan  iwadhi’ harta, serta talak dengan sindiran yang digandengkan dengan lafal yang menunjukan kerasnya, kuatnya, atau ba’inunah, dan pengharaman, serta talak yang melengkapi talak tiga. Suatu talak merupakan talak raj’i jika seperti yang berikut :

  1. Talak yang di ucapkan dengan ucapan yang terang-terangan setelah persetubuhan yang hakiki, dengan lafal yang terdiri dari materi talak atau pentalakan yang tidak digandengkan dengan kompensasi, juga bukan dengan jumlah tiga, juga tidak disifati dengan sifat keras, atau kuat, atau ba’inunah atau yang sejenisnya.
  2. Talak secara sindiran setelah persetubuhan yang tidak memiliki makna keras dan bainunah. Misalnya ucapannya “Jalanilah masa iddah”,”Bebaskanlah rahimmu” atau “Kamu sendirian” maka dengan berbagai lafal ini jatuh talak satu raj’I, jika suami berniat talak.
  3. Talak yang dijatuhkan oleh qadhi akibat suami tidak memberikan nafkah. Akibat illa’ maka talak yang pertama adalah talak raj’I karena kemampuan suami untuk memberikan nafkah dapat diprediksikan kapan saja. Talak yang kedua juga merupakan talak raj’i karena suami dapat kembali menggauli istrinya.


Akan tetapi talak menjadi baa’in pada yang berikut ini :

Pertama, talak baa’in shughra :

  1. Talak yang terjadi sebelum persetubuhan yang bersifat hakiki atau setelah terjadi khalwat yang benar-benar shahih. Talak yang pertama adalah talak baa’in karena talak ini tidak mewajibkan iddah dan juga tidak menerima rujuk, dengan dalil firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya”.(al-Ahzab:49)
  2. Talak yang bersifat sindiran yang digandengkan dengan sesuatu yang menunjukan kekerasan, kekuatan, atau ba’inunah maksudnya, sesungguhnya setiap talak yang dijatuhkan dengan sindiran jika diniatkan talak, selain ketiga lafal yang tadi telah disebutkan (beriddahlah kamu, bersihkanlah rahimmu, kamu sendirian) merupakan talak satu baa’in, meskipun dia berniat dua. Karena tidak ada tanda-tanda bagi jumlah dua pada lafal, maka ditetapkan yang paling rendah yaitu satu.
  3. Talak berdasarkan ‘iwadh harta. Jika seorang laki-laki dikhulu’ oleh istrinya, atau dia talak istrinya dengan ganti harta; karena khulu’ dengan iwadh harta adalah talak menurut pendapat mereka. Ini adalah talak baa’in karena yang dituju adalah agar istri memiliki perkara talak dirinya, dan mencegah suami untuk merujuknya. Tujuan ini tidak dapat tercapai kecuali dengan talak baa’in.
  4. Talak yang dijatuhkan oleh qadhi bukan karena sebab suami tidak memberikan nafkah atau karena sebab iilaa’. Hanya saja yang menjadi sebab adalah kekurangan yang ada pada diri suami atau akibat kerenggangan ikatan suami-istri. Atau akibat mudharatnya istri dengan ketidakberadaan suami atau tertawannya suami karena pengaduan istri kepada pengadilan dilakukan hanya untuk menghilangkan kerugian dari dirinya, dan menentukan nasib perkawinan. Dan maksud ini tidak dapat terwujud kecuali dengan talak baa’in.


Kedua, talak ba’in kubra:
1.    Yaitu talak tiga.
2.    Adanya Isyarat yang menunjukan bilangan talak. 

Adapun pembagian talak menurut waktu jatuhnya talak terbagi kepada; munjiz, mudhaf, dan mu’allaq :

Pertama, talak munjiz adalah talak yang yang bersifat langsung, sehingga waktu jatuhnya talak pada saat itu juga.Misalnya seorang laki-laki berkata kepada istrinya “kamu tertalak” atau “aku talak kamu” hukumnya jatuh pada saat itu juga. Berbagai dampaknya akan langsung dilaksanakan oleh suami semasih suami dan istri tersebut adalah orang yang mampu dan bisa menjatuhkan atau dijatuhkan talak.

Kedua, talak mudhaf (yang disandarkan) yaitu talak yang terjadinya disandarkan  kepada waktu dimasa yang akan datang. Misalnya seorang suami berkata kepada istrinya “kamu tertalak besok” atau “kamu tertalak pada permulaan tahun ini”. Waktu jatuhnya  talak tersebut adalah ketika datang pada waktu yang disandarkan tersebut, jika istri adalah orang yang dapat dijatuhkan talak pada masa tersebut. Dan si suami merupakan orang yang mampu menjatuhkannya karena dia telah berniat menjatuhkannya sejak beberapa waktu, bukan pada masa sekarang ini.Ketika suami mengucapkan “kamu tertalak besok” maka talak jatuh pada bagian pertama dari waktu besok, yaitu terbitnya fajar.

Ketiga talak mu’allaq yaitu talak yang penjatuhannya bergantung kepada terjadinya sesuatu yang dimasa akan datang dengan menggunakan ta’lik atau syarat, seperti jika, apabila, seandainya, dan sejenisnya. Misalnya seorang suami berkata kepada istrinya “jika kamu keluar tanpa izinku maka kamu tertalak” atau “Apabila kamu bertemu dengan si fulan tanpa izinku maka kamu akan tertalak”.Ta’liq ini dinamakan sumpah sebagai kiasan karena ta’liq pada hakikatnya adalah syarat dan balasan, maka penyebutannya sebagai sumpah merupakan sebuah kiasan, karena di dalamnya terdapat makna kausalitas (sebab-akibat).Ta’liq ini dapat berupa lafal, yaitu ucapan yang disebutkan alat syarat di dalamnya secara terang-terangan, seperti jika atau apabila. Ta’liq ini dapat juga berupa maknawi yang tidak disebutkan alat syarat di dalamnya secara terang-terangan, akan tetapi alat ini ada pada segi makna. Misalnya suami mengucapkan “ Aku harus menjatuhkan talak jika aku melakukan ini” atau “Aku diharuskan menjatuhkan talak jika aku tidak melakukan hal ini”. Maksud yang dikandung oleh ta’liq semacam ini berdasarkan tradisi adalah kelaziman jatuhnya talak jika perkara yang disumpahkan terjadi, dan atau tidak terjadi.

Jumlah Talak
Jumlah talak adalah satu, dua dan tiga. Jika talak muncul dengan ucapan saja, seperti misalnya seorang suami berkata, “Aku ceraikan kamu”, atau “kamu tertalak”, maka terjadi talak satu sebagai aplikasi dari maksud yang dikandung oleh ucapan menurut mazhab Hanafi dan terjadi apa yang dia niatkan menurut jumhur fuqaha.

Pada masa jahiliyah, talak belum terikat dengan jumlah dan aturannya.Dulunya seorang laki-laki menceraikan istrinya sesuai dengan yang dia kehendaki. Perempuan tersebut menjadi istrinya kembali jika dia merujuknya pada masa iddah, sekallipun dia menceraikannya seratus kali atau lebih, hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Aisyah r.a. Akan tetapi dengan apa yang sudah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an maka talak hanya terbatas pada jumlah tiga saja, sebagamana firman Allah s.w.t :

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (al-baqarah: 229) Ayat ini menunjukan bahwa jumlah talak ada tiga, diberikan hak bagi suami untuk merujuk istrinya setelah talak pertama dan kedua.Dengan ketentuan ini, Islam melindungi perempuan dari kemudharatan yang dapat mengenainya.

Hukum Talak
Mazhab Hanafi berpendapatbahwa penjatuhan talak hukumnya boleh  berdasarkan kemutlakan Al-Qur’an, seperti firmannya “ Hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar)”(At-Thalaq:1)

  1. Haram jika suami ketika mentalak isterinya akan terjerumus kedalam perzinahan karena ketergantungan kepada isterinya. Dan talak bid’i, yaitu talak yang dilakukan pada masa haid, dan yang sejenisnya, seperti masa nifas, dan masa suci setelah dipergauli.
  2. Makruh hukumnya jika ia memiliki keinginan untuk kawin atau dia mengharapkan keturunan dari perkawinan.
  3. Wajib hukumnya ketika ia mengetahui bahwa keberadaan isteri membuatnya jatuh ke dalam perbuatan yang diharamkan yang terdiri dari nafkah dan perkara yang lainnya.
  4. Sunnah hukumnya ketika istri memiliki mulut yang pedas yang ditakutkan akan membuatnya jatuh kedalam perbuatan yang haram jika terus bersamanya. Talak menjadi sunah ketika istri lalai dalam memenuhi hak-hak Allah yang wajib, seperti shalat dan perkara lain yang sejenisnya. Dan suami tidak memungkinkan untuk memaksa istrinya melaksanakan hak-hak tersebut. Ketika hubungan suami-istri berada pada kondisi terjadinya perselisihan yang mengakibatkan keretakan rumah tangga, maka demi menghilangkan keburukan talak hukumnya sunah dalam kondisi seperti ini.

Dampak penjatuhan talak memberikan efek hukum. Talak raj’i dan talak ba’in bersatu dalam beberapa hukum, yaitu:
a.    Kewajiban untuk memberikan nafkah bagi isteri yang ditalak pada masa iddah.
b.    Ditetapkannya nasab anak yang dilahirkan oleh isteri yang ditalak kepada suami yang mentalak.
c.    Perkawinan si istri yang kedua dengan suami yang lain menghilangkan jumlah talak yang terjadi antara dia dengan suami pertama, menurut mazhab hanafi dan Abu Yusuf, apakah ini talak tiga ataupun talak selain yang tiga. Sedangkan fuqaha yang lainnya berpendapat, perkawinan ini hanya menghilangkan talak tiga saja tanpa talak yang lainnya.

Adapun mengenai talak raj’i para fuqaha sepakat bahwa talak raj’i memiliki beberapa dampak, yaitu :
1.    Mengurangi jumlah talak. Sehingga ketika suami mentalak istrinya dengan talak raj’i, berarti ia masih memiliki sisa dua talak, dan jika menjatuhkan talak yang lain, berarti ia masih memiliki satu talak.
2.    Berakhirnya ikatan suami-istri dengan terhentinya masa iddah. Sehingga ketika suami mentalak istrinya dengan talak raj’i, dan iddahnya terhenti tapa merujuk istrinya, maka istrinya menjadi haram baginya dengan terhentinya masa iddah.
3.    Kemungkkinan  untuk melakukan rujuk pada masa iddah. Suami yang menjatuhkan talak kepada istrinya, memilliki hak untuk merujuk kembali istrinya dengan ucapan menurut kesepakatan fuqaha.
4.    Istri yang ditalak raj’I dapat terkena talak yang lain, atau zhihar, atau iilaa’, dan laknat si suami, dan masing-masing dari keduanya saling mewarisi yang lain menurut kesepakatan fuqaha.
5.    Pengharaman untuk melakukan persetubuhan menurut mazhab Syafi’i. Menurut mazhab syafi’i dan maliki diharamkan melakukan persetubuhan dengan istri yang telah ditalak dengan talak raj’i dan yang lainnya. Bahkan sama halnya hanya memandang dengan tanpa syahwat, karena talak ini adalah perpisahan bagaikan halnya talak baa’in.

Adapun dampak dari talak ba’in sughra adalah :
1.    Hilangnya kepemilikan dengan hanya sekedar terjadinya talak bukannya penghalalan. Diharamkan melakukan persetubuhan secara mutlak dan khlawat setelah terjadi talak. Tidak bisa merujuk istri kecuali dengan akad baru
2.    Berkurangnya talak yang dimiliki oleh suami.
3.    Halal mahar yang ditangguhkan kepada salah satu dari dua masa yaitu kematian dan talak dengan hanya sekedar terjadinya talak.
4.    Terhalangnya hak untuk saling mewarisi diantara suami-istri. Jika salah satu suami-istri meninggal dunia pada masa iddah maka pihak yang lain tidak mewarisinya karena talak baa’in menghentikan ikatan suami istri dengan hanya sekedar jatuhnya ucapan talak. Kecuali jika talak terjadi pada masa sakit parah, dan ada indikasi yang menunjukan bahwa si suami bermaksud menghalangi istrinya dari warisannya. Menurut jumhur yang selain mazhab syafi’i si istri mendapatkan warisan, jika si suami meninggal dunia pada masa iddah.

Hukum  talak bain kubra :
Talak ba’in kubra sama dengan talak ba’in sughra, kecuali :
Pertama, Pada talak bain kubra tidak ada kesempatan setelahnya untuk menjatuhkan talak yang lain.
Kedua, Istri pada talak ba’in kubra tidak dapat kembali kepada suaminya yang pertama sebelum ia menikah kembali dengan suami yang lain.

Rukun Talak
Menurut mazhab Hanafi rukun talak adalah lafal yang menjadi dilalah bagi makna talak secara bahasa yang merupakan pelepasan dan pengiriman. Menurut mazhab maliki rukun talak ada empat; pertama mampu melakukannya, maksudnya orang yang menjatuhkannya yang terdiri dari suami, wakilnya, atau walinya..Kedua maksud, artinya adalah maksud ucapan dengan lafal yang terang-terangan, sindiran yang jelas meskipun sebenarnya tidak memiliki niat untuk memutskan perkawinan.  . Ketiga objek, adalah perkawinan yang ia miliki, karena tidak sah talak jika tidak di awali dengan perkawinan. Keempat lafal, yaitu ucapan secara terang-terangan ataupun sindiran.
Sedangkan Ibnu Juzaa berpendapat bahwa rukun talak ada tiga, diantaranya: suami yang mentalak, Istri yang ditalak, dan ucapan (yang berupa lafal dan perkara yang memiliki makna yang sama). Sedang menurut mazhab Syafi’i dan Hambali rukun talak ada lima,yaitu: Laki-laki yang mentalak, ucapan, objek, kekuasaan, dan maksud. Sehingga tidak jatuh talak bagi seorang ulama fiqih yang mengungkapkannya secara berulang-ulang, orang yang sedang bercerita meskipun sebenarnya ia menceritakan dirinya sendiri.

Batasan Talak
Batasan untuk menjatuhkan talak ada tiga ;
1.    Talak terjadi karena ada kebutuhan yang dapat diterima
2.    Tengah berada pada masa suci dan tidak pernah disetubuhi pada masa itu.
3.    Talak dijatuhkan secara terpisah dan lebih dari satu kali.

Pertama, talak dilakukan karena ada kebutuhan yang dapat diterima secara syariat dan kebiasaan. Menurut mazhab Hanafi asal daripada talak adalah boleh, berdasarkan kemutlakan firman Allah dalam Al-Qur’an ;

“Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya” (At-thalaq:1)
Talak sebenarnya terjadi karena adanya suatu kebutuhan, jika talak terjaadi bukan karena suatu kebutuhan maka hal tersebut merupakan bagian dari pengkufuran atas nikmat pernikahan yang telah Allah berikan, bahkan hal tersebut merupakan bentuk kedzaliman terhadap istri, keluarga istri, dan anak-anak istri.

Berbeda halnya dengan jumhur fuqaha selain mazhab hanafi, termasuk diantaranya adalah al-kamal Ibnul Hamman dan Ibnu Abidin mengemukakan bahwa hukum asal talak adalah dilarang, dicegah, dan merupakan perbuatan yang makruh. Ibnu Abidin berkata “pada asalnya talak terlarang “.Dalam pengertian, dia terlarang kecuali akibat sebab yang membuatnya menjadi boleh. Pembolehan ini diberlakukan akibat kebutuhan untuk menghilangkan ikatan perkawinan.

Kedua, talak dilakukan pada masa suci dan si istri tidak pernah digauli pada masa tersebut. Batasan ini disepakati oleh jumhur fuqaha, jika suami menjatuhkan talak pada masa haid atau nifas, atau pada masa suci yang dia gauli istrinya pada masa tersebut, maka menurut jumhur, talak merupakan suatu yang haram secara syari’at dan menurut mazhab Hanafi merupakan sesuatu yang makruh tahrimi, yaitu yang dinamakan dengan talak bid’i. Sedangkan mazhab maliki hanya membatasi pengharaman talak hanya pada masa haid dan nifas, dan memakruhkannya pada yang selain keduanya.

Ketiga, talak terpisah dan tidak lebih dari satu. Para fuqaha telah bersepakat bahwa talak sunni yang disyari’atkan adalah yang jatuh secara berurutan dengan terpisah-pisah, satu demi satu, bukan menjatuhkan talak secara sekaligus dengan menyatakan talak tiga secara satu sebanyak langsung satu kali. Artinya talak harus dijatuhkan secara satu persatu. Jika seorang laki-laki mengumpulkan ketiga talak dengan satu kalimat, atau dengan berbagai lafal terpisah-pisah dalam satu kali masa suci, maka ini adalah talak bid’i yang dilarang menurut pendapat mazhab Hanafi, Maliki, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Qayyim. Sedangkan menurut pendapat mazhab Syafi’i dan Hambali dalam beberapa riwayatnya yang rajah talak yang seperti ini tidak diharamkan dan tidak dimakruhkan.

Pemilik Talak
Talak berada di tangan laki-laki bukan ditangan perempuan karena pertama, perempuan biasanya lebih terpengaruh dengan perasaan dibandingkan dengan laki-laki. Sehingga jika perempuan memiliki hak untuk menalak maka bisa jadi ia akan jatuhkan talak dengan sebab yang sederhana yang tidak perlu membuat hancurnya perkawinan. Kedua, talak diikuti dengan berbagai perkara keuangan yang terdiri dari pembayaran mahar yang ditangguhkan, nafkah iddah, dan mut’ah.Beban keuangan ini dapat membuat laki-laki sangat berhati-hati dalam menjatuhkan thalak.Berkaitan dengan ini, hal ini pula yang dimaksudkan Al-Qur’an bahwa laki-laki atau suami telah menafkahkan sebagian dari harta mereka untuk membayar mahar, biaya hidup untuk istri, dan anak-anak, sehingga cukup masuk akal ketika talak berada ditangan laki-laki.

Meskipun secara jelas bahwa talak berada ditangan dan merupakan hak laki-laki, akan tetapi talak dapat berada pada tangan perempuan ketika terjadi pelimpahan talak dari suami kepada istrinya. Lafal pelimpahan ini ada tiga, yakni: perkara berada di tanganmu, pilihan, dan kehendak. Masing-masing lafal ini memiliki makna kepemilikan talak kepada istri, dan haknya untuk memilih antara dirinya sendiri atau suaminya.Perkara berada di tangan, yaitu suami berkata kepadanya,”perkaramu berada di tanganmu,” maka perkara talak menjadi berada di tangannya.Karena suami menjadikan perkara talak berada di tangan istri, sedangkan yang memilikinya adalah suami, dan objek talak ini dapat diserahkan. Adapun perkara talak dapat berada di tangan istri melalui beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya:

Pertama, niat suami untuk mentalak karena ini adalah salah satu sindiran talak, maka tidak sah tanpa adanya niat talak.Kedua, istri mengetahui bahwa perkara talak berada di tangannya.Jika istri tidak mendengarnya, maka perkara talak tidak berada di tangan istri.Dan atau berita ini tidak sampai kepadanya, karena makna pelimpahan ini adalah tetapnya pilihan untuk istri antara talak atau suaminya.
Pilihan, yaitu seorang suami berkata kepada istrinya, “pilihlah” dan ini tidak berbeda dari menjadikan perkara talak berada di tangan istri, kecuali dalam dua perkara: Pertama, sesungguhnya suami jika berniat talak tiga dalam perkataannya, “perkaramu berada di tanganmu,” itu sah. Sedangkan pada perkataannya, “pilihlah” maka tidak sah niat talak tiga.

Kedua, Sesungguhnya pada perkataannya, “pilihlah” meski menyebutkan diri, baik dalam perkataan suami atau dalam jawaban istri, dengan berkata kepadanya, “pilihlah dirimu” maka istri menjawab “Aku pilih diriku”.Atau disebutkan kalimat talak dalam ucapan suami atau ucapan istri dengan berkata kepadanya “pilihlah” maka istri menjawab “Aku memilih talak”.

Kehendak, dengan cara suami berkata “Kamu tertalak jika kamu menghendaki”, dan ini seperti ucapan “pilihlah” karena masing-masing dari kedua ucapan ini merupakan kepemilikan talak. Yang dimaksud dengan talak disini adalah talak raj’i, sedangkan talak dalam pelimpahan adalah talak baa’in karena yang dilimpahkan di sini jelas, sedangkan yang di sana berbentuk sindiran. 

Dalam perundang-undangan di Indonesia Hukum Talak dapat dilihat dalam:
1.    UU No. 3 tahun 2006 tentang Peradilan Agama pasal 65, 66, dan pasal 78 sebagai berikut:
2.    Pasal 65: perkawinan Putus
“Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”.

Pasal 66:
(1)    Seorang suami yang beragama Islam yang menceraikan istrinya mengajukan permohonan kepad pengadilan untuk mengadakan sidang guna menyaksikan ikrar talak.
(2)    Permohonan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) diajukan kepada pengadilan yang aderah hukumnya meliputi tempat kediaman termohon, kecuali apabila termohon dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman yang ditentukan bersama tapa izin permohonan.

Pasal 78 akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:
•    Menentukan nafkah yang ditanggung oleh suami;
•    Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak;
•    Menentukan hal-hal yang tidak perlu untuk menjamin terpeliharanya barang-barang yang menjadi hak bersama suami istri atau barang-barang yang menjadi hak istri.

Dalam Kompilasi Hukum Islam mengenai perceraian dijelaskan dalam Bab XVI yaitu maslah putusnya perkawinan,  dimuat dalam pasal 113 sampai dengan 123 sebagai berikut:
Pasal 113:
Perkawinan dapat putus karena
a.    Kematian
b.    Perceraian dan
c.    Atas putusan pengadilan
Pasal 114
Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atas berdasarkan gugatan perceraian.
Pasal 115
Perceraian hanya dapat dilakukan dalam Sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
Pasal 116

Adapun alasan-alasan yang dapat dijadikan perceraian adalah:
a.    Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
b.    Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang diluar kemampuannya;
c.    Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
d.    Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami istri;
e.    Antara suami dan sitri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Pasal 117
Talak adalah ikrar suami dihadapan sidang pengadilan agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan, dengan cara sebagaimana dimaksud dalam pasal 129, 130, dan 131.
Pasal 118
Talak raj’i adalah talak kesatu atau kedua, dimana suami berhak rujuk selama istri dalam iddah.
Pasal 119
(1)    Talak bain sughra adalah talak yang tidak boleh dirujuk tapi boleh akad nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam masa iddah;
(2)    Talak bain sughra sebagaimana tersebut pada ayat (1) adalah:
a.    Talak terjadi qabla al dukhul.
b.    Talak dengan tebusan atau khulu.
c.    Talak yang dijatuhkan oleh pengadilan agama
Pasal 120
Talak bain kubra adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya, talak jenis ini dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali kecuali pernikahan itu dilakukan setelah bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba’da al dukhul dan habis masa iddahnya.
Pasal 121
Talak sunni adalah talak yang dibolehkan yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istrinya yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu tersebut.
Pasal 122
Talak bid”ah adalah talak yang dilarang, yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu istri dalam keadaan haid, atau istri dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri pada waktu suci terebut.
Hikmah kebolehan Talak
Ibnu Sina mengemukakan dalam kitab Assifaak, antara lain:
1.    Seharusnya talak untuk bercerai itu diberikan, walaupun sedikit dan jangan ditutup sama sekali, karena menutup mati sama sekali atau secara tegas itu akan mengakibatkan perceraian secara keseluruhan dan kerusakan
2.    Menurut tabi’at atau alami ada sebagian orang tidak cocok dengan orang lain, setiap diusahakan jalan dengan sesungguhnya agar bersatu padu, nyatanaya menimbulkan keadaan yang lebih buruk, perselisihan makin menjadi dalam kehidupan.
3.    Ada orang tidak kawin sekufu, tidak baik dalam bergaul atau dibenci oleh tabiat, maka yang demikian mendorongnya mencintai orang lain, karena menurut tabiat pula bahwa syahwat ada yang menyukai kerusakan, ada sepasang suami yang tidak saling bergotnong royongf kepada anak mereka, tapi bila telah di ganti dengan jodoh yang lain, malahan wajib diadakan jalan untuk berpisah, tapi jalan itu demikian sulitnya.

Hikmah dibolehkannya talak karena dinamika kehidupan rumah tangga kadang-kadang menjurus kepada suatu yang bertentangan dengan tujuan pembentukkan rumah tangga. Dalam keadaan begitu, walaupun dilanjutkan, rumah tangga akan menimbulkan kemudharatan kepada kedua belah pihak dan orang disekitarnya. Daripada terjadi mudharat yang lebih besar, lebih baik ditempuh perceraian dalam bentuk talak tersebut, dengan demikian talak dalam Islam hanyalah untuk suatu
tujuan masalah.

Tentang Khulu
Percerian sesungguhnya jalan yang harus dihindari dalam menyelesaikan persoalan perkawinan, namun seperti masalah talak seperti yang diuraikan diatas, Islam membolehkan seorang wanita melepaskan ikatan perkawinan dengan jalan khulu. Dalam pandangan Yusuf Qardawi diuraikan : Adapun wanita-wanita yang tidak suka kepada suaminya dan merasa khawatir kebenciannya itu akan menyebabkan dia mengabaikan hukum-hukum Allah dalam masalah rumah tangga, maka ia boleh membeli kebebasannya dengan mengembalikan pemberian suaminya baik yang berupa mahar maupun hadiah.

Dasar ketentuan Khulu
Surat al-Baqarah ayat 229:
“...Tidak halal bagi kamu mengambil sesuatu yang telah kamu berikan kepada istri-istri kamu (baik yang berupa mahar atau nafkah dan lain-lain)kecuali jika keduanya (suami istri) khawatir akan tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya... (al-Baqarah: 229).
Di dalam hadist di riwayatkan oleh Bukhari diceritakan bahwa dari Ibnu Abbas r.a. bahwa  istri Tsabit bin Qais datang kepada Nabi SAW. Lalu ia berkata, “wahai Rasulullah, saya tidak mencela perangainya dan agamanya, tetapi saya takut melakukan kekufuran dalam Islam.”Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Apakah mau mengembalikan kebunnya?” Dia menjawab, “ya.” Lalu Rasulullah berkata kepada Tsabit “terimalah kebun itu dan kamu talaklah dia satu kali talak!”

Alasan memutuskan khulu
Khulu dapat dibenarkan dan terjadi apabila ada sebab-sebab yang menghendaki adanya problem yang menyangkut khulu, misalnya karena:
•    Tidak tercipta lagi suasana keluarga yang harmonis, karena suami tidak dapat berbuat secara ma’ruf. Hal ini berarti telah melanggar perintah Allah.
•    Ada sifat atau watak suami yang tidak disukai oleh istri dan baru terlihat setelah berlangsungnya perkawinan;
•    Suami telah mengabaikan perintah Allah dan dihawatirkan rusaknya agama istri.
Khulu harus dilakukan dengan persetujuan suami, apabila tidak ada kesepakatan antara keduanya, seperti suami tidak mau meneria khulu dari istrinya, maka si istri berhak mengadu kepada Pengadilan Agama dan hakim dapat menentapkan kewajiban khulu kepada suami.
dampak cerai  dalam bentuk khulu terhadap mut’ah

Ketika perceraian terjadi maka tidak serta merta putus hubungan, tetapi ada ketentuan-ketentuan hukum yang lahir karena percerian tersebut, diantarnya adalah pemberian mut’ah atau uang tanggungan nafkah  selama masa iddah untuk perempuan. Namun dalam kasus talak khulu uang mut’ah ini menjadi tidak ada, karena perenpuan yang melakukan khulu dianggap telah siap menanggung resiko (tidak di bayar nafkah masa iddah)  setelah perceraian bahkan seperti di sebutkan  bahwa perempuan membayar iwadh sebagai tebusan atas dirinya, asalkan dalam khulu tersebut terpenuhi syarat dan rukun-rukun khulu secara syar’i.

Kasus Perceraian di Masyarakat
Kata “TALAK” mungkin sebuah kata yang paling ditakuti oleh laki-laki dan perempuan yang sudah terikat dalam perkawinan.  Tentu saja talak menjadi jalan terakhir ketika sebuah bangunan perkawinan tidak dapat menemukan sebagian atau sepenuhnya tujuan perkawinan.  Jika perkawinan tidak bisa diselamatkan lagi, perceraian menjadi jalan untuk menemukan kembali kelahiran dari sisi kemanusiaan masing-masing yang  dianggap telah tercabik-cabik  dalam masa perkawinannya. Makanya  kemudian  harus dijamin bahwa perceraian adalah akan  menemukan kembali  kedirian masing-masing, karena kehidupan adalah hak setiap individu dan tidak boleh direduksi dengan mengatasnamakan apapun, termasuk demi citra tentang kepatuhan dalam perkawinan  tetapi hakekatnya telah  mengubur dalam-dalam kemanusian.

Dalam sebuah acara presentasi hasil penelitian tentang BP4 tahun 2009, terlontar suatu ungkapan bahwa banyak terjadi cerai gugat di masyarakat pada saat ini, salah satunya adalah akibat gerakan kesetaraan gender yang dianggap semakin membuat istri “melawan” laki-laki. Lontaran tersebut menjadi sensitif dalam forum tersebut, dan mendorong penulis untuk  mencoba  memberikan argumentasi bahwa kenapa semakin banyaknya cerai gugat dalam perceraiaan adalah karena  pertama, bahwa semakain tinggi tingkat pendidikan perempuan membuat perempuan semakin maju dan semakin tahu tentang hak-haknya termasuk dalam keluarga, sehingga ketika terjadi pengabaian terhadap hak-hak tersebut atau bahkan perempuan tidak mendapatkan haknya contoh  hak sebagai seorang istri maka perempaun tidak bisa  bersifat “nerima” saja terhadap apa yang sering di ungkapkan sebagai “nasib”. Kedua, Kehidupan modern bukan hanya menuntut, bahkan mau tiidak mau terbawa arus modenisasi termasuk semakin tinggi nilai kebutuhan material yang mendorong para istri untuk menuntut pemenuhannya terhadap suami, jika kebutuhan material tersebut tidak mampu dipenuhi oleh suami, karena suami tidak mampu secara ekonomi, apalagi   suami tidak  bertangung jawab terhadap pemenuhan  tersebut, maka kondisi sosial  menuntut perempuan harus berpikir ulang tentang hakekat perkawinannya, dan pada akhirnya harus menentukan pilihan untuk meneruskan atau memutuskan ikatan perkawinannya;   ketiga. Gerakan kesetaraan gender bagi perempuan Indonesia yang masih memegang teguh nilai-nilai agama, kebudayaan dan norma sosial bukan untuk “melawan” laki-laki, tetapi untuk menciptakan pengetahuan baru, kesadaran baru sebagai jalan keluar dari keterkungkungan dan hegemoni ideologi patriarkhi,  kemudian menuju kehidupan yang  lebih  egaliter, adil, dan syarat dengan penghormataan terhadap harkat dan martabat manusia. bahwa tidak ada satu jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan  yang boleh menindas kemanusiaan setiap individu. Maka dalam konteks perkawinan  nalar kepatuhan seorang istri harus berada dalam kerangka kehidupan perkawinannya yang setara, adil, dan dalam pergaulan yang ma’ruf (menghormati harkat dan martabat masing-masing pasangannya). Jika dalam rumah tangganya tidak terpenuhi nilai mendasar tersebut, maka  pesan al Qur’anpun  memberikan keleluasaan  pilihan untuk melanjutkan atau berpisah secara baik.

Alasan-alasan perceraian yang terjadi di masyarakat diantaranya:
-    Alasan ekonomi
-    Alasan biologis
-    Krisis akhlak
-    Perbedaan keyakinan

Dalam memperingai Hari Amal Bakti Departemen Agama pada sekitar  tahun 2008, dalam sambutan menteri Agama mengungkapkan bahwa “institusi Keluarga” sekarang ini harus menjadi perhatian serius, karena marak terjadi di masyarakat kita kasus perceraian, broken home, disorientasi nilii-nilai  dan sikap permisif dalam keluarga, disamping gempuran kebudayaan Barat yang sangat meracuni kehidupan anak-anak. Persoalan kehidupan keluarga pada saat ini sangat kompleks dan tanngung jawab kita untuk menyelamatkan hancurnya (nilai-nilai moral)  institusi keluarga.  Kehawatiran ini cukup beralasan, mengingat  secara kasat mata kita bisa melihat berbagai persoalan keluarga  yang nampak dimasyarakat., seperti yang disebutkan hal-hal yang mengakibatkan terjadi putusnya sebuah ikatan perkawinan tersebut di atas.

  1. Suatu penelitian tentang “efektifitas fungsi BP4 di kota Serang”  ditemukan bukti    bahwa alasan eknomi menjadi alasan yang paling tinggi dalam kasus perceraian di pengadilan Kota Serang.  Seribu satu masalah ekonomi  mewarnai dinamika kehidupan keluarga.  Pekerjaan suami tidak jelas, terkena PHK, suami tidak bertanggung jawab masalah ekonomi,  malas bekerja,  tidak transparan masalah keuangan, istri boros, urusan ekonomi diintervensi mertua dll. Menjadi alasan kenapa akhirnya pasangan memilih untuk bercerai, atau istri melakukan cerai gugat terhadap suaminya. Faktor ekonomi dalam bangunan sebuah keluarga  menjadi pilar utama untuk kehidupan kelurga sakinah. Kebutuhan akan pangan, sandang, dan papan di tengah gelombang kehidupan material yang berkembang pesat,  dan secara riil barang-barang konsumtif sangat mahal membuat istri tidak dapat lagi hidup sederhana, apa adanya  seperti yang diajarkan dalam moralitas sosial masyarakat tradisional, atau ajaran bersikap qanaah dalam moralitas agama. Hidup bersahaja dengan nalar kepatuhan seorang istri menjadi logika yang sudah tersingkirkan oleh kenyataan hidup yang harus survife ditengah himpitan kebutuhan mendasar ekonomi keluarga. Dalam kondisi ekonomi yang tidak cukup secara berkepanjangan, membuat frustasi,  menjadikan hubungan keluarga menjadi rentan dan sangat mudah memicu konflik pasangan suami istri yang berujung pada perceraian.
  2. Alasan biologis, dalam sebuah kasus perceraian di masyarakat, alasan biologis ini biasanya tidak transparan. Contoh  dalam kasus cerai gugat di Pengadilan Agama Kabupaten Serang, bahwa istri sudah merasa “tidak cinta lagi kepada suaminya” padahal umur pernikahannya sudah melewati masa 20 tahun. Atau kasus (di Pengadilan Agama Serang),  seorang istri lebih memilih cerai gugat daripada menghadapi suami pengangguran tetapi selalu meminta dilayani setiap saat dan melewati batas kewajaran. Perceraian juga sering terjadi karena suami impoten atau kelainan seks, atau pasangan (sering kali tertuduh istri)  tidak dapat melahirkan keturunan.
  3. Krisis akhlak dari salah satu pasangan, atau keduanya, ini juga banyak memicu keretakan sebuah rumah tangga. Dari kasus KDRT, suami pemabuk, perselingkuhan, ada TTM, WIL dll.menyebabkan sebuah bangunan perkawinan tidak lagi harmonis. Terjadi pertengkaran yang tersus menerus dan kehidupan rumah tangga menjadi kontra pruduktif dengan tujuan perkawinan yang semestinya di bangun. Perceraian yang terjadi juga seringkali disebabkan karena tidak terbangun komunikasi yang harmonis antara keduanya atau antara lebih besar dalam keluarga, sehingga memicu keretakkan rumah tangga.
  4. Perbedaan agama atau salah satu pasangan menjadi murtad. Terdapat beberapa kasus dalam hal ini. Contoh kasus yang terjadi di masyarakat industri misalnya, tenaga kontrak asing (non muslim)  di Indonesia melakukan pernikahan dengan karyawannya ditempat keduanya bekerja. Untuk dapat mengawini calon istrinya yang beragama Islam, calon laki-laki rela berpindah agama, sehingga perkawinan dilakukan dengan syarat dan rukum perkawinan menurut agama Islam. Namun seirng berjalannya waktu,  sang suami  yang sudah muslim kembali ke agama asalnya.  Perkawinan beda agama juga pada saat ini, banyak terjadi di masyarakat kita. Dalam perkawinan tersebut banyak yang langgeng, tetapi tidak sedikit berakhir dengan perceraian, karena sering terjadi perbedaan dalam hal-hal yang sangat prinsip.


Dampak Perceraian
Diantara dampak dari  perceraian yang terjadi dimasyarakat adalah dampak terhadap anak-anak, dampak terhadap terhadap  perempuan,  keluarga dan lingkungan. (Terhadap keluarga putusnya ikatan persaudaraan bahkan saling membenci, sedangkan dampaknya terhadap lingkungan dalam kasus perceraian seringkali menghantar keluarga kepada broken home yang kadang-kadang menimbulkan permasalahan sosial).

•    Dampak perceraian bagi anak-anak;
Dalam perceraian bagi pasangan yang sudah memiliki anak, perceraian memberikan dampak bagi anak-anak, terganggunya perkembangan psykologis  anak karena tidak mendapatkan kasih sayang yang penuh dari kedua orang tuanya.  dan juga tidak lagi di beri nafkah oleh bapaknya (penelantaran oleh bapaknya), hingga sampai kepada tidak memiliki harapan masa depan yang cerah.
•    Dampak terhadap perempuan;
Perceraian  sering kali menjadikan perempuan  single perrent dan penanggung jawab nafkah keluarga
Stigmatisasi janda

Bagi perempuan pasca putusnya hubungan perkawinan menjadi kondisi yang berat. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang janda (ulfah) di tangerang bahwa penyebutan “Janda” itu sesungguhnya merupakan pencemoohan dan sekaligus penderitaan bagi saya sebagai janda, karena sesungguhnya siapa perempuan yang mau menjadi janda! Beban sebagai seoarang jandapun menjadi berat karena sering kali menjadi single perrent dalam kondisi tidak memiliki life skills.bahkan terdapat kasus  janda yang memiliki anak perempuan beranjak  gadis, kemudian karena tidak memiliki life skills terpaksa menjadi PSK dan ternyata prilaku ibunya  diikuti oleh anaknya tersebut  yang masih muda belia.
Pengasuhan anakpun menjadi delimatis, seperti yang diungkapkan (masih oleh Ulfah) bahwa ketika seseorang menjadi janda dan memiliki anak yang masih dalam asuhan, anak seringkali ikut menanggung beban stigmatisasi terhadap ibunya, padahal sebaliknya tidak terjadi kepada anak yang diasuh sama bapaknya.

Sistem peradilan saat ini
Sementara itu sistem Peradilan Agama  di Indonesia masih belum sepenuhnya memiliki responsif gender, seperti kasus  perceraian Bambang Triatmojo dengan Halimah . Halimah mengambil langkah hukum dengan  mengajukan Yudisial Review, karena Halimah merasa dirugikan oleh keputusan hakim yang mengacu kepada  pasal 116 huruf (e) KHI, sementara hakim tidak mengindahkan kesaksian dari pihak Halimah yang menyebutkan dalam pernikahannya telah masuk orang ketiga sehingga menyebabkan terjadi perselisihan  yang terus menerus.  Pasal 116 huruf (e) Kompilasi hukum Islam menyebutkan:  Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Dalam kasus perceraian juga, seringkali perempuan tidak memiliki posisi tawar dengan suaminya, perempuan yang dicerai dengan sekehendak hati laki-laki tanpa mendapatkan perlakuan yang adil dalam mendapatkan hak-haknya seperti harta gono gini, uang mut’ah dan jaminan nafkah untuk anak-anaknya pasca peerceraian. Bahkan satu fenomena dikalangan masyarakat yang tidak mampu dan rendah pendidikkannya, ketika terjadi perceraian anak diabaikan begitu saja hak-haknya oleh ayahnya, atau bahkan kedua-duanya. Anak kemudian diserahkan kepada neneknya, atau saudaranya yang mau mengasuhnya.

Perceraian juga sering terjadi karena lemahnya pandangan keagamaan  yang belum mampu dipahami secara komprehensif dan dilakukan pembaruan untuk memberikan rasa keadilan  kepada perempuan. Kasus  perceraian dimasyarakat  yang tidak melalui keputusan pengadilan agama, berdampak kepada semena-menanya seorang lali-laki untuk menjatuhkan talak kepada istrinya. Sementara istri dengan kasus perceraian seperti ini, sangat dirugikan baik secara materi maupun non materi. Perempuan tidak memilki power dan posisi tawar akibat dari perceraian tersebut. Kondisi ini akibat dari pemahaman dan kesadaran  hukum yang sangat rendah terutama bagi perempuan, sistem peradilan agamapun belum mampu melakukan reformasi yang seharusnya keberadaannya dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya sifatnya menunggu pengajuan, karena yang terjadi dimasyarakat kasus perceraian masih  banyak tidak melalui peradilan agama, asal dianyatkan “ jatuh talak” berdasarkan pandangan ulama setempat.

Nash yang dijadikan dasar hukum talak
Membaca surat ath-thalaaq (Qs: 65 ayat 1-12)  bahwa seruan kepada Nabi (sebagai rasul) apabila hendak menceraikan istri-istrinya maka ceraikanlah dalam keadaan baik. Mengandung pegertian bahwa perceraian adalah “pilihan” ketika sebuah perkawinan tidak bisa diselamatkan lagi, diulang-ulangnya kalimat bahwa Allah akan melapangkan segala kesempitan akibat dari perceraian itu  menunjukkan bahwa apabila segalanya dikembalikan kepada Allah dan apabila kita senantiasa beriman kepada Allah, terurama   perempuan yang paling merasa memiliki kekhawatiran setelah perceraian, maka Allah akan membukakan segala kemudahan ( kemandirian seorang perempuan), kita dapat membuktikan perempuan yang bercerai dengan suaminya, sering berbalik menjadi sangat kuat. Menjadi single perrent dan menjadi kepala keluarga dan perempuan menjadi perkasa dalam menopang ekonomi keluarganya terutama untuk membesarkan anak-anaknya secara mandiri.

Surat al-Baqarah (Qs: 2 ayat 34)
Ayat ini tidak langsung terkait dengan masalah talak, tetapi ayat ini berkaitan dengan cara-cara  menyelesaikan masalah dalam keluarga yakni bagaimana memperlakukan istri yang melakukan nusuz. Bahwa dalam hal terjadi perselisihan antara suami dan istri sampai mengakibatkan perempuan melakukan ‘nusuz’ maka al-Qur’an memberikan metode “tazrid” dalam mengambil langkah-langkah penyelesaiannya. Pertama-tama di berikan nasihat, lalu kemudian jika dengan  nasihat tidak  berubah, maka dengan cara memisahkan tempat tidurnya, dan apabila belum mau berubah maka boleh dipukul, namun dalam hal boleh dipukul ini, disebutkan bahwa dalam kitab-kitab salafi (pendapat para ulama),  tidak ada satupun yang boleh memukul yang menimbulkan kesakitan, Imam Syafi’i misalnya memukulnya dengan sudut sapu tangan yang lembut.

Sedangkan Asma Barlas menyebutkan bahwa terdapa banyak penafsiran atas ayat tersebut, dan ini menunjukkan bahwa ayat tersebut mengandung ambiguitas, oleh karena itu kita harus besedia memikirkan ulang tentang komitmen kita terhadap arti penting ayat itu bagi pemahaman tentang ajaran-ajaran al-Qur’an. Dalam konteks ini, sekalipun tidak dapat menyepakati bentuk pembacaan yang paling cocok, kita harus mengakui bahwa membaca ayat ini sebagai pemberian izin untuk memukul istri, atrau untuk memaksa istri tunduk pada suami, tidaklah bis diterima, karena hal itu bukanlah makna terbaik yang dapat kita tarik dari al-Qur’an, lebih jauh, pemahaman semacam itu bertolak belakang dengan pandangan al-Qur’an tentang kesetaraan gender dan ajarannya bahwa pernikahan harus didasarkan pada cinta, kasih sayang, keharmonisan dan sukun. (327)

Tentang  hadist talak yang  diriwayatkan: Dari Ibnu Umar RA telah berkata: Bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: Sesuatu yang halal yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah talak” (ibnu Hajar, tt: 21)disebutkan oleh (Utang Ranuwijaya, ahli hadist) bahwa dari sisi sanad periwayatan tersebut dinilai  sebagai hasan, sedangkan dari sisi matan, hadist ini dinilai bertentangan dengan al-Qur’an yang memberikan pilihan terbaik untuk keduanya  untuk memperbaiki hubungan perkawinannya atau mengakhirinya secara baik-baik. Atau juga dalam pemahaman lain bahwa hadist tersebut ditujukan bagi perceraian yang termasuk dalam katagi “talak bid’i”. Dalam ayat tentang khulu misalnya  khulu boleh dilakukan oleh seorang istri apabila keduanya dirasakan tidak dapat melaksanakan hukum-hukum Allah (dalam konteks hubungan suami istri).Dalam wahbah Zuhaili (h. 419) disebutkan bahwa seorang istri bisa saja membenci suaminya, dan membenci hidup bersamanya karena sebab fisik, akhlak, agama, kesehatan, akibat usia tua, kelemahan atau perkara lain yang sejenis. Si istri takut jika dia tidak melaksanakan hak Allah, karena itu Islam menetapkan jalan untuknya dalamupaya mengimbangi hak talak yang hanya dimiliki oleh laki-laki untuk membuatnya terbebas dari ikatan perkawinan.

Tentang “khulu”
Kalau kita membaca ayat tentang khulu (Al-baqarah ayat 229), memberikan penjelasan bahwa  apabila seorang istri menghendaki perceraian dengan alasan Syara (diantaranya dalam pandangan yusuf Qardowi) melalui jalan “khulu” , tetapi ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak ada halangan bagi seorang istri untuk mengajukan “khulu. Adapun khulu tersebut bukan berarti al-Qur’an bersifat patriarkhis, tetapi ini sesungguhnya merupakan logika dari mengembalikan  “pemberian” oleh sang suami ketika menikahi istrinya. Bahwa syarat pernikahan adalah pemberian mahar, maka ketika terjadi perceraian yang dikehendaki istri, maka istri mengembalikan atau memutus ikatan dengan penandanya pengembalian sejumlah “mahar”.pemberian tebusan dalam “khulu” tersebut oleh seorang istri, berarti sesungguhnya istri memiki hak  untuk memutuskan perceraian. Ketetapan khulu menunjukkan bahwa “pengalaman perempuan”  secara sah dapat dijadikan dasar untuk menentukan keputusan hukum (bercerai) menurut penilaian objektif  perempuan atas (hak-hak) dirinya. Islam juga tidak menjadikan talak ditangan laki-laki secara mutlak dan bebes dari segala ikatan dan ketentuan, tetapi Syari’at telah memberikan ketentuan tehadap kapan waktu dibolehkannya seorang suami mentalak istrinya. (Yusuf Qardawi: 505).

Nash al-Qur’an dan hadist tentang  talak tersebut diatas, sebagiannya sering ditafsirkan secara tidak adil bagi perempuan, padahal jika dibaca secara universal seperti dalam pembacaan Asma Barlas (2003) dengan metode kritis,menggali kembali Egalitariansme Al-Qur’an;  Bahwa Al-Qur’an bukan saja tidak menghubungkan hak ayah dan hak suami dengan cara patriarkhis, tapi juga al-Qur’an tidak menunjuk mereka sebagai penguasa, maupun sebagai pelindung istri(dan anak-anaknya) atau bahkan sebagai kepala rumah tangga. Al-Qur’an juga tidak menjadikan istri dan anak-anak sebagai harta milik suami, atau menuntut mereka untuk tunduk kepadanya. (sebuah pembacaan yang bertolak belakang dengan pandangan yang selama berabad-abad berkembang dalam masyarakat muslim.

Selanjutnya,  kita dapat memahami tutur Barlasbahwa dalam prinsip keadilan yang menjadi visi universal al-Qur’an cukup memberikan petunjuk bahwa kita tidak dapat membacaal-Qur’an dengan model patriarkhis atau model yang menindas  (mendhalimi)  perempuan.  Bentuk-bentuk pembacaan semacam itu menurut Barlas muncul akibat beberapa hal yaitu:
•    Pembacaan semacam itu muncul dari pembacaan teks yang dilakukan secara sepotong-sepotong dan keluar dari konteks. Misalnya dengan mengistimewakan sebuah kata, frase, kalimat atau ayat daripada ajarannya yang menyeluruh;
•    Dengan berfokus pada ayat-ayat yang samar sambil mengorbankan ayat-ayat yang fundamental maknanya;
•    Kegagalan melakukan historisasi ajaran al-Qur’an dan kegagalan membaca al-Qur’an sebagai sebuah “keseluruhan”, sebuah totalitas.

Padahal al-Qur’an harus dibaca secara holistik sambil tetap berusaha membedakan maksud yang tersurat dengan hasil yang tidak dikehendaki dari (kesalahan pembacaan terhadap) beberapa ayat.  Semestinya juga berupaya membedakan ajaran-ajaran yang diyakini ditujukan secara khusus untuk bangsa Arab dengan prinsip-prinsip universal yang hendak dikemukakan dalam ajaran-ajarannya. Dalam hal relasi suami dan istri misalnya harus dipahami bahwa kesetaraan suami dan istri menurut al-Qur’an bukanlah buah dari (identik dengan) pemberian atau hak, tetapi buah dari ontologimasnusia  (kesamaan gender secara ontologis), dan karena al-Qur’an mengajarkan prinsip-prinsip keetaraan jender sebagai suatu kenyataan ontologis, ia secara logis tidak mungkin mengajarkan prinsip-prinsip ketidak setaraan antara suami dan istri. Jadi kita perlu memahami perbedaan hak yang dinikmati oleh tiap-tiap pihak dalam keseluruhan konteks ajaran al-Qur’an tentang kesetaraan gender (316 Asma Barlas).

Sekilas tentang perkembangan Hukum Keluarga di Indonesia
Hukum Islam merupakan doktrin Islam yang paling inti dari keseluruhan ajaran-ajaran Islam lainnya.  Karena bukan saja hukum Islam merupakan seperangkat aturan yang hendak membimbing manusia untuk berkehidupan sesuai dengan tuntunan Allah s.w.t, akan tetapi lebih dari itu hukum Islam dipandang sebagai penjelmaan kehendak Allah yang mutlak. Karena hanya kehendak Allah lah yang mutlak, sedangkan kehendak manusia dan dunianya adalah relatif, sehingga hukum Islam tumbuh dan berkembang dalam berbagai situasi dan kondisi, ruang dan waktu sebagai ciri utama kerelatifan tersebut.Alhasil, hukum Islam melakukan pertemuan dengan realitas sosial yang pastinya sangat mempengaruhi perkembangannya kemudian.Perkembangan hukum Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan politik, yang pada gilirannya mempengaruhi tatanan hukum di Indonesia.

Ada beberapa teori hukum Islam yang dikenal dalam perkembangan berlakunya hukum Islam di Indonesia, yaitu:
1 . Teori Kredo
Teori ini berlaku di Indonesia ketika dibawah kekuasaan para sultan.Dengan demikian hukum Islam pada masa itu berlaku sesuai dengan teori otoritas hukum Islam. Gibb menyatakan bahwa orang Islam yang telah menerima Islam sebagai agamanya berarti ia telah menerima otoritas hukum atas dirinya.
2.    Teori reception In Complex
Teori ini lahir sebagai produk sesuai dengan kehendak politik Hindia Belanda.Teori ini menyatakan bahwa bagi orang Islam berlaku hukum Islam sebab dia telah memeluk agama Islam walaupun dalam pelaksanaannya terdapat penyimpangan-penyimpangan.Teori ini berlaku di Indonesia ketika diperkenalkan oleh Prof. Mr. Lodewij Willem Christian Van Den Berg (1845-1927).
3.    Teori receptive
Teori ini menyatakan bahwa bagi rakyat pribumi pada dasarnya berlaku hukum adat. Hukum Islam itu berlaku bagi rakyat pribumi jika norma hukum Islam itu telah diterima oleh masyarakat sebagai hukum adat. Teori ini dikemukakan oleh Prof. Snouck Hurgronye yang kemudian dikembangkan oleh Van Vallen hoven dan Ter Haar.
4.    Teori Receptie Exit
Teori ini lahir ketika bangsa Indonesia telah memegang kendali politik di dalam negerinya. Bapak teori ini Prof. Dr. Hazairin SH. Menurutnya ; Setelah Indonesia merdeka, dan Undang-Undang Dasar 1945 dijadikan Undang-Undang Negara Republik Indonesia, semua peraturan perundang-undangan Hindia Belanda yang berdasarkan teori receptie tidak berlaku lagi. 
5.    Teori Receptie A Contrario
Teori receptie yang diperkenalkan oleh Hazairin dikembangkan oleh Sayuti Thalib SH. Teori ini menyatakan bahwa adat berlaku bagi orang Islam jika hukum adat itu tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Dalam sejarah pembentukan hukum Islam di Indonesia lebih pada pengaturan tentang hukum keluarga atau aspek hukum privat, dan belum menyentuh aspek hukum public/pidana. UU pertama tentang perkawinan dan perceraian, dan sekaligus dikelompokan sebagai usaha pembaharuan pertama, adalah dengan diperkenalkan UU No. 22/1946. Pertama UU ini hanya berlaku untuk wilayah pulau jawa, yang kemudian UU pertama tentang perkawinan yang lahir setelah Indonesia merdeka ini diperluas wilayah berlakunya untuk seluruh Indonesia dengan UU No. 32/1954, yakni undang-undang tentang pencatatan Nikah, Thalaq dan Rujuk.

Bachtiar Efendi mengemukakan teori akomodasi, dengan pernyataan bahwa ada empat bentuk rangkulan Negara terhadap Islam.Pertama, akomodasi struktural yang ditandai dengan direkrutnya para pemikir dan aktivis Islam ke dalam birokrasi, baik di eksekutif maupun legislatif.Kedua, Akomodasilegislatif yaitu disahkannya beberapa peraturan dan undang-undang yang secara spesifik mengatur kehidupan keagamaan umat islam, seperti diterbitkannya UU No. 2/1989 tentang system pendidikan nasional; diberlakukannya UU No.7 tahun 1989 tentang peradilan Agama, dan Inpres No.1 tahun 1991 tentang kompilasi hukum Islam (KHI) sendiri; diubahnya kebijakan tentang jilbab tahun 1991; dikeluarkannya keputusan bersama tingkat menteri berkenaan dengan Badan Amil Zakat, Infak dan Shadaqah (Bazis) tahun 1991; dan dihapuskannya SDSB tahun 1993. Ketiga, Akomodasi Kultural yaitu banyak digunakannya simbol-simbol keislaman sering digunakannya “bahasa agama” dan idiom-idiom Islam lainnya dalam perbendaharaan kosa kata instrument-instrumen politik dan idiologi Negara. Seperti pengucapan Assalamualaikum dalam pidato-pidato kenegaraan dan diselenggarakannya festival Istiqlal.Keempat, Akomodasi Infrastruktural seperti dibangunkannya mesjid di Istana Negara. Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Bank Muamalat Indonesia (BMI).

Hukum Islam biasanya disebut dengan beberapa istilah atau nama yang menunjuk pada karakteristik dan sifat masing-masing hukum tersebut. Adapun yang sering kita kenal mengenai istilah atau nama Hukum Islam diantaranya adalah; syari’ah, fikih, hukum syara’, dan kanun. Syari’ah dapat diartikan dalam arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas, syari’ah dapat diartikan sebagai himpunan norma atau petunjuk yang bersumber kepada wahyu Allah untuk mengatur manusia dalam menjalankan kehidupannya baik yang berhubungan dengan kepercayaan maupun dengan perilaku sosialnya dalam masyarakat. Dengan demikian, syariah meliputi dua aspek dalam agama Islam, yaitu akidah dan amaliah. Aspek amaliah dari syari’ah dalam arti luas sering disebut syari’ah juga, yakni syari’ah dalam arti sempit yang menunjuk kepada himpunan norma yang bersumber kepada wahyu Ilahi yang mengatur aktifitas manusia dalam berbagai dimensi hubungannya. Dengan demikian, syari’ah dalam arti sempit merupakan bagian dari syari’ah dalam arti luas.

Untuk menyebut Hukum Islam, terkadang orang menggunakan Istilah Fiqih.Istilah ini biasanya diapakai dalam dua arti, pertama dalam arti ilmu hukum dan kedua dalam arti hukum itu sendiri. Sehingga fiqih merupakan sekumpulan norma atau petunjuk yang mengatur aktifitas manusia yang berasal dari Al-Qur’an, Hadist Nabi Muhammad s.a.w ataupun dari ijtihad para ahli hukum Islam.

Hukum syara’ merujuk kepada satuan norma atau kaidah. Himpunan norma atau hukum syara’ ini membentuk syari’ah atau fikih. Norma atau hukum syara’ yang membentuk syari’ah atau fikih ini meliputi norma taklifi, seperti wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram, maupun meliputi norma-norma wadh’i seperti “sebab”(akad merupakan sebab terjadinya perpindahan milik atas suatu barang yang diperjualbelikan), syarat (milik sendiri adalah syarat untuk sahnya wakaf), dan penghalang (pembunuhan menjadi penghalang bagi pelakunya untuk mendapatkan warisan atau wasiat).

Sedangkan kanun menggambarkan bagian dari syari’ah yang telah dipositivisasi dan di integrasikan oleh pemerintah menjadi hukum Negara, seperti hukum perkawinan (UU No. 1 tahun 1974), hukum wakaf (UU No. 41 Tahun 2004), dan lain-lain.

Dari teori akomodasi yang disampaikan oleh Bachtiar Efendi sebelumnya jika kita gabungkan dengan pembagian beberapa Istilah hukum Islam, memberikan gambaran bahwa hukum Islam mulai melakukan integrasi dalam kancah hukum nasional meskipun masih hanya sebatas hukum privat.UU No. 1 Tahun 1974 tentang hukum perkawinan (sekarang sudah lahir UU tentang P KDRT, UU Perlindungan anak) merupakan contoh dari syariah yang telah di integrasikan tersebut.

Contoh dalam konteks pembahasan tulisan ini, yaitu tentang sighat talak ta’lik yang diucapkan oleh mempelai laki-laki dalam rangkaian akad nikah, yakni sesaat setalah diucapkannya ijab dan qabul. Dan tertera dalam buku Nikah yang menjadiperaturan bahwa setiap perkawinan harus tercatat dan bukti tercatat adalah seorang yang sudah menikah secara sah menurut UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan peraturan pemerintah yang harus  dibuktikan dengan  memiliki buku akte nikah, sebagai tandapernikahannya terdaftar dan  tercatat dalam Kantor Urusan Agama.

Adapun  Lafadz talak ta’lik sendiri dapat disimpulkan:
Bahwa seorang suami  akan menepati kewajibannya sebagai suami untuk mempergauli istri dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran syari’at Islam.
Sewaktu-waktu seorang suami: (1) Meninggalkan istri  dua tahun berturut-turut, (2) Atautidak memberi nafkah wajib kepada istri tiga bulan lamanya; (3) Atau  menyakiti badan/jasmani istri (4) Atau membiarkan (tidak mempedulikan) istri  enam bulan lamanya, kemudian  seorng istri  tidak ridha dan mengadukan halnya kepada Pengadilan agama, maka dengan membayar uang iwadh (pengganti) dengan jumlah yang telah ditentukan, maka atas penilaian hakim Pengadilan Agama dapat menjadi jatuh talak satu.
Ketentuan  sighat talik ini, walaupun dibacanya tergantung pada kerelaan seorang suami (bisa tidak dibaca), tetapi upaya ini demi untuk melindungi hak-hak istri.  Juga menunjukkan bahwa peraturan  ini, telah diterima sebagai ketentuan yang berlaku untuk masyarakatyang beragama Islam.

Perkembangan terakhir pada masyarakat di Indonesia, walaupun masih sedikit, ada trend baru pasangan yang mau melakukan perkawinan mengadakan  perjanjian pra nikah, perjanjian ini dibolehkan selagi isi perjanjian tersebut tidak membolehkan hal-hal yang dilarang atau sebaliknya melarang hal-hal yang dibolehkan. Perjanjian pra nkah ini juga ada kecenderungan  lebih melindugi perempuan dan menunjukkan kepada adanya  posisi tawar perempuan terhadap calon suaminya.

Kesimpulan
Dalam prinsip-prinsip pembentukkan hukum Islam disebutkan tentang Maqashid asy-Syar’iah atau tujuan hukum yakni  dibentuknya suatu ketetapan hukum bertujuan  untuk melindungi hak-hak kemanusiaan yang meliputi perlindungan terhadap lima kepentingan: 1. Menjaga agama, 2. Menjaga jiwa, 3. Menjaga akal, 4. Menjaga keturunan dan martabat, dan 5. Menjaga harta. Untuk itu ketetapan talak baik dalam bentuk talak atau dalam bentuk khulu, kalaupun perceraian dianggap sebagai putusnya sebuah perkawinan yang semestinya tetap dijaga keutuhannya, namun ketepan ini sebagai menolak mafsada (kerusakan)  yang lebih besar untuk menjaga hak-hak kemanusiaan baik bagi laki-laki maupun bagi perempuan, termasuk untuk melindungi keturunan dan keluarga.

Pernikahan dalam Islam mengandung nilai ibadah dan mu’amalah, kedua nilai ini yang sesungguhnya menjadi landasan bagi pasangan suami istri membangun sebuah keluarga, nilai mu’amalah mengandung prinsip-prinsip saling mengasihi, komunikasi yang harmonis (mu’asaroh bil ma’ruf) sedangkan mengandung nilai ibadah pernikahan membentuk kehidupan yang harmonis dengan kekuatan nilai-nilai tauhid dan landasan agama. Mu’amalah saja yang dikedepankan akan melahirkan relasi suami istri penuh perhitungan matematis dan ukurannya hak-hak individual, sedangkan ibadah saja, dalam kondisi budaya patriarkhi menimbulkan perempuan tidak punya power (relasi yang seimbang dan adil), karena sikap‘menerima’ dan ‘ikhlas’ terhadap perkawinan sering kali diciptakan oleh suami sebagai bentuk kepatuhan istri secara mutlak.Wallahu ‘alam bishshawab!

______________

Daftar Pustaka
Azis, Asmaeny. 2007. Feminisme Profetik. Yogyakarta : Kreasi Wacana
Barlas, Asma. 2005. Cara Quran Membebaskan Perempuan. Jakarta : Serambi
Muhammad, Husein dkk. 2007.Modul Kursus Islam dan Gender : Darah Fiqh Perempuan.Cirebon : Fahmina Institute
Penelitian tentang Rekonfigurasi Hukum Islam di Indonesia oleh Mohamad Hudaeri tahun 2009.
Penelitian tentang Teori Perubahan Fatwa dan Penerapannya di Indonesia oleh Tohari tahun 2009.
Qardhawi, Yusuf. 1995. Fatwa-fatwa Kontemporer. Terjemah,  Jilid 2. Jakarta : Gema Insani Press
Shihab, Quraish. 2000. Tafsir Al-Misbah. Volume 2. Jakarta : Penerbit Lentera Hati
Juhaili, Wahbah. Fiqih Islam. Terjemah  Jilid 9.

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 27 September 2012 09:05 )

Tradisi Mahar: ‘Pemberian’ ataukah ‘Pembelian’? : Suplemen Edisi 37

Pendahuluan

Di dalam masyarakat Indonesia, perni-kahan adalah sebuah proses yang agung, yang diimpikan oleh banyak orang, dan bahkan terkesan sakral. Pestanya menjadi harapan bagi semua orang, baik dari keluarga kurang mampu, sampai mereka yang konglomerat. “Saya paling senang datang ke pesta pernikahan, melihat banyak orang bahagia, berdoa untuk sebuah kelangsungan generasi, oh bahagianya!” tutur Maria Ulfah, seorang alumnus IAIN Semarang.

Pernikahan adalah pintu masuk bagi kedua mempelai untuk membangun rumah tangga. Darmanto Yt, dalam sajaknya, seperti dikutip oleh Kris Budiman, bertutur:

Rumah itu, omah,
Omah itu dari Om dan Mah,
Om artinya O, maknanya langit, mak-sudnya ruang bersifat jantan
Mah artinya menghadap ke atas, makna-nya bumi, maksudnya tanah bersifat betina,
jadi rumah adalah ruang pertemuan anta-ra laki dan rabinya.

Sajak tersebut, menurut analisis Kris, menggambarkan bahwa di dalam rumah terdapat komponen-komponen semantis (makna yang lebih luas dari rumah tangga) yang saling beroposisi (berhadap-hadapan), bahkan bersifat hirarkhis (tangga), yaitu atas (pemimpin/pengatur) bawah (yang dipimpin/yang diatur); luar (publik) dalam (domestik); jantan (maskulin) betina (feminin). Pasangan laki-laki dan perempuan dalam sebuah pernikahan selanjutnya akan menempati posisi-posisi tersebut, yaitu siapa di atas dan siapa di bawah; siapa yang mengatur dan siapa yang di atur; siapa yang bertanggung jawab urusan luar (publik) dan siapa yang bertanggung jawab atas urusan domestik. Berdasarkan pembagian tersebut, secara sosiologis, laki-laki dikontruksi untuk menempati posisi yang pertama, lebih tinggi dan perempuan di posisi yang kedua. Penempatan ruang-ruang tersebut, di sebagian masyarakat bersifat absolut, namun pada sebagian masyarakat lain bersifat relatif.

Untuk mengukuhkan posisi-posisi tersebut, secara turun-temurun, disosialisasikanlah tentang peran dan status laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga, dimana laki-laki ditempatkan sebagai the firts class (kelas sosial yang pertama) dan perempuan sebagai the second class (kelas sosial yang kedua). Semakin kuat laki-laki menempatkan diri di posisi yang pertama, maka dalam struktur sosial ia akan semakin menyingkirkan peran perempuan. Dampaknya, laki-laki memiliki banyak priviledge;  akan selalu dianggap sebagai penanggung jawab, keputusannya akan selalu didengar, pendapatannya dianggap sebagai nafkah, selalu mengatur, boleh memukul kalau istrinya membantah, dapat menjatuhkan talak kapan pun dia mau, menjadi wali yang menikahkan perempuan, menjadi imam, menjadi saksi penuh atas dirinya, dan seterusnya.

Namun, kontruksi sosiologis ini berdampak sebaliknya bagi perempuan;  perempuan dianggap sebagai mahluk yang lemah, perempuan bukan yang utama, perempuan boleh dipoligami, perempuan boleh dipukul, perempuan akan dianggap nusyuz ketika tidak taat pada suaminya,  pendapat perempuan tidak penting (tidak mengandung kekuatan hukum), perempuan tidak dapat menjadi saksi (kecuali dua orang), bagian hak waris perempuan separoh dari laki-laki, pendapatan perempuan hanya sebagai pelengkap saja, perempuan tidak bisa menjadi imam bagi laki-laki, perempuan tidak bisa menjadi wali, perempuan harus selalu dijaga (oleh muhrimnya), perempuan baru bisa menikah jika mendapat persetujuan walinya, dan seterusnya.

Relasi gender yang timpang ini menimbulkan beban psikologis baik bagi laki-laki maupun perempuan. Sebagai contoh, ketika seseorang karena suatu hambatan tidak dapat memenuhi konstruksi gender di atas, maka ia seringkali mendapatkan stigma atau pelabelan tidak baik. Misalnya, seorang laki-laki yang terkena korban PHK kemudian memilih di rumah dan melakukan beberapa pekerjaan rumah, oleh masyarakat dipandang sebelah mata, menjadi sumber gosip, direndahkan, dan sebagainya. Demikian juga jika ada seorang perempuan yang bekerja di luar rumah dan sukses, gajinya tinggi, sedangkan suaminya di rumah, maka ia sering digosipkan sebagai perempuan yang “menguasai’ laki-laki.

Padahal, peran-peran gender bukanlah sesuatu yang absolut. “Hidup adalah kompromi-kompromi,” begitulah ungkap seorang sahabat. Baginya, tidak ada kekuasaan yang absolut, semua adalah relatif, semua bisa didiskusikan, bisa dikomunikasikan dan bisa didialogkan. Sayangnya, ketika sebagian orang menganggap tak ada kompromi, karena konstruksi gender dianggap berasal dari teks agama, maka hal tersebut tak dapat dibantah ataupun digugat (dikritisi), dan tak ada dialog ataupun diskusi. Dalam hal ini, penempatan relasi laki-laki dan perempuan dibangun berdasarkan oposisi binner (saling berhadap-hadapan).

Berkaitan dengan kontruksi relasi gender yang timpang di dalam masyarakat, dimanakah posisi mahar dalam kaitannya dengan urusan rumah tangga. Apa dampak mahar terhadap posisi, peran dan status perempuan di dalam rumah tangga? Apakah mahar memiliki kontribusi yang signifikan dalam membangun sosio-psikologis pasangan dalam memasuki rumah tangga? Lalu, bagaimana teks-teks Islam (Alquran dan Hadis) berbicara tentang mahar ini? Tulisan ini akan mengeksplorasi beberapa pertanyaan tersebut di atas.

Pernikahan dan Mahar
Memasuki pernikahan adalah memasuki dunia yang masih abu-abu, belum jelas. Ketidak-jelasan ini disebabkan apakah perempuan atau laki-laki akan memperoleh kebahagiaan ataukah sebaliknya mendapat kesengsaraan di dalam ru-mah tangganya. Apakah perempuan atau laki-laki memiliki kedudukan yang setara di dalam rumah tangganya ataukah justru mendapatkan relasi yang timpang akibat budaya patriarkhis? Apakah perempuan dan laki-laki memiliki kebebasan yang sama secara proporsional dan seimbang? Semua pertanyaan tersebut kembali kepada masing-masing individu di dalam memahami status dan perannya di dalam rumah tangga. Pemahaman ini merujuk kepada keyakinan atau idiologi yang dibangun, perspektif yang dibentuk, dan tentu saja yang tak kalah penting adalah pengalaman hidup sehari-hari di lingkungan masing-masing.

Sebuah tulisan yang diposting di internet oleh Irma Suzanti pada 21 April 2009 mengilustrasikan bahwa memasuki pernikahan bagi perempuan adalah sama dengan menjebloskan diri ke dalam sangkar keterkungkungan, tidak memiliki kebebasan dan menyebabkan hidup bagai dipenjara. Sumber petaka ini, disebutkan Irma adalah disebabkan oleh adanya maskawin (mahar) yang dianggap sebagai alat tukar (exchange). Kebebasan perempuan telah dijual kepada pasangan dengan menerima maskawin, seperti kutipan berikut ini:

“Penguasaan laki-laki terhadap perempuan dalam perkawinan tak terlepas dari adanya budaya maskawin yang dipandang sebagai alat pembelian laki-laki kepada pihak keluarga perempuan. Ketika seorang laki-laki dalam proses ijab kabul menyerahkan mas kawin kepada perempuan seringkali dimaknai perempuan terbeli dengan maskawin tersebut. Dan pemilik berhak melakukan apa saja sesuai kehendaknya. Adanya konsep bahwa istri adalah hak milik suami sama artinya menjebloskan perempuan adalam sangkar keterkukungan. Hidupnya tidak bebas, bagai dipenjara.

Setelah menikah perempuan dan hak-haknya terlupakan. Perempuan sebagai seorang istri seolah-olah hanya mempunyai kewajiban yaitu kewajiban untuk suami dan keluarganya. Untuk pergi keluar rumah atau mengikuti kegiatan sosial haruslah seijin suami. Jika suami tidak merestui atau mengijinkan maka perempuan tidak dapat berbuat apa-apa.

Terjadi penguasaan atau dominasi laki-laki kepada perempuan. Perempuan tidak mempunyai kebebasan, kemerdekaan bagi dirinya sendiri. Terlebih adanya pemahaman agama yang mengatakan bahwa ijin atau restu suami adalah restu Tuhan. Murkanya suami merupakan murkanya Tuhan. Pandangan atau asumsi ini seringkali dipakai untuk menguasai dan menghilangkan kemerdekaan perempuan.”

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Hal ini diteguhkan pula oleh pendapat mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Prof Dr Meutia Hatta. Sebagaimana disebutkan dalam Suara Karya online, Meutia Hatta berpendapat bahwa pembatasan suami kepada istrinya adalah disebabkan oleh budaya maskawin dalam perkawinan. Budaya ini melahirkan pandangan bahwa perempuan telah dibelinya. Berikut ini adalah kutipannya;

"Dengan pemilikan itu, laki-laki merasa berhak melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya. Lalu terjadilah penguasaan atau dominasi laki-laki terhadap perempuan. Jadi selama ini, yang kerap terjadi pada perkawinan di Indonesia, suami sebagai penguasa penuh berhak atas semuanya. Baik itu menentukan aturan, standar moral, serta kehidupan istri dan anak-anaknya. Sementara, istri dan anak diposisikan sebagai pihak yang menerima aturan dan sekadar pendukung suami.”

Maskawin adalah tradisi yang ada di banyak kebudayaan. Tak terkecuali dalam kebudayaan Islam, sebutannya dikenal dengan istilah mahar. Semua mazhab fiqh sepakat memandang mahar sebagai wajib. Undang-Undang Pernikahan tahun 1974 yang termuat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pun menyebutnya sebagai wajib, meski tanpa menyebut adanya sanksi bagi pihak yang menolak memberi mahar.  Namun, UU Pernikahan menyebutkan kalau mahar ini tidak termasuk syarat maupun rukun perni-kahan. Tetapi, pernikahan tidak dapat dilangsungkan tanpa kehadiran sebuah mahar.  Pertanyaannya adalah apakah benar teks Alquran melihat mahar sebagai wajib? Kenapa? Tidakkah ia terjebak dengan konsep alat tukar? Sebagai alat jual beli? Sebagai “exchange”, seperti yang disebutkan oleh Irma Suzanti di atas?

Jawaban sementara atas pertanyaan tersebut menurut saya adalah tidak benar. Pertama, tidak benar teks Alquran menjadikan mahar sebagai wajib. Kedua, tidak benar Islam memandang mahar sebagai exchange. Dan ketiga, tidak benar juga bahwa sumber petaka dari sistem relasi yang timpang adalah karena maskawin. Pada bagian selanjutnya akan dibahas tentang mahar dalam perspektif Islam.

Pengertian dan Hukum Mahar
Kata mahar  (مهر) di dalam Alquran da-pat ditemukan dengan menggunakan kata-kata, shoduqah (صدقة)pemberian, ujuurun ( أجور) upah, nihlah (نحلة) pemberian yang tulus, dan faridah (فريضة) kewajiban/ketentuan). Sedangkan Al-Fauzan mengidentifikasi adanya 9 istilah yang sama dalam pengertian mahar, empat lainnya adalah shodaq (صداق, ‘uqr, aliqah (barang yang berharga dan indah) dan hiba. 
Pertama, dalam Q.S. An-Nisaa ayat 4, menggunakan kata shoduqah dan nihlah. Berbunyi: وأتوا النّساء صدقاتهنّ نحلة (النساء : ٤) ; Artinya: “Beri-kanlah mahar kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh keikh-lasan.” Kedua, Q.S. An-Nisaa ayat 24, menggu-nakan kata ujurun dan faridhah. 

فما استمتعتم به منهنّ فأتواهنّ أجورهنّ فريضة  ولا جناح عليكم فيما تراضيتم به من بعض الفريضة) النساء : ٢٤(

Artinya: “maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban. Dan tidaklah menjadi dosa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah kamu menentukan mahar itu.” Ketiga, begitu juga Q.S. An-Nisa ayat 25 menggunakan kata ujuurun. وأتواهنّ أجورهنّ بالمعروف  (النساء : ٢٥); Artinya: “dan berikanlah maskawin mereka menurut yang patut.” Keempat, Q.S Al-Baqarah ayat 236 & 237, masing-masing menyebut kata faridhah untuk menyebut mahar. Dalam bahasa Arab, kata faridhah artinya adalah kewajiban.

Sedangkan dalam Hadis, yang paling banyak dijadikan landasan tentang wajibnya ma-har adalah hadis dari Sahl bin Sa’d yang berbunyi sebagai berikut:

“Sahl berkata: telah datang (menjumpai) seorang perempuan kepada Nabi dan berkata: “Saya datang untuk menyerahkan diriku”, kemudian dia berdiri lama, dan Nabi memandang sekujur tubuhnya, lalu berkatalah seorang laki-laki: “Nikahkanlah untukku, jika Rasul tidak berhajat padanya”. Nabi menjawab: “Apakah kamu mempunyai sesuatu untuk disedekahkan padanya?” Ia menjawab: “Tidak ada”. Nabi berkata: “Carilah”. Lalu pergilah laki-laki tersebut, kemudian kembali, dan berkata: “Demi Allah, Saya tidak menemukan sesuatu pun”. Nabi berkata: “Pergilah dan carilah sekalipun sebuah cincin besi”. Maka, pergilah lelaki tersebut dan kembali, lalu berkata: “Tidak ada, demi Allah, tidak ada walau pun sebuah cincin besi”. Dan dia memiliki sebuah sarung yang dipakainya. Maka dia berkata: “Saya mensedekahkan sarungku padanya”. Maka Nabi berkata: “Jika wanita itu memakai sarungmu, maka kamu tidak memiliki pakaian, dan jika kamu memakainya maka tidak ada pakaian padanya. Maka lelaki itu pergi lalu duduk. Maka Nabi melihatnya sambil berpaling, tak lama lalu Nabi memerintahkan untuk memanggilnya kembali, dan berkata: “Apakah kamu memiliki (hafalan) Alquran? Ia menjawab: “Surat ini dan surat ini sambil menghitungnya”. Nabi berkata: “Sungguh engkau telah memilikinya dengan (hafalan) Alquran yang ada padamu”. (HR. Sembilan Ahli Hadis, antara lain Imam Bukhari)

Hadis di atas menjelaskan bahwa mahar itu adalah wajib, sedangkan ukuran mahar adalah apa pun yang dianggap mengandung nilai, bisa  berupa uang, barang berharga, hafalan Alquran, bahkan juga bisa berupa “mengerjakan sesuatu” dan maharnya adalah upahnya .

Mahar bisa dibayar kontan (cash), bisa di-cicil, bisa juga ditangguhkan dibayar pada saat tertentu. Pasangan laki-laki wajib membayar mahar yang dihutangkan, meskipun kemudian bercerai. Tetapi wajibnya mahar di sini adalah dalam konteks membayar hutang ketika pasangan laki-laki melakukan pembayaran maharnya dengan cara menghutang atau mencicil.

Kata mahar, menurut ulama fiqh diartikan sebagai ‘iwadh (ganti) yang wajib diberikan kepada istri sebagai konsekuensi dari menikahinya dan menyetubuhinya baik secara syubhat maupun tidak.  Pengertian lain disebutkan Suparta, bahwa mahar adalah sebuah pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan disebabkan terjadinya pernikahan. Jadi mahar dianggap sebagai cara laki-laki untuk menghalalkan hubungan intim (aktivitas seks) dengan pasangannya.

Hal ini dijelaskan oleh Faqihuddin Abdul Kodir, bahwa fiqh atau Islam secara lebih luas melihat aktivitas seks bukan sesuatu yang gratis, tetapi sesuatu yang harus dibayar, yakni dengan cara memberikan mahar kepada perempuan. Hal ini juga berlaku bagi kasus salah jima’ (salah/keliru pasangan), maka laki-laki diwajibkan membayar mahar mitsl (mahar yang senilai).

Perspektif fiqh di atas, menurut Faqih adalah mengandung bias gender. Betapa sebuah aktivitas seks yang mensyaratkan adanya relasi timbal-balik, dimana masing-masing pihak saling berbagi, saling mencintai dan saling membahagiakan harus dihargai dengan materi. Hal inilah yang kemudian menjadi asal-muasal ketimpangan relasi laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga.

Di banyak masyarakat, mahar atau maskawin adalah keharusan yang harus dibayarkan oleh pasangan laki-laki kepada pihak perempuan. Bahkan, di samping maskawin dikenal juga uang dapur atau uang hilang. Jika yang pertama diberikan khusus pada perempuan saat akad pernikahan berlangsung, sedangkan yang kedua diberikan kepada keluarga perempuan menjelang pernikahan berlangsung. Biasanya digunakan untuk kepentingan penyelenggaraan pesta (walimah).

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa teks-teks Alquran dan hadis tentang mahar masih dianggap mengandung hukum wajib. Padahal wajibnya mahar tidak menggugurkan atau membatalkan pernikahan ketika dalam prosesi tidak menyebutkan jenis mahar. Mahar hanyalah konsekuensi (atsar) dari adanya pernikahan. Jadi, wajibnya mahar ini, menurut penulis, hanyalah wajib menurut pandangan kebiasaan atau kepatutan, bukan kewajiban yang absolut dari Tuhan.

Kebiasan dan kepatutan adalah hukum yang bersifat relatif dan tentatif, yakni mengandung kesementaraan dan keterbatasan waktu.   Wajibnya mahar akan menjadi gugur ketika kebiasaan dan kepatutan berubah. Sekalipun salah satu pihak (bisa laki-laki dan terbuka peluang juga bagi perempuan) akan memberikan mahar kepada pasangannya, maka sejatinya haruslah dimaknai sebagai pemberian yang penuh ketulusan (nihlah). Adalah mengandung pengertian yang ambigu (membingungkan) ketika aktivitas “memberi” atau shodaqoh yang penuh keikhlasan tapi kemudian hukumnya menjadi wajib. Sedangkan dalam khazanah Islam yang penulis temui, aktivitas memberi yang diwajibkan dalam Islam hanyalah ada pada zakat. Pengingkaran terhadap zakat mengandung konsekuensi dosa (baik dosa personal maupun dosa sosial), bahkan termasuk memerangi agama itu sendiri.  Sedangkan pengingkaran terhadap mahar tidak mengandung konsekuensi yang sama.

Dengan demikian hukum wajibnya mahar ini bisa jadi berubah menjadi makruh, haram, sunah atau mubah. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah fiqhiyah: “taghayyuril fatwa wa ikhtilafaha bihasbi taghayyuri al azminah wa al amkinah wa al ahwal wa niyyaah wa al ‘awaid”. Artinya, “berubahnya hukum itu mengikuti perubahan waktu, tempat, keadaan, niat dan kebiasaan.”

Menurut saya, hukum mahar bisa diasosiasikan kepada hukum nikah sendiri yang juga berhukumkan sunah, mubah, wajib, makruh dan haram. Saya mencoba menjelaskannya satu persatu. Pertama, kapan hukum mahar menjadi sunnah? Yaitu ketika pihak pemberi (bisa laki-laki, bisa juga perempuan) tidak menuntut apa pun dari pemberiannya kepada pihak yang diberi. Artinya ia memberi dengan penuh ketulusan (nihlah) sebagaimana semangat yang terkandung dalam kata shodaqoh itu sendiri. “memberi kok maksa”, tentu tidak dong. Memberi sebagai ekspresi kasih sayang. Dan inilah menurut saya hukum dasar memberi mahar sebagaimana hukum dasar nikah itu sendiri.

Dalam filsafat cinta, seorang kekasih akan memberikan sekuntum mawar merah kepada kekasih yang dicintainya sebagai tanda cinta. Demikian juga seorang ibu akan memberikan ASI (Air Susu Ibu) untuk si buah hati sebagai tanda kasih. Rasa cinta, sesuatu yang bersifat non-materil kemudian dihadirkan dalam bentuk yang materi. Hal yang tak terbatas diwujudkan dalam hal yang terbatas.

Rasa cinta yang bersumber dari emosi yang terdalam, menurut teori emosi – motivasi, adalah berkecenderungan untuk bertindak. Sebab, dalam hal ini emosi merupakan energi bagi dorongan-dorongan (drives) yang muncul bersama. Jadi emosi cinta dan senang menjadi energi bagi lahirnya dorongan-dorongan untuk bertindak, termasuk untuk memberi.

Emosi senang, bahagia dan cinta adalah salah satu emosi dasar manusia. Rasa senang, cinta, puas, gembira dan bahagia adalah rasa yang diharapkan dan dicita-citakan semua orang. Segala upaya akan dilakukannya. Termasuk sang pasangan. Semua tuntutan tradisi maupun agama akan diikutinya demi mencapai kebahagiaan, yaitu hidup bersama pasangan yang dicintainya untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.  Salah satu ekspresi rasa senang ini adalah dengan memberi sesuatu atau hal-hal yang disenanginya semata hanya mengharap keridhoan Allah, artinya tanpa pamrih, tanpa ada tuntutan apa pun.

Kedua, kapan hukum mahar menjadi mubah? Yaitu ketika tidak ada faktor-faktor pendorong yang menjadi alasan pentingnya memberi atau diberi. Kedua belah pihak memandang tidak penting memberi atau diberi, yang penting adalah prosesi ijab qobul-nya, misalnya. Bisa jadi kedua pasangan tidak punya apa-apa secara materi dan juga tidak mau menjanjikan apa-apa. Atau bisa jadi karena kedua pasangan merasa berkecukupan secara materi dan dianggap mengandung konsekuensi egalitarian tanpa harus menuntut dan merasa dituntut sehingga memandang tidak penting ada mahar. Bahkan, kalau dilihat dari pohon hukumnya, dimana pemberian mahar sebagai transaksi mu’amalah (transaksi menyangkut hubungan antar sesama manusia), maka ia sejatinya berhukumkan mubah. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqhiyah yang berbunyi: al-ashlu fil mu’amalah al-ibaahah illa an-yadulla daliilun ala tahriimihaa, bahwa hukum asal dalam semua bentuk mu’amalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Ketiga, kapan pemberian mahar ini menjadi wajib? Pemberian mahar menjadi wajib pada saat terdapat faktor-faktor yang mendorong pentingnya memberi mahar. Pada kondisi seperti apa seseorang dianggap penting memberi sesuatu? Yaitu pada saat orang yang diberi adalah sedang betul-betul membutuhkan. Misalnya, pada saat tidak mempunyai anggaran sama sekali untuk melangsungkan prosesi pernikahan dan atau pasangan berada dalam kondisi yang tidak sekufu (setara) secara materi. Misalnya yang satu lebih kaya dari pada pasangannya. Dalam hal ini, bisa laki-laki, dapat juga perempuan.

Keempat, kapan mahar ini menjadi makruh (dibenci)? Menjadi makruh hukum memberi mahar ini pada dua kondisi. Pertama, yakni ketika perempuan menentukan jenis dan kadarnya secara memaksa kepada pasangan, dan pasangan atau keluarga pasangan merasa berkeberatan. Biasanya, penentuan mahar seperti ini dikaitkan dengan status atau kedudukan sosial seseorang. Misalnya di Pariaman, Sumatera Barat, terdapat tradisi bajapuik, atau maskawin yang diberikan pihak perempuan kepada laki-laki. Semula bajapuik ini adalah semacam uang jemputan dan jika terjadi pembatalan pernikahan maka uang ini akan dikembalikan. Japuik pada awalnya berupa emas, seekor kuda dan atau barang-barang bernilai. Dalam perkembangannya sekarang uang japuik bertambah dengan uang dapur yang bentuknya berubah menjadi berupa barang-barang mewah, yaitu bisa berupa mobil, sepeda motor, rumah, dan uang jutaan rupiah yang jumlahnya lebih besar dari uang japuik itu sendiri.
Kedua, menjadi makruh ketika pihak yang memberi bertujuan menuntut pamrih kepada pihak yang diberi, termasuk dalam hal layanan. Misalnya, setelah menikah pada umumnya laki-laki selalu minta dilayani oleh perempuan, dari urusan pakai dasi hingga urusan pakai kaos kaki; dari urusan nyuci baju hingga masak nasi; dari urusan rapi-rapi sampai bikin kopi. Semua harus dikerjakan oleh perempuan. Dan ini adalah tradisi umum yang dianggap lumrah dan sulit untuk dirubah.

Kelima, kapan pemberian mahar ini menjadi haram? Menjadi haram dalam hal memberi mahar adalah sebagaimana menjadi haram dalam hal menikah itu sendiri, yaitu ketika seseorang bertujuan eksploitatif dan menyakiti. Misalnya, pasangannya dijadikan alat komoditi, diperdagangkan untuk memperoleh keuntungan materi. Contoh, berkedok pernikahan, seorang perempuan dijual kepada warga asing oleh keluarganya, dengan harga pembelian yang mahal atau lumayan. Disebut menjual atau dijual adalah karena, setelah pernikahan (transaksi melalui pembayaran maskawin), pihak perempuan tidak dapat kembali begitu saja kepada keluarganya, meskipun si perempuan sudah tak rela menjadi istrinya. Keadaan ini biasanya dipicu oleh kenyataan si perempuan harus melacur, harus bekerja 24 jam tanpa upah yang sesuai, dan atau hidup dalam perkawinan yang penuh dengan kekerasan. 

Pesan Dibalik Mahar
Dengan tetap menghormati para ulama madzhab, ada baiknya kita menelusuri apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan oleh teks-teks Islam tentang wajibnya mahar? Teks dalam pandangan A. Teew mengandung tiga sistem kode, yaitu kode bahasa, kode sastra dan kode budaya.  Tentu, yang terkait dengan pembahasan tentang tradisi maskawin ini adalah menyangkut kode budaya. Teks yang dihadirkan tidak pernah lepas dari kode budaya baik oleh si penulis maupun pembacanya. Dalam konteks Alqur’an tentunya yang dimaksud adalah konteks budaya bangsa Arab dan lebih khusus adalah budaya suku Quraisy sebagai masyarakat terdekat dengan teks saat itu.

Secara historis, terungkap bahwa suku Quraisy atau bangsa Arab pada saat Alquran diturunkan adalah bangsa yang kurang beradab yang kemudian kondisi tersebut dikenal dengan sebutan jahiliyah. Sebutan jahiliyah (tidak beradab) ini antara lain ditunjukkan oleh antara lain; karena sikap keberagamaannya yang polytheis, kecurangan-kecurangan dalam setiap transaksi ekonomi¸ dan karena perlakuannya terhadap perempuan yang dianggap tidak memberikan nilai kehormatan secara sosial, politik, ekonomi dan budaya. Perempuan tidak memiliki hak-hak secara bermartabat. Dalam Alquran dikisahkan, sebagian masyarakat memperlakukan bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena malu dan dianggap menambah beban ekonomi keluarga saja. Allah swt berfirman:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.     

Dalam ayat lain diceritakan bahwa sebagian masyarakat yang lain menempatkan perempuan sebagai barang (harta benda) yang dapat diwariskan. Kondisi rendahnya martabat perempuan sebelum Islam datang ini diceritakan oleh Ummar bin Khattab yang berkata:

“Kami semula sama sekali tidak menganggap (terhormat, penting) kaum perempuan. Ketika Islam datang dan Tuhan menyebut mereka, kami baru menyadarai bahwa ternyata mereka juga memiliki hak-hak-nya secara otonom dimana kami tidak bisa lagi mengintervensi.”

Kondisi ini membuat tidak mudah bagi Islam untuk menarik perempuan keluar dari posisi sosial yang tidak menguntungkan ke posisi sosial yang setara dan berkeadilan. Meninggalkan adat dan kebiasaan tidaklah semudah meninggalkan rumah atau tempat lainnya yang tinggal hengkang begitu saja. Tetapi ia memerlukan proses yang yang lama. Alquran dengan semangat perubahannya mencoba melakukan perbaikan-perbaikan secara bertahap (gradual), sebagaimana proses turunnya yang berangsur-angsur semata untuk merespon persoalan sosial yang semakin dinamis.

Termasuk dalam hal pernikahan. Karena perempuan dianggap sebagai barang, maka ketika seseorang laki-laki hendak menikahi seorang perempuan, maka dipersepsikan sebagai membeli. Seorang laki-laki akan membeli perempuan tersebut kepada kabilah/suku/klan dimana perempuan berasal, dengan harga yang sesuai dengan tingkat kehormatan kabilah tersebut dalam bentuk mahar. Karena itu, Islam dalam konteks menghormati perempuan, maka meluruskan bahwa hendaknya pemberian itu diberikan kepada perempuan yang bersangkutan selaku pemangku hak.

Menurut Adang Djumhur, Islam hadir untuk membatasi kerakusan dan keserakahan manusia (“laki-laki”) terhadap penguasaan alam dan lingkungannya, termasuk dominasinya pada perempuan. Misalnya, yang semula masyarakat terbiasa menikahi perempuan dalam jumlah yang tidak terbatas kemudian dibatasi menjadi hanya 4, itu pun dengan syarat yang sangat ketat, dan 1 adalah lebih baik; semula masyarakat tidak memberikan hak waris pada perempuan bahkan menjadi objek dari harta waris itu sendiri kemudian Islam memberikan perempuan martabat (tidak menjadikannya harta waris) bahkan diberi hak waris meski pada saat itu baru separuhnya dari laki-laki. Begitu juga dalam hal mahar, yang semula diberikan pada keluarga kabilah maka Islam menghendaki langsung diberikan kepada perempuan.

Pertanyaannya, kenapa Alquran tidak meniadakan tradisi pemberian maskawin pada perempuan saat itu? Kenapa laki-laki masih diberi ruang untuk “membeli” perempuan melalui tradisi mahar saat itu? Menurut hemat penulis, terdapat sedikitnya dua alasan; pertama, sekali lagi, tidak mudah untuk menghilangkan suatu tradisi sekaligus. Kedua, perempuan adalah pihak yang secara langsung menerima resiko akibat dari pernikahannya. Pernikahan bagi perempuan saat itu, secara sosial, masih ditempatkan sebagai orang yang beresiko menjadi “korban kekerasan” baik dari pasangannya, maupun keluarga atau kabilahnya.

Dari uraian tersebut dapat diambil sedikitnya tiga kesimpulan. Pertama, bahwa perintah memberi mahar kepada perempuan adalah dalam konteks mendudukkan perkara bahwa yang berhak diberi mahar adalah perempuan yang bersangkutan sebagai penerima hak. Kedua, memberi makna bahwa perintah tersebut dalam konteks melindungi perempuan sebagai orang yang menerima resiko secara langsung dari akibat pernikahan, terutama menyangkut kegiatan reproduksi (hamil, melahirkan dan menyusui, atau keguguran). Ketiga, perintah memberi mahar bukanlah perintah yang bersifat absolut sebagaimana perintah dalam hal beribadat yang berkonsekuensi dosa bagi para pelanggarnya, tetapi perintah yang bersifat relatif dan tentatif dalam konteks sosial-budaya yang terus berubah.

Mungkinkah Merubah Tradisi Mahar?
Manusia lahir dalam ruang dan konteks sosial yang membentuknya. Ia lahir di lingkungan keluarga dimana ia tumbuh dan berkembang. Di situlah ia mendapat sosialisasi nilai-nilai dan norma-norma yang kemudian membentuk persepsi-persepsi tentang fakta-fakta dan realitas-realitas yang ditemuinya. Nilai-nilai dan norma-norma yang disosialisasikan adalah seperangkat cara untuk mewujudkan harapan masyarakat tentang peran-peran dan status seseorang.

Dalam masyarakat “tertutup” yang ditandai dengan agama yang “statis”, menurut Karlina Supelli, nilai-nilai dan norma-norma sosial disosialisasikan tidak lain sebagai cara “memaksa” masyarakat kepada anggotanya supaya memiliki rasa berkewajiban dan menaatinya.  Rasa berkewajiban ini dipelihara agar anggota selalu merasa bagian dari kesatuan masyarakatnya. Moralitas dasarnya adalah moralitas perintah yang tidak mengijinkan siapa pun untuk mempertanyakan kode-kode sosial yang berlaku. Maka dengan demikian, unsur yang paling pokok dalam masyarakat tertutup adalah kebutuhan mempertahankan tradisi dan konvensi, dan sekaligus mereka akan bersiaga untuk menyerang apa pun yang dianggap akan meruntuhkan kesatuan (sosial)-nya.  Termasuk masyarakat Arab atau Suku Quraisy saat itu dimana ego kabilah sangat diusung, akan sangat sulit meninggalkan praktik kehidupan yang secara sosial-budaya sudah mapan.

Karena itu, jika kita menengok kepada tradisi memberi maskawin dalam seluruh kebudayaan manusia adalah tidak lain sebagai cara individu untuk memperoleh pengakuan sebagai bagian dari komunitasnya, sekaligus cara masyarakat untuk mempertahankan apa yang menjadi tradisi. Mahar hanyalah sebagai tanda (sign) bagaimana masyarakat melanggengkan sistem patriarkhi. Begitu pentingnya mempertahankan tradisi ini, hukum Islam (fiqh) pun mengangkatnya sebagai cara yang “arif” dalam beradaptasi dengan keadaan lingkungannya. Karena itu, fiqh berusaha untuk tetap mengakomodasi dan terbuka kepada tradisi yang berkembang di masyarakat dengan menggunakan konsep “al-‘adatu mahk-kamatun”. العادة محكّمة , maksudnya, tradisi yang berkembang di masyarakat menjadi landasan dan sumber penetapan hukum. Tetapi, konsep ini, bukanlah konsep yang statis. Justru konsep ini pada awalnya adalah konsep yang dinamis dimana fiqh berkemungkinan berubah ketika kondisi sosialnya juga berubah.  Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah fiqhiyah yaitu bahwa perubahan hukum sesuai dengan perubahan tempat, waktu, keadaan, niat dan adat kebiasaan sebagaimana telah disinggung di atas.

Untuk itu, dalam melihat tradisi mahar dalam konteks masyarakat terbuka saat ini, adalah memungkinkan adanya peluang untuk dikritisi, melihat tradisi mahar keluar dari persoalan dogma agama (dalam hal ini adalah fiqh), keluar dari dominasi kultur yang mengusung kepentingan laki-laki (patriarkhi) dan keluar dari paham finalisme.  Maka, dalam konteks egalitarianisme (kesetaraan dan keadilan gender) dan sebagai upaya keluar dari hegemoni laki-laki, tradisi mahar dapat saja ditinggalkan tanpa harus merasa berdosa atau tanpa harus merasa takut akan dikucilkan secara sosial. Atau yang lebih “arif” adalah kembali pada relativitas hukumnya itu sendiri seperti diuraikan di atas yang memungkinkan pemberian mahar bisa berhukum mubah, sunnah, wajib, makruh atau bahkan haram. Yang pasti, janganlah sekali-kali mempersulit diri ketika Tuhan sendiri menghendaki kemudahan. “yuriidullahu bikumul-yusro, walaa yuriidu bukumul ‘usro”, artinya, Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.  Bukankah begitu? Wallahu a’lam bi ash-showwaab!


_____________________

Tentang Penulis

Perempuan yang memiliki nama lengkap Ipah Jahrotunasipah, S.Pd. ini, dilahirkan di  Majalengka, 12 Januari  1970. Alumnus  Strata 1  Bahasa Arab IKIP Bandung ini sekarang sedang menempuh S-2 pd PPS IAIN Syekh Nurjati Cirebon Program Studi / Konsentrasi Ekonomi Syari’ah. Aktivitas sehari-harinya kini adalah sebagai Guru Bahasa Arab di MAN 2 Cirebon, Dosen di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Cirebon, maupun pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES)  periode 2011-2012.
Perjalanan aktivitas Ipah sendiri cukup panjang. Yakni sebagai guru pada MTs Subulussalam (1995 – 1999), Jurnalis Tabloid Gerage Pos (1999 – 2001), Jurnalis pada Koran Harian Bintang Pantura (2001 – 2002), dan pernah menjadi staf pada Fahmina Institute selama 4 tahun (2002 – 2006), yakni  sebagai Staf pada Program Penguatan Masyarakat Sipil (2002 – 2003), program mandiri. Sebagai  PO untuk Kegiatan Publikasi pada Program RMKD (Reformasi Manajemen Keuangan Daerah) (2003 – 2004), Program kerjasama dengan Partnership, Manajer Program pada Program Monitoring HAM untuk Pendidikan dan Kesehatan di Kab. Indramayu (2004 – 2006), Program kerjasama Fahmina-Institute dengan LP3ES dan NZAD, dan Manajer Program pada Program Islam dan Gender (Maret – Mei 2006), program kerjasama dengan The Asia Foundation.  Ia juga pernah menjabat sebagai Sekjen Forum Tata Kelola Pemerintahan Kota Cirebon (2004 – 2006) untuk isu Gender, pendidikan dan anti korupsi.
Beberapa karya yang ditulisnya pernah dipublikasikan di berbagai koran lokal, buletin, dan jurnal. Di antaranya adalah Dampak Radikalisme pada Perempuan (dimuat pada buletin Lintas Agama (2011) dan Kontekstualisasi Ayat: Upaya Membongkar Budaya Patriarkhi (dimuat pada jurnal Equalita edisi Desember 2011).
Setelah menikah dengan Moh. Rondon Syarifuddin  yang menjadi teman hidup, termasuk berbagi peran dalam berbagai tugas rumah tangga, pasangan ini kini dikaruniai  dua orang putera. Yaitu  Satria Tegar Faiz Ramadhan (7 tahun) dan  Teguh Farih Ramadhan (5 tahun).  Bersama keluarganya, sehari-hari Ipah tinggal di Desa Kumbung Blok Ahad RT 01/1, no 33 Kec Rajagaluh Kab Majalengka.{}

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 20 Maret 2012 05:46 )

Produk-produk Rahima

Produk-produk Rahima

Produk Rahima

 

 

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 27 Februari 2012 07:54 )

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Perpustakaan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

UTAMA TRAVEL

Pelayanan Pembayaran Satu Pintu, dengan mengedepankan Pelayanan RAMAH, CEPAT dan AMANAH

Agenda Rahima

27 - 30 Nopember 2015 Tadarus 1 Ulama Laki-Laki di Serang

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini76
mod_vvisit_counterKemarin1131
mod_vvisit_counterMinggu ini1207
mod_vvisit_counterBulan Ini2460
mod_vvisit_counterSemua1864618

Yang Online

Kami memiliki 39 Tamu online

Flag Contries

free counters