RAHIMA | Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan

Saturday
Apr 19th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Swara Rahima Tanya jawab Tanya Jawab Edisi 19: Dapatkah “Talak” Jatuh dalam Keadaan Marah?

Tanya Jawab Edisi 19: Dapatkah “Talak” Jatuh dalam Keadaan Marah?

E-mail Cetak PDF

Pertanyaan:
Pak Kyai yang terhormat, nama saya MR, seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja dan telah menikah selama 3 tahun. Saya telah dikarunia seorang puteri yang cantik dan lincah yang kini telah berusia 2 tahun.

Akhir-akhir ini, saya sedang mengalami masalah keluarga. Saya dan suami sama-sama keras dan tidak mau mengalah satu sama lain. Hal ini membuat kami sering bertengkar. Namun ada kebiasaan buruk suami saya ketika kami tengah bertengkar, yaitu suka mengucapkan kata cerai. Hal ini membuat saya tak tahu lagi harus berbuat apa, karena saya merasa suami sudah tidak lagi sayang dan cinta pada saya. Terkadang saya ingin melepaskan diri dari penderitaan dan beban batin seperti ini, sehingga membuat saya mengemasi barang dan kembali ke rumah orang tua di ibukota. Saya juga mengurus surat pindah agar tidak kehilangan pekerjaan saya. Namun setiap kali melihat si Kecil, rasanya hati saya tak tega dan tetap ingin bertahan serta kembali pada suami saya.

Pak Kyai, apa yang harus saya lakukan? Mengingat suami saya tak mau menjemput saya ke rumah orang tua dengan alasan bahwa kabur dari rumah itu adalah kesalahan saya. Menurutnya, kalau saya berani meninggalkan rumah sendiri saya juga harus berani untuk pulang kembali ke rumah sendiri.

Saya ingin bertanya pada Pak Kyai, dapatkah “cerai/talak” itu jatuh dalam keadaan marah? Siapa yang berhak untuk menjatuhkan putusan talak atau cerai itu? Dapatkan perceraian jatuh begitu saja, tanpa konsekuensi logis bagi kedua belah pihak? Dan yang terakhir, dapatkah perkawinan kami diselamatkan? Lalu apa yang mesti kami lakukan untuk membangun kembali keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah? Terimakasih atas jawabannya.

Wassalam
MR, di sebuah kawasan di luar P. Jawa.

Jawaban:
Ibu MR yang saya hormati, berikut jawaban dari pertanyaan Ibu:
Pertama, al-Qur’an mengajarkan bahwa ketika perselisihan antara suami dan istri sudah memuncak, sebaiknya menunjuk hakam (juru damai) dari kedua belah pihak yang bertugas untuk mencarikan solusi terbaik dari kemelut yang terjadi sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Nisa’ 35. Ini menunjukkan bahwa agama menginginkan agar suatu perkawinan itu langgeng dan kekal. Karena perkawinan itu dimulai dengan sesuatu yang indah, maka usahakan keindahan itu langgeng dan terus menghiasi kehidupan berumah tangga. Kalaupun harus diakhiri, hendaklah dilakukan dengan baik dan meminimalisir dampak buruk yang akan ditimbulkannya. Firman Allah SWT:

“Dan ceraikanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-Ahzab 49)

Kedua, dalam aturan talak, pihak yang memiliki hak talak adalah suami. sementara istri memiliki kewenangan untuk memutuskan ikatan pernikahan melalui khulu’ dan fasakh. Istilah di Pengadilan Agama adalah gugat cerai. Namun talak itu tidak cukup dengan niat saja, tetapi harus diucapkan. Dari tinjauan agama, semua ulama sepakat bahwa talak harus diucapkan.

Apakah ucapan itu harus disaksikan atau tidak? Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Imam Malik, Abu Hanifah dan salah satu pendapat dari madzhab Syafi’i mengatakan bahwa persaksian itu hukumnya sunnah. Tetapi Ibnu Juraih menceritakan bahwa Atho’ berpendapat talak wajib dipersaksikan sebagaimana kewajiban adanya saksi dalam pernikahan dan ruju’. (Tafsir al-Shawi, juz IV hal 280, Tafsir Ibnu Katsir juz IV, hal 486). Dalil yang digunakan adalah firman Allah SWT:

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah... (QS. Al-Thalaq: 2)

Selanjutnya, talak dianggap sah apabila diucapkan dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Talak yang diucapkan ketika emosi memuncak dan kemarahan yang menyebabkan hilangnya ingatan, atau kendali atas ucapan dan perbuatan, dianggap tidak sah. Jika kemarahan itu tidak sampai pada batas tersebut, maka talak yang diucapkan dihukumi sah. Dan inilah yang sering terjadi di masyarakat. (I’anah al-Thalibin, juz IV hal 5, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz VII, hal365 )

Ketiga, konsekwensi dari adanya talak adalah hilangnya kebolehan melakukan hubungan seksual. Setelah talak juga ada iddah (masa tenggang setelah bercerai, sebelum keduanya benar-benar berpisah). Hal itu bertujuan untuk memberikan kesempatan terakhir pada suami dan istri untuk berpikir, berefleksi dan mengoreksi tentang apa yang telah perbuat.

Selama masa iddah beberapa hak dan kewaijban dalam perkawinan masih berlaku. Suami tetap wajib memberikan nafkah sandang, pangan dan papan kepada istri. Dan Istri tidak diperkenankan menikah atau menerima pinangan orang lain selama masa iddahnya belum selesai, dengan harapan agar kedua belah pihak dapat bersatu dan kembali lagi. Inilah yang disebut dengan ruju’, yakni komitmen disertai ucapan untuk kembali lagi merajut tali pernikahan yang dihancurkan oleh badai perceraian tanpa harus menyertakan mas kawin. Namun, ruju’ hanya boleh dilakukan pada masa iddah dan pada talak satu dan dua. Artinya jika masa iddah dari talak satu dan dua telah selesai, atau telah terjadi talak tiga, maka tidak ada ruju’.

Dengan tiga pertimbangan inilah persoalan yang ibu hadapi dapat dijawab oleh hukum Islam. Untuk menentukan status pernikahan ibu, dan apakah boleh kembali lagi (ruju’) atau harus akad nikah lagi, maka harus dilihat dulu ucapan yang disampaikan suami. Namun jika kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa talak harus dipersaksikan, maka apa yang diucapkan oleh suami ibu tidak termasuk talak. Karena dalam aturan perundangan di Indonesia, talak harus diucapkan dan diikrarkan di depan hakim Pengadilan Agama. Kita sebagai warga negara yang baik tentu harus mematuhi aturan tersebut. (QS. Al-Nisa’ 59)

Prinsipnya kami sangat mendukung keinginan Ibu untuk kembali kepada suami demi anak Karena bagaimanapun perceraian akan memberikan dampak yang kurang baik bagi perkembangan jiwa anak. Komitmen untuk kembali membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah merupakan cita-cita luhur dan sangat didambakan oleh semua pasangan. Namun untuk mewujudkannya memang tidak segampang yang diucapkan. Kedua belah pihak dituntut untuk mengesampingkan ego masing-masing dan harus saling mengalah. Rumah tangga sakinah adalah rumah tangga yang dibangun atas dasar saling pengertian, penghargaan dan kasih sayang.
 

Perpustakaan

Perpustakan

 

Anda butuh referensi seputar perempuan dan Islam ? Anda dapat memperolehnya dalam Koleksi perpustakaan kami mulai buku Teks,  Kitab kuning, Skripsi, Tesis, Disertasi, Kliping, dan Audio Visual.

Alamat : Jl. H. Shibi No.70 Rt. 007/01 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640

Berlangganan Majalah Swara Rahima

Kirim email ke rahima2000@cbn.net.id atau telp. ke 021-78881272. Untuk berlangganan Swara Rahima  1 tahun Rp. 100.000 (Pulau Jawa) dan Rp. 120.000 ( Luar Jawa),- untuk (4 edisi) sudah termasuk ongkos kirim.

Agenda Rahima

Talks Show Radio Setiap hari Kamis di Rasika 100.1 fm Semarang jam 11.00-12.00 wib, Mulai tgl 3 April - 19 Juni 2014

Get Articles via Email

Enter your valid email address below:
Your email address will not propagated

Delivered by FeedBurner

Admin Rahima

Dani
Maman
Nining
Ulfah

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini128
mod_vvisit_counterKemarin753
mod_vvisit_counterMinggu ini4226
mod_vvisit_counterBulan Ini15700
mod_vvisit_counterSemua1053279

Yang Online

Kami memiliki 24 Tamu online

Flag Contries

free counters