RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Thursday
Jul 24th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Dirasah Hadist Dirasah Hadis Edisi 17 : Menengok Hijrah Nabi : Dari Kesadaran Menuju Gerakan Penguatan Perempuan

Dirasah Hadis Edisi 17 : Menengok Hijrah Nabi : Dari Kesadaran Menuju Gerakan Penguatan Perempuan

E-mail Cetak PDF
Diakui atau tidak, seringkali kita semua melihat peristiwa hijrah hanya sebagai ‘sejarah’ yang harus dihormati dan dirayakan. Karenanya, kita tentukan waktu dan tempat untuk merayakan, jenis acara perayaan, dan siapa yang mengisi acara tersebut. Hijrah dalam keseharian kita telah menjadi ritualitas yang menyaratkan ada kegiatan, terkadang kostum, serta makanan. Beginilah kita memahami segala peristiwa tarikh (sejarah) Nabi Muhammad SAW sebagai rantai rentangan hari, bulan, atau tahun, tanpa ada spirit yang harus nyata dihadirkan dalam kehidupan keseharian.

Kita hampir kesulitan untuk menangkap makna kemanusiaan dari peristiwa tarikh Nabi SAW untuk menata kehidupan. Kita melupakan, bagaimana dulu Khalifah Umar bin al-Khattab RA harus berdebat dengan beberapa sahabat mengenai peristiwa hijrah sebagai penentuan tahun pertama dalam Islam. Sang Khalifah tidak memilih kelahiran Nabi SAW, tidak juga masa diutusnya Nabi, masa kemenangan pertama dalam peperangan, atau masa awal pembukaan Kota Mekkah sebagai pintu dari pembukaan kota-kota dunia berikutnya. Justru peristiwa hijrah yang dipilih oleh Umar.

Pilihan ini tentu saja didasarkan banyak pertimbangan. Di antaranya karena peristiwa hijrah tidak hanya memuat ritualitas keagamaan, tetapi sarat dengan muatan politik untuk kemaslahatan umat. Kepentingan politik dari penindasan, kezaliman dan kekerasan, menuju komunitas yang lebih menjamin nilai-nilai persaudaraan, persatuan, kesetaraan, dan keadilan. Tentu saja dengan kebebasan mutlak untuk beribadah kepada Allah SWT. Jika kesadaran ‘politik keadilan’ ini tidak menjadi perspektif, maka fakta hijrah hanya akan menyodorkan nama dan peristiwa semata. Itupun dengan melupakan –mungkin tanpa sengaja- mereka yang secara sosial ada pada nomor dua. Catatan mengenai perempuan pelaku hijrah, misalnya. Tidak menjadi memori yang sepadan bagi umat Islam, sebagaimana mereka menghafal nama-nama Abu Bakr al-Shiddiq RA., Ali bin Abi Thalib RA., Mus’ab bin Umair dan lain-lain sebagai pelaku sejarah hijrah. Sedikit dari kita yang mengenal Asma bint Abi Bakr RA., Umm Salamah RA., Umm Ma’bad RA. atau yang lain.

Hijrah untuk Keadilan
Umm Habibah RA. adalah salah seorang dari empat perempuan yang ikut berhijrah ke Habasyah (Etiopia), ketika hijrah pertama kali menjadi media dakwah dan politik yang disyari’atkan. Saat itu penindasan dan kekerasan yang ditimpakan orang-orang Quraisy begitu dahsyat. Orang-orang mukmin pada masa awal dakwah Islam merasakan tindakan yang keterlaluan dan bisa menghancurkan. Nabi Muhammad SAW. akhirnya memerintahkan untuk berhijrah.

“Kamu bisa berhijrah ke Negeri Habasyah. Di sana ada raja yang tidak menzalimi rakyatnya, negeri penuh kejujuran, sampai waktu ketika Allah SWT. sudah memberikan keleluasaan dan jalan keluar bagi kalian”, kata Nabi SAW. (Lihat: Amin Duwaidar, Shuwarun min Hayat ar-Rasûl, tt: Dar al-Ma’arif, Kairo).

Hijrah Habasyah adalah hijrah untuk memperoleh perlindungan dan suaka politik. Hijrah yang memindahkan orang-orang dari penindasan, kezaliman dan kekerasan, menuju kehidupan yang tanpa itu semua. Kehidupan yang damai, tentram dan adil.

Menarik untuk direnungkan betapa perempuan-perempuan berikut memiliki andil yang sangat besar terhadap suksesnya peristiwa hijrah. Asma bint Abi Bakr RA adalah perempuan tangguh yang mengurus dan menjamin logistik Nabi Muhammad SAW ketika berada di gua Tsur, beberapa hari sebelum bertolak ke Madinah. Umm Ma’bad RA, dialah perempuan yang menyediakan hewan ternaknya untuk diperah susunya, ketika Nabi SAW dan Abu Bakr RA kehausan. Pada saat rombongan orang-orang Quraisy pengejar Nabi datang menanyakan keberadaan Nabi SAW, Umm Ma’bad mengelabui mereka sehingga kepergian Nabi SAW tidak bisa dilacak mereka. Tentu masih banyak lagi perempuan penting yang seharusnya dicatat dalam sejarah hijrah.

Hijrah Habasyah adalah hijrah suaka politik. Hijrah untuk perlindungan dan keadilan, sebuah kehidupan tanpa kezaliman dan kekerasan. Kita bisa melihat dengan jelas makna politik keadilan dari apa yang dinyatakan Ja’far bin Abi Thalib RA, juru bicara rombongan hijrah ke hadapan Raja Nejash (Negus). Ja’far berkata:

“Wahai raja, dulu kami adalah orang-orang jahiliyah, yang menyembah berhala, memakan yang najis, melakukan kebejatan, memutus persaudaraan, melecehkan tetangga, dan orang yang kuat dari kami akan memeras mereka yang lemah….. Kemudian datanglah seseorang dari kami yang diutus Allah menjadi rasul kepada kami. Kami tahu keluarganya, kejujuran, dan kesuciannya. Dia mengajak kami bertauhid, mengesakan Allah, meninggalkan penyembahan berhala, meminta kami berkata jujur, memenuhi amanah, menyambung kekeluargaan, berbaik pada tetangga, menghentikan pertumpahan darah, melarang kami dari kebejatan, perkataan bohong, dan memakan harta anak yatim, serta meminta kami untuk shalat dan puasa. Lalu kami beriman dan mempercayainya. Mengikutinya untuk meninggalkan yang diharamkan dan hanya melakukan yang dihalalkan. Namun, kaum kami, orang-orang Quraisy malah memusuhi kami, melampaui batas dan menyiksa kami, dan mengancam agama kami”.

Dengan demikian, hijrah dalam sejarah Nabi SAW adalah gerakan perubahan sosial untuk mewujudkan nilai-nilai ketauhidan dan kemanusiaan. Ketauhidan untuk pembebasan dan kemanusiaan untuk keadilan. Perubahan sosial untuk moralitas tinggi dan pemihakan pada mereka yang lemah. Mereka yang marjinal, miskin, perempuan, dan anak-anak yatim. Melalui hijrah, kita diingatkan bahwa religiusitas dalam Islam adalah paralel dengan pembebasan sosial. Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan kepada Aisyah RA: “Hai Aisyah, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab dengan kamu pada hari kiamat kelak”. Karena religiusitas ini, kita bisa memahami mengapa Nabi SAW sering berdoa: “Allahumma ahyinî miskînan wa amitnî miskînan wahsyurnî ma’a zumratil masâkîn yawm al-qiyâmah” [Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkan aku kelak di hari akhir dengan golongan orang-orang miskin]. (Riwayat sahabat Anas bin Malik RA., lihat Jâmi’ al-Ushul, juz V, hal. 373, no. Hadits: 2774).

Inilah doa kecintaan yang penuh kesadaran. Kecintaan untuk pemihakan dan kesadaran untuk perubahan. Kemiskinan yang dijalani dengan kesadaran, bukan kemiskinan yang merendahkan diri seseorang, menghinakan, menelantarkan atau mengerdilkan. Bukan kemiskinan yang membuat seseorang harus terlunta-lunta untuk meminta-minta dari satu orang ke orang yang lain. Inilah pilihan terhadap kemiskinan dengan penuh keimanan dan kesadaran untuk spiritualitas dan kemanusiaan. Inilah hijrah untuk keadilan.

Kita bisa mengutip apa yang tertulis dalam hadis Qudsi tentang dialog antara Allah SWT dan hamba-hamba-Nya kelak di Hari Kemudian. Abu Hurairah RA berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah pada Hari Kiamat akan mengatakan: ‘Wahai anak Adam, Aku sakit tapi kamu tidak menjenguk-Ku?’ Si hamba bertanya: “Bagaimana aku harus menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Penguasa bagi alam semesta?”. Allah menjawab: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku, si fulan, sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Jika kamu menjenguknya, pasti kamu akan menemui-Ku di sisinya”. Istilah sakit, pada saat ini tidak hanya sakit karena kekurangan gizi, tetapi juga karena ekonomi, pendidikan, dan sumberdaya yang lain.

Ini adalah sebuah kesadaran religius-sosial untuk keadilan dan pemihakan kepada mereka yang lemah dan dilemahkan. Dan hijrah menuntut kesadaran keadilan tidak hanya berhenti pada kesadaran, tetapi beranjak pada gerakan perubahan yang riil. Melangkah, berpindah, memulai, dan menyusun kekuatan serta jaringan. Sebuah gerakan politik untuk tegaknya keadilan dan kemanusiaan.

Memaknai Hijrah bagi Perempuan
Menegakkan keadilan akan diawali dengan kegelisahan terhadap ketimpangan sosial yang terjadi di sekitar. Kegelisahan yang menggerakkan seorang untuk memahami persoalan dan melakukan tuntutan perubahan terhadap fenomena ketimpangan sosial. Ketimpangan biasanya muncul karena relasi yang tidak setara. Satu pihak harus didahulukan, sementara pihak lain dalam relasinya dianggap nomor dua atau diakhirkan. Yang satu diposisikan di atas, terhormat, sementara yang lain di bawah, terhina. Yang satu harus selalu menjadi raja dan yang lain menjadi rakyat yang menghamba. Secara sosial, ketimpangan seringkali muncul ketika ada sekelompok orang yang menguasai sumber daya strategis; ekonomi, politik, dan budaya. Mereka yang memiliki sumber daya ini cenderung korupsi dan menyeleweng yang pada akhirnya menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan sosial.

Pada konteks relasi antara laki-laki dan perempuan, di masyarakat kebanyakan, laki-laki seringkali diposisikan memiliki akses lebih, jika dibandingkan perempuan. Akses sumber daya yang berlebih ini, secara sosial menempatkan laki-laki pada posisi superior dan menjadikan perempuan pada posisi inferior (yang lemah). Dalam realitas sosial, relasi seperti ini sering mengakibatkan perempuan menjadi korban kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, sosial, ekonomi, dan politik. Hijrah mengajarkan kita menemukan kesadaran akan ketimpangan ini dan kesadaran pada perubahan untuk keadilan. Tentu tidak hanya berhenti pada kesadaran semata. Harus beranjak pada gerakan semampu kita untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Gerakan perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang paling mungkin, yang paling kecil, dan dari kita masing-masing. Perubahan di dalam keluarga inti, keluarga besar, tetangga, dan masyarakat. Dalam suatu hadis, Nabi Muhammad SAW. mengajarkan: “Mulailah dari diri sendiri, kemudian dari keluargamu”. Seringkali, kesombongan diri menutup kita untuk bersedia mengevaluasi kesadaran yang masih timpang terhadap perempuan. Kesadaran yang masih diliputi hawa nafsu untuk berkuasa dan menguasai.
Gerakan perempuan pun juga harus mengevaluasi secara kritis agar tidak terjebak pada politik menguasai dan meninggalkan tujuan awal, politik keadilan. Seringkali, menghadapi diri sendiri jauh lebih berat jika dibandingkan menghadapi orang lain. Inilah yang dikatakan Nabi Muhammad sebagai jihad besar, jihad melawan hawa nafsu. Dan juga seperti juga dikatakan Nabi Muhammad Saw: “Sebaik-baik jihad adalah menyatakan keadilan di hadapan kekuasaan yang otoriter”. (Riwayat Turmudzi dan Abu Dawud, lihat Ibn al-Atsir, juz I, hal. 236). Kita seringkali menjadi otoriter, termasuk untuk diri kita, ketika diajak mengubah pandangan menuju yang lebih adil. Dengan semangat hijrah, tentu kita juga harus belajar lebih adil terhadap dan untuk diri kita. Semoga!]

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 13 Agustus 2009 09:09 )  

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 26 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini365
mod_vvisit_counterKemarin878
mod_vvisit_counterMinggu ini2912
mod_vvisit_counterBulan Ini24420
mod_vvisit_counterSemua1145752

Yang Online

Kami memiliki 53 Tamu online

Flag Contries

free counters