RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Monday
Jul 06th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Dirasah Hadist Dirasah Hadis Edisi 17 : Menengok Hijrah Nabi : Dari Kesadaran Menuju Gerakan Penguatan Perempuan

Dirasah Hadis Edisi 17 : Menengok Hijrah Nabi : Dari Kesadaran Menuju Gerakan Penguatan Perempuan

E-mail Cetak PDF
Diakui atau tidak, seringkali kita semua melihat peristiwa hijrah hanya sebagai ‘sejarah’ yang harus dihormati dan dirayakan. Karenanya, kita tentukan waktu dan tempat untuk merayakan, jenis acara perayaan, dan siapa yang mengisi acara tersebut. Hijrah dalam keseharian kita telah menjadi ritualitas yang menyaratkan ada kegiatan, terkadang kostum, serta makanan. Beginilah kita memahami segala peristiwa tarikh (sejarah) Nabi Muhammad SAW sebagai rantai rentangan hari, bulan, atau tahun, tanpa ada spirit yang harus nyata dihadirkan dalam kehidupan keseharian.

Kita hampir kesulitan untuk menangkap makna kemanusiaan dari peristiwa tarikh Nabi SAW untuk menata kehidupan. Kita melupakan, bagaimana dulu Khalifah Umar bin al-Khattab RA harus berdebat dengan beberapa sahabat mengenai peristiwa hijrah sebagai penentuan tahun pertama dalam Islam. Sang Khalifah tidak memilih kelahiran Nabi SAW, tidak juga masa diutusnya Nabi, masa kemenangan pertama dalam peperangan, atau masa awal pembukaan Kota Mekkah sebagai pintu dari pembukaan kota-kota dunia berikutnya. Justru peristiwa hijrah yang dipilih oleh Umar.

Pilihan ini tentu saja didasarkan banyak pertimbangan. Di antaranya karena peristiwa hijrah tidak hanya memuat ritualitas keagamaan, tetapi sarat dengan muatan politik untuk kemaslahatan umat. Kepentingan politik dari penindasan, kezaliman dan kekerasan, menuju komunitas yang lebih menjamin nilai-nilai persaudaraan, persatuan, kesetaraan, dan keadilan. Tentu saja dengan kebebasan mutlak untuk beribadah kepada Allah SWT. Jika kesadaran ‘politik keadilan’ ini tidak menjadi perspektif, maka fakta hijrah hanya akan menyodorkan nama dan peristiwa semata. Itupun dengan melupakan –mungkin tanpa sengaja- mereka yang secara sosial ada pada nomor dua. Catatan mengenai perempuan pelaku hijrah, misalnya. Tidak menjadi memori yang sepadan bagi umat Islam, sebagaimana mereka menghafal nama-nama Abu Bakr al-Shiddiq RA., Ali bin Abi Thalib RA., Mus’ab bin Umair dan lain-lain sebagai pelaku sejarah hijrah. Sedikit dari kita yang mengenal Asma bint Abi Bakr RA., Umm Salamah RA., Umm Ma’bad RA. atau yang lain.

Hijrah untuk Keadilan
Umm Habibah RA. adalah salah seorang dari empat perempuan yang ikut berhijrah ke Habasyah (Etiopia), ketika hijrah pertama kali menjadi media dakwah dan politik yang disyari’atkan. Saat itu penindasan dan kekerasan yang ditimpakan orang-orang Quraisy begitu dahsyat. Orang-orang mukmin pada masa awal dakwah Islam merasakan tindakan yang keterlaluan dan bisa menghancurkan. Nabi Muhammad SAW. akhirnya memerintahkan untuk berhijrah.

“Kamu bisa berhijrah ke Negeri Habasyah. Di sana ada raja yang tidak menzalimi rakyatnya, negeri penuh kejujuran, sampai waktu ketika Allah SWT. sudah memberikan keleluasaan dan jalan keluar bagi kalian”, kata Nabi SAW. (Lihat: Amin Duwaidar, Shuwarun min Hayat ar-Rasûl, tt: Dar al-Ma’arif, Kairo).

Hijrah Habasyah adalah hijrah untuk memperoleh perlindungan dan suaka politik. Hijrah yang memindahkan orang-orang dari penindasan, kezaliman dan kekerasan, menuju kehidupan yang tanpa itu semua. Kehidupan yang damai, tentram dan adil.

Menarik untuk direnungkan betapa perempuan-perempuan berikut memiliki andil yang sangat besar terhadap suksesnya peristiwa hijrah. Asma bint Abi Bakr RA adalah perempuan tangguh yang mengurus dan menjamin logistik Nabi Muhammad SAW ketika berada di gua Tsur, beberapa hari sebelum bertolak ke Madinah. Umm Ma’bad RA, dialah perempuan yang menyediakan hewan ternaknya untuk diperah susunya, ketika Nabi SAW dan Abu Bakr RA kehausan. Pada saat rombongan orang-orang Quraisy pengejar Nabi datang menanyakan keberadaan Nabi SAW, Umm Ma’bad mengelabui mereka sehingga kepergian Nabi SAW tidak bisa dilacak mereka. Tentu masih banyak lagi perempuan penting yang seharusnya dicatat dalam sejarah hijrah.

Hijrah Habasyah adalah hijrah suaka politik. Hijrah untuk perlindungan dan keadilan, sebuah kehidupan tanpa kezaliman dan kekerasan. Kita bisa melihat dengan jelas makna politik keadilan dari apa yang dinyatakan Ja’far bin Abi Thalib RA, juru bicara rombongan hijrah ke hadapan Raja Nejash (Negus). Ja’far berkata:

“Wahai raja, dulu kami adalah orang-orang jahiliyah, yang menyembah berhala, memakan yang najis, melakukan kebejatan, memutus persaudaraan, melecehkan tetangga, dan orang yang kuat dari kami akan memeras mereka yang lemah….. Kemudian datanglah seseorang dari kami yang diutus Allah menjadi rasul kepada kami. Kami tahu keluarganya, kejujuran, dan kesuciannya. Dia mengajak kami bertauhid, mengesakan Allah, meninggalkan penyembahan berhala, meminta